Jumat, 30 April 2010

Keterlibatan hati dengan orang sakit

A. Sebuah Kisah Perjumpaanku dengan Bapak Mohammad
Keterlibatan hati dengan orang sakit


Hari beranjak siang, aku telah mondar-mandir, longak-longok ke ruang pasien serta menyapa mereka, pasien, yang terbaring di atas tempat tidurnya di bangsal Elisabeth satu. Elisabeth satu terbagi dalam dua kelas, yaitu kelas dua dan tiga. Aku memasuki hampir semua ruang dan bertegur sapa dengan hampir semua pasien dan keluarganya. Ruang 108 adalah salah satu ruangan yang aku tengok. Namanya Bpk Mohammad Mudiarjo.
Dalam perbincangan aku menjadi tahu bahwa dia sakit batu ginjal. Dalam riwayat sakitnya, dia pernah dioperasi dengan penyakit yang sama kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Dan kali ini dia harus menjalani operasi batu ginjal lagi. Mohammad Mudiarjo tinggal di daerah Pancingan, Umbulharjo. Dia tinggal bersama istri sementara anak-anaknya telah berumahtangga dan memberikan dua cucu, dan masih menunggu kelahiran satu cucu lagi. Mohammad Mudiarjo bercerita dengan semangat tentang keluarga dan asal-usulnya. Ternyata dia asli berasal dari Bumiayu, Purwokerto. Tidak heran apabila dia bisa menggunakan bahasa banyumasan dengan baik. Suasana bertambah hangat ketika aku memperkenalkan diri, aku berasal dari Purbalingga. Dia langsung merespon, “lah dénéng tanggané dhéwék. Bu, kiyé, mas Tri sekang Purbalingga. Lah ketemu seduluré dhéwék kiyé” dengan logat banyumasan yang kental.
Batu ginjal telah diambil, tanda bahwa dia telah melewati operasi dengan baik. Hal ini aku ketahui saat aku berkunjung menemui dia. Yang terlihat olehku adalah tubuh Mohammad yang lemas, dan sesekali dia merintih kesakitan. Istrinya bilang, “ini loh mas, bapaké réwél terus. Perawat sudah ngomong sabar pak, sabar. Tapi dia tetep ngéyél”. Saat dia merintih kesakitan, aku berada disampingnya, berulang kali ia merintih dan mengeluh, dan aku tidak tahu harus mengatakan apa, “mas Tri, dénéng lara temen, kepriwé kiyé mas. Aduh..aduh.. dénéng lara temen mas”. Aku hanya menemani, memegang tangan, dan sesekali menghibur dengan cerita-cerita dengan harapan bisa mengalihkan rasa sakitnya. Namun toh dia tetap merasakan sakit, “sabar ya mas, ngomong sih gampang, tapi angél mas, angél banget nglakoniné. Lara banget mas”. Aku hanya menjawab, “iya pak, iya. Tidak apa-apa. Pasti akan sembuh”. Aku sungguh semakin tergerak untuk menemani dia dalam sakitnya. Saat kesakitan ia merintih dan tangannya memegang erat tanganku. Aku menyahutnya dengan genggaman yang erat pula, tanda bahwa aku ada disampingnya dan menemaninya.
Aku hanya berharap bahwa keberadaanku di sampingnya bisa membuat dia sedikit lebih tenang, kendati tidak banyak yang aku lakukan. Aku terus menemaninya dengan sabar, dan diapun merasa senang saat aku menemaninya. Memang dia sedikit berlebihan dalam bersikap. Ia selalu menguras perhatian para perawat dan karena itulah ia dipindahkan ruang, dari 108 ke ruang 101. Akupun heran melihat tingkah Mohammad yang hiper menarik perhatian para perawat, dalam hatiku menjawab, “mungkin dia ingin selalu ditemani”. Di ruang 101, ia telah mengalami banyak perkembangan. Ia bisa kencing tanpa menggunakan cateter, tapi menggunakan alat lain, semacam tempat kencing (pispot). Ia sering kencing, dan setiap kencing ia merintih kesakitan, “aduh lara banget mas, kencingnya ésih metu ora mas, lara mas”. Bahkan ia sempat putus asa, ingin mati saja daripada menahan sakit yang tidak kunjung reda. Aku menemaninya dan mendukungnya dengan sabar. Sesekali aku masih membuang air kencing yang telah penuh di pispot. Kendati sedikit risih, tapi tak ada pilihan lain selain aku harus melakukannya, dan aku menjadi biasa. Perasaan yang muncul adalah rasa tulus dan senang karena bisa membantu meringankan kesulitannya.
Aku menemaninya berjam-jam dan aku tetap berada disampingnya tanpa meninggalkan sedikitpun. Sesekali aku duduk dan berdiri dengan tangan tetap memegang erat tangannya, atau bahkan berdiri terpaku, diam hanya memandang wajahnya saat Mohammad memejamkan mata. Aku sungguh ingin menemani dia dalam sakitnya, apalagi istrinya berpesan padaku kalau dia merasa tenang dan senang ditemani olehku, “iki pak, mas tri wis teka”. Aku merasa senang dan bahagia bisa menemaninya. Dalam pikirku, aku merasakan kedekatan dengannya. Aku merasakan yang dia rasakan. Bagaimana dalam sakitnya, ia membutuhkan seseorang yang berada disampingnya dan mendukungnya. Inilah yang menguatkanku bertahan menemani dan menghiburnya. Mohammad menjadi pribadi yang hadir dan menggerakkanku untuk terlibat merasakan sakitnya. Melalui penghiburan-perhatian kecil, aku merasa bisa menjadi sahabat baginya. Sebagaimana dia pun merasakan nyaman dengan kehadiranku berada di sampingnya. Inilah yang menggerakkanku untuk terlibat dalam pergulatan sakit Mohammad. Bahwa ia manusia yang ingin diperhatikan, ditemani, didukung oleh yang lain, dan aku melakukan itu sebagai pribadi yang memperhatikan dan menemaninya.
Pengalaman bersahabat dengan orang sakit memunculkan perasaan dan suatu penyikapan akan apa yang harus aku lakukan. Tentu pertama-tama bukan sekedar mau menghibur, apalagi menasehati, tetapi sungguh ingin menemani, berjalan bersama dia yang sedang sakit, dan keluarganya. Mohammad membutuhkan perhatian sebagai pribadi yang utuh, dan melalui perhatian serta perlakuan manusiawi itulah ia merasa nyaman dengan hidupnya yang sedang sakit. Aku kira Mohammad tidak sekedar butuh diberi obat atau makanan saja, tetapi butuh disapa, ditemani dalam sakit yang ia derita. Melalui pengalaman tersebut, aku ingin meringkaskan pengalaman bersahabat dengan orang sakit dengan “Keterlibatan hati untuk mau hadir, menemani, dan merasakan apa yang dirasakan orang sakit merupakan perwujudan iman akan Allah yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus”

B. Tesis :
Pengalaman live-in di rumah sakit Panti Rapih selama kurang lebih 9 hari menjadi sahabat orang sakit dan keluarganya, memberi kesan mendalam bagiku. Kesan itu tergoreskan melalui pengalaman eksistensial dimana aku sungguh mengalami perjumpaan bahkan keterlibatan langsung dengan mereka, orang sakit dan keluarganya. Keterlibatan yang mewujudkan imanku secara personal kepada Allah. Keterlibatan yang menghormati, menghargai mereka sebagai pribadi yang utuh, nguwongke, sebab mereka adalah manusia yang bermartabat, gambar dan citra Allah yang merupakan anak Allah sendiri. (Martabat hidup manusia datang dari Allah, dan akan kembali kepda Allah (Evangelium Vitae, 11)
Keterlibatan personal menjadi sahabat orang sakit mengajakku bertanya, Apa yang mendorongku melakukan itu? Pertanyaan ini mengantarku untuk berefleksi bahwa kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta adalah jawabnya. Tentu saja terinsipirasi dari Yesus sendiri yang menampilkan kehadiran dan penyerahan diri-Nya yang penuh cinta dalam mengasihi orang lain (Mat 8:1-4, 9:1-10; Yesus yang hadir menyembuhkan lumpuh, sakit kusta). Bentuk kehadiran yang melibatkan diri dengan menyerahkan diri penuh cinta inilah yang menggerakanku terlibat dengan mereka.
Untuk itu aku rumuskan dalam sebuah tesis :

“Melalui kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta menjadi sabahat orang sakit, aku dipanggil untuk terlibat dalam usaha meneruskan karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus yang bersolider dengan manusia”

Tesis ini menguraikan dinamika iman yang mewujud dalam tindakan praktis sehingga iman menjadi kongkret. Kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta menjadi sahabat orang sakit merupakan bentuk keterlibatan hati yang nyata, sekaligus wujud ambil bagian dalam penderitaan Yesus Kristus yang disalib (Bdk. Kis 5:41,“Para rasul bergembira karena mereka telah dianggap layak menderita oleh karena nama Yesus Kristus”) sebagai penerusan akan karya keselamatan Allah yang berlangsung dalam Yesus Kristus yang bersolider dengan manusia. Konsili Vatikan II mengartikan ini sebagai wahyu, yakni pemberian diri Allah dan misteri kehendak-Nya kepada manusia (Ef 1: 9 “Sebab Ia telah mnyatakan rahasia kehendaknya kepada kita, sesuai dengan rencana keselaanNya yaitu kerelaan yang dari semula ditetapkannay dalam Kristus; DV 2) yang berpuncak pada Yesus Kristus (DV 4). Dengan kata lain, Allah menyapaku melalui pemberian diri Allah yang berpuncak dalam Yesus Kristus (DV 2), dan aku menyatakan “ketaatan iman” kepada Allah (DV 5). Inilah relasi wahyu dan iman, dimana Allah menyapaku dan aku menanggapi tawaran Allah yang telah melibatkan hidup-Nya dalam kehidupan manusia secara bebas dan merdeka. Maka tesis ini dimaksudkan bahwa Allahlah yang pertama-tama berinisiatif dan aku tergerak untuk menanggapinya dengan bebas dan terwujud dalam tindakan moral yakni kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta menjadi sahabat orang sakit.

Karya Keselamatan Allah dalam Yesus Kristus yang bersolider dengan manusia
Keselamatan yang dikerjakan Allah dalam Yesus Kristus, merupakan suatu keterlibatan dinamis kedua pihak, yakni bahwa hidup dan usaha manusia tidak mungkin dipisahkan dari kehendak dan usaha Allah (rahmat). Allah telah terlibat dalam sejarah dan telah memanggil manusia supaya ikut berjerih-payah bagi keselamatan semua orang (DV 2), maka dengan kepercayaan dasar dan usaha, orang memberikan jawaban pada Allah (DV 5). Allah telah berulang kali dan dengan berbagai cara berbicara dengan nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi, pada zaman akhir ini berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya (Ibr 1:1, “setelah pada zaman dahulu Allah ebrulang kali dan dalam perbagai cara berbicara kepada nenk morayng kita dengan perantaraan para nabinya”). Dalam Kristus, Allah telah melibatkan diri dengan hidup dan sejarah manusia, “sebab Ia mengutus Putera-Nya, yakni Sabda kekal, supaya tinggal di tengah umat manusia (Yoh 1:1-8), dan menyelesaikan karya penyelamatan (Yoh 5:36 “segala pekerjaan yng diserahkan Bapa kepadaku, paya aku melaksanakan pekerjaaan itu, itulah yang memberi kesaksian bahwa Bapalah yang megnutus Aku, 17:4, “Aku mempermuliakan Engkau dengan jalan menyelesaikan pekerjaan di bumi”) (DV 4).
Peran Yesus sebagai pengantara dan jaminan perjanjian baru dilaksanakan dalam solidaritas dan penebusannya. Antara Yesus dan manusia terjalinlah solidaritas. Yesus menjadi senasib dengan manusia berdosa dan malang, dan manusia dapat menjadi senasib dengan Yesus Kristus oleh Allah diselamatkan dan selanjutnya dapat ikut serta menikmati keselamatan itu. Rencana dan maksud Allah itu tertuju kepada keselamatan manusia berdosa, “Allah mengutus Anak-Nya” Yesus Kristus (Yoh 3:17”Yesus datang ke dunia bukan u menghakimi, tp meyelamatkan dalam nama Dia”; 17:18, “Engkau utus Aku, Aku utus mereka”; 1 Yoh 4:9.10, Gal 4:4, Rm 8:3,”mengutus anaknya sendiri dalam daging”). Apa yang dialami dan dibuat Yesus terjadi menurut “kehendak Allah” (Kis 2:23, “Dia yang telah diserahkan Allah mnrt mksud dan rencnya, tlah km salibkan..dst”; 4:28; Gal 1:4, “Yang telah serahkan diriNya karena dosa2kita, tuk lepaskan kita dari ygjaht, mnr kehenk Bapa”; Luk 24:26), bahkan adalah karya Allah (Yoh 4:34; 5:36; 10:37; 14:10). Yesus pun dengan rela dan taat melaksanakan “rencana dan kehendak Allah” itu (Flp 2:8, “Allah adalah saksiku..ds”t; Yoh 4:34, “Makanaku ialah melakukan kehendak Bapa, selesikannya pula”; 5:30; Rm 5:19, Ibr 5:8, Mat 16:21; Yoh 3:14). Oleh karena itu solidaritas timbal balik atara Yesus dan manusia sesuai dengan “rencana kehendak Allah”. Solidaritas itu hadir bagi Kristus dengan menerima kemanusiaan sepenuhnya, senasib dengan manusia (Flp 2:1-11,”merendahkan diri seperti Kristus”). Allah menjadi senasib dengan manusia, Allah membiarkan diri dibatasi oleh situasi konkret manusia, jerih payah hidup, penderitaan dll. Jurgen Moltmann membahasakan keterlibatan Allah dalam hidup manusia itu dengan bentuk Allah yang peduli (Allah yang pathos). Para nabi merefleksikan bahwa Allah adalah Allah yang peduli, (dalam konteks Israel) Allah yang peduli (pathos) terhadap bangsa Israel (situation of God). Melalui pathos, Allah memperhatikan dan masuk secara mendalam ke dalam situasi umat yang Ia pilih. Dengan demikian, pengalaman, tindakan dan penderitaan umat-Nya mempengaruhi Allah. Kasih Allah itu bukan melulu batiniah semata, tetapi terwujud dalam tindakan konkret dalam keterlibatan-Nya dengan penderitaan umat-Nya.
Untuk itu, dalam pandangan teologi moral, segala usaha hanya berarti bila dikerjakan di dalam Kristus. Orang mengikat diri pada Kristus dan pada saat yang sama mengharapkan keselamatan dari Allah lewat Kristus. Yesus senasib dengan manusia-setiakawan dengan kemalangan mausia (Ibr 2:17, “ia dismkan dengan sudara-saudranya”), bahkan sampai harus menderita dan wafat (Rm 6:23, “hidup yang kekal dlam Allah”), inilah Solidaritas negatif. Yesus mau senasib dengan manusia yang dikungkung oleh dosa, meskipun Ia tidak melakukan dosa (2 Kor 5:21, “dia dosa karena kita”). Selain itu, manusia yang berdosa turut serta diselamatkan oleh Yesus Kristus yang selamat.Yesus yang diselamatkan, disempurnakan, dibangkitkan oleh Allah menjadi pokok keselamatan abadi (Ibr 5:9, “sesudah ia mecapai kesempurnaan, ia jdi pokok keselamtan bagi semua orang”) bagi semua manusia, solidaritas positif.

Kehadiran dan Penyerahan diri yang penuh cinta menjadi sahabat orang sakit
Solidaritas Allah dengan manusia merupakan suatu tanda Allah yang menyapa manusia dengan mau terlibat di dalam penderitaan manusia. Dalam pengalaman live-in itu, akupun menanggapi sapaan Allah yang mau menyelamatkan itu dalam bentuk kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta kepada mereka yang sakit. Perjumpaan dengan mereka yang sakit memanggilku untuk terlibat, sehati seperasaan dengan penderitaan mereka. Ini merupakan tanggapanku atas tawaran Allah yang sungguh telah melibatkan hidup-Nya dalam kehidupan manusia secara bebas dan merdeka. Tindakanku yang hadir dan menyerahkan diri dengan semangat cinta merupakan perwujudan imanku akan Allah yang sungguh mau terlibat dengan manusia.
Karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus yng bersolider dengan manusia memanggilku untuk mau terlibat pula dalam hidup relasiku dengan sesama. Seperti Yesus sendiri yang selalu tampil dalam hidup dan karya-Nya untuk mengasihi sesama, memperjuangkan kehidupan (Yesus memberitakan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada tawanan, penglihatan bagi orang buta dst, bdk Luk 4:18-19). Yesus sungguh tampil untuk memperjuangkan kehidupan. Demikian pula aku melalui keterlibatan secara konkret, aku melibatkan diri dalam karya keselamatan. Dalam pengalaman live-in yang lalu, kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta menjadi wujud iman yang lahir secara konkret dalam tindakan moral.
Dengan melibatkan diri dalam karya keselamatan Allah di dunia, yang telah terjadi melalui Yesus Kristus, aku pun dipanggil untuk meneruskan misi Yesus yang memperjuangkan kehidupan.

C. Visi, Misi, dan Strategi Pastoral
a. Visi

Rumah Sakit Katolik ikut ambil bagian dalam mewujudkan Kasih Allah terhadap manusia di dunia melalui pelayanannya yang holistik bagi semua orang

b. Misi
1. Menjadi sahabat bagi pasien dan keluarganya dengan didasari cintakasih
2. Memberikan pelayanan yang holistik dengan semangat Kasih bagi semua orang, terutama pasien dan keluarganya
3. Membangun semangat solidaritas umat beriman terutama bagi mereka yang sedang sakit

c. Stategi Pastoral
1. Bidang Rohani dan Kepribadian
1. Menjadi sahabat yang mau terlibat dengan penuh totalitas dalam menghadapi dengan pergulatan pasien dan keluarganya
2. Memberikan pelayanan spiritual bagi pasien dan keluarga yang membutuhkan sesuai dengan agama dan kepercayaan mereka masing-masing (jejaring dengan tokoh agama lain misalnya imam, kyai dll).
3. Membantu dalam memberikan pelayanan sakramen-sakramen bagi pasien.
4. Memotivasi pasien dan keluarga untuk memperjuangkan kesembuhan

2. Bidang Sosial Ekonomi
1. Memberikan pelayanan yang berkualitas bagi semua pasien
2. Membentuk jaringan kerjasama dengan pihak-pihak tertentu untuk menyediakan dana sosial bagi para pasien tidak mampu

3. Bidang Institusi Rumah Sakit
1. Mengoptimalkan karya pelayanan pastoral care atau unit pastoral sosio-medis dengan melibatkan banyak pihak demi pelayanan yang holistik
2. Membangun kerjasama berbagai pihak (networking) demi peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit.

Daftar Pustaka
· Bernhard Kieser, SJ, Wahyu Ilahi Ditemukan Dalam Penerusan Manusiawi, manuscript, Yogyakarta, 2006
· CB. Kusmaryanto, Etika Medis, manuscript, Yogyakarta, 2009
· Dokumen Konsili Vatikan II
· Groenen, OFM, Soteriologi Alkitabiah, Yogyakarta : Kanisius, 1994
· Jurgen Moltmann, The Crucified God, dalam http://theologytoday.ptsem.edu/apr1974/v31-1-article.htm.





Tri Kusuma, Albertus


Saat Kesepian Datang

Biarlah rasa ini tersimpan rapat dalam sebotol sunyi
menyisakan denting dalam hati lalu sepi.....
yang kemudian hilang bersama terang yang perlahan datang,
yang menawarkan senyum untuk dicecap atau disimpan dalam-dalam
sebagai cadangan saat kesepian itu kembali datang

Selasa, 20 April 2010

Tesis Teologi Sosial

TESIS:
“Bertolak dari Ketidakadilan dalam Dunia Kerja Buruh, Orang Kristiani Dipanggil untuk Terlibat dalam Usaha Memulihkan Keutuhan Martabat Manusia”

Pengantar
Tidak dapat dipungkiri bahwa kerja adalah aspek penting dalam kehidupan. Dengan bekerja dan mendapat upahlah manusia mampu melangsungkan hidupnya, mencukupi semua kebutuhannya. Tapi tidak jarang ditemukan adanya ketidakadilan dalam dunia kerja: PHK semena-mena, THR yang urung diberikan, jaminan kerja yang tidak ada, upah yang rendah, situasi kerja yang tidak manusiawi, jam kerja yang berlebihan, dan seribu satu persoalan lainnya. Berbagai bentuk ketidakadilan itu merendahkan keluhuran martabat manusia dan menantang Gereja untuk tidak tinggal diam.

Ketidakadilan dalam Dunia Kerja Buruh
Selama sepuluh hari live-in di PT. Air Mancur Unit Pelem – Wonogiri, kami berjumpa dengan berbagai bentuk realitas kerja. Di satu sisi, kerja para buruh menampakkan cinta mereka terhadap keluarga dan kelangsungan hidupnya. Di sisi lain, kami berjumpa dengan ketidakadilan dalam dunia kerja buruh. Kebijakan dan aturan perusahaan dibuat oleh perusahaan dengan persetujuan Serikat Pekerja Farkes (SPF) yang pengurusnya dipilih oleh perusahaan. Perusahaan mulai menggunakan buruh kontrak (outsourcing) yang tidak mempunyai perlindungan kerja yang layak . Perusahaan sering menambah jam kerja (lembur) dengan proporsi upah yang tidak sebanding . Gaji buruh yang sedikit di atas UMR tidak mampu memenuhi kesejahteraan buruh; kenaikan gaji tidak sebanding dengan kenaikan inflasi dan harga kebutuhan sehari-hari. Mereka yang mengabdi puluhan tahun mendapat gaji yang kurang dari satu juta. Perusahaan memperlakukan buruh lebih sebagai sarana mengejar target jumlah produk daripada sebagai tujuan mencapai kesejahteraan.
Berbagai ketidakadilan itu berlangsung lama, tidak begitu saja disadari, terstruktur dan dilestarikan dengan berbagai aturan yang memihak perusahaan. Ketidakadilan strutural seperti ini menempatkan orang pada situasi kemiskinan dimana orang tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup pokoknya, tidak mempunyai bargaining power, dan tidak otonom untuk menetukan arah dan tujuan hidupnya.

Makna Kerja Manusia
Kerja merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia. Dalam pandangan Gereja Katolik, kerja bukanlah sekedar cara untuk melangsungkan hidup melainkan rahmat dari Allah . Gereja mendasarkan pandangannya pada kisah penciptaan dimana Allah menciptakan manusia seturut gambar-Nya sendiri dan memberi mereka perintah untuk menaklukkan bumi beserta segala isinya (lih. Kej. 1:28; LE 4). Semuanya itu terwujud dalam dan melalui tindakan kerja (GS 33-34; LE 4, 9) . Melalui kerja manusia mewujudkan dan menyempurnakan martabat dirinya sebagai citra Allah, sebab di sana ia mencerminkan kegiatan Sang Pencipta sendiri (LE 4) dan menjadi partner kerja Allah (LE. 25). Maka, dimensi subjektif kerja (manusia) haruslah lebih diperhatikan dari pada dimensi objektif kerja (teknologi). Kerja adalah pertama-tama demi manusia dan bukan manusia untuk kerja (LE 6)
Selain bersifat pribadi, kerja juga memiliki sifat sosial (QA 69). Orang bekerja dengan sesama dan untuk sesama. Kerja akan menjadi semakin subur dan produktif ketika manusia semakin menyelami potensi produktif sumber daya alam serta semakin memperdalam pemahaman akan kebutuhan sesama, yang memperoleh manfaat dari kerjanya itu (CA 31).
Namun, dalam realitasnya, kerja tidak selalu dimaknai sebagai karya penciptaan (co-creator). Kerja dipandang sekadar job yang berorientasi pada upah, efisiensi dan produktivitas. Para buruh menjadi sarana untuk menghasilkan produk yang sebanyak-banyaknya secara efektif dan efisien. Dengan demikian, berbagai bentuk exploitasi buruh sulit dihindari. Hal ini jelas melukai keluhuran dan keutuhan martabat manusia sebagai partner kerja Allah.

Martabat Manusia
Kitab Suci mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah. “Manusia diberi martabat yang sangat luhur, berdasarkan ikatan mesra yang mempersatukannya dengan Sang Pencipta: dalam diri manusia terpancarlah gambar Allah sendiri” (EV 34). Martabat manusia ini bukan hanya dikaitkan dengan asal-usulnya yang berasal dari Allah, tetapi juga dengan tujuan akhir hidupnya, yakni persatuan dengan Allah dalam pengetahuan dan kasih denganNya (EV 38). Martabat manusia itu dijunjung lebih tinggi lagi dengan inkarnasi dan penebusan Kristus. Dengan penebusan Kristus, manusia diangkat menjadi anak-anak Allah (Gal 3:26) .
Martabat manusia itu bersifat intrinsik. Ia hadir bersama existensinya, dan tidak berhubungan sama sekali dengan karya atau prestasi seseorang. Manusia bermartabat karena ia manusia. Karena martabatnya yang sama, manusia tidak pernah boleh ‘digunakan’ sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan . Sebaliknya, tiap orang wajib berbuat baik kepada orang lain; berusaha mempromosikan kesejahteraan; menaruh hormat pada hak-hak manusia; menghindari pencederaan, dan ‘berusaha sejauh mungkin mewujudkan tujuan sesama’. Manusia adalah pelaku rasional, yaitu pelaku-pelaku bebas yang mampu mengambil keputusan untuk mereka sendiri, menempatkan tujuan-tujuan mereka sendiri, dan menuntun perilaku mereka dengan akal budi (Bdk. LE.6).
Martabat manusia erat hubungannya dengan hak asasi manusia. Menjunjung tinggi martabat manusia berarti menghormati hak asasi manusia. Begitupun sebaliknya, pelanggaran terhadap hak asasi manusia akan melukai martabat manusia.

Gereja Dipanggil untuk Terlibat Memulihkan Keutuhan Martabat Manusia
Terhadap praktek ketidakadilan Gereja tidak tinggal diam. Gereja dipanggil untuk terlibat memulihkan keutuhan martabat manusia (SRS 29, 39, 41, 43, 45; CA 34). Alasannya adalah:
1. Alasan Kristologis: Yesus (historis) juga memperjuangkan kebebasan yang menyeluruh dan kepenuhan harapan bagi keselamatan manusia . Yesus berjuang untuk mewartakan keselamatan kepada mereka yang miskin dan tertindas (Mat 9:36; 14:14; 20:34; Mrk 1:41; 6:34; 8:2; Luk 4:18-19; 7:13). Gereja diajak untuk melanjutkan misi Yesus dalam memperjuangkan kebebasan dan kepenuhan harapan bagi keselamatan manusia (AG 1 § 1-2, 5, 8).
2. Alasan Eklesiologis: Panggilan itu muncul dari refleksi Gereja atas dirinya sendiri sebagai sakramen keselamatan (LG 9, 48; GS 45). Gereja adalah tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia (LG 1). Sejak semula, Allah berencana untuk menyelamatkan semua manusia (LG 2). Gereja menjadi wujud nyata tanggapan manusia atas karya keselamatan Allah itu (LG 13). Gereja tidak menikmati keselamatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi berbagi dan mengusahakan keselamatan itu bagi semua orang di dunia ini (LG 17).
Realitas ketidakadilan tidak hanya dialami oleh kelompok agama, suku, dan ras tertentu tetapi mencakup semua kelompok. Usaha pemulihan harus melibatkan berbagai pihak. Untuk itu Gereja diajak untuk berdialog dan bekerjasama dengan mereka yang berkehendak baik (GS 31).

Strategi Pastoral
Terhadap ketidakadilan yang kami jumpai dalam PT Air Mancur, kami mengusulkan strategi pastoral untuk menyadarkan dan menguasakan para buruh, yaitu pembentukan komunitas basis. Konkretnya para buruh dibagi dalam kelompok-kelompok kecil 8-10 orang. Pintu masuk kegiatan ini dengan menggunakan waktu arisan yang dilakukan sebulan sekali. Pertemuan tersebut diusahakan secara bertahap memberi kesadaran kepada para buruh bahwa mereka berada pada situasi ketidakadilan. Untuk itu diperlukan program kunjungan terhadap para buruh, sapaan personal, “ruang” untuk mengungkapkan diri, dan dialog untuk melihat realitas ketidakadilan dan menumbuhkan kehendak untuk keluar dari realitas itu. Melalui komunitas basis, mereka mempunyai “kuasa” untuk menyuarakan kepentingan mereka tanpa melalui jalan kekerasan, kebencian, usaha revolusioner yang menciptakan rezim baru yang lebih tidak adil, dan penghancuran kelompok yang lain.
Selain itu, beberapa pihak yang perlu diajak bekerjasama yaitu pengusaha, masyarakat umum, dan pemerintah. Berbagai jalan bisa ditempuh misalnya sarasehan, public control terhadap kebijakan, seruan-seruan melalui media massa, pembentukan divisi atau lembaga yang memperhatikan kehidupan buruh.
Perlu diusahakan juga pembentukan jaringan (serikat) yang lebih luas antar-buruh di berbagai perusahaan sekitar kota Wonogiri-Solo. Jaringan ini bertujuan demi terciptanya kesatuan yang kuat di kalangan kaum buruh dan mengkuasakan. Kerja sama dengan pengusaha perlu ditingkatkan untuk memperjuangkan keadilan dan keseimbangan yang benar, walaupun perbedaan kepentingan akan terjadi dan golongan yang berkuasa sulit membongkar struktur ketidakadilan yang menguntungkan mereka. Kerja sama dengan tokoh-tokoh umat beriman lain (mayoritas buruh di PT Air Mancur Unit Pelem Wonogiri adalah orang Muslim) juga harus diusahakan. Dengan demikian, harapannya semua kalangan yang peduli dan berkehendak baik mendukung usaha kaum buruh menuju kehidupan yang lebih baik sebagai wujud keutuhan martabat manusia.

Kesimpulan
Dunia kerja buruh tidaklah baik-baik saja. Ada berbagai bentuk ketidakadilan yang sering tidak disadari dan terstruktur. Ketidakadilan itu merusak keutuhan martabat manusia. Terhadap praktik ketidakadilan itu, Gereja tidak berpangku tangan. Gereja sebagai bagian dari masyarakat terpanggil untuk terlibat dalam usaha memulihkan keutuhan martabat manusia. Melalui dialog dan kerjasama dengan berbagai pihak yang berkehendak baik Gereja mengusahakan tercapainya kesejahteraan bersama.

Jumat, 17 April 2009

bonum commune

Bercermin dari para tokoh katolik dalam
memaknai kembali esensi politik
bonum commune

Manusia adalah zoon politicon kata seorang filsuf Yunani Kuno, Aristoteles. Kata itu mendefinisikan bahwa manusia adalah makhluk yang berpolitik. Ada juga yang mengartikan bahwa manusia tak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Dari ungkapan itu ada kata yang pantas kita cermati bersama, yakni “Politik”. Kata politik mengandung makna sangat luas. Bayangkan peristiwa akhir-akhir ini, bendera-bendera partai terpajang di pinggiran jalan, beramai-ramai orang berkampanye mengumbar janji dan program kerja atas nama bangsa dan negara. Mereka sedang berpolitik. Kata Politik menyiratkan beragam dinamika. Politik bisa menjadi sesuatu yang sangat kejam tapi kita perlukan karena kita tidak bisa hidup tanpa berpolitik dengan orang lain.

Makna politik secara leksikal dipahami sebagai suatu kegiatan dalam negara untuk mengurus kesejahteraan warga negara. Kesejahteraan warga negara itu tampak dalam perwujudan hak-hak seseorang sebagai warga negara. Namun apakah prakteknya demikian? Tujuan etis dari kegiatan politik adalah untuk dehumanisasi (menghumanisasikan hidup). Artinya dengan berkegiatan politik manusia semakin berkembang untuk mewujudkan hak-hak dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai warga negara[1]. Pemaknaan prinsip dan tujuan politik itu sebenarnya selalu murni. Namun terkadang muncul persepsi lain bahwa politik itu kotor. Apakah benar demikian? Kita tentu tidak bisa menghakimi bahwa politik itu kotor. Tidak ada politik yang kotor. Kita harus membedakan antara politik dalam artian hakiki dengan politikus yang sering menyalahgunakan kekuasaan politisnya. Tujuan politik adalah bonum commune, artinya kesejahteraan bersama (umum). Panggilan sejati seorang politikus adalah menjadi pelayan dalam mengusahakan kesejahteraan umum. Kesejahteraan umum harus menjadi cita-cita yang senantiasa dikejar dan diusahakan. Kesejahteraan umum makin mungkin diwujudkan bila keadilan, kemakmuran dan kedamaian terus menerus direalisasikan.

Gereja berpandangan sama tentang citra politik itu. Politik dalam arti sesungguhnya tidaklah kotor melainkan pelaksana politik itu sendiri yang cenderung kotor. Untuk itu dibutuhkan suatu spiritualitas yang menghidupi saat berkecimpung dalam dunia politik. Spiritualitas yang ditimba dari Yesus dalam mengembangkan bonum commune. Politik harus berpihak kepada manusia. Kesejahteraan umum tidak berarti mengorbankan kepentingan individu. Politik adalah sarana untuk mengangkat (humanisasi) hidup manusia. Inilah politik yang benar yakni membebaskan dan memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan, kekerasan politik, manipulasi, ketidakadilan, kebodohan dan kemiskinan dalam kehidupan bersama.

Umat Katolik Berpolitik
Kita tengok para tokoh Katolik pada dekade sebelum 1990-an yang sangat disegani oleh komunitas non -Katolik karena kejujuran dan integritasnya yang tinggi. Para politisi Katolik yang kini mulai menggeliat untuk tampil di percaturan politik menjelang pemilu 2009 perlu sejenak bercermin pada tokoh-tokoh yang memiliki integritas yang tinggi yang tentu saja mereka ini meneladani Yesus Kristus. Ia adalah I.J. Kasimo Hendrowahyono (1900-1986)[2]. I.J. Kasimo seorang Katolik sekaligus politikus tidak pernah melepaskan dari pikiran dan hatinya filosofi bonum commune dan secara tegas menjauhi praktik homo homini lupus (manusia adalah srigala bagi sesamanya). Ini semua terbentuk karena bimbingan hati nurani dan akal sehatnya sebagai seorang politisi Katolik. Ia meneladani Yesus Kristus yang berjuang juga untuk bonum commune. Satu motto yang Kasimo pegang dalam perjuangannya adalah “Salus Populi Suprema Lex”, keselamatan Bangsa merupakan hukum Tertinggi. Artinya kesejahteraan umum ia pahami dan hayati di atas segala-galanya dalam hidup bermasyarakat. I.J. Kasimo sebagai warga negara Indonesia sekaligus umat Katolik bisa dikatakan tahu letak dan peranannya. Agama bagi dirinya memberi visi hidup, inspirasi, orientasi dan motivasi hidup pribadi dan hidup bermasyarakat bersama[3]. Kasimo tampil sebagai politikus yang berkepribadian dalam politik.

Figure pahlawan Negara dan Gereja Mgr. Soegijopranoto, SJ adalah pribadi istimewa yang pantas kita teladani pula. Ia mengungkapkan pro ecclesia et patria menjadi per Ecclesiam pro patria: menjadi Gereja untuk Negara. Jadilah umat Katolik yang sejati, raihlah masa depanmu sesuai dengan nilai-nilai Injili dan ajaran Gereja untuk mengabdi Gereja dan Negara[4]. Sebagai seorang Katolik, ia memberikan dirinya secara total demi perluasan kasih di muka bumi. Ia amat bijaksana dalam menempatkan diri sebagai warga negara Indonesia sekaligus umat Katolik, seratus persen warga negara dan seratus persen katolik. Tidak ketinggalan tokoh Fransiskus Xaverius Frans Seda. Ia banyak berkecimpung dalam dunia politik dalam rentang waktu yang panjang. Ia pernah berkarya sebagai menteri empat departemen dan dipandang sebagai tokoh awam sejati. Ia dikelompokkan dalam segelintir pemikir bersama kaum Klerus yang turut berkiprah dalam membangun negara dan gereja[5].

Mereka adalah tokoh-tokoh Katolik yang berani dengan lantang memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan diri sebagai warga maupun umat beragama. Mereka merasa peduli untuk membangun bangsa. Mereka terusik untuk meneriakkan kesejahteraan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan semata.

Sense of History, Sense of sacrifice, dan sense of priorities
Sejenak kita bercermin dari para tokoh yang berani berjuang dalam dunia politik, yang mengemban kesejahteraan bersama sebagai prioritas utama. Keterlibatan mereka dalam politik menjadi suatu sikap yang pantas kita renungkan. Keterlibatan mereka memberi warna positif, kehadiran mereka memberi perubahan yang baik bagi jalannya suatu pemerintahan. Lantas bagaimana kita bisa ambil bagian seperti mereka? Kita sadar bahwa kita adalah mahluk yang berpolitik. Mau tidak mau kita senantiasa bersentuhan dengan kehidupan politik. Lantas apa yang bisa kita buat? Kita dapat bercermin dan bertanya kepada hati nurani kita bahwa politik sangat penting dijaga kemurniannya. Kesadaran ini mau menempatkan diri dalam suatu kesadaran sejarah hidup yang penting untuk diperjuangkan. Pernah ada yang mengatakan bahwa seorang yang memiliki kesadaran politik, harus pula memiliki kesadaran sejarah (sense of history). Suatu kesadaran bahwa hari kemarin menentukan hari ini dan hari ini menentukan hari esok dalam suatu proses yang kontinyu. Dan yang menentukan penentuan-penentuan tersebut adalah manusia yang memberi bentuk pada kegiatannya. Sebab itu manusia adalah pelaku sejarah. Baik buruknya suatu proses sejarah tergantung kita, pelaku sejarah, bijaksana atau tidak dalam memperjuangkannya. Kesadaran sejarah ini bisa kita temukan dalam diri I.J. Kasimo, Mgr. Soegijopranoto, SJ dll. Mereka sungguh peduli terhadap bangsa dan negara. Kepedulian mereka memberi nuansa positif bagi perkembangan bangsa.
Perjuangan para tokoh dan kita semua umat beriman yang beritikad baik ini membentuk lembaran sejarah yang baru. Meski tidak selalu mudah untuk merealisasikannya sebab disana-sini terkadang peluh dan ari mata turut mewarnainya. Inilah kesadaran pengurbanan yang harus juga tumbuh. Kesadaran untuk terus berjuang dalam suatu pembentukan sejarah yang baik. Inilah kesadaran pengurbanan (sense of sacrifice). Dalam menemukan kesulitan itu, kita diajak menjadi bijaksana. Bahwa tujuan dan motivasi awal berpolitik adalah demi kesejahteraan bersama harus diprioritaskan (sense of priorities). Jika setiap orang yang bergerak dalam dunia politik tidak peduli terhadap kesejahteraan bersama. Niscaya politik menjadi lembaran hitam yang menyisakan luka bagi banyak jiwa.

Akhirnya, kita semua adalah penentu sejarah itu. Keterlibatan dan kepedulian kita, sebagai warga dan umat beriman, sungguh dibutuhkan. Negara Indonesia membutuhkan kearifan berpolitik dari pengelolanya. Untuk itu nilai-nilai moral mesti dibangun di atas merebaknya perilaku politik demi kepentingan sesaat. Tujuan negara harus diutamakan di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Intinya setiap actor/pelaku, termasuk kita, politik harus mengembalikan esensi politik kepada maknanya yang agung. Caranya adalah berpolitik tanpa dusta. Jujurlah dalam bicara dan berbuat demi kesejahteraan bersama (bonum commune), sebagaimana Mgr. Soegijopranata, SJ tegaskan bahwa tugas membangun Gereja serta bangsa tidak pernah selesai. Kekatolikan dan keindonesiaan selalu ditempatkan dalam proses yang dinamis. Kita semua diajak untuk memperjuangkan kebesaran Gereja dan sekaligus untuk tidak kenal lelah mewujudkan kejayaan bangsa dan negara sebagai suatu panggilan suci yang mesti dihidupi[6].

Hari raya kabar sukacita,
Rabu, 25 Maret 2009
frtri



[1] http://www.balinter.net/Politik dan Godaan Kekuasaan
[2] http://citizennews.suaramerdeka/Kegairahan Politik Katolik.com
[3] Pak Kasimo dan Kita, Mingguan Hidup, Ed. Ulang Tahun ke 80 Bapak I.J. Kasimo, Jakarta, 1980.
[4] http://www.mirifica.net//D. Gusti Bagus Kusumawanta, P
[5] http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/frans-seda
[6] Ed, Mikhael Dua, Febiana R. Kainama, Kasdin Sihotang, “Politik Katolik Politik Kebaikan Bersama”, Obor: Jakarta, 23

Sabtu, 28 Maret 2009

Perseteruan Hati

Hati bertanya, "Apa gerangan yang terjadi?"
Mengapa sayang itu tumbuh bersemi
dalam perseteruan hati
antara persahabatan, profesi, status, dan
perasaan takut kehilangan
Ijinkan kubertanya, "Apakah perasaanku keliru?"
"Kamu terlalu sentimentil,
kamu terlalu mudah menilai perasaanmu", itu katamu
yang ingin mendamaikan perseteruan hatiku

hehe aku tertawa,
bingung akan apa yang terjadi
akan perasaan yang bersemi
akan waktu yang bergulir pergi
bersamamu dalam mimpi

dan benar,
"rasa ini" tidak boleh tumbuh bersemi,
sebab mungkin terjepit duri,
atau berada pada bentangan batas tak bertepi,

Biarlah rasa sayang tersimpan rapat dalam sebotol sunyi
menyisakan denting dalam hati
lalu sepi......

Sebuah Perseteruan Hati

Ternyata...
cinta tumbuh di dada,
semakin dalam mencintai,
semakin sakit rasa di hati

Sabtu, 21 Februari 2009

Untuk Seorang Sahabat

“Seorang sahabat adalah: seseorang yang datang sementara seluruh dunia meninggalkanmu, sesorang yang selalu melihat yang terbaik darimu dan melupakan yang buruk, seseorang yang tidak pernah terlalu sibuk untuk mendengarkan dan mengerti masalahmu seseorang yang akan mengundang engkau makan bersama tanpa harus menunggu hari uang tahunnya”.


Aku masih ingat kapan terakhir kali kamu datang ke sini.
Saat itu kamu membawakan kebahagiaan yang jarang kurasakan. Dan benar, kehadiranmu sahabat, amat kurindukan.
Kesepian terus membayangiku
Menghabiskan keceriaanku,
Menguras kasih dan cintaku pada sebuah rindu.
Lama ku menunggu,
Lelah ku mencari tanpa batas waktu
Cara paling mudah memuaskan kebutuhan itu
adalah pergi dari rumah ini.
Berkeliling kota, sedikit tebar pesona
Sembari mengumbar mata yang beringas mencari keindahan berharap seseorang kutemukan
dan mau berbagi denganku, siapa pun.
Sahabat adalah tempat yang paling indah untuk berbagi.
Kamu adalah sahabatku, meski tak terlalu kerap bertemu,
Tiga tahun kebersamaan kita telah kujaga
Bahkan ku letakkan dalam ruang istimewa
Dalam pigura istimewa
Dari dedaunan seroja dan wewangian ala eropa
Persahabatan tetap ku jaga.
Tak terbuang dalam pikirku, tak pernah.
Bersamamu adalah kegembiraanku.

SenJa (BerDua) BerSaManYa

Siang itu, 07 Januari 2008, gerimis melanda kota. Langit begitu hitam menghadirkan mega-mega mendung yang surutkan teriknya matahari, yang semestinya bersinar terang hari ini. Tidak seperti biasanya, siang ini ada hati seorang pria yang mengalami kegelisahan. Gelisah atas hujan yang turun tanpa henti. Padahal tidak seperti hujan-hujan sebelumnya. Ia tidak pernah merasa peduli dengan hujan atau tidak. Selain itu, dalam hatinya berkecamuk sejumlah perasaan yang belum pernah ia rasakan pula. Yang jelas, satu sisi ia merasa gelisah dan cemas atas hujan ini namun sekaligus ia pun merasakan ada getar-getar kegembiraan yang tidak pernah ia rasakan dan temukan sebelumnya.
Sesudah makan siang, gerimis masih saja melanda kota ini. Tanah-tanah basah. Dedaunan pun basah. Semua basah. Hawa dingin pun menusuk tulang membuat rasa malas untuk melakukan aktivitas apapun. Ia pun mengalami hal yang sama. Ia langsung menuju kamar, tempat istimewa, tempat yang paling ia suka. Tak lama kemudian komputer dinyalakan dan diputarnya tembang-tembang cinta, seolah mau mengungkapkan perasaannya. Memang, banyak orang bilang, kalau lagu-lagu mampu mewakili perasaan seseorang. Entah bahagia maupun sedih. Pokoknya, lagu-lagu itu mampu merangkumkan perasaan seseorang yang tidak terungkapkan dengan kalimat-kalimat lugas lainnya. Mungkin inilah yang tengah dialami oleh pria itu. Ia mengalami hal yang sama sebagaimana kebanyakan orang alami, yakni ada sejumlah perasaan yang tak mampu terungkapkan dan cukup terwakili dengan sekedar kata-kata gembira, atau senang dan lain sebagainya. Ah, mungkinkah pria itu sedang jatuh cinta?.
Tak lama kemudia handphonenya bergetar. Ada pesan masuk. Tertulis dalam pesan itu sebuah nama yang amat ia kenal. Tak menunggu lama, ia langsung mengambil handphone itu dan membacanya perlahan.
“udan-ne jadi ga?”
Tanpa maksud menjawab secara langsung, ia menuliskan begini :
“ Engga pa2. Hjan’a ga bsar koq. Smoga ntar dah reda. U dah bawa helm to?. Oh ya Tp, mnurtmu sndr bgaimn?” tanpa pikir panjang dan banyak pertimbangan ia langsung sending saja pesan itu.
“Ya Bawalah, ya kalo Nindya cih ga mslh santai getoloh, tapi ntar plge Nindya anter ke t4 krj q lag ya cz jam 08.30 ad tmn mau ket4 krj ok”
“Yap”. Akhirnya jadi juga kami bertemu senja nanti. Meskipun hari masih dilanda gerimis dan langit tampak tidak begitu ceria. Tapi hatinya sendiri tak menampakkan hal itu. Ia tampak bahagia. Dan telah mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Sepeda motor di tangan. Uang dikantong. Dan segenggam keberanian telah menggumpal menjadi sebentuk hasrat yang mesti ditumpahkan. Inilah sebuah peristiwa yang telah lama ia nanti. Dinner bersama seorang gadis yang sangat ia sayang, berdua. Sebagaimana ia kerap membayangkannya setiap malam. Ini adalah hari kebahagiaan baginya. Yang mungkin tak akan bisa ia lupakan.
Siang ini, ia menghabiskan waktu bersama lagu-lagu cinta. Ia mencoba membangun suasana yang romantis dalam dirinya. Maklum ia sendiri cukup gugup apabila bicara soal cinta. Ia ingin menghadapi senja ini berdua seperti dalam sinetron-sinetron yang pernah ia lihat atau kisah percintaan ala korea yang tak jarang membuatnya “mupeng”. Ia tidak tidur siang. Ini beda dari biasanya. Maklum, kalau soal tidur ia jagonya, sampai tak tau waktu. Bisa-bisa ia kebablasan sampai malam dan tak jadilah kencannya senja ini. Ia telah mengambil keputusan itu dengan tepat. Tanpa berpikir-pikir lagi , ia habiskan waktu dalam kesendirian sampai waktu yang ia nantikan mendekati dirinya.
Angannya telah merangkak jauh, sejauh terik yang berganti senja. Lama tetapi pasti. Berbagai macam cerita telah ia persiapkan. Berbagai bahan obrolan telah ia rancang. Ia beranggapan bahwa jangan sampai dalam perjalanan bersama dengannya berlalu dengan sia-sia. Jangan sampai sedetikpun berlalu tanpa menyisakan kenangan. Ia telah merencanakan semuanya dengan mantap. Ya…mungkin inilah gejolak kawula muda yang dilanda cinta dan akan berkencan bersama seorang gadis yang sangat ia sayang dan cinta.
Berulang kali tangannya mengambil handphone yang tersanding di depannya. Apa yang ia lihat. Oh, ternyata masih satu jam lagi. Demikian ia lakukan berulang kali. Tak sabar rasanya menunggu sampai jam 16.30. dan matanya pun berulang kali mengamat-amati weker yang ada di depannya, tepat di bawah komputer miilknya. Seakan ingin memastikan kembali, apakah waktu yang ditunjukan dalam handphone benar adanya.
“Huuuh…” sesekali ia menghela nafas panjang. Setelah mengetahui bahwa waktu yang ia tunggu masih begitu lama. Ia jadi tahu bagaimana rasanya menunggu. Mungkin benar kata orang, menunggu adalah saat-saat yang membosankan.
“Nanti lwt per4an bangjo kekanan trs nnt ad per3an ambil kanan lagi trs ad per4an kecil ambil kanan dikit tar dikiri jln ad ruko planet square yg ad pohn palm’a”. sebuah pesan kembali masuk.
“Ok…ntar aq sms u. U aktifkan trs hp u ya”. Sebagai balasan dengan harapan ia akan dapat menemukan tempatnya dengan segera. Maklum ini adalah kali pertama ia menuju tempat Nindya bekerja. Semenjak ia tahu bahwa Nindya bekerja di situ. Tak pernah sekalipun ia menyempatkan waktu mengunjunginya. Senja ini adalah kesempatan terbaik baginya untuk bertandang menemuinya.
Benar juga sebagaimana ia harapkan. Gerimis perlahan mereda meski masih menyisakan mendung pada langit-langitnya. Dedaunan mulai mengering, tinggal sisa tetesnya saja yang berguliran menuju tanah. Tanah-tanah basah dan penuh genangan air perlahan-lahan pun mengering. Airnya menyusut dan menyisakan bopeng, seperti tato emping alias panu yang menempel pada kulit manusia, pada bekas genangan. Haha…...lucu juga membayangkan genangan itu seperti tato emping. Hujan telah reda. Hatinya kian bahagia-berbunga-bunga. Semangatnya berbinar dan tak kalah degup jantungnya pun berlarian mengucurkan peluh kecemasan (alias grogi).
Waktu telah menunjukan pukul 16.30 WIB. Disambanya handuk yang nangkring di gantungan dekat pintu masuk kamarnya beserta alat mandinya. Bergegas menuju kamar mandi. Ia tidak ingin kalau Nindya menunggu terlalu lama. Maka, tidak beberapa lama kemudian, ia telah keluar dari kamar mandi dan sedikit berlari menuju kamar untuk berganti pakaian. Waktu masih cukup baginya untuk berdandan mempersiapkan segala supaya terlihat pantas dipandang. Sekedar parfum ia semprotkan ke tubuhnya.
"emm....wangi....." gumamnya dalam hati.
Tidak lama kemudian, berangkatlah ia dengan semangat dengan motor pinjaman bahkan tanpa surat-surat yang lengkap. Ya, terang saja, STNK motor itu sedang diperpanjang. Dengan modal nekat, ia memberanikan diri untuk tetap berangkat dengan motor tanpa surat-surat itu. Dengan harapan akan berjalan aman-aman saja. Kendati sebelumnya, ia pun telah meminjam kepada salah seorang temannya yang lain. Tapi, ia tak menghiraukannya lagi. Ia telah memutuskan untuk menanggung segala resiko yang akan ia hadapi.
“Ketilang yo wis” begitu gumamnya dalam hati saat dalam perjalanan menuju tempat Nindya.
Keberangkatannya berjalan lancer. Kendati sempat kesasar juga. Namun dengan segera ia menemukan tempat yang mereka sepakati.
“Nindya aq dah di dpn planet square. U dimn?” Ia menuliskan pesan itu untuk Nindya. Dan tak berapa lama kemudian, seorang perempuan keluar dari sebuah coffee caffe. Senyum terpancar dari wajahnya yang manis, sembari melambaikan tangan mulusnya. Ia pun tersenyum, malu. Jantungnya berdetak semakin keras.
“Gila..semakin cantik saja dia. Rambutnya ia ikat rapi. Tak lupa tas hitam yang ia suka melekat ditubuhnya”. Gumamnya dalam hati sembari mendekati Nindya.
“hai….koq cepet banget tahu tempat ini, ter”
“ya iyalah. Aq gituloh. Aku kan sering main, dolan-dolan”
“Nindy….mau kemana niech..?” Ia sedikit bingung untuk mengawali pembicaraan ini. Ternyata engga mudah saat bertemu langsung dengan orangnya. Berbagai macam rencana yang telah ia persiapkan berlalu begitu saja. Untuk itu, ungkapan-ungkapan spontan lebih kerap muncul. Dan ini benar-benar mengagumkan, bahwa akhirnya mereka bisa berbincang bersama dengan asyiknya.
Ia dan Nindya pergi berdua. Mereka pergi menuju tempat yang sangat istimewa. Hanya berdua.

Jogja, 10 Januari 2008
atas sebuah kisah yang pernah terjadi pada 07 Januari 2008

Sekedar luka hati

Tuhan,
Aku terlalu payah untuk melayaniMu,
Litani keluhan malah kerap terlontar dari mulutku,
bahkan menghiasi benak terdalamku.

Aku tidak begitu gampang memaafkan orang lain
Aku lebih gampang mencela, mencaci atau mengkoreksi,
Tapi terkadang tidak pernah terlontar,
Sebatas emosi di dada
Yang …..tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.

Tuhan,
Aku terlalu payah untuk melayaniMu,
Ternyata aku sibuk dengan diriku sendiri,
Apakah demikian?
Kadang aku malah melawan, berontak…
Ah, tidak. Aku sudah cukup mau berbagi dengan orang lain
Bahkan aku mengorbankan kepentinganku sendiri untuk mereka,
Aku mengorbankan waktu untuk berjalan dari pintu ke pintu
Aku mengetok dari hati ke hati
Dan berjumpa dengan wajah-wajah kemalasan
Ah, Tuhan
Aku terlalu payah untuk melayaniMu,
Mungkin karena aku belum mengenal Mu
Mungkin aku terlalu menutup diri dariMu
Tapi, mau bagaimana lagi,
Terkadang pengalaman berbicara, bahwa Engkau
Tidak b egitu akrab dengan aku.

Tuhan,
Mengapa kita tidak bisa akrab.
Kita kerap kali bertengkar,
Kita kerap kali berbeda pendapat,
Aku ingin ini, sementara kamu ingin itu
Akibatnya, aku menjadi kurang suka denganMu.

Saat Ku SenDirI

KeCemAsan keRap MembAyanGi
TErMasuK MalaM ini
Lagi-laGi….
sAat ku seNdiRi

KenTungAn, 25 SepTember 2007

Mimpi

Tepat hari Rabu saat fajar telah merekah
Tepat tanggal 05 Maret 2008
Dia bermimpi...
Aku pergi dari seminari....

Kentungan, 06 Maret 2008

Ketakutan manusia

Tebal debu ini mengotori lembar demi lembar
Menyuramkan keindahan dan lekak-lekuknya, unik sekali
Hati-hati
Jangan sentuh
Jangan ditiup
Ia terbang
Ia bisa membuatmu buta
Ia bisa membuatmu menangis
Dan bahkan batuk berdahak

Tebal debu ini mengotori lembar demi lembar
Perjalanan dulu hingga kini
Telah lama

Sebuah perhelatan malam

Terhenyak bangun dari tidurku,
yang diselingi tanya di hati
Dalam gelap malam dirimu hadir
Menangis sendu sedan bimbangkan seluruh malam
Kita berdua ada pada satu poros
Berjubel-jubel mata mengawasi
Tingkah manjamu yang menggoyang-goyangkan tubuh tegasku
Aneh…
Berjubel-jubel mata itu,
tidak mau pergi mengawasi
tidak mau berhenti menilai
Mata keheranan, penuh waspada
Serta aba-aba mendesak terus kebebasanku
Ah, mengapa mereka mengawasi kita???
Mata-mata berselimutkan serba putih
Berawal ujung rambut sampai kaki
Serba putih dan putih
Dalam gelap malam ketika bersama denganmu


Kentungan, April 2005

Mengapa kamu menangis ?

Semalam kamu hadir
Saat kusendiri
Di kesunyian
Airmata membasahi pundakku
Tangan halusmu mencengkeram tubuhku
Sesak napasmu risaukan hatiku
“Mengapa kamu menangis”?


Kentungan, April 2005

Sendumu

Datang tiba-tiba,
dalam kebimbangan.
Lalu isak tangis bersambung tanya,
yang dengan keras kamu luapkan,
yang dengan deras kamu alirkan.
Pada tubuhku kaku,
yang terbingkai erat tubuhmu.
Aku menyentuh tubuhmu,
laluku seka genangan pada lekak-lekukmu
Sembari berkata “Sudahi saja sendumu”
Sungguh airmatamu membuatku
Ngilu rindu hadirmu
Ketika fajar baru belingsatan mencari jalannya

Kentungan, April 2005

Marilah Kita Mencoba

Perhelatan anak manusia baru mulai,
kegelisahan sesekali menyelimuti diri
setelah lama berlari
bermimpi menggapai keberhasilan yang selama ini pergi.
Fisik bukanlah apa-apa,
Aku masih bisa berlari jika hatiku bersemi
Aku akan memenuhi segala janji jika kau tak enggan menerima cinta
Teman, perjuangan kita belumlah usai
akan aku perkenalkan kau pada dunia
dan setidaknya kau mau mencoba.
Jangan katakan nanti,
jangan katakan tidak mau.
Tapi cobalah untuk mengerti
Hargailah usaha yang telah dibangun,
supaya kita saling mengerti,
supaya kita bisa saling melengkapi.
Teman,
Jangan sekali-kali menyisakan kesempatan baik bagi kita
Jangan pernah mengulang kegagalan yang sama
aku ingin kita semua berkembang
Aku ingin kau dan aku maju bersama
Jangan katakan tidak,
marilah kita coba

Kentungan, 12 April 2005

Akan Kubangun Menara Itu

Mungkin usia mengantar diri pada kedewasaan
Yang merubah pandanganku pada kehidupan.
Mungkin kegelisahan juga sedikit mendongkrak semangat
supaya kegagalan tertepis
sejauh langkah kaki melangkah.
Kemalasan yang selama ini ada tengah beralih.
Memang, semangat kerja inilah yang kubangun
Untuk membangun menara impian.
Biar kutunjukan,
Tak selamanya roda kesengsaraan melanda,
akan kubangun menara ini untukmu,
akan kutunjukan pada dunia impian sesungguhnya.
Tanpa kamu menara-pun dapat kubangun
Tak lagi bergantung padamu,
karena dirimu telah andil pula merobohkan menara impian,
ketika keputusan terucap sebagai kata terakhir darimu.
Kentungan, 3 April 2005

Indahnya Persahabatan

Dua hari menjelang keberangkatanku menuju Jogja
Penuh dengan tawa.
Dua hari menjelang keberangkatanku menuju Jogja
Penuh dengan kebahagiaan.
Dua hari menjelang keberangkatanku menuju Jogja
Enggan untuk kulupakan
Bahkan rasanya ingin selalu demikian.
Hari pertama sebelum keber
angkatanku menuju Jogja
Telah terjadi janji antar manusia yang lama tak jumpa
Mungkin telah bertahun-tahun bergulat dengan cinta dan cita
Tapi kini bertemu dalam keberasamaan penuh cinta
Hari pertama ku
habiskan waktu bersama mereka
Semenjak matahari belum nangkring di atas kepala
Sampai ia masuk dalam peraduannya yang amat ia suka
Aku masih ada bersama mereka
Hari pertama sebelum keberangkatanku menuju Jogja
Enggan untuk kulepaskan.
Hari kedua sebelum keberangkatanku menuju Jogja

Purbalingga, 27 Oktober 2006

Pesan Kosong


Siang itu matahari bersinar terik.
Padahal ia belum bertengger di atas kepala, tapi rasanya sudah terbakar.
Tubuhku penuh keringat, pakaianku basah, dan tenggorokan amat nafsu menelan serpihan-serpihan es batu yang perlahan mencair.
Siang ini matahari bersinar terik.
Seluruh hari-pun terasa kering kerontang, bagai dedaunan
di sepanjang jalan kenangan kering, layu tanpa air.
Siang ini matahari bersinar terik.
Dan aku beringasan mencari penghiburan.
Entah apa yang akan ku lakukan,
tapi ditanganku telah ada handphone merah muda, romantis, dan feminin.
Memang, si empunya enggan mengganti casing.
Ia lebih suka apa adanya.
Ya sudah, akupun tak begitu malu menggunakannya.
Tanganku mulai menari di atas tuts handphone merah muda, milik adikku.
Tapi sebentar, ia berhenti saat selesai menekan 0 8 5 6...
Jari-jarinya berhenti bergerak,
Sebentar kemudian jari telunjuknya menekan tuts C.
Layar kosong tanpa angka

Kentungan, November 2006

Janji

Tak usah berjanji
Daripada berjanji tidak menepati
Siapapun tak suka dusta
Daripada dusta lebih baik luka
Hindarkanlah lidah yang bersilat
Karena akan mengantarkan diri kepada dosa
Mulut siapa yang berdusta
Tak bakal dipercaya
Karena semua orang tak suka dusta
Kendati mereka sendiri tak bisa hindari dusta

(inspirasi dari Pengkotbah)
Kentungan, 16 April 2007