Sabtu, 28 Maret 2009

Perseteruan Hati

Hati bertanya, "Apa gerangan yang terjadi?"
Mengapa sayang itu tumbuh bersemi
dalam perseteruan hati
antara persahabatan, profesi, status, dan
perasaan takut kehilangan
Ijinkan kubertanya, "Apakah perasaanku keliru?"
"Kamu terlalu sentimentil,
kamu terlalu mudah menilai perasaanmu", itu katamu
yang ingin mendamaikan perseteruan hatiku

hehe aku tertawa,
bingung akan apa yang terjadi
akan perasaan yang bersemi
akan waktu yang bergulir pergi
bersamamu dalam mimpi

dan benar,
"rasa ini" tidak boleh tumbuh bersemi,
sebab mungkin terjepit duri,
atau berada pada bentangan batas tak bertepi,

Biarlah rasa sayang tersimpan rapat dalam sebotol sunyi
menyisakan denting dalam hati
lalu sepi......

Sebuah Perseteruan Hati

Ternyata...
cinta tumbuh di dada,
semakin dalam mencintai,
semakin sakit rasa di hati

Sabtu, 21 Februari 2009

Untuk Seorang Sahabat

“Seorang sahabat adalah: seseorang yang datang sementara seluruh dunia meninggalkanmu, sesorang yang selalu melihat yang terbaik darimu dan melupakan yang buruk, seseorang yang tidak pernah terlalu sibuk untuk mendengarkan dan mengerti masalahmu seseorang yang akan mengundang engkau makan bersama tanpa harus menunggu hari uang tahunnya”.


Aku masih ingat kapan terakhir kali kamu datang ke sini.
Saat itu kamu membawakan kebahagiaan yang jarang kurasakan. Dan benar, kehadiranmu sahabat, amat kurindukan.
Kesepian terus membayangiku
Menghabiskan keceriaanku,
Menguras kasih dan cintaku pada sebuah rindu.
Lama ku menunggu,
Lelah ku mencari tanpa batas waktu
Cara paling mudah memuaskan kebutuhan itu
adalah pergi dari rumah ini.
Berkeliling kota, sedikit tebar pesona
Sembari mengumbar mata yang beringas mencari keindahan berharap seseorang kutemukan
dan mau berbagi denganku, siapa pun.
Sahabat adalah tempat yang paling indah untuk berbagi.
Kamu adalah sahabatku, meski tak terlalu kerap bertemu,
Tiga tahun kebersamaan kita telah kujaga
Bahkan ku letakkan dalam ruang istimewa
Dalam pigura istimewa
Dari dedaunan seroja dan wewangian ala eropa
Persahabatan tetap ku jaga.
Tak terbuang dalam pikirku, tak pernah.
Bersamamu adalah kegembiraanku.

SenJa (BerDua) BerSaManYa

Siang itu, 07 Januari 2008, gerimis melanda kota. Langit begitu hitam menghadirkan mega-mega mendung yang surutkan teriknya matahari, yang semestinya bersinar terang hari ini. Tidak seperti biasanya, siang ini ada hati seorang pria yang mengalami kegelisahan. Gelisah atas hujan yang turun tanpa henti. Padahal tidak seperti hujan-hujan sebelumnya. Ia tidak pernah merasa peduli dengan hujan atau tidak. Selain itu, dalam hatinya berkecamuk sejumlah perasaan yang belum pernah ia rasakan pula. Yang jelas, satu sisi ia merasa gelisah dan cemas atas hujan ini namun sekaligus ia pun merasakan ada getar-getar kegembiraan yang tidak pernah ia rasakan dan temukan sebelumnya.
Sesudah makan siang, gerimis masih saja melanda kota ini. Tanah-tanah basah. Dedaunan pun basah. Semua basah. Hawa dingin pun menusuk tulang membuat rasa malas untuk melakukan aktivitas apapun. Ia pun mengalami hal yang sama. Ia langsung menuju kamar, tempat istimewa, tempat yang paling ia suka. Tak lama kemudian komputer dinyalakan dan diputarnya tembang-tembang cinta, seolah mau mengungkapkan perasaannya. Memang, banyak orang bilang, kalau lagu-lagu mampu mewakili perasaan seseorang. Entah bahagia maupun sedih. Pokoknya, lagu-lagu itu mampu merangkumkan perasaan seseorang yang tidak terungkapkan dengan kalimat-kalimat lugas lainnya. Mungkin inilah yang tengah dialami oleh pria itu. Ia mengalami hal yang sama sebagaimana kebanyakan orang alami, yakni ada sejumlah perasaan yang tak mampu terungkapkan dan cukup terwakili dengan sekedar kata-kata gembira, atau senang dan lain sebagainya. Ah, mungkinkah pria itu sedang jatuh cinta?.
Tak lama kemudia handphonenya bergetar. Ada pesan masuk. Tertulis dalam pesan itu sebuah nama yang amat ia kenal. Tak menunggu lama, ia langsung mengambil handphone itu dan membacanya perlahan.
“udan-ne jadi ga?”
Tanpa maksud menjawab secara langsung, ia menuliskan begini :
“ Engga pa2. Hjan’a ga bsar koq. Smoga ntar dah reda. U dah bawa helm to?. Oh ya Tp, mnurtmu sndr bgaimn?” tanpa pikir panjang dan banyak pertimbangan ia langsung sending saja pesan itu.
“Ya Bawalah, ya kalo Nindya cih ga mslh santai getoloh, tapi ntar plge Nindya anter ke t4 krj q lag ya cz jam 08.30 ad tmn mau ket4 krj ok”
“Yap”. Akhirnya jadi juga kami bertemu senja nanti. Meskipun hari masih dilanda gerimis dan langit tampak tidak begitu ceria. Tapi hatinya sendiri tak menampakkan hal itu. Ia tampak bahagia. Dan telah mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Sepeda motor di tangan. Uang dikantong. Dan segenggam keberanian telah menggumpal menjadi sebentuk hasrat yang mesti ditumpahkan. Inilah sebuah peristiwa yang telah lama ia nanti. Dinner bersama seorang gadis yang sangat ia sayang, berdua. Sebagaimana ia kerap membayangkannya setiap malam. Ini adalah hari kebahagiaan baginya. Yang mungkin tak akan bisa ia lupakan.
Siang ini, ia menghabiskan waktu bersama lagu-lagu cinta. Ia mencoba membangun suasana yang romantis dalam dirinya. Maklum ia sendiri cukup gugup apabila bicara soal cinta. Ia ingin menghadapi senja ini berdua seperti dalam sinetron-sinetron yang pernah ia lihat atau kisah percintaan ala korea yang tak jarang membuatnya “mupeng”. Ia tidak tidur siang. Ini beda dari biasanya. Maklum, kalau soal tidur ia jagonya, sampai tak tau waktu. Bisa-bisa ia kebablasan sampai malam dan tak jadilah kencannya senja ini. Ia telah mengambil keputusan itu dengan tepat. Tanpa berpikir-pikir lagi , ia habiskan waktu dalam kesendirian sampai waktu yang ia nantikan mendekati dirinya.
Angannya telah merangkak jauh, sejauh terik yang berganti senja. Lama tetapi pasti. Berbagai macam cerita telah ia persiapkan. Berbagai bahan obrolan telah ia rancang. Ia beranggapan bahwa jangan sampai dalam perjalanan bersama dengannya berlalu dengan sia-sia. Jangan sampai sedetikpun berlalu tanpa menyisakan kenangan. Ia telah merencanakan semuanya dengan mantap. Ya…mungkin inilah gejolak kawula muda yang dilanda cinta dan akan berkencan bersama seorang gadis yang sangat ia sayang dan cinta.
Berulang kali tangannya mengambil handphone yang tersanding di depannya. Apa yang ia lihat. Oh, ternyata masih satu jam lagi. Demikian ia lakukan berulang kali. Tak sabar rasanya menunggu sampai jam 16.30. dan matanya pun berulang kali mengamat-amati weker yang ada di depannya, tepat di bawah komputer miilknya. Seakan ingin memastikan kembali, apakah waktu yang ditunjukan dalam handphone benar adanya.
“Huuuh…” sesekali ia menghela nafas panjang. Setelah mengetahui bahwa waktu yang ia tunggu masih begitu lama. Ia jadi tahu bagaimana rasanya menunggu. Mungkin benar kata orang, menunggu adalah saat-saat yang membosankan.
“Nanti lwt per4an bangjo kekanan trs nnt ad per3an ambil kanan lagi trs ad per4an kecil ambil kanan dikit tar dikiri jln ad ruko planet square yg ad pohn palm’a”. sebuah pesan kembali masuk.
“Ok…ntar aq sms u. U aktifkan trs hp u ya”. Sebagai balasan dengan harapan ia akan dapat menemukan tempatnya dengan segera. Maklum ini adalah kali pertama ia menuju tempat Nindya bekerja. Semenjak ia tahu bahwa Nindya bekerja di situ. Tak pernah sekalipun ia menyempatkan waktu mengunjunginya. Senja ini adalah kesempatan terbaik baginya untuk bertandang menemuinya.
Benar juga sebagaimana ia harapkan. Gerimis perlahan mereda meski masih menyisakan mendung pada langit-langitnya. Dedaunan mulai mengering, tinggal sisa tetesnya saja yang berguliran menuju tanah. Tanah-tanah basah dan penuh genangan air perlahan-lahan pun mengering. Airnya menyusut dan menyisakan bopeng, seperti tato emping alias panu yang menempel pada kulit manusia, pada bekas genangan. Haha…...lucu juga membayangkan genangan itu seperti tato emping. Hujan telah reda. Hatinya kian bahagia-berbunga-bunga. Semangatnya berbinar dan tak kalah degup jantungnya pun berlarian mengucurkan peluh kecemasan (alias grogi).
Waktu telah menunjukan pukul 16.30 WIB. Disambanya handuk yang nangkring di gantungan dekat pintu masuk kamarnya beserta alat mandinya. Bergegas menuju kamar mandi. Ia tidak ingin kalau Nindya menunggu terlalu lama. Maka, tidak beberapa lama kemudian, ia telah keluar dari kamar mandi dan sedikit berlari menuju kamar untuk berganti pakaian. Waktu masih cukup baginya untuk berdandan mempersiapkan segala supaya terlihat pantas dipandang. Sekedar parfum ia semprotkan ke tubuhnya.
"emm....wangi....." gumamnya dalam hati.
Tidak lama kemudian, berangkatlah ia dengan semangat dengan motor pinjaman bahkan tanpa surat-surat yang lengkap. Ya, terang saja, STNK motor itu sedang diperpanjang. Dengan modal nekat, ia memberanikan diri untuk tetap berangkat dengan motor tanpa surat-surat itu. Dengan harapan akan berjalan aman-aman saja. Kendati sebelumnya, ia pun telah meminjam kepada salah seorang temannya yang lain. Tapi, ia tak menghiraukannya lagi. Ia telah memutuskan untuk menanggung segala resiko yang akan ia hadapi.
“Ketilang yo wis” begitu gumamnya dalam hati saat dalam perjalanan menuju tempat Nindya.
Keberangkatannya berjalan lancer. Kendati sempat kesasar juga. Namun dengan segera ia menemukan tempat yang mereka sepakati.
“Nindya aq dah di dpn planet square. U dimn?” Ia menuliskan pesan itu untuk Nindya. Dan tak berapa lama kemudian, seorang perempuan keluar dari sebuah coffee caffe. Senyum terpancar dari wajahnya yang manis, sembari melambaikan tangan mulusnya. Ia pun tersenyum, malu. Jantungnya berdetak semakin keras.
“Gila..semakin cantik saja dia. Rambutnya ia ikat rapi. Tak lupa tas hitam yang ia suka melekat ditubuhnya”. Gumamnya dalam hati sembari mendekati Nindya.
“hai….koq cepet banget tahu tempat ini, ter”
“ya iyalah. Aq gituloh. Aku kan sering main, dolan-dolan”
“Nindy….mau kemana niech..?” Ia sedikit bingung untuk mengawali pembicaraan ini. Ternyata engga mudah saat bertemu langsung dengan orangnya. Berbagai macam rencana yang telah ia persiapkan berlalu begitu saja. Untuk itu, ungkapan-ungkapan spontan lebih kerap muncul. Dan ini benar-benar mengagumkan, bahwa akhirnya mereka bisa berbincang bersama dengan asyiknya.
Ia dan Nindya pergi berdua. Mereka pergi menuju tempat yang sangat istimewa. Hanya berdua.

Jogja, 10 Januari 2008
atas sebuah kisah yang pernah terjadi pada 07 Januari 2008

Sekedar luka hati

Tuhan,
Aku terlalu payah untuk melayaniMu,
Litani keluhan malah kerap terlontar dari mulutku,
bahkan menghiasi benak terdalamku.

Aku tidak begitu gampang memaafkan orang lain
Aku lebih gampang mencela, mencaci atau mengkoreksi,
Tapi terkadang tidak pernah terlontar,
Sebatas emosi di dada
Yang …..tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.

Tuhan,
Aku terlalu payah untuk melayaniMu,
Ternyata aku sibuk dengan diriku sendiri,
Apakah demikian?
Kadang aku malah melawan, berontak…
Ah, tidak. Aku sudah cukup mau berbagi dengan orang lain
Bahkan aku mengorbankan kepentinganku sendiri untuk mereka,
Aku mengorbankan waktu untuk berjalan dari pintu ke pintu
Aku mengetok dari hati ke hati
Dan berjumpa dengan wajah-wajah kemalasan
Ah, Tuhan
Aku terlalu payah untuk melayaniMu,
Mungkin karena aku belum mengenal Mu
Mungkin aku terlalu menutup diri dariMu
Tapi, mau bagaimana lagi,
Terkadang pengalaman berbicara, bahwa Engkau
Tidak b egitu akrab dengan aku.

Tuhan,
Mengapa kita tidak bisa akrab.
Kita kerap kali bertengkar,
Kita kerap kali berbeda pendapat,
Aku ingin ini, sementara kamu ingin itu
Akibatnya, aku menjadi kurang suka denganMu.

Saat Ku SenDirI

KeCemAsan keRap MembAyanGi
TErMasuK MalaM ini
Lagi-laGi….
sAat ku seNdiRi

KenTungAn, 25 SepTember 2007

Mimpi

Tepat hari Rabu saat fajar telah merekah
Tepat tanggal 05 Maret 2008
Dia bermimpi...
Aku pergi dari seminari....

Kentungan, 06 Maret 2008

Ketakutan manusia

Tebal debu ini mengotori lembar demi lembar
Menyuramkan keindahan dan lekak-lekuknya, unik sekali
Hati-hati
Jangan sentuh
Jangan ditiup
Ia terbang
Ia bisa membuatmu buta
Ia bisa membuatmu menangis
Dan bahkan batuk berdahak

Tebal debu ini mengotori lembar demi lembar
Perjalanan dulu hingga kini
Telah lama

Sebuah perhelatan malam

Terhenyak bangun dari tidurku,
yang diselingi tanya di hati
Dalam gelap malam dirimu hadir
Menangis sendu sedan bimbangkan seluruh malam
Kita berdua ada pada satu poros
Berjubel-jubel mata mengawasi
Tingkah manjamu yang menggoyang-goyangkan tubuh tegasku
Aneh…
Berjubel-jubel mata itu,
tidak mau pergi mengawasi
tidak mau berhenti menilai
Mata keheranan, penuh waspada
Serta aba-aba mendesak terus kebebasanku
Ah, mengapa mereka mengawasi kita???
Mata-mata berselimutkan serba putih
Berawal ujung rambut sampai kaki
Serba putih dan putih
Dalam gelap malam ketika bersama denganmu


Kentungan, April 2005

Mengapa kamu menangis ?

Semalam kamu hadir
Saat kusendiri
Di kesunyian
Airmata membasahi pundakku
Tangan halusmu mencengkeram tubuhku
Sesak napasmu risaukan hatiku
“Mengapa kamu menangis”?


Kentungan, April 2005

Sendumu

Datang tiba-tiba,
dalam kebimbangan.
Lalu isak tangis bersambung tanya,
yang dengan keras kamu luapkan,
yang dengan deras kamu alirkan.
Pada tubuhku kaku,
yang terbingkai erat tubuhmu.
Aku menyentuh tubuhmu,
laluku seka genangan pada lekak-lekukmu
Sembari berkata “Sudahi saja sendumu”
Sungguh airmatamu membuatku
Ngilu rindu hadirmu
Ketika fajar baru belingsatan mencari jalannya

Kentungan, April 2005

Marilah Kita Mencoba

Perhelatan anak manusia baru mulai,
kegelisahan sesekali menyelimuti diri
setelah lama berlari
bermimpi menggapai keberhasilan yang selama ini pergi.
Fisik bukanlah apa-apa,
Aku masih bisa berlari jika hatiku bersemi
Aku akan memenuhi segala janji jika kau tak enggan menerima cinta
Teman, perjuangan kita belumlah usai
akan aku perkenalkan kau pada dunia
dan setidaknya kau mau mencoba.
Jangan katakan nanti,
jangan katakan tidak mau.
Tapi cobalah untuk mengerti
Hargailah usaha yang telah dibangun,
supaya kita saling mengerti,
supaya kita bisa saling melengkapi.
Teman,
Jangan sekali-kali menyisakan kesempatan baik bagi kita
Jangan pernah mengulang kegagalan yang sama
aku ingin kita semua berkembang
Aku ingin kau dan aku maju bersama
Jangan katakan tidak,
marilah kita coba

Kentungan, 12 April 2005

Akan Kubangun Menara Itu

Mungkin usia mengantar diri pada kedewasaan
Yang merubah pandanganku pada kehidupan.
Mungkin kegelisahan juga sedikit mendongkrak semangat
supaya kegagalan tertepis
sejauh langkah kaki melangkah.
Kemalasan yang selama ini ada tengah beralih.
Memang, semangat kerja inilah yang kubangun
Untuk membangun menara impian.
Biar kutunjukan,
Tak selamanya roda kesengsaraan melanda,
akan kubangun menara ini untukmu,
akan kutunjukan pada dunia impian sesungguhnya.
Tanpa kamu menara-pun dapat kubangun
Tak lagi bergantung padamu,
karena dirimu telah andil pula merobohkan menara impian,
ketika keputusan terucap sebagai kata terakhir darimu.
Kentungan, 3 April 2005

Indahnya Persahabatan

Dua hari menjelang keberangkatanku menuju Jogja
Penuh dengan tawa.
Dua hari menjelang keberangkatanku menuju Jogja
Penuh dengan kebahagiaan.
Dua hari menjelang keberangkatanku menuju Jogja
Enggan untuk kulupakan
Bahkan rasanya ingin selalu demikian.
Hari pertama sebelum keber
angkatanku menuju Jogja
Telah terjadi janji antar manusia yang lama tak jumpa
Mungkin telah bertahun-tahun bergulat dengan cinta dan cita
Tapi kini bertemu dalam keberasamaan penuh cinta
Hari pertama ku
habiskan waktu bersama mereka
Semenjak matahari belum nangkring di atas kepala
Sampai ia masuk dalam peraduannya yang amat ia suka
Aku masih ada bersama mereka
Hari pertama sebelum keberangkatanku menuju Jogja
Enggan untuk kulepaskan.
Hari kedua sebelum keberangkatanku menuju Jogja

Purbalingga, 27 Oktober 2006

Pesan Kosong


Siang itu matahari bersinar terik.
Padahal ia belum bertengger di atas kepala, tapi rasanya sudah terbakar.
Tubuhku penuh keringat, pakaianku basah, dan tenggorokan amat nafsu menelan serpihan-serpihan es batu yang perlahan mencair.
Siang ini matahari bersinar terik.
Seluruh hari-pun terasa kering kerontang, bagai dedaunan
di sepanjang jalan kenangan kering, layu tanpa air.
Siang ini matahari bersinar terik.
Dan aku beringasan mencari penghiburan.
Entah apa yang akan ku lakukan,
tapi ditanganku telah ada handphone merah muda, romantis, dan feminin.
Memang, si empunya enggan mengganti casing.
Ia lebih suka apa adanya.
Ya sudah, akupun tak begitu malu menggunakannya.
Tanganku mulai menari di atas tuts handphone merah muda, milik adikku.
Tapi sebentar, ia berhenti saat selesai menekan 0 8 5 6...
Jari-jarinya berhenti bergerak,
Sebentar kemudian jari telunjuknya menekan tuts C.
Layar kosong tanpa angka

Kentungan, November 2006

Janji

Tak usah berjanji
Daripada berjanji tidak menepati
Siapapun tak suka dusta
Daripada dusta lebih baik luka
Hindarkanlah lidah yang bersilat
Karena akan mengantarkan diri kepada dosa
Mulut siapa yang berdusta
Tak bakal dipercaya
Karena semua orang tak suka dusta
Kendati mereka sendiri tak bisa hindari dusta

(inspirasi dari Pengkotbah)
Kentungan, 16 April 2007

Pintaku Satu, Ijinkan aku.....

Ijinkan ku duduk di sini
Dalam kegelapan senja
Saat orang-orang tak lagi bercanda,
Saat suara burung-burung tak lagi ramai terdengar,
Saat bunga-bunga pun menutup diri
Kembali meringkuk dalam pelukan malam
Yang tak bersahabat

Pesan Singkat

Hai teman,
“Dia telah memiliki surga, tetapi ia memilih golgota
Ia ingin berbagi cinta bagi kita’.
Met paskah…..
Semoga paskah membawa kebangkitan bagimu.
Serangkai kata ku kirim kan lewat SMS
Untukmu……..
Sahabatku yang pernah kucinta
Bahkan untuk selamanya, dirimu tak bisa ku lupa
Entah mengapa…..??
Tak lama kemudian, handphone ku berbunyi…
“Kristus udah menderita, mati, dan Ia udah bangkit.
Semua adalah untuk kita. Semangatlah dalam hidup.
Bangkitlah bersama Kristus yang Bangkit”. Met paskah ‘ter…
Kubaca berulang kali
Biar meresap dan tinggal dalam hati
Ia menyemangatiku.
Aku pun tersenyum sendiri
Sementara jariku telah bergulir di atas tuts handphone
Merangkai kata-kata balasan untukmu, sahabat yang pernah
Tinggal dalam hatiku.


Kentungan, 12 April 2007

Sendiri

Tempat ini terlalu sunyi
Aku tidak kerasan.
Aku ingin pergi untuk sekedar
mencari teman bicara.
Dan malam ini tak bisa kuhindari
Hingga keterpaksaanlah yang mendiamkanku di sini
dalam sepi sendiri.

Kentungan, 12 April 2007

Ingatkah Kamu

Ingatkah kamu……
kapan terakhir kalinya aku berbincang denganmu
saat malam beranjak larut,
Binatang riuh bernyanyi
Dingin malam enggan berkompromi
Dan kesepian perlahan pergi

Kentungan, 12 April 2007