Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 April 2010

Keterlibatan hati dengan orang sakit

A. Sebuah Kisah Perjumpaanku dengan Bapak Mohammad
Keterlibatan hati dengan orang sakit


Hari beranjak siang, aku telah mondar-mandir, longak-longok ke ruang pasien serta menyapa mereka, pasien, yang terbaring di atas tempat tidurnya di bangsal Elisabeth satu. Elisabeth satu terbagi dalam dua kelas, yaitu kelas dua dan tiga. Aku memasuki hampir semua ruang dan bertegur sapa dengan hampir semua pasien dan keluarganya. Ruang 108 adalah salah satu ruangan yang aku tengok. Namanya Bpk Mohammad Mudiarjo.
Dalam perbincangan aku menjadi tahu bahwa dia sakit batu ginjal. Dalam riwayat sakitnya, dia pernah dioperasi dengan penyakit yang sama kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Dan kali ini dia harus menjalani operasi batu ginjal lagi. Mohammad Mudiarjo tinggal di daerah Pancingan, Umbulharjo. Dia tinggal bersama istri sementara anak-anaknya telah berumahtangga dan memberikan dua cucu, dan masih menunggu kelahiran satu cucu lagi. Mohammad Mudiarjo bercerita dengan semangat tentang keluarga dan asal-usulnya. Ternyata dia asli berasal dari Bumiayu, Purwokerto. Tidak heran apabila dia bisa menggunakan bahasa banyumasan dengan baik. Suasana bertambah hangat ketika aku memperkenalkan diri, aku berasal dari Purbalingga. Dia langsung merespon, “lah dénéng tanggané dhéwék. Bu, kiyé, mas Tri sekang Purbalingga. Lah ketemu seduluré dhéwék kiyé” dengan logat banyumasan yang kental.
Batu ginjal telah diambil, tanda bahwa dia telah melewati operasi dengan baik. Hal ini aku ketahui saat aku berkunjung menemui dia. Yang terlihat olehku adalah tubuh Mohammad yang lemas, dan sesekali dia merintih kesakitan. Istrinya bilang, “ini loh mas, bapaké réwél terus. Perawat sudah ngomong sabar pak, sabar. Tapi dia tetep ngéyél”. Saat dia merintih kesakitan, aku berada disampingnya, berulang kali ia merintih dan mengeluh, dan aku tidak tahu harus mengatakan apa, “mas Tri, dénéng lara temen, kepriwé kiyé mas. Aduh..aduh.. dénéng lara temen mas”. Aku hanya menemani, memegang tangan, dan sesekali menghibur dengan cerita-cerita dengan harapan bisa mengalihkan rasa sakitnya. Namun toh dia tetap merasakan sakit, “sabar ya mas, ngomong sih gampang, tapi angél mas, angél banget nglakoniné. Lara banget mas”. Aku hanya menjawab, “iya pak, iya. Tidak apa-apa. Pasti akan sembuh”. Aku sungguh semakin tergerak untuk menemani dia dalam sakitnya. Saat kesakitan ia merintih dan tangannya memegang erat tanganku. Aku menyahutnya dengan genggaman yang erat pula, tanda bahwa aku ada disampingnya dan menemaninya.
Aku hanya berharap bahwa keberadaanku di sampingnya bisa membuat dia sedikit lebih tenang, kendati tidak banyak yang aku lakukan. Aku terus menemaninya dengan sabar, dan diapun merasa senang saat aku menemaninya. Memang dia sedikit berlebihan dalam bersikap. Ia selalu menguras perhatian para perawat dan karena itulah ia dipindahkan ruang, dari 108 ke ruang 101. Akupun heran melihat tingkah Mohammad yang hiper menarik perhatian para perawat, dalam hatiku menjawab, “mungkin dia ingin selalu ditemani”. Di ruang 101, ia telah mengalami banyak perkembangan. Ia bisa kencing tanpa menggunakan cateter, tapi menggunakan alat lain, semacam tempat kencing (pispot). Ia sering kencing, dan setiap kencing ia merintih kesakitan, “aduh lara banget mas, kencingnya ésih metu ora mas, lara mas”. Bahkan ia sempat putus asa, ingin mati saja daripada menahan sakit yang tidak kunjung reda. Aku menemaninya dan mendukungnya dengan sabar. Sesekali aku masih membuang air kencing yang telah penuh di pispot. Kendati sedikit risih, tapi tak ada pilihan lain selain aku harus melakukannya, dan aku menjadi biasa. Perasaan yang muncul adalah rasa tulus dan senang karena bisa membantu meringankan kesulitannya.
Aku menemaninya berjam-jam dan aku tetap berada disampingnya tanpa meninggalkan sedikitpun. Sesekali aku duduk dan berdiri dengan tangan tetap memegang erat tangannya, atau bahkan berdiri terpaku, diam hanya memandang wajahnya saat Mohammad memejamkan mata. Aku sungguh ingin menemani dia dalam sakitnya, apalagi istrinya berpesan padaku kalau dia merasa tenang dan senang ditemani olehku, “iki pak, mas tri wis teka”. Aku merasa senang dan bahagia bisa menemaninya. Dalam pikirku, aku merasakan kedekatan dengannya. Aku merasakan yang dia rasakan. Bagaimana dalam sakitnya, ia membutuhkan seseorang yang berada disampingnya dan mendukungnya. Inilah yang menguatkanku bertahan menemani dan menghiburnya. Mohammad menjadi pribadi yang hadir dan menggerakkanku untuk terlibat merasakan sakitnya. Melalui penghiburan-perhatian kecil, aku merasa bisa menjadi sahabat baginya. Sebagaimana dia pun merasakan nyaman dengan kehadiranku berada di sampingnya. Inilah yang menggerakkanku untuk terlibat dalam pergulatan sakit Mohammad. Bahwa ia manusia yang ingin diperhatikan, ditemani, didukung oleh yang lain, dan aku melakukan itu sebagai pribadi yang memperhatikan dan menemaninya.
Pengalaman bersahabat dengan orang sakit memunculkan perasaan dan suatu penyikapan akan apa yang harus aku lakukan. Tentu pertama-tama bukan sekedar mau menghibur, apalagi menasehati, tetapi sungguh ingin menemani, berjalan bersama dia yang sedang sakit, dan keluarganya. Mohammad membutuhkan perhatian sebagai pribadi yang utuh, dan melalui perhatian serta perlakuan manusiawi itulah ia merasa nyaman dengan hidupnya yang sedang sakit. Aku kira Mohammad tidak sekedar butuh diberi obat atau makanan saja, tetapi butuh disapa, ditemani dalam sakit yang ia derita. Melalui pengalaman tersebut, aku ingin meringkaskan pengalaman bersahabat dengan orang sakit dengan “Keterlibatan hati untuk mau hadir, menemani, dan merasakan apa yang dirasakan orang sakit merupakan perwujudan iman akan Allah yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus”

B. Tesis :
Pengalaman live-in di rumah sakit Panti Rapih selama kurang lebih 9 hari menjadi sahabat orang sakit dan keluarganya, memberi kesan mendalam bagiku. Kesan itu tergoreskan melalui pengalaman eksistensial dimana aku sungguh mengalami perjumpaan bahkan keterlibatan langsung dengan mereka, orang sakit dan keluarganya. Keterlibatan yang mewujudkan imanku secara personal kepada Allah. Keterlibatan yang menghormati, menghargai mereka sebagai pribadi yang utuh, nguwongke, sebab mereka adalah manusia yang bermartabat, gambar dan citra Allah yang merupakan anak Allah sendiri. (Martabat hidup manusia datang dari Allah, dan akan kembali kepda Allah (Evangelium Vitae, 11)
Keterlibatan personal menjadi sahabat orang sakit mengajakku bertanya, Apa yang mendorongku melakukan itu? Pertanyaan ini mengantarku untuk berefleksi bahwa kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta adalah jawabnya. Tentu saja terinsipirasi dari Yesus sendiri yang menampilkan kehadiran dan penyerahan diri-Nya yang penuh cinta dalam mengasihi orang lain (Mat 8:1-4, 9:1-10; Yesus yang hadir menyembuhkan lumpuh, sakit kusta). Bentuk kehadiran yang melibatkan diri dengan menyerahkan diri penuh cinta inilah yang menggerakanku terlibat dengan mereka.
Untuk itu aku rumuskan dalam sebuah tesis :

“Melalui kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta menjadi sabahat orang sakit, aku dipanggil untuk terlibat dalam usaha meneruskan karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus yang bersolider dengan manusia”

Tesis ini menguraikan dinamika iman yang mewujud dalam tindakan praktis sehingga iman menjadi kongkret. Kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta menjadi sahabat orang sakit merupakan bentuk keterlibatan hati yang nyata, sekaligus wujud ambil bagian dalam penderitaan Yesus Kristus yang disalib (Bdk. Kis 5:41,“Para rasul bergembira karena mereka telah dianggap layak menderita oleh karena nama Yesus Kristus”) sebagai penerusan akan karya keselamatan Allah yang berlangsung dalam Yesus Kristus yang bersolider dengan manusia. Konsili Vatikan II mengartikan ini sebagai wahyu, yakni pemberian diri Allah dan misteri kehendak-Nya kepada manusia (Ef 1: 9 “Sebab Ia telah mnyatakan rahasia kehendaknya kepada kita, sesuai dengan rencana keselaanNya yaitu kerelaan yang dari semula ditetapkannay dalam Kristus; DV 2) yang berpuncak pada Yesus Kristus (DV 4). Dengan kata lain, Allah menyapaku melalui pemberian diri Allah yang berpuncak dalam Yesus Kristus (DV 2), dan aku menyatakan “ketaatan iman” kepada Allah (DV 5). Inilah relasi wahyu dan iman, dimana Allah menyapaku dan aku menanggapi tawaran Allah yang telah melibatkan hidup-Nya dalam kehidupan manusia secara bebas dan merdeka. Maka tesis ini dimaksudkan bahwa Allahlah yang pertama-tama berinisiatif dan aku tergerak untuk menanggapinya dengan bebas dan terwujud dalam tindakan moral yakni kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta menjadi sahabat orang sakit.

Karya Keselamatan Allah dalam Yesus Kristus yang bersolider dengan manusia
Keselamatan yang dikerjakan Allah dalam Yesus Kristus, merupakan suatu keterlibatan dinamis kedua pihak, yakni bahwa hidup dan usaha manusia tidak mungkin dipisahkan dari kehendak dan usaha Allah (rahmat). Allah telah terlibat dalam sejarah dan telah memanggil manusia supaya ikut berjerih-payah bagi keselamatan semua orang (DV 2), maka dengan kepercayaan dasar dan usaha, orang memberikan jawaban pada Allah (DV 5). Allah telah berulang kali dan dengan berbagai cara berbicara dengan nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi, pada zaman akhir ini berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya (Ibr 1:1, “setelah pada zaman dahulu Allah ebrulang kali dan dalam perbagai cara berbicara kepada nenk morayng kita dengan perantaraan para nabinya”). Dalam Kristus, Allah telah melibatkan diri dengan hidup dan sejarah manusia, “sebab Ia mengutus Putera-Nya, yakni Sabda kekal, supaya tinggal di tengah umat manusia (Yoh 1:1-8), dan menyelesaikan karya penyelamatan (Yoh 5:36 “segala pekerjaan yng diserahkan Bapa kepadaku, paya aku melaksanakan pekerjaaan itu, itulah yang memberi kesaksian bahwa Bapalah yang megnutus Aku, 17:4, “Aku mempermuliakan Engkau dengan jalan menyelesaikan pekerjaan di bumi”) (DV 4).
Peran Yesus sebagai pengantara dan jaminan perjanjian baru dilaksanakan dalam solidaritas dan penebusannya. Antara Yesus dan manusia terjalinlah solidaritas. Yesus menjadi senasib dengan manusia berdosa dan malang, dan manusia dapat menjadi senasib dengan Yesus Kristus oleh Allah diselamatkan dan selanjutnya dapat ikut serta menikmati keselamatan itu. Rencana dan maksud Allah itu tertuju kepada keselamatan manusia berdosa, “Allah mengutus Anak-Nya” Yesus Kristus (Yoh 3:17”Yesus datang ke dunia bukan u menghakimi, tp meyelamatkan dalam nama Dia”; 17:18, “Engkau utus Aku, Aku utus mereka”; 1 Yoh 4:9.10, Gal 4:4, Rm 8:3,”mengutus anaknya sendiri dalam daging”). Apa yang dialami dan dibuat Yesus terjadi menurut “kehendak Allah” (Kis 2:23, “Dia yang telah diserahkan Allah mnrt mksud dan rencnya, tlah km salibkan..dst”; 4:28; Gal 1:4, “Yang telah serahkan diriNya karena dosa2kita, tuk lepaskan kita dari ygjaht, mnr kehenk Bapa”; Luk 24:26), bahkan adalah karya Allah (Yoh 4:34; 5:36; 10:37; 14:10). Yesus pun dengan rela dan taat melaksanakan “rencana dan kehendak Allah” itu (Flp 2:8, “Allah adalah saksiku..ds”t; Yoh 4:34, “Makanaku ialah melakukan kehendak Bapa, selesikannya pula”; 5:30; Rm 5:19, Ibr 5:8, Mat 16:21; Yoh 3:14). Oleh karena itu solidaritas timbal balik atara Yesus dan manusia sesuai dengan “rencana kehendak Allah”. Solidaritas itu hadir bagi Kristus dengan menerima kemanusiaan sepenuhnya, senasib dengan manusia (Flp 2:1-11,”merendahkan diri seperti Kristus”). Allah menjadi senasib dengan manusia, Allah membiarkan diri dibatasi oleh situasi konkret manusia, jerih payah hidup, penderitaan dll. Jurgen Moltmann membahasakan keterlibatan Allah dalam hidup manusia itu dengan bentuk Allah yang peduli (Allah yang pathos). Para nabi merefleksikan bahwa Allah adalah Allah yang peduli, (dalam konteks Israel) Allah yang peduli (pathos) terhadap bangsa Israel (situation of God). Melalui pathos, Allah memperhatikan dan masuk secara mendalam ke dalam situasi umat yang Ia pilih. Dengan demikian, pengalaman, tindakan dan penderitaan umat-Nya mempengaruhi Allah. Kasih Allah itu bukan melulu batiniah semata, tetapi terwujud dalam tindakan konkret dalam keterlibatan-Nya dengan penderitaan umat-Nya.
Untuk itu, dalam pandangan teologi moral, segala usaha hanya berarti bila dikerjakan di dalam Kristus. Orang mengikat diri pada Kristus dan pada saat yang sama mengharapkan keselamatan dari Allah lewat Kristus. Yesus senasib dengan manusia-setiakawan dengan kemalangan mausia (Ibr 2:17, “ia dismkan dengan sudara-saudranya”), bahkan sampai harus menderita dan wafat (Rm 6:23, “hidup yang kekal dlam Allah”), inilah Solidaritas negatif. Yesus mau senasib dengan manusia yang dikungkung oleh dosa, meskipun Ia tidak melakukan dosa (2 Kor 5:21, “dia dosa karena kita”). Selain itu, manusia yang berdosa turut serta diselamatkan oleh Yesus Kristus yang selamat.Yesus yang diselamatkan, disempurnakan, dibangkitkan oleh Allah menjadi pokok keselamatan abadi (Ibr 5:9, “sesudah ia mecapai kesempurnaan, ia jdi pokok keselamtan bagi semua orang”) bagi semua manusia, solidaritas positif.

Kehadiran dan Penyerahan diri yang penuh cinta menjadi sahabat orang sakit
Solidaritas Allah dengan manusia merupakan suatu tanda Allah yang menyapa manusia dengan mau terlibat di dalam penderitaan manusia. Dalam pengalaman live-in itu, akupun menanggapi sapaan Allah yang mau menyelamatkan itu dalam bentuk kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta kepada mereka yang sakit. Perjumpaan dengan mereka yang sakit memanggilku untuk terlibat, sehati seperasaan dengan penderitaan mereka. Ini merupakan tanggapanku atas tawaran Allah yang sungguh telah melibatkan hidup-Nya dalam kehidupan manusia secara bebas dan merdeka. Tindakanku yang hadir dan menyerahkan diri dengan semangat cinta merupakan perwujudan imanku akan Allah yang sungguh mau terlibat dengan manusia.
Karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus yng bersolider dengan manusia memanggilku untuk mau terlibat pula dalam hidup relasiku dengan sesama. Seperti Yesus sendiri yang selalu tampil dalam hidup dan karya-Nya untuk mengasihi sesama, memperjuangkan kehidupan (Yesus memberitakan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada tawanan, penglihatan bagi orang buta dst, bdk Luk 4:18-19). Yesus sungguh tampil untuk memperjuangkan kehidupan. Demikian pula aku melalui keterlibatan secara konkret, aku melibatkan diri dalam karya keselamatan. Dalam pengalaman live-in yang lalu, kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta menjadi wujud iman yang lahir secara konkret dalam tindakan moral.
Dengan melibatkan diri dalam karya keselamatan Allah di dunia, yang telah terjadi melalui Yesus Kristus, aku pun dipanggil untuk meneruskan misi Yesus yang memperjuangkan kehidupan.

C. Visi, Misi, dan Strategi Pastoral
a. Visi

Rumah Sakit Katolik ikut ambil bagian dalam mewujudkan Kasih Allah terhadap manusia di dunia melalui pelayanannya yang holistik bagi semua orang

b. Misi
1. Menjadi sahabat bagi pasien dan keluarganya dengan didasari cintakasih
2. Memberikan pelayanan yang holistik dengan semangat Kasih bagi semua orang, terutama pasien dan keluarganya
3. Membangun semangat solidaritas umat beriman terutama bagi mereka yang sedang sakit

c. Stategi Pastoral
1. Bidang Rohani dan Kepribadian
1. Menjadi sahabat yang mau terlibat dengan penuh totalitas dalam menghadapi dengan pergulatan pasien dan keluarganya
2. Memberikan pelayanan spiritual bagi pasien dan keluarga yang membutuhkan sesuai dengan agama dan kepercayaan mereka masing-masing (jejaring dengan tokoh agama lain misalnya imam, kyai dll).
3. Membantu dalam memberikan pelayanan sakramen-sakramen bagi pasien.
4. Memotivasi pasien dan keluarga untuk memperjuangkan kesembuhan

2. Bidang Sosial Ekonomi
1. Memberikan pelayanan yang berkualitas bagi semua pasien
2. Membentuk jaringan kerjasama dengan pihak-pihak tertentu untuk menyediakan dana sosial bagi para pasien tidak mampu

3. Bidang Institusi Rumah Sakit
1. Mengoptimalkan karya pelayanan pastoral care atau unit pastoral sosio-medis dengan melibatkan banyak pihak demi pelayanan yang holistik
2. Membangun kerjasama berbagai pihak (networking) demi peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit.

Daftar Pustaka
· Bernhard Kieser, SJ, Wahyu Ilahi Ditemukan Dalam Penerusan Manusiawi, manuscript, Yogyakarta, 2006
· CB. Kusmaryanto, Etika Medis, manuscript, Yogyakarta, 2009
· Dokumen Konsili Vatikan II
· Groenen, OFM, Soteriologi Alkitabiah, Yogyakarta : Kanisius, 1994
· Jurgen Moltmann, The Crucified God, dalam http://theologytoday.ptsem.edu/apr1974/v31-1-article.htm.





Tri Kusuma, Albertus


Jumat, 17 April 2009

bonum commune

Bercermin dari para tokoh katolik dalam
memaknai kembali esensi politik
bonum commune

Manusia adalah zoon politicon kata seorang filsuf Yunani Kuno, Aristoteles. Kata itu mendefinisikan bahwa manusia adalah makhluk yang berpolitik. Ada juga yang mengartikan bahwa manusia tak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Dari ungkapan itu ada kata yang pantas kita cermati bersama, yakni “Politik”. Kata politik mengandung makna sangat luas. Bayangkan peristiwa akhir-akhir ini, bendera-bendera partai terpajang di pinggiran jalan, beramai-ramai orang berkampanye mengumbar janji dan program kerja atas nama bangsa dan negara. Mereka sedang berpolitik. Kata Politik menyiratkan beragam dinamika. Politik bisa menjadi sesuatu yang sangat kejam tapi kita perlukan karena kita tidak bisa hidup tanpa berpolitik dengan orang lain.

Makna politik secara leksikal dipahami sebagai suatu kegiatan dalam negara untuk mengurus kesejahteraan warga negara. Kesejahteraan warga negara itu tampak dalam perwujudan hak-hak seseorang sebagai warga negara. Namun apakah prakteknya demikian? Tujuan etis dari kegiatan politik adalah untuk dehumanisasi (menghumanisasikan hidup). Artinya dengan berkegiatan politik manusia semakin berkembang untuk mewujudkan hak-hak dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai warga negara[1]. Pemaknaan prinsip dan tujuan politik itu sebenarnya selalu murni. Namun terkadang muncul persepsi lain bahwa politik itu kotor. Apakah benar demikian? Kita tentu tidak bisa menghakimi bahwa politik itu kotor. Tidak ada politik yang kotor. Kita harus membedakan antara politik dalam artian hakiki dengan politikus yang sering menyalahgunakan kekuasaan politisnya. Tujuan politik adalah bonum commune, artinya kesejahteraan bersama (umum). Panggilan sejati seorang politikus adalah menjadi pelayan dalam mengusahakan kesejahteraan umum. Kesejahteraan umum harus menjadi cita-cita yang senantiasa dikejar dan diusahakan. Kesejahteraan umum makin mungkin diwujudkan bila keadilan, kemakmuran dan kedamaian terus menerus direalisasikan.

Gereja berpandangan sama tentang citra politik itu. Politik dalam arti sesungguhnya tidaklah kotor melainkan pelaksana politik itu sendiri yang cenderung kotor. Untuk itu dibutuhkan suatu spiritualitas yang menghidupi saat berkecimpung dalam dunia politik. Spiritualitas yang ditimba dari Yesus dalam mengembangkan bonum commune. Politik harus berpihak kepada manusia. Kesejahteraan umum tidak berarti mengorbankan kepentingan individu. Politik adalah sarana untuk mengangkat (humanisasi) hidup manusia. Inilah politik yang benar yakni membebaskan dan memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan, kekerasan politik, manipulasi, ketidakadilan, kebodohan dan kemiskinan dalam kehidupan bersama.

Umat Katolik Berpolitik
Kita tengok para tokoh Katolik pada dekade sebelum 1990-an yang sangat disegani oleh komunitas non -Katolik karena kejujuran dan integritasnya yang tinggi. Para politisi Katolik yang kini mulai menggeliat untuk tampil di percaturan politik menjelang pemilu 2009 perlu sejenak bercermin pada tokoh-tokoh yang memiliki integritas yang tinggi yang tentu saja mereka ini meneladani Yesus Kristus. Ia adalah I.J. Kasimo Hendrowahyono (1900-1986)[2]. I.J. Kasimo seorang Katolik sekaligus politikus tidak pernah melepaskan dari pikiran dan hatinya filosofi bonum commune dan secara tegas menjauhi praktik homo homini lupus (manusia adalah srigala bagi sesamanya). Ini semua terbentuk karena bimbingan hati nurani dan akal sehatnya sebagai seorang politisi Katolik. Ia meneladani Yesus Kristus yang berjuang juga untuk bonum commune. Satu motto yang Kasimo pegang dalam perjuangannya adalah “Salus Populi Suprema Lex”, keselamatan Bangsa merupakan hukum Tertinggi. Artinya kesejahteraan umum ia pahami dan hayati di atas segala-galanya dalam hidup bermasyarakat. I.J. Kasimo sebagai warga negara Indonesia sekaligus umat Katolik bisa dikatakan tahu letak dan peranannya. Agama bagi dirinya memberi visi hidup, inspirasi, orientasi dan motivasi hidup pribadi dan hidup bermasyarakat bersama[3]. Kasimo tampil sebagai politikus yang berkepribadian dalam politik.

Figure pahlawan Negara dan Gereja Mgr. Soegijopranoto, SJ adalah pribadi istimewa yang pantas kita teladani pula. Ia mengungkapkan pro ecclesia et patria menjadi per Ecclesiam pro patria: menjadi Gereja untuk Negara. Jadilah umat Katolik yang sejati, raihlah masa depanmu sesuai dengan nilai-nilai Injili dan ajaran Gereja untuk mengabdi Gereja dan Negara[4]. Sebagai seorang Katolik, ia memberikan dirinya secara total demi perluasan kasih di muka bumi. Ia amat bijaksana dalam menempatkan diri sebagai warga negara Indonesia sekaligus umat Katolik, seratus persen warga negara dan seratus persen katolik. Tidak ketinggalan tokoh Fransiskus Xaverius Frans Seda. Ia banyak berkecimpung dalam dunia politik dalam rentang waktu yang panjang. Ia pernah berkarya sebagai menteri empat departemen dan dipandang sebagai tokoh awam sejati. Ia dikelompokkan dalam segelintir pemikir bersama kaum Klerus yang turut berkiprah dalam membangun negara dan gereja[5].

Mereka adalah tokoh-tokoh Katolik yang berani dengan lantang memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan diri sebagai warga maupun umat beragama. Mereka merasa peduli untuk membangun bangsa. Mereka terusik untuk meneriakkan kesejahteraan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan semata.

Sense of History, Sense of sacrifice, dan sense of priorities
Sejenak kita bercermin dari para tokoh yang berani berjuang dalam dunia politik, yang mengemban kesejahteraan bersama sebagai prioritas utama. Keterlibatan mereka dalam politik menjadi suatu sikap yang pantas kita renungkan. Keterlibatan mereka memberi warna positif, kehadiran mereka memberi perubahan yang baik bagi jalannya suatu pemerintahan. Lantas bagaimana kita bisa ambil bagian seperti mereka? Kita sadar bahwa kita adalah mahluk yang berpolitik. Mau tidak mau kita senantiasa bersentuhan dengan kehidupan politik. Lantas apa yang bisa kita buat? Kita dapat bercermin dan bertanya kepada hati nurani kita bahwa politik sangat penting dijaga kemurniannya. Kesadaran ini mau menempatkan diri dalam suatu kesadaran sejarah hidup yang penting untuk diperjuangkan. Pernah ada yang mengatakan bahwa seorang yang memiliki kesadaran politik, harus pula memiliki kesadaran sejarah (sense of history). Suatu kesadaran bahwa hari kemarin menentukan hari ini dan hari ini menentukan hari esok dalam suatu proses yang kontinyu. Dan yang menentukan penentuan-penentuan tersebut adalah manusia yang memberi bentuk pada kegiatannya. Sebab itu manusia adalah pelaku sejarah. Baik buruknya suatu proses sejarah tergantung kita, pelaku sejarah, bijaksana atau tidak dalam memperjuangkannya. Kesadaran sejarah ini bisa kita temukan dalam diri I.J. Kasimo, Mgr. Soegijopranoto, SJ dll. Mereka sungguh peduli terhadap bangsa dan negara. Kepedulian mereka memberi nuansa positif bagi perkembangan bangsa.
Perjuangan para tokoh dan kita semua umat beriman yang beritikad baik ini membentuk lembaran sejarah yang baru. Meski tidak selalu mudah untuk merealisasikannya sebab disana-sini terkadang peluh dan ari mata turut mewarnainya. Inilah kesadaran pengurbanan yang harus juga tumbuh. Kesadaran untuk terus berjuang dalam suatu pembentukan sejarah yang baik. Inilah kesadaran pengurbanan (sense of sacrifice). Dalam menemukan kesulitan itu, kita diajak menjadi bijaksana. Bahwa tujuan dan motivasi awal berpolitik adalah demi kesejahteraan bersama harus diprioritaskan (sense of priorities). Jika setiap orang yang bergerak dalam dunia politik tidak peduli terhadap kesejahteraan bersama. Niscaya politik menjadi lembaran hitam yang menyisakan luka bagi banyak jiwa.

Akhirnya, kita semua adalah penentu sejarah itu. Keterlibatan dan kepedulian kita, sebagai warga dan umat beriman, sungguh dibutuhkan. Negara Indonesia membutuhkan kearifan berpolitik dari pengelolanya. Untuk itu nilai-nilai moral mesti dibangun di atas merebaknya perilaku politik demi kepentingan sesaat. Tujuan negara harus diutamakan di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Intinya setiap actor/pelaku, termasuk kita, politik harus mengembalikan esensi politik kepada maknanya yang agung. Caranya adalah berpolitik tanpa dusta. Jujurlah dalam bicara dan berbuat demi kesejahteraan bersama (bonum commune), sebagaimana Mgr. Soegijopranata, SJ tegaskan bahwa tugas membangun Gereja serta bangsa tidak pernah selesai. Kekatolikan dan keindonesiaan selalu ditempatkan dalam proses yang dinamis. Kita semua diajak untuk memperjuangkan kebesaran Gereja dan sekaligus untuk tidak kenal lelah mewujudkan kejayaan bangsa dan negara sebagai suatu panggilan suci yang mesti dihidupi[6].

Hari raya kabar sukacita,
Rabu, 25 Maret 2009
frtri



[1] http://www.balinter.net/Politik dan Godaan Kekuasaan
[2] http://citizennews.suaramerdeka/Kegairahan Politik Katolik.com
[3] Pak Kasimo dan Kita, Mingguan Hidup, Ed. Ulang Tahun ke 80 Bapak I.J. Kasimo, Jakarta, 1980.
[4] http://www.mirifica.net//D. Gusti Bagus Kusumawanta, P
[5] http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/frans-seda
[6] Ed, Mikhael Dua, Febiana R. Kainama, Kasdin Sihotang, “Politik Katolik Politik Kebaikan Bersama”, Obor: Jakarta, 23

Sabtu, 21 Februari 2009

Gereja Pekalongan “Gereja Supermarket”
Iya ‘ga sich, gitu ‘ga sich?


Siapakah Gereja?
Gereja adalah persekutuan umat beriman kepada Allah. Mereka, umat beriman, berkumpul memuji dan memuliakan Allah. Lantas, Gereja pun tampil sebagai sakramen keselamatan manusia yang bersifat total -menyangkut seluruh eksistensi manusia-. Tuhan melepaskan manusia dari belenggu kehidupan dan menyatukan dengan diri-Nya dalam kebahagiaan, kehidupan penuh rahmat, kekudusan, dan kedamaian. Oleh karena itu Gereja terpanggil untuk terlibat menjadi saksi Kabar Gembira keselamatan bagi banyak orang. Inilah bentuk keterlibatan Gereja dalam dunia. Gereja yang berziarah dan menampilkan karya Allah di dunia supaya segala sesuatu menjadi baru dalam nama-Nya. “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatunya baru” (Why 21:5). Namun muncul pertanyaan kritis, “Siapakah yang dimaksud Gereja?”. Apakah Gereja sebagai persekutuan umat beriman kepada Allah (terungkap di atas) atau gereja sebagai bangunan yang berdiri megah dan mewah saja?

Gereja St. Petrus Pekalongan memiliki kemewahan luar biasa. Kita pantas bersyukur, kita memiliki gereja semegah itu. Namun jangan sampai kita berhenti di sini. Gereja yang terpenting adalah Gereja persekutuan umat Allah. Gereja yang adalah organisme, manusia beriman yang hidup di dalamnya, bukan semata susunan batu bata, semen, besarnya tiang-tiang, dan semaraknya lampu hias. Amat ironis jika aura keberimanan umat tidak semeriah bangunan gerejanya. Kita bisa berefleksi dari guliran-guliran cerita dibawah ini :
“Setiap kali Gereja mengadakan kegiatan, seperti rapat, seminar, bedah buku, persekutuan doa, pesta-pesta (HUT, Natal, Paskah) hampir tidak banyak umat yang terlibat di dalamnya. Padahal jumlah umat Katolik Paroki St. Petrus Pekalongan kurang lebih 3000 jiwa. Tetapi mengapa yang terlibat tidak mencapai 25%, “Kemana umat yang lain?”. Selama ini umat yang aktif, itu-itu saja. Dalam rapat, seminar, persekutuan doa, dan pesta hanya bertemu dengan orang yang sama. Sletingan-slentingan lain adalah lemahnya antusiasme umat dalam berkegiatan. Rupanya istilah SMP, setelah makan pulang, menjadi humor apik yang muncul selama ini. Mengapa demikian? Karena setelah makan, beberapa umat pulang, padahal acara belum selesai. Hal itu terjadi dalam semua acara. Apalagi jika menu acara yang ditawarkan tidak menarik. Minat, hasrat umat untuk terlibat tidak begitu banyak”.

Apakah aura keberimanan umat belumlah semeriah bangunannya. Ada ungkapan spontan yang mengomentari cerita-cerita di atas, yaitu ungkapan “Gereja Pekalongan adalah Gereja supermarket”. Pengertian Supermarket, menurut KBBI[1], adalah pasar swalayan. Di dalam pasar swalayan tersedia berbagai pilihan. Pembeli datang, melihat-lihat mana yang menarik dan tidak. Pembeli tinggal memilih mana yang mau dibeli. Pasar swalayan menjadi ramai, laris, ketika banyak pilihan menarik yang ditawarkan. Tetapi berbeda ketika pasar swalayan tidak menyediakan pilihan menarik, pasar swalayan menjadi sepi. Apakah Gereja Pekalongan dapat dianalogikan semacam itu? Bahwa kehidupan menggereja umat amat tergantung pada menu-menu yang disediakan oleh Gereja. Banyak sedikitnya umat dalam kegiatan menggereja tergantung pada kemasan, tergantung pada kharisma pribadi, cocok dan tidak, atau menarik dan tidak menariknya acara. Akhirnya umat sekedar menjadi penonton, “penikmat” tanpa mau terlibat. Apakah Gereja Pekalongan adalah Gereja supermarket, sekali lagi mengajak kita bertanya, “bener ga sich, gitu ga sich????”. Ada seorang umat pernah bercerita tentang pengalaman imannya sebagai orang Katolik :
“Dulu saat saya tinggal di daerah timur (Tim-Tim)-penulis lupa nama tempatnya- saya tidak pernah “mampu” mengikuti misa. Mengapa? Karena jarak rumah dan gereja terlampau jauh kurang lebih 1 hari 1 malam. Di dusun, hanya saya (keluarga) yang beragama katolik. Praktis tidak pernah ada doa bersama, doa lingkungan dsb. Semenjak saya tidak misa, tidak menyambut tubuh dan darah Kristus, hidup seakan ada yang kurang, tidak lengkap. Anehnya, kerinduan untuk menyambut tubuh dan darah Kristus itu terus menggebu-gebu. Inilah yang mendorong kami berangkat ke gereja di kota. Saya mengajak istri dan 2 anak yang masih kecil-kecil. Selama 1 hari-1 malam kami berjalan, kami menggendong anak kami secara bergantian, melewati hutan, dan jalan berlumpur (tidak ada angkutan). Kami sempat putus asa. Rasanya letih, cape. Tapi, kami tetap meneruskan perjalanan. Akhirnya, kami dapat merayakan misa. Hati kami bahagia, seperti hati yang haus, dilegakkannya, hati yang letih, disegarkan-Nya. Kami bersyukur atas perjumpaan itu. Setelah misa, kami kembali pulang membawa oleh-oleh berkat dan semangat berkat dari-Nya. Kami pulang, berjalan selama 1 hari, 1 malam.
Kini kami bersyukur, kami tinggal di P. Jawa. Kami bisa mengikuti misa setiap hari, tanpa harus berjalan 1 hari-1 malam. Cukup sepeda onthel menjadi tumpangan kami. Kami berboncengan dengan penuh kegembiraan”.

Keberimanan terlihat melalui kesadaran dan keaktifan menanggapi cinta kasih Allah. Sapaan cinta kasih Allah hadir dan bersentuhan dengan pengalaman hidup manusia. Peran manusia adalah menanggapi dengan bebas sesuai keyakinan serta pergulatan imannya kepada Allah.
Iman bukan pertama-tama menerima berbagai macam aturan, melainkan menghayatinya secara bebas dan bertanggung jawab dalam kesatuannya dengan Allah. Apabila iman dipahami secara dangkal, yakni sekedar ketaatan lahiriah terhadap aturan-aturan tertentu, maka ketaatan itu menjadi formal. Inilah ketakutan Gereja, “Adakah nilai-nilai yang diperjuangkan sebagai orang Katolik. Jangan-jangan keterlibatan dalam hidup menggereja adalah sekedar basa-basi, setengah hati, untuk menghindari penilaian orang lain”, atau mencari pengakuan?”. Pertanyaan ini pantas kita refleksikan bersama.

Tantangan Beriman : Formalisme Agama
Tahun ini, selaras dengan arah gerak Keuskupan Purwokerto, Gereja St. Petrus Pekalongan mengolah tantangan formalisme agama. Ada indikasi berkembangnya formalisme agama dalam penghayatan iman umat, misalnya : dangkalnya pemahaman hidup menggereja, mengikuti misa (menggereja sekedar kewajiban), umat kurang mampu menginternalisasikan ajaran agama dalam hidup pribadi maupun sosial, pengetahuan iman umat terbatas, dan rentan konflik antarumat beragama. Indikasi-indikasi itu ditemukan dalam MUSPAS 2006, dan kita tidak bisa menggeneralisir hal itu bagi tempat-tempat lain di Keuskupan Purwokerto. Namun kita baik bertanya, Apakah indikasi-indikasi itu muncul dalam kehidupan menggereja umat Paroki St. Petrus Pekalongan?

Dalam konteks luas, mungkin benar issu Gereja jaman ini sangat memuja rasionalisme, dan kecerdasan atau ketrampilan manusia. Rasa kecil, kegagalan, kehinaan, penderitaan dan keterbatasan menjadi penghalang dan karya Allah yang tidak berguna. Semestinya jiwa hidup menggereja dan beriman harus beranjak dari relasi yang intim dengan Allah. Beriman kepada Allah berarti mengalami Allah dalam setiap perjumpaan sehari-hari. Perjumpaan personal ini memberi kekuatan, keindahan batin (inner beauty) pribadi yang bisa dipendarkan dalam hidup bersama. Apabila setiap pribadi memiliki inner beauty, keindahan batin, niscaya efeknya dirasakan semua orang. Nah, dalam konteks dunia semacam itu, kita mesti curiga, apakah perbuatan, kegiatan menggereja, ketekunan kita dalam menggereja lahir atas dasar nilai-nilai tertentu? Ataukah sekedar mentaati aturan dan kewajiban saja?

Demikian iman kita harus selalu diuji, supaya iman kita semakin tangguh. Iman dengan perbuatan adalah dasar bahwa hidup beriman tidak sekedar berdoa, berdoa, dan berdoa, tetapi berbuat. Berbuat sesuai dengan keyakinan imannya kepada Allah. Kendati Iman seseorang tidak bisa kita ukur semata dari satu perbuatan baik yang dilakukan. Iman adalah kesinambungan antara batin dan lahir. Hidup batin yang baik, melahirkan perbuatan (lahir) yang baik pula. Inilah keselarasan antara pengungkapan iman dan perwujudan iman, dimana Allah tetap sebagai dasar/sumber segala ungkap dan wujud iman kita sehari-hari.

Kesadaran akan Nilai-Nilai
Dalam hidup manusia, satu hal penting yang mestinya hidup yakni kesadaran bahwa Allah adalah sumber dan tujuan hidup manusia. Kesadaran ini mengarahkan kita untuk hidup dalam suatu nilai. Nilai-nilai ini menjadi inti-isi- suatu bentuk kegiatan menggereja. Nilai-nilai kristiani mengarahkan hidup manusia pada suatu kebenaran sejati, Allah. Jika kita mampu menghidupi nilai-nilai kristiani tersebut, kita turut ambil bagian dalam kehidupan di dunia. Ingat bahwa kita, umat awam, dipanggil untuk terus mengusahakan kesucian dalam hidup keduniaan kita. Inilah yang menjadi kekhasan umat awam pada umumnya. Awam memiliki ciri khas yang melekat dalam dirinya berdasarkan sifat keduniaannya.

Maka Gereja, sebagai persekutuan umat beriman kepada Allah, mengajak seluruh umat beriman untuk memiliki kesucian hidup dalam perannya di dunia. Keterarahan hati untuk selalu menumbuhkan cinta kasih merupakan dasar yang tepat. Allah sendiri telah melimpahkan berbagai rahmat kepada setiap manusia. Manusia tinggal mengembangkan dengan penuh kebebasan untuk tujuan kesucian dan kemulian nama-Nya. Melalui rahmat dan kurnia yang telah ada, umat beriman menguduskan dunia.

Kesadaran akan nilai-nilai kristiani adalah sarana bantu menyadari kasih dan cinta Allah. Dan menjadi pijakan dalam berelasi dengan orang lain. Keterlibatan tidak semata lahiriah tanpa menemukan makna di dalamnya, tetapi keterlibatan itu tampak dalam memperjuangkan nilai-nilai kristiani dalam rangka pengudusan dunia. Mau tidak mau, nilai-nilai Kristiani memberi bobot yang positif dalam hidup beriman umat Katolik. Agar hidup kekristenan hiduplah omong kosong (tong kosong), tetapi kekristenan itu benar-benar tangguh dan mendalam (menthes). “Tuhan yang telah memulai pekerjaan baik diantara kita, Dia pula yang akan menyelesaikan-Nya (Flp 1:6)” (sebuah tulisan untuk Warta Paroki St. Petrus Pekalongan, by trie).
[1] KBBI-Online, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008.

“Sabda Allah Adalah Oase Kehidupan”



Bulan September adalah Bulan Kitab Suci Nasional. Gereja mengajak kita untuk semakin bertekun dalam merenungkan sabda dalam Kitab Suci. Sebab besarlah daya Sabda Allah yang mampu memberikan kekuatan iman, kebeningan hati bagi kita yang mau bergulat di dalamnya. Ada sebuah permenungan kecil yang mengantar kita memaknai betapa pentingnya sabda dalam hidup kita sehari-hari.

Sabda Allah adalah Roh Kehidupan
Sabda merupakan bahasa komunikasi yang menghantarkan manusia pada pemahaman yang benar akan Allah. Setiap sabda adalah roh kehidupan. Ia memiliki daya yang sungguh menghidupkan. Apabila manusia terbuka terhadap sabda, sabda itu akan berbicara dalam hatinya. Kekuatan sabda mampu membongkar ranah beku manusia. Ia menyentuh dan menggerakkan batinnya, sebab melalui sabda Allah hadir dan menyapa manusia, “Ia hadir dalam sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab suci dibacakan dalam Gereja” (SC 7). Itu berarti Allah menggunakan bahasa manusia agar manusia mampu menangkap serta membalas-Nya dengan iman. Sabda memiliki daya ubah dan cipta bagi manusia yang percaya. Ingatkah peristiwa penciptaan? Allah berfirman, “Jadilah terang. Lalu terang itu terjadi…dst“(lih. Kej 1). Oleh karena itu Sabda bukanlah omong kosong, bualan, gossip-gossip, atau tulisan tanpa makna. Dalam Sabda Allah sendiri yang hadir. Bukankah itu sudah cukup menggambarkan betapa sabda memiliki daya istimewa dan kita tidak usah ragu untuk mempercayai-Nya?

Sabda Allah Adalah Jerih Payah Kehidupan
Tentu tidak asing dengan kutipan ayat ini, “datanglah pada-Ku kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu”. Seperti oase di padang gurun, Sang Sabda memberikan kelegaan. Ia menuntun hati yang bimbang, memberikan terang bagi yang berputus harapan. Demikian manusia ditantang untuk percaya kepada-Nya. Sabda sendiri adalah jerih payah kehidupan dimana terdapat usaha manusia untuk senantiasa merenungkan dan menggalinya dalam hidup. Sebenarnya jika kita mau sadari, Sabda selalu berbicara dalam hidup, tinggal kita mau terbuka atau tidak terhadap sapaan-Nya, dan apakah Sabda sudah menjadi dasar hidup kita?


Hidup yang berdasar sabda berarti hidup yang mau terbuka terhadap sapaan Allah. Keterbukaan hati inilah yang memberi ruang bagi Allah untuk bekerja dalam hidup kita. Kita membiarkan dikuasai oleh Allah. Bagaimana kita merasakan semua itu? Bertekun mengakrabi Kitab Suci adalah jawabnya. Kita renungkan, refleksikan sabda serta menerapkannya dalam praktek kehidupan. Jika kita hidup selaras dengan Sabda, berarti hidup kita mencerminkan Allah yang berkarya. Inilah pentingnya merenungkan sabda. Bahwa melalui sabda-Nya, Allah menyapa kita setiap saat dan mengarahkan kita selaras dengan kehendak-Nya. Kita tidak perlu meragukannya.


Akhirnya, marilah kita membiarkan diri dituntun dan dikuasai oleh-Nya. Jangan biarkan Ia berlalu tanpa makna, sebab setiap peristiwa, dalam nama-Nya, menghadirkan makna. (trie)