Tampilkan postingan dengan label RenuNgan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RenuNgan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Oktober 2010

Bercermin pada Bunda Theresa

Bacaan Rohani : 1 Yohanes 4 : 16b – 21

“Sebab yang terpenting bukanlah berapa banyak yang kita perbuat, melainkan seberapa banyak cinta yang kita hayati”
Sebuah inspirasi yang saya dapat dari Bunda Theresa. Bunda Theresa memusatkan perhatian dan karya pelayanannya pada mereka yang paling miskin diantara yang termiskin.
Ditelinganya selalu terdengar suara “Aku lapar...aku harus..sakit,...dingin.. dan itu cukup menggerakkan hatinya untuk memberikan pelayanan kepada mereka. Prinsip hidup yang sangat saya kagumi adalah “Berikanlah..sampai kamu tak sanggup lagi”.
“Aku hanya ingin membagikan secuil cinta pada hidup saudaraku yang singkat ini, sehingga dia pernah mengalami dan merasakan cinta dan dicintai”.
Kisah Bunda Theresa ini mengantar kita untuk melihat kekaguman kita pada Yesus Kristus, Allah sendiri. Bunda Theresa mampu memberikan kasih kepada orang lain apalagi Allah, Sang Empunya hidup. Tidak usah kita ragukan lagi.
Dalam bacaan tadi kita mendengar “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita..”. Tampaknya Kitab Suci sendiri mau menegaskan, bahwa kitapun mesti berbuat kasih. Allah telah mengasihi kita, dan konsekuensinya, kita sebagai ciptaan-Nya pun harus mengasihi sesama.
Beberapa ahli tafsir kitab suci menggunakan istilah lain, bukan ”karena” tetapi ”seperti”. Bahasa Yunani ”Kathos” lebih tepat diartikan sebagai ”seperti” bukan ”karena”, dan tampaknya mau menekankan bahwa, kita pun seharusnya sama seperti Kristus telah mengasihi. Bukan semata-mata karena kita dikasihi Allah. Tetapi seperti Allah mengasihi. ”Karena” masih menunjukan adanya keterbatasan, dan ada alasan untuk tidak memberikan kasih.
Amin.

07 Maret 2007: 17.00 Wib.

“Persembahan Janda Miskin”


Lukas 21 : 41 – 44

Alukusio

Beliau adalah Bapak Ignatius Suwandi. Beliau tinggal di Mlati, dusun Pajangan. Kesehariannya sebagai seorang lelaki yang mulai beranjak tua, hampir sama dengan lelaki umumnya. Tetapi, jangan kaget, apabila dari sosok sederhana itu, dia telah mengisi gereja kita dengan lagu-lagunya yang menentramkan hati.
Bapak Suwandi adalah pencipta lagu “Nata Agung” yang kerap kita pakai dalam Kidung Adi.
Memang, kecintaannya pada lagu telah membuatnya menjadi Katolik. Katanya : “Saya jadi Katolik karena mendengarkan lagu di gereja. Waktu itu lagunya “Kyrie de Angelis”. Keterpikatan itu mendorong saya untuk menjadi Katolik. Bersyukur bahwa kemudian saya banyak dikenalkan dengan lagu-lagu gereja.
Kecintaan saya pada lagu semakin dalam. Malam, saat yang lain tidur, saya masih berjaga. Apalagi kalau ada inspirasi yang mengganjal dihati. Rasanya harus ditumpahkan.
Saya terharu dan tidak menyangka, tepat saat ada kunjungan Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989, lagu Mangga samya sowan dinyanyikan dengan merdu dan syahdunya. Saya sangat terharu dan eeee..mong atase aku kok bisa seperti ini………….
Suwandi menggambarkan dirinya laksana sebutir pasir di pantai, tetapi ternyata memberi peran, bisa berguna bagi orang lain. Dan syukur pula bahwa semua yang saya perbuat , saya persembahkan untuk TUhan. Inilah yang bisa saya persembahkan.

CintA DaMai

-CoKlaT-

BiRuNya LaNgiT beRi ArTi
DaMai daN TentRaM neGrI Ini
BeRatNya cObAan
Ku AkaN bErTaHan

BeRjuTa iNsAn baNgsa iNi
SaLing bErBakTi uNtuK NegRi
Tak Ada RasA MenGhaMpiRi
SgalA PeRbedAaN TeguH BerPegaNgaN

cInTa TaNah aiRkU

CiNta DaMaI nEgRiku
jaGa SlaLu NaMamU
CiNTakU kEpAdAmu…InDoNesiA

“Berkibarlah bendera bangsaku di langit biru....”
Merdeka!!!
Sesaat lagi Indonesia akan merayakan ulang tahunnya yang ke-65. Hampir setiap tahun pada bulan Agustus, kemeriahan itu tampak nyata di berbagai wilayah, daerah di Indonesia. Jelas terlihat dari asesoris-asesoris yang terpajang di pinggir jalan maupun depan tiap-tiap rumah. Tak heran pula para pedagang- pedagang dadakan berjejer menjajakan bendera dan segala macam pernak-pernik yang turut menyemarakkannya. Tak hanya mereka, setiap keluarga pun sibuk mempersiapkan hari kemerdekaan ini dengan bermacam acara. Ada yang ngecat gapura, mengadakan lomba-lomba (panjat pinang, balap karung, grak jalan dsb).
Tak ketinggalan salah satu keluarga di Purbalingga pun turut sibuk menyambut 17 Agustus mendatang. Pada suatu pagi, seorang lelaki tengah sibuk menebang beberapa pohon bamboo, sendiri. Suara berisik yang terdengar dari belakang rumah memikat perhatianku untuk melihat dan memastikannya. Ternyata, kudapati bapak tengah asyik bersama senjatanya tengah menebang bamboo. Singkat kata, bamboo itu digunakan untuk memasang layur, dan bendera. Melihat itu, aku jadi tertarik untuk ikut nimbrung membersihkan bamboo yang sudah ditebang.
Omong-omong tentang hari kemerdekaan yang akan kita rayakan besok hari jumat, rasanya tak bisa meninggalkan peran para pendahulu yang dengan rela berjuang mempertahankan Indonesia. Perayaan ini menjadi saat bagi kita untuk mengenang, mengingat kembali segala pengalaman kita akan Indonesia. Ini menjadi sebentuk penghargaan istimewa, bahwa perjuangan mereka pun tetapi kita hargai dan hormati. Sekedar rasa syukur, bangga dan terimakasih atas perjuangan mereka (para pendahlu).
Mgr. Soegiyopranoto pernah menghimbau pada kita semua “JadiLaH oRaNg yAnG 100% WaRga GeReJa daN 100% waRgANeGaRA”. Ini menimbulkan pertanyaan refleksi bagi saya : “Lalu : bagaimana atau apa yang bisa kuperbuat”?
Bacaan kita sore ini pun sengaja saya ambil dari Matius mengenai MemBaYaR pAjAk kePaDA KaISaR. “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”. Semoga Rahmat kemerdekaan Indonesia yang ke-65 ini membawa buah-buah yang berlimpah bagi kebaikan kita bersama. Sehingga segala sesuatunya menjadi semakin baik untuk yang terbaik.

Sabtu, 21 Februari 2009

Metamorfosa Diri



Legio Mariae Ratu Para Saksi Iman Kota Baru
13 September 2006, 17.00 wib

Yak 3:16-4:3

Salam dari Yakobus,

Aku membayangkan pada hari ini kudapatkan sepucuk surat dari Yakobus. Dia seorang Hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Ada perasaan berkecamuk dalam diriku. Kira-kira apa yang ia maksudkan dalam surat tadi.
Perlahan aku mulai membaca surat itu dan ternyata sebuah nasehat atau mungkin peringatan yang ia tujukan kepadaku.
Pada ayat sebelumnya ay. 13 yang ia tulis, dia bertanya kepadaku “ Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan”. Spontan perasaan yang muncul adalah bingung? Kenapa ia bertanya seperti itu? Apakah ia meragukan hidupku, Apalah ia mengajakku untuk berefleksi tentang hidupku. Benarkah aku sudah bijak dan berbudi?
Lalu dalam kalimat berikutnya ia cantumkan begini “sebab dimana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat”.

Metamorfosa Diri

Pada mulanya, manusia tercipta baik adanya. Benar kata Kitab Kejadian yang mangatakan “segala sesuatu diciptakan Tuhan baik adanya”. Demikian manusia, diciptakan paling sempurna dibanding dari mahluk-mahluk ciptaanNya di dunia. DiberiNya hak untuk menguasai dan menggunakan isii dunia untuk kesejahteraan dirinya. Serta beranak cucu mengisi dunia. Tak pernah puas menikmati segala sesuatu yang ada adalah salah satu ciri manusia sekarang ini. Sejatinya, manusia menginginkan kesempurnaan dalam hidupnya. Tidak pernah puas akan apa yang telah diperoleh. Seandainya bisa mendapatkan dua mengapa harus satu.

Sejak saat itulah, persaingan marak mewarnai dunia. Homo homini lupus Kata itu tak asing di telinga kita. Manusia tega memakan sesamanya. Mungkin rasa cinta, kemanusiaan telah tertanggalkan dari benaknya, sehingga sesama tak lagi dianggap ada. Tak peduli lagi rasa kemanusiaan, tak ingat bahwa saling tercipta dari keberasalan yang sama. Makna kuasailah dunia menjadi berganti amat pribadi, sehingga terbuka persaingan untuk saling menjatuhkan satu sama lain demi sejengkal kekuasaan yang tak kan pernah mampu puaskan hati.

Terkadang aku heran bahwa sekarang ini manusia telah memaklumkan persaingan yang saling menjatuhkan. Dan mungkin, aku sendiri telah turut serta mengabadikannaya dalam pergaulan sehari-hari. Lihat saja, bunuh membunuh selalu mengintai di sekitar kita, pertikaian antar suku, daerah, bahkan sampai agama mewarnai hidup kita sekarang ini. Sebenarnya, inti persoalan itu apa? Memang, kita tak dapat menyimpulkan begitu saja pada satu titik persoalan. Ada serentetan peristiwa yang tidak begitu saja dapat disimpulkan, bahkan cenderung tak memberikan kesimpulan alias tidak jelas.

Aku mencoba memilahkan pendorong ketidakharmonisan dalam masyarakat yang kerap kita temui sekarang ini. Bukan hal baru, namun sekedar menampilkan kembali supaya kita kembali tersadar bahwa persoalan kita sama. Dan ada akar permasalahan yang selalu sama meski kadarnya berbeda. Iri hati. Wah kata ini kiranya sangat lekat dengan kehidupan kita. Semenjak kita kecil, kita telah dijejali oleh istilah tersebut. Yang terkadang menkondisikan kita hidup dalam rasa perasaan semacam itu. Tentu kita tak bisa menyalaahka siapa penyebab munculnya rasa iri hati. Bahwa manusia memiliki iri hati dalam hatinya adalah benar adanya. Dan kita mengakui kebenarannya. Kendati tak semua, dari kita, memiliki kadar yang sama.
Ya, iri hati, egoisme....itu biasa, wajar sebagai manusia normal. Eksistensiku sebagai manusia mesti ada. Aku mesti diakui oleh orang lain. Aku tidak mau hidup dalam kekurangan, sekali lagi aku tegaskan, jika bisa memiliki AB mengapa mesti punya B. Sebab dalam kekurangan terkadang aku merasa minder, takut bergaul dengan orang lain. Untuk itu aku lebih tertantang untuk memiliki apa yang orang lain punya untuk ku miliki pula.
Sejenak aku berpikir....apakah benar permenunganku tadi?

Sesaat aku sadar. Betul juga. Iri hati disebabkan dari ketidakmampuan diriku untuk mencapai sesuatu dan aku begitu berhasrat untuk memilikinya, sementara orang lain mampu meraihnya. Iri hati bisa lahir dari rasa tidak suka, tidak terima atas sesuatu yang orang lain miliki. Entah itu pekerjaan, kehormatan, popularitas, kekayaan, dan lain sebagainya. Iri hati membuatku menjadi tidak mengenal diriku sendiri, oleh karena terlalu diperbudak oleh prestise dan harga diri. Bahkan iri hati membuatku menutup diri dari orang lain. Sehingga tidak sedikit, orang lain mengacuhkanku. Terkadang aku menjadi begitu sulit untuk diajak terbuka. Aku takut jika orang lain tahu siapa diriku yang sebenarnya. Aku yang penuh dengan kekurangan. Reaksi penolakan ku secara spontan adalah marah, tidak terima apabila orang lain mengusik ketenangan batinku yang penuh lubang-lubang kebobrokan. Ya, surat ini cukup membuatku luka. Membuatku kembali berpikir akan sikap ku yang telah lalu.

Kesadaranku ini kembali diteguhkan saat membaca kalimat berikutnya : “Ingat, hikmat yang datang dari atas adalah pertama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, belas kasih, tidak memihak dan tidak munafik.

Benar juga, bagi Allah jelas tidak mungkin akan memberikan sesuatu melampaui batas kemampuanku. Keras kepalaku saja sebagai manusia, yang akhirnya mengikatku dalam keangkuhan, lupa bahwa, Ia telah mempertimbangkan segala sesuatunya dengan amat bijaksana. Yakobus mengingatkanku bahwa Allah tetap memberikan yang terbaik bagiku dengan segala keterbatasan yang kumiliki. Aku menjadi sadar bahwa aku bukan asal mula dan tujuan akhir. Dan tidak ada seorangpun dapat berdiri di atas kakinya sendiri.
Allah tidak akan pernah membuat umatNya jatuh. Seluruh usahaNya terhadap manusia menunjukan kesaksian yang tak tergoyahkan atas kesetianNya. Ia hanya minta ketetapan hati, kesetiaanku. Allah tak pernah terkalahkan. kemenanganNya pasti.
Aku jadi ingat pesan kitab suci begini “Cukuplah karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna”.

Mengenal dan menerima kerapuhan diri merupakan sikap benar di hadapan Tuhan, yang membuat orang mau menerima kekecilan, yang memerlukan uluran tangan Tuhan. Disposisi kita berhadapan dengan karya rahmat Allah. Dari situ dapat ditemukan pergulatan kita berhadapan dengan rahmat Allah dalam diri Yesus Kristus.

Marilah kita memerangi relasi emosional dalam diri kita. Nafsu-nafsu yang menghambat relasi kita dalam kelompok, masyarakat dan dengan Tuhan sendiri.
Marilah kita memerangi permusuhan emosional kita. Sikap ini manghalangi damai, cinta dalam diri kita. Bagaimana kita bisa belajar kecuali melalui beberapa kesalahan dan kegagalan?

Renungan:
Apakah terasa ada kekuatan untuk lebih berani mempercayakan diri kepada Tuhan, sehingga kuatlah harapan, iman dan kasih? Memiliki optimisme sekaligus realistis terhadap kenyataan diri, karena percaya akan kuasa rahmat Allah?
Apakah dorongan kehendak untuk maju dalam perkara rohani semakin tumbuh?

Aku semakin yakin sesungguhnya dalam setiap ciptaan terkandung keistimewaan. Yang mana kelebihan dan kekurangan adalah isinya. Aku ingat saat pastur pendampingku berkata : “pada prinsipnya, mawar adalah mawar. Yo wis aku ki mawar. Aku gak bakal bisa menjadi melati, bunga terompet atau yang lain. Demikian melati, tak bisa menjadi mawar, terompet. Atau bunga yang lainnya”. Bahwa bunga-bunga itu dapat menjadi indah karena ia bertumbuh menjadi dirinya. Ia tak pernah membayangkan diri atau bermimpi menjadi bunga yang lain.


Kesejatiannya ada pada identitas dirinya. Demikian setiap dari kita adalah insan yang istimewa. Kita tak perlu bermimpi untuk menjadi orang lain. Tetapi cukuplah menjadi diri sendiri dengan segala kepenuhannya (Pendamping Rohani, Tri Kusuma)



Mengenang Jiwa-jiwa Orang Beriman

Alukusio

Legio Mariae Ratu Para Saksi Iman Kota Baru

1 Januari 2008

Mengenang Jiwa-jiwa Orang Beriman dalam Keabadian Surga

Sugeng Kondur, romo yang baik. You are my good teacher, you are my good friend, but, above all, you are my inspiration. The inspiration of how to live the life. Selamat mengiringi misa requiem Sri Paus di Sorga sana dengan jari-jarimu di atas tuts. Aku ingin jadi tukang parkir saja kalau sorga memerlukannya, sebab mungkin belum ada sampai jumpa lagi -- Rudi Hardono, Pr -

Selamat jalan Romo M. Sampai jumpa di tanah terjanji. Sekarang kami berdoa untuk Romo. Dan kalau Romo sudah bertemu dengan Tuhan, doakan kami semua. Salam dan doa dari kami semua, teman-teman Romo – E. John Paul Tarigan –

Saya terharu,
Saya tidak tega lihat foto yang dikirim Putut kemarin. Saya ingat nabi Ayub dan hari ini Tuhan berkenan memanggil Romo M. Tuhan terimalah dia di sisi-Mu. Berilah kekuatan untuk keluarganya, banyak sekali teladan baik yang telah Romo M berikan kepada kami semua. Selamat jalan Romo. Selamat bertemu dengan yang empunya hidup. Selamat istirahat dalam damai. Selamat bertemu dengan saudara-saudara Romo yang telah lebih dulu dipanggil Tuhan.
Romo, bila bertemu Bapa, ingatlah kami yang masih di dunia. –HB.Sapto Nugroho--.

Bacaan 2 Kor 4: 14 – 5:10 Hari Arwah Semua Orang Beriman.

A. Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus
§ Paulus tidak menyampaikan secara langsung kepada Korintus, tapi ia menitipkannya pada Titus. Maklum saat itu,Paulus dan Jemaat Korintus baru mengalami pertikaian, perpecahan. Tidak damai.
§ Surat itu berupa surat rujukan untuk jemaat Korintus.
Isi Rujukan : Supaya tidak tawar hati dalam menghadapi hidup. Ia menawarkan sebuah keyakinan iman yang semakin mendalam kepada Yesus Kristus. Itulah sebabnya Paulus sendiri tidak putus asa dalam penderitaan karena ia mempunyai harapan akan kekuatan dan kuasa Allah. Penderitaan itu bahkan mengubah dirinya dalam kemuliaan. Intinya adalah adanya Pembaharuan Batin (Keyakinan iman akan Yesus Kristus yang semakin mendalam).


Sementara berhubungan dengan hari Arwah yang kita peringati esok hari yaitu 02 November 2006, dimana jiwa-jiwa orang hidup telah kembali kepada pencipta abadi, kita kenangkan dan doakan mereka. Bahwa setiap manusia mengalami kematian itu benar dan pasti. Kita akan mati. Tapi tak tahu kapan itu terjadi?. Kita tidak pernah bisa mengetahuinya.
Aneh.......Apakah kematian itu aneh?

Memang, Rasanya tidak adil bahwa kita harus kehilangan orang-orang yang kita sayangi. Dan rasanya kematian itu menyedihkan bagi kita yang ditinggalkan. Saya teringat saat lebaran kemarin. Rasa kehilangan orang yang disayangi begitu saya rasakan. Sewaktu nenek masih hidup, lebaran adalah saat istimewa bagi keluarga kami untuk datang berkunjung ke rumah nenek (satu keluarga), Jalan kaki. Sesampai di rumah nenek, kami selalu membuat acara istimewa dengan keluarga lain. Meskipun kami Katolik sendiri, tapi kedekatan dengan nenek amat terasa bagi kami.

Lebaran kemarin sepi. Ada yang kurang. Meskipun saudara-saudara datang, tetapi kami tetap tak bisa berjumpa dengan nenek. Sadarlah saya, bahwa nenek telah meninggal. Tapi, meskipun nenek telah tiada tapi kehadirannya masih terus saya rasakan.

Mari kita lihat, bayangkan peristiwa di Baturaden. Ibu hamil, anak-pemuda, bapak meninggal tanpa di duga. Tiba-tiba. Amat gampang, kematian itu ada. Kebahagiaan berganti tangis, banjir air mata serta jeritan histeris membuat rasa perasaan kitapun tak tega melihatnya.
Tapi apakah kita akan menghindari kematian? Pasti tidak. Kematian bukan peristiwa yang perlu dihindari/takuti. Melainkan diterima/dilakoni sebagai bagian dari perjalanan hidup kita. Kematian sebagai bagian rencara Tuhan.

Satu keyakinan kita bahwa Bagaimana pun di dalam peristiwa itu ada Tuhan. Tuhan punya rencana yang melampaui umur hidup manusia di atas bumi. Dan kita mesti melihat kematian sebagai rencana Tuhan. Keyakinan Paulus sendiri bisa kita teladani bahwa Ia amat yakin bahwa Allah mampu membangkitkan hidup dari kematian. (Terjadi dalam Yesus Kristus). Kitapun mesti yakin bahwa kematian bukan hal yang buruk bagi orang yang mati itu sendiri.
Kita hening sebentar...mendoakan jiwa saudara-saudara, teman, keluarga yang telah mendahului kita. Semoga jiwa-jiwa arwah orang beriman diterima dalam kebahagiaan kekal bersama Bapa di Surga. Dan semoga kitapun senantiasa dilimpahi berkat oleh Tuhan dalam melakoni peziarahan kita di dunia (Pendamping Rohani, Tri Kusuma)



Jangan Memberi Label


Alukusio

Legio Mariae Ratu Para Saksi Iman Kota Baru


Kita pasti akan lebih gampang, mudah percaya atau menilai bahwa dari seekor ulat bulu yang jelek itu bisa lahir seekor kupu-kupu yang indah, juga tidak sulit bagi kita menerima bahwa dari sebuah telur yang kecil itu, akan menetas seekor burung perkasa, tapi sulit bagi kita melihat potensi seorang yang baik, dalam diri orang yang kita anggap musuh, orang biasa atau tidak kita kenal.


Seperti satu titik hitam yang menodai selembar kertas putih polos, akan begitu jelas dan gampang kita lihat hitamnya. Jika di tanya ada apa di selembar kertas ini? Pasti langsung dijawab titik hitam. Demikian sisi negatif itu lebih gampang kita lihat dalam diri orang lain. Dan sekali kita mencap seseorang itu secara negatif, maka tak akan sedemikian mudah kita menemukan sisi positif dalam dirinya. Label. Mungkin kita lebih gampang memasang label pada seseorang.

Saat kita berbelanja kita akan melihat label harga menempel di baju..150.000 (waduh mahal), 75.000 (lumayan murah tapi...bahannya jelek), 25.000 (wallah tipis sekali, nanti kelihatan dong kalau pake). Demikian pula terhadap orang lain, “ooo..si A itu malesan, si B gak bisa dipercaya, sementara si C orangnya sulit diajak kerjasama, individualis, egois, Nah kalau si D itu sombong. Gila... mentang-mentang dia punya ..bla..bla ..bla dan lain sebagainya.”

Label-label yang telah terpasang ini secara otomatis akan mewarnai mempengaruhi pandangan kita terhadap orang lain. Mungkin kita akan selalu berhati-hati dalam bergaul dengan orang yang ber”label” itu, atau malah mungkin menjauhinya sama sekali. Label-label ini tak sepenuhnya baik. Mungkin benar, bahwa tiap orang tidak akan pernah lepas dari label, tapi bagaimana kita memberi label positif itu lah yang penting. Bagaimana kita menemukan unsur positif dalam diri seseorang yang kita anggap malesan, ember, tak bisa dipercaya dan lain sebagainya?

Refleksi kita bahwa semua orang adalah citra Allah. Sangat tidak mungkin jika tak ada kebaikan dalam dirinya. Ada seorang tokoh Iris Murdoch mengatakan bahwa dengan memandang seseorang, sesuatu, atau situasi dengan penuh kasih-perhatian, orang semakin mencapai pengertian yang sungguh-sungguh dan karenanya ia seolah-olah dengan sendirinya tahu bagaimana harus bersikap. Ide “Yang Baik” telah ada dalam pikiran kita. Jika telah terjadi demikian, maka tidak akan gampang kita memberi label pada seseorang, atau menilai seseorang. Bahwa kebaikan itu ada merupakan sebuah kepastian yang harus kita perjuangkan. Dan jika kita telah berani dan mau terus berusaha memandang secara positif maka, tidak hanya ulat bulu yang jelek lalu menjadi kupu-kupu saja yang mudah, gampang kita lihat, tetapi dalam diri orang “yang berlabel negatif” itupun akan kita temukan kebaikan.

Marilah kita mencoba tebarkan sisi positif dan cinta untuk orang lain yang kita anggap “jelek, negatif”. Paul Coelho mengatakan dalam novel Di Tepi Sungai Piedra bahwa semakin banyak kita memberi cinta, semakin dekatlah kita pada pengalaman spiritual. Berarti kita semakin mencinta dan menemukan serpihan Tuhan dalam diri mereka. Semoga demikian. (Pendamping Rohani, Tri Kusuma)

Bunda Maria, Penjaga Pintu Surgawi


Alukusio
Legio Maria Ratu Para Saksi Iman Kota Baru
04 Oktober 2006


Bacaan : Luk 1 : 46 – 56 “Nyanyian Pujian Maria”

Ya, Kata itu terlontar dari mulut Maria atas kesanggupanNya menerima Roh Kudus dalam diriNya. Istilah latinnya fiat. Jawaban Maria setidaknya memberi inspirasi bagi kita untuk juga menanggapi segala sesuatunya dengan “Ya”.

Dalam rahim Marialah Sang Sabda menjadi Daging!. Maria mau menanggapinya dengan tulus. Fiatnya terlontar :”Jadilah padaku menurut perkataanMu itu”. (dalam bab sebelumnya). Ia mengungkapkan fiatnya dalam iman. Menyerahkan diri kepada Allah.
Keterlibatan Maria dalam mengandung Yesus, melahirkan, membesarkan, dan menghadapkannya kepada Bapa di Kenisah, serta ikut menderita dengan PuteraNya yang wafat di kayu salib, Ia sungguh istimewa bekerja sama dengan karya juru selamat, dengan ketaatannya, iman, dan pengharapan serta cinta kasihNya yang berkobar.
Ya-Nya adalah bentuk keterlibatannya dalam karya keselamatan.
Nah, peran Maria dalam keselamatan bagaimana : Memang tidak lepas dari Yesus sendiri. Ia melahirkan juru selamat, Yesus, dan berkat Yesus, Maria turut terlibat dalam karya keselamatan. Peran Maria dalam karya penebusan berkisar pada tugasnya sebagai ibu Yesus. Partisipasi lain tampak dalam saliib Kristus.

Gambaran Maria tampak jelas dalam kidung pujian Marianya. Ia amat mengagungkan Allah yang telah berkarya dalam dirinya. Setidaknya kitapun bisa belajar dariNya: Apa yang bisa kita belajar:
1. Kesediaan Maria menjadi tempat lahirnya Yesus, Juru selamat. Bagaimana dengan kita? Apakah kitapun telah bersedia menjadi tempat Allah dalam mewartakan keselamatan bagi orang lain? Atau kita cenderung mengabaikannya?
2. Kesetiaan Maria dalam mengikuti Kristus.
3. Kelemahlembutan Maria adalah cinta dan belas kasihan. Ia amat memiliki kasih sayang.
Perawan Maria menempatkan dirinya di antara PutraNya dan manusia. Semakin berdosa kita, semakin besar kelemahlembutan dan belaskasihan yang ia berikan bagi kita
Yesus, anaknya yang menyebabkan Maria meneteskan paling banyak air mata adalah anak yang paling dicintainya. Tidakkah seorang ibu senantiasa bergegas menolong anaknya yang paling lemah dan paling rentan terhadap bahaya? Tidakkah seorang dokter di rumah sakit lebih memperhatikan mereka yang menderita sakit yang paling serius? Hati Bunda Maria begitu lemah lembut terhadap kita, hingga andai saja hati segenap ibu di seluruh dunia digabung menjadi satu akan serupa sekeping es saja dibandingkan dengan hatinya. Lihat, betapa amat baiknya Perawan Tersuci! Hambanya yang mengagumkan, St. Bernardus, biasa menyapanya, “Salam bagimu, Maria”. Suatu hari, Bunda yang baik ini menjawabnya, “Salam bagimu, puteraku Bernardus.” Mungkin kita juga??????

Semua orang kudus memiliki devosi yang mendalam kepada Bunda Maria; tak ada rahmat datang dari surga tanpa melalui tangan-tangannya. Kita tak akan dapat masuk ke dalam rumah tanpa berbicara kepada penjaga pintunya; nah, Perawan Tersuci adalah penjaga pintu Surgawi.
Segala yang diminta Putra dari Bapa diberikan kepada-Nya. Segala yang diminta Bunda dari Putra, demikian juga, diberikan kepadanya. Jika kita menggenggam sesuatu yang harum, maka tangan kita akan mengharumkan apa saja yang disentuhnya: biarlah doa-doa kita melewati tangan-tangan Perawan Tersuci; ia akan mengharumkan doa-doa kita. Aku pikir bahwa pada akhir dunia Perawan Tersuci akan sangat tenang dan damai; tetapi sementara dunia berakhir, kita menarik-nariknya ke segala penjuru …. Perawan Tersuci bagaikan seorang ibunda dengan begitu banyak anak - ia terus-menerus sibuk memeriksa dan memelihara anak-anaknya satu persatu (Pendamping Rohani, Tri Kusuma)