<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583</id><updated>2012-02-16T06:52:29.227-08:00</updated><category term='ProfiL'/><category term='Artikel'/><category term='RenuNgan'/><category term='PaPer'/><category term='Puisi'/><category term='Story'/><category term='Cerpen'/><title type='text'>The Shadow Of Life</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>50</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-4054429789555149578</id><published>2010-10-21T19:04:00.000-07:00</published><updated>2010-10-21T19:05:27.353-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Umat beriman kristiani dipanggil untuk mewartakan Nilai-Nilai Kerajaan Allah di tengah dunia dengan memperjuangkan keadilan dan kebenaran dalam kehidupan politik demi kesejahteraan bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar&lt;br /&gt;Politik itu kotor! Ungkapan itu kerap kita dengar atau bahkan kita ucapkan karena didasari sebuah kenyataan di tengah masyarakat bahwa untuk mencapai tujuan politik tertentu par pelaku politik tidak segan-segan menggunakan cara yang tidak beradab. Situasi semacam ini mengundang umat beriman kristiani untuk bergerak dan terlibat dalam kehidupan politik secara benar. Umat beriman kristiani menghayati keterlibatannya dalam politik bukan untuk mencari kekuasaan, melainkan sarana untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Atas dasar inilah umat beriman kristiani terpanggil untuk ikut berjuang demi keadilan dan kebenaran demi kesejahteraan bersama melalui keterlibatannya dalam kehidupan politik. Inilah panggilan sejati umat beriman kristiani. Panggilan yang lahir dari semangat Yesus sendiri yang mewartakan kabar keselamatan kepada semua orang.  Untuk itu Kesejahteraan bersama menjadi cita-cita yang senantiasa dikejar dan diusahakan melalui perwujudan keadilan, kemakmuran, kedamaian, dan penghargaan hak-hak asasi setiap manusia yang terus-menerus direalisasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat beriman kristiani dipanggil untuk mewartakan Kerajaan Allah di tengah dunia&lt;br /&gt;a.    Umat beriman Kristiani di tengah dunia&lt;br /&gt;Siapakah umat beriman Kristiani? Umat beriman Kristiani adalah mereka yang, karena melalui baptis dipersatukan dengan Kristus, dibentuk menjadi umat Allah dan turut mengambil bagian dalam tugas imami, kenabian, rajawi Kristus, yang dipercayakan Allah kepada Gereja untuk dilaksanakan di dunia (KHK 204). Dengan ini jelas bahwa pembaptisan merupakan pengambilbagian dalam tugas misi Kristus di dunia. Dengan pembaptisan umat beriman kristiani disatukan dengan Kristus dalam tubuhnya yakni Gereja.&lt;br /&gt;Untuk itu, Gereja sebagai kumpulan orang-orang yang dibaptis menjadi anggota tubuh Kristus dan dengan caranya masing-masing mengembang tri tugas Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja. Itu berarti Gereja ada di tengah dunia dan bertugas menggarami dan menerangi dunia dengan Injil Kristus (Mrk 16:15). Hubungan Gereja dengan dunia tampak erat. Bagaimana Gereja membawa kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. (Bdk. GS 1).&lt;br /&gt;Bentuk kehadiran Gereja di tengah dunia semakin jelas dalam memaknai perutusan mereka, umat beriman Kristiani, di Gereja dan di dunia (LG 31). Mereka berada di tengah dunia, dan hidup di tengah dunia. Ini yang menampilkan kekhasan umat beriman kristiani. Mereka, anggota Gereja, dan berkat ciri keduniawiannya dipanggil untuk  terlibat di dalam dunia, “mereka wajib mencari Kerajaan Allah, dengan mengurusi hal-hal fana da mengaturnya seturut kehendak Allah. Mereka dipanggil untuk hidup dalam dunia dengan dijiwai semangat Injil” (LG 31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.    Gereja adalah Umat beriman kristiani sekaligus warganegara&lt;br /&gt;Gambaran Gereja sebagai umat Allah membuka pemahaman jelas bagi keterlibatan umat dalam politik. Akan tetapi dipihak lain, Gereja tetap melarang keterlibatan hirarki dalam arena politik praktis. Oleh karena itu Gereja tidak boleh dipahami secara sempit dengan hirarki saja. Mereka, para uskup, imam, rohaniwan dan rohaniwati adalah simbol dan kekuatan yang mempersatukan komunitas umat beriman. Oleh karena itu tidak perlu terlibat dalam politik praktis. Dalam konteks hubungan Gereja dan negara, sebenarnya jelas bahwa umat kristiani adalah warganegara yang hendaknya memenuhi kewajiban-kewajiban kewarganegaraan mereka, yang dibimbing oleh suara hati Kristiani, dan dipihak lain apa yang mereka jalankan atas nama Gereja bersama para gembala mereka (GS.76). Dengan kata lain, umat beriman Kristiani diajak untuk melaksanakan tugas yang tepat memasuki tatanan duniawi dengan nilai-nilai Kristiani, menghormati hakekat dan otonomi sepenuhnya dari tatanan itu, dan bekerjasama dengan warganegara lain menurut kompetensi dan tanggungjawab khusus mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.    Panggilan untuk mewartakan Kerajaan Allah di tengah dunia&lt;br /&gt;a.    Umat Beriman Kristiani dipanggil untuk mewartakan Kerajaan Allah di tengah dunia&lt;br /&gt;Kerajaan Allah yang dibawa oleh Yesus adalah Kerajaan Allah yang berasal dari Bapa di surga (Mrk 1:15; Mat 3:2). Kerajaan itu ingin menunjukkan kekuasaan Allah di dunia ini. Kerajaan Allah itu telah hadir (Luk 17:20-21). Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus adalah Kerajaan yang damai dan penuh cintakasih (Mat 6:43-48; 22:34-40). Pokok pewartaan Yesus mengenai Kerajaan Allah adalah warta asli, historis, bukan merupakan hasil refleksi, pengolahan para penginjil atau jemaat perdana. Kerajaan Allah sebagai sentrum ajaran Yesus terus menggema dalam dunia. Gereja meneruskan pewartaan dan pengajaran mengenai kabar gembira Kerajaan Allah bagi semua orang, dengan meneladan hidup Yesus yang mengajar dan mewartakan Kerajaan Allah bagi banyak orang.&lt;br /&gt;Pewartaan dan pengajaran Yesus tentang kabar gembira Kerajaan Allah mengandung makna yang amat kaya. Kerajaan Allah merupakan kehadiran dan kegiatan Allah yang menyapa manusia untuk membawa manusia kepada keselamatan, menyelamatkan manusia dari dunia, dalam dan melalui karya Yesus. Allah datang, hadir di tengah umat-Nya. Ia bertindak menyelamatkan umat-Nya dengan tujuan untuk menegakkan pemerintahan-Nya di dunia dengan terlibat dalam suka-duka kehidupan manusia sehari-hari. Untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, Yesus menggunakan perumpamaan-perumpaman, kiasan, serta terwujud dalam hidup, tindakan, dan karya-Nya sehari-hari.&lt;br /&gt;Kerajaan Allah hadir bagi siapa saja yang secara terbuka mengarahkan diri untuk menyambutnya. Kerajaan Allah yang dimaksudkan Yesus bukanlah Kerajaan Allah yang bersifat politis, tetapi Kerajaan Allah yang bersifat religius. Sifat religius ini tersirat dalam tindakan Allah yang hadir di tengah-tengah umat-Nya dengan penuh kebebasan untuk membawa manusia kepada keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.    Keterlibatan Yesus dalam Kehidupan Politik&lt;br /&gt;Situasi pemakluman Kerajaan Allah oleh Yesus dan penyempurnaan-Nya terjadi di dalam dunia. Situasi kedosaan dalam dunia menjadikan Kerajaan Allah sebagai kontrasnya. Kerajaan Allah menghadirkan pemulihan atas realitas kedosaan tersebut. Ada perlawanan antara kebaikan dan kejahatan. Dunia sebagai realitas kejahatan harus disembuhkan dengan kehadiran Kerajaan Allah di dunia. Inilah konteks realitas dunia yang menjadi sasaran pewartaan Yesus mengenai kabar gembira Kerajaan Allah. Peristiwa inkarnasi, hidup, sampai pada kematian-Nya di kayu salib, merupakan tanda dan bukti cinta-Nya kepada manusia. Peristiwa inkarnasi Yesus adalah usaha mengangkat manusia untuk bersatu dengan diri-Nya dari realitas kejahatan dunia.&lt;br /&gt;Bentuk kejahatan dalam dunia digambarkan dalam bentuk ketidakadilan, kemiskinan, penindasan, pembunuhan dan lain-lain. Rupanya kehadiran Kerajaan Allah memberi warna serta hidup baru atas realitas dunia yang jahat itu. Kerajaan Allah telah hadir ke dunia kini dan disini, namun masih akan mendapatkan kepenuhannya nanti. Inilah Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus, yakni Kerajaan Allah yang berkembang, kini dan nanti. Kerajaan Allah telah mulai dalam dunia dan akan mendapatkan kepenuhannya nanti. Kehadiran Kerajaan Allah ditegaskan dalam injil Markus melalui perkataan Yesus yaitu, “Waktunya telah tiba; Kerajaan Allah sudah dekat….”(Mrk 1:15). Hal ini menggambarkan Kerajaan Allah telah hadir, waktunya telah dekat, dan akan dirasakan dalam hidup manusia, hanya belum mendapatkan kepenuhannya secara sempurna dalam dunia.&lt;br /&gt;Dalam kisah Perjanjian Lama Kerajaan Allah ini sering dihubungkan dengan dunia politik. ”Kerajaan Allah” dinampakkan dalam segi-segi kekuasaan dan kekuatannya yang menyelamatkan seperti keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir yang tampil melalui kepemimpinan raja sebagai representasi Allah. Raja sebagai representasi Allah mewakili kekuasaan Allah secara politis praktis.&lt;br /&gt;Seemntara itu, ”Kerajaan Allah” yang diwartakan oleh Yesus adalah perwujudan diriNya di dunia yang nampak dalam hidup dan karyaNya. Kekuasaan Allah itu ada dalam diri Yesus. Kekuasaan Allah itu membawakan keselamatan bagi manusia. Kuasa Allah membawa damai dan kesejahteraan, dan kuasa Allah berpihak pada orang miskin yang terkena akibat ketidakadilan. Implikasinya adalah kepenuhan dari karya penyelamatan Kerajaan Allah akan datang, dimana semua orang akan mengalami keselamatan, kedamaian, tidak ada penindasan, saling melayani dan mengembangkan keadilan berdasarkan Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dimana keterlibatan Yesus dalam kehidupan politik? Jawabannya ada pada saat Yesus masuk dan terlibat dalam kehidupan masyarakat Yahudi dan mewartakan Kerajaan Allah di dalamnya, meskipun ia tidak ikut ambil bagian dalam permainan politik. Dengan terlibat dalam kehidupan politik bangsa Yahudi itulah ia mengangkat nilai Kerajaan Allah sehingga semakin menggema. Namun, keterlibatan Yesus adalah keterlibatan etis dan politis pemberdayaan sebagaimana Ia sabdakan sendiri di hadapan banyak tokoh Yahudi di Nazaret;&lt;br /&gt;”Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh seba Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikankabar baik kepada orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberikan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penghlihaan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitahukan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4:18-19).&lt;br /&gt;Yesus benar-benar menunjukan keberpihakannya pada masyarakat, bukan pada kekuasaan itu sendiri. Demikianlah umat beriman kristianipun dipanggil untuk terlibat dalam kehidupan politik dengan tetap memfokuskan perhatian pada nilai Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus dalam memperjuangkan martabat manusia seperti keadilan dan kebenaran demi kesejahteraan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat beriman Kristiani mewartakan Kerajaan Allah di tengah dunia dengan memperjuangkan keadilan dan kebenaran dalam kehidupan politik&lt;br /&gt;Dalam dekrit Konsili Vatikan II mengenai kaum awam dan kerasulannya dalam tata dunia ditegaskan, “Kaum awam menunaikann kerasulan mereka yang bermacam-macam dalam Gereja maupun masyarakat” (AA 9). Umat beriman kristiani harus terbuka dan berani bergerak keluar untuk mewartakan kabar baik bagi semua bangsa (Kis 2:1-40). Kerasulan-kerasulan untuk mewartakan kabar baik tersebut adalah tanggungjawab umat beriman terlebih terkait dengan kesejahteraan umum, keamanan politik, ekonomi, kebudayaan dan lain sebagainya (GS 52). Selain itu, dasar kerasulan umat beriman merupakan panggilan konstitutif dari Sakramen baptis, krisma, dan ekaristi. Sakramen pembaptisan membuat setipa orang menjadi pribadi baru (1 Kor 12:13), dimasukkan menjadi anak-anak Allah (Kis 2:38). Melalui sakramen Krisma, umat beriman diteguhkan untuk bertekun dalam tugas perutusannya, berkat pencurahan Roh Kudus, dan ekaristi menjadi kekuatan perutusan untuk masuk dalam kehidupan nyata mewarnai dunia dengan semangat Yesus Kristus. Oleh karena itu politik menjadi medan perutusan umat beriman dan menjadi konsekuensi perutusannya. Keterlibatan umat beriman dalam kehidupan politik merupakan panggilan suci yang tersirat ditegaskan Konsili Vatikan II :&lt;br /&gt;“Hendaknya para warganegara denga kebesaran jiwa dan kesetiaan  memupuk cinta tanah air, tetapi tanpa berpandangan picik, sehingga serentak tetap tetap memperhatikan kesejahteraan keluarga manusia, yang terhimpun melalui berbagai ikatan antarsuku, antarbangsa, dan antarnegara” (GS 75).&lt;br /&gt;Mereka tidak anti terhadap politik, melainkan mengambil bagian secara aktif dalam politik sebagai garam. Mereka terlibat politik tanpa memperhitungkan kepentingan pribadi, bersikap jujur dan wajar, serta cintakasih yang dalam membaktikan diri bagi kesejahteraan semua orang (Bdk. GS 75). Sikap-sikap seperti inilah yang diharapkan Gereja, bahwa umat beriman kristiani terlibat dalam kehidupan politik semata untuk mendukung kesejahteraan bersama, sekaligus sebagai perintis jalan bagi Injil (Bdk. AA 14). Dengan memperjuangkan keselamatan dan kesejahteraan bersama berarti Gereja telah terlibat dalam dunia, terlebih dalam mengikis ketidakadilan serta pelecehan hak-hak asasi manusia.&lt;br /&gt;Secara konkret bentuk perutusan umat kristiani dalam kehidupan politik adalah dengan memperjuangkan keadilan dan kebenaran di dalam masyarakat. Pembelaan terhadap keadilan dan kebenaran berarti menjaga keutuhan martabat manusia yang tidak boleh diganggu gugat. Di dalam kehidupan politik, umat kristiani harus berpedoman terhadap empat “kebajikan politik”, yakni kebijaksanaan, keadilan, pengendalian diri, dan keberanian. Umat beriman berpolitik dengan benar serta dapat dipertanggungjawabkan, mengacu pada kebenaran dan keadilan bersama, bukan semata untuk kekuasaan pribadi dan berani memperjuangkannya untuk kepentingan bersama.&lt;br /&gt;Penghormatan pada martabat manusia terutama terkait dengan hak-hak pribadi manusialah yang memungkinkan peran serta demokratis. Terkait hal ini Konsili Vatikan II dengan tegas menekankan, “terjaminnya hak-hak pribadi merupakan syarat mutlak, supaya para warganegara, masing-masing maupun secara kolektif, dapat berperanserta secara aktif dalam kehidupan dan pemerintahan negara” (GS 73). Di sisi lain, sikap tidak peduli terhadap politik dan menjauhi politik pun berarti membuat peluang untuk mempertaruhkan hak-hak dasar serta nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan untuk hidup secara bermartabat sebagai manusia. Konsep Kerajaan Allah yang terutama mengacu pada keselamatan universal itulah yang menjadi dasar bagi umat kristiani untuk peduli dan terlibat pada persoalan dunia agar terwujud dunia yang menjadi representasi antisipatif dari Kerajaan Allah eskatologis itu. Itulah sebabnya umat kristiani tidak bisa tidak terlibat dalam perkara sosial politik demi suatu dunia manusia yang lebih adil, benar dan beradab. Tugas Gereja dalam mewartakan Injil mau tidak mau mendorong Gereja untuk mewujudkan dan memperjuangkan keadilan.&lt;br /&gt;Bidang-bidang keterlibatan umat kristiani sebagai warga masyarakat adalah semua bidang yang menjadi medan kepedulian masyarakat secara keseluruhan (AA 7). Prinsipnya adalah umat beriman kristiani tidak boleh mengabaikan partisipasinya dalam kehidupan publik dalam pelbagai bidang kehidupan seperti bidang politik untuk mewujudkan kesejateraan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi kesejahteraan bersama&lt;br /&gt;Bonum commune merupakan sasaran akhir dan tunggal dari setiap nilai, prinsip serta kebajikan politik. Bonum commune adalah keseluruhan kondisi hidup kemaryarakatan, yang memungkinkan baik kelompok-kelompok anggota-anggota perorangan, untuk secara lebih penuh dan lebih lancar mencapai kesempurnaan mereka sendiri. Prinsip yang harus dihidupi adalah prinsip kesejahteraan umum, yakni Gereja menegaskan bahwa negara di peruntukkan bagi manusia dan bukan manusia bagi negara. Tujuan negara adalah penyelenggaraan kesejahteraan umum. Dimana kesejahteraan umum dipahami sebagai keseluruhan syarat-syarat yang perlu agar segenap warga masyarakat dapat mewujudkan kehidupan yang sejahtera.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan politik, umat beriman kristiani harus memiliki tujuan satu yakni mewujudkan kesejahteraan bersama. Kesejahteraan bersama adalah kesejahteraan yang mencakup seluruh masyarakat Indonesia. Ada beberapa prinsip etika politik politik yang bisa menjadi arah dalam bergelut dalam kehidupan politik :&lt;br /&gt;1.    Penghargaan terhadap hak asasi manusia.&lt;br /&gt;2.    Pengakuan terhadap martabat yang sama bagi semua orang tanpa membedakan latar belakang&lt;br /&gt;3.    Negara dianggap sebagai sarana dan bukan tujuan&lt;br /&gt;4.    Menjunjung prinsip subsidiaritas&lt;br /&gt;5.    Mengemban semangat solidaritas universal&lt;br /&gt;Jiwa moral dari prinsip subsidiaritas adalah keadilan. Prinsip keadilan dibutuhkan untuk membubarkan atau membenahi manajemen yang tidak adil dalam pemerintahan, kehidupan bersama. Agar keadilan benar-benar kuat, dibutuhkan pendidikan keadilan. Pendidikan keadilan memastikan perkembangan keutamaan-keutamaan moral, seperti semangat hidup “yang kuat melindungi yang lemah” dan “yang mampu membantu yang kurang mampu”. Pendidikan keadilan merupakan bagian hakiki dari proses pemberdayaan menuju tercapainya masyarakat baru yang adil dan beradab.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, politik hendaklah bertujuan untuk kesejahteraan bersama yang mencakup keseluruhan kondisi-kondisi hidup kemasyarakatan, yang memungkinkan atau membantu baik kelompok-kelompok maupun anggota-anggota perorangan, untuk secara lebih penuh dan lebih lancar mencapai kesempurnaan mereka sendiri (GS.26,GS.74). Kesejahteraan bersama harus menjadi keseluruhan nilai, tujuan dan sumbernya. Gereja memandangnya sebagai yang paling diinginkan sebagai bentuk pengabdian dan diharapkan dapat mengembangkan diri dengan lebih bebas di bawah pemerintahan mana pun (GS.42). Dan melalui perwujudan kesejahteraan bersama sebagai perutusannya, Gereja, yang dipanggil untuk memelihara serta memupuk apapun yang serba besar, baik dan indah dalam masyarakat manusia, memantapkan perdamaian diantara manusia demi kemuliaan Allah (GS. 76)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Keterlibatan umat beriman kristiani dalam kehidupan politik dapat memberi warna yang istimewa dalam perwujudan hidup bermasyarakt. Umat beriman kristiani sebagai warga Gereja, tidak menutup diri terhadap persoalan dan kehidupan di sekitarnya, terlebih dalam kehidupan politik. Justru sebagai umat beriman kristiani yang menginspirasikan hidupnya dari Yesus Kristus, yang membawa kabar Kerajaan Allah bagi semua orang, harus senantiasa tampil menjadi garam dan terang dunia dengan mau terlibat dalam kehidupan politik demi kesejahteraan bersama. Sebab kita, umat beriman kristiani, yang dalam seluruh kehidupan Gereja harus memainkan peranan aktif, tidak hanya wajib meresapi dunia dengan semangat kristiani, melainkan dipanggil juga untuk dalam segalanya menjadi saksi Kristus ditengah masyarakat manusia dengan berani memperjuangkan keadilan dan kebenaran dalam kehidupan politik demi mewujudkan kesejahteraan bersama.(GS 43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;1.    Dr. Ola Rongan, Wilhelmus, Katolik Berpolitik, tulisan yang diseminarkan dalam rangka pesta emas STKIP Widya Yuwana Madiun, April, 2010, telah diakses dari internet www.yabisa.files.wordpress.com&lt;br /&gt;2.    Dr. Peter Aman, OFM, Budaya Politik Sehat dari Perspektif Etika Politik dan Ajaran Sosial Gereja, makalah disampaikan dalam seminar yang diselenggarakan MPK-Unika Atma Jaya Yogyakarta, 30 Mei 2009, dalam jurnal Wanala Edisi Mei-Agustus 2009, 67-68.&lt;br /&gt;3.    Gusti Bagus Kusumawanta, D, Gereja dan Politik, www.intermirifica.net&lt;br /&gt;4.    Haering, Bernard, Free and Faitful in Christ, Moral Theology for Priest and Laity.Volume 3. Light to the World Salt for the Earth, St Paul Publications, Great Britain, 1981&lt;br /&gt;5.    Komisi Kerasulan Awam KWI, Seri Pembelajaran Politik Umat, buku 3, “Panggilan dan Tanggungjawab Politikus Katolik”&lt;br /&gt;6.    Magnis-Suseno, Frans, Etika Politik Gereja Katolik Dalalm Kontesk Indonesia, dalam Ekawarta No 01 &amp;amp; 02/XVII/1997, Edisi Januari-April, 1997&lt;br /&gt;7.    Mali, Matheus, Cssr, Kekuasaan Politik Kekuasaan dalam Perjanjian Lama, pro manuscripto kuliah Teologi Politik, FTW, Yogyakarta, 2010&lt;br /&gt;8.    Mgr. Agustinus Agus, Politik, Panggilan untuk kebaikan bersama, termuat dalam Mikhael Dua, Febiana R.Kainama, Kasdin Sihotang (ed.), Politik Katolik: Politik Kebaikan Bersama, Bogor, Obor, 2008&lt;br /&gt;9.    Nota Pastoral, Umat Beriman Dan Panggilan Politik dalam Konteks Kemajemukan Masyarakat Indonesia, Dewan Karya Pastoral KAS, 2004&lt;br /&gt;10.    Sudiarja, A, SJ, Kerajaan Allah dan God is Dead Theology, Majalah Rohani, Maret, 1993&lt;br /&gt;11.    Tisera, Guido, SVD, Seperti Apakah Kerajaan Allah itu?, Obor : Jakarta, 2001&lt;br /&gt;12.    Yohanes Paulus II, Apostolic Exhortation Christifedeles Laici, No. 42.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-4054429789555149578?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/4054429789555149578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/10/umat-beriman-kristiani-dipanggil-untuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/4054429789555149578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/4054429789555149578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/10/umat-beriman-kristiani-dipanggil-untuk.html' title=''/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-5224072966498047456</id><published>2010-10-21T19:01:00.001-07:00</published><updated>2010-10-21T19:03:06.929-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RenuNgan'/><title type='text'></title><content type='html'>Bercermin pada Bunda Theresa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan Rohani : 1 Yohanes 4 : 16b – 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebab yang terpenting bukanlah berapa banyak yang kita perbuat, melainkan seberapa banyak cinta yang kita hayati”&lt;br /&gt;Sebuah inspirasi yang saya dapat dari Bunda Theresa. Bunda Theresa memusatkan perhatian dan karya pelayanannya pada mereka yang paling miskin diantara yang termiskin.&lt;br /&gt;Ditelinganya selalu terdengar suara “Aku lapar...aku harus..sakit,...dingin.. dan itu cukup menggerakkan hatinya untuk memberikan pelayanan kepada mereka. Prinsip hidup yang sangat saya kagumi adalah “Berikanlah..sampai kamu tak sanggup lagi”.&lt;br /&gt;“Aku hanya ingin membagikan secuil cinta pada hidup saudaraku yang singkat ini, sehingga dia pernah mengalami dan merasakan cinta dan dicintai”.&lt;br /&gt;Kisah Bunda Theresa ini&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/TMDwkfGVPvI/AAAAAAAAAFA/zE2bGnafoGc/s1600/Copy+of+101_1892.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 235px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/TMDwkfGVPvI/AAAAAAAAAFA/zE2bGnafoGc/s320/Copy+of+101_1892.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530684852024983282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; mengantar kita untuk melihat kekaguman kita pada Yesus Kristus, Allah sendiri. Bunda Theresa mampu memberikan kasih kepada orang lain apalagi Allah, Sang Empunya hidup. Tidak usah kita ragukan lagi.&lt;br /&gt;Dalam bacaan tadi kita mendengar “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita..”. Tampaknya Kitab Suci sendiri mau menegaskan, bahwa kitapun mesti berbuat kasih. Allah telah mengasihi kita, dan konsekuensinya, kita sebagai ciptaan-Nya pun harus mengasihi sesama.&lt;br /&gt;Beberapa ahli tafsir kitab suci menggunakan istilah lain, bukan ”karena” tetapi ”seperti”. Bahasa Yunani ”Kathos” lebih tepat diartikan sebagai ”seperti” bukan ”karena”, dan tampaknya mau menekankan bahwa, kita pun seharusnya sama seperti Kristus telah mengasihi. Bukan semata-mata karena kita dikasihi Allah. Tetapi seperti Allah mengasihi. ”Karena” masih menunjukan adanya keterbatasan, dan ada alasan untuk tidak memberikan kasih.&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;07 Maret 2007: 17.00 Wib.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-5224072966498047456?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/5224072966498047456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/10/bercermin-pada-bunda-theresa-bacaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/5224072966498047456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/5224072966498047456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/10/bercermin-pada-bunda-theresa-bacaan.html' title=''/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/TMDwkfGVPvI/AAAAAAAAAFA/zE2bGnafoGc/s72-c/Copy+of+101_1892.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-3569126786325776511</id><published>2010-10-21T18:58:00.000-07:00</published><updated>2010-10-21T18:59:56.823-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RenuNgan'/><title type='text'></title><content type='html'>Lukas 21 : 41 – 44 “Persembahan Janda Miskin”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alukusio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah Bapak Ignatius Suwandi. Beliau tinggal di Mlati, dusun Pajangan. Kesehariannya sebagai seorang lelaki yang  mulai beranjak tua, hampir sama dengan lelaki umumnya. Tetapi, jangan kaget, apabila dari sosok sederhana itu, dia telah mengisi gereja kita dengan lagu-lagunya yang menentramkan hati.&lt;br /&gt;Bapak Suwandi adalah pencipta lagu “Nata Agung” yang kerap kita pakai dalam Kidung Adi.&lt;br /&gt;Memang, kecintaannya pada lagu telah membuatnya menjadi Katolik. Katanya : “Saya jadi Katolik karena mendengarkan lagu di gereja. Waktu itu lagunya “Kyrie de Angelis”. Keterpikatan itu mendorong saya untuk menjadi Katolik. Bersyukur bahwa kemudian saya banyak dikenalkan dengan lagu-lagu gereja.&lt;br /&gt;Kecintaan saya pada lagu semakin dalam. Malam, saat yang lain tidur, saya masih berjaga. Apalagi kalau ada inspirasi yang mengganjal dihati. Rasanya harus ditumpahkan.&lt;br /&gt;Saya  terharu dan tidak menyangka, tepat saat ada kunjungan Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989, lagu Mangga samya sowan dinyanyikan dengan merdu dan syahdunya. Saya sangat terharu dan eeee..mong atase aku kok bisa seperti ini………….&lt;br /&gt;Suwandi menggambarkan dirinya laksana sebutir pasir di pantai, tetapi ternyata memberi peran, bisa berguna bagi orang lain. Dan syukur pula bahwa semua yang saya perbuat , saya persembahkan untuk TUhan. Inilah yang bisa saya persembahkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-3569126786325776511?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/3569126786325776511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/10/lukas-21-41-44-persembahan-janda-miskin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/3569126786325776511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/3569126786325776511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/10/lukas-21-41-44-persembahan-janda-miskin.html' title=''/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-7085734687893733065</id><published>2010-10-21T18:56:00.000-07:00</published><updated>2010-10-21T18:58:20.626-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RenuNgan'/><title type='text'></title><content type='html'>CintA DaMai&lt;br /&gt;-CoKlaT-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BiRuNya LaNgiT beRi ArTi&lt;br /&gt;DaMai daN TentRaM neGrI Ini&lt;br /&gt;BeRatNya cObAan&lt;br /&gt;Ku AkaN bErTaHan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BeRjuTa  iNsAn baNgsa iNi&lt;br /&gt;SaLing bErBakTi uNtuK NegRi&lt;br /&gt;Tak Ada RasA MenGhaMpiRi&lt;br /&gt;SgalA PeRbedAaN TeguH BerPegaNgaN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cInTa TaNah aiRkU&lt;br /&gt;CiNta DaMaI nEgRiku&lt;br /&gt;jaGa SlaLu NaMamU&lt;br /&gt;CiNTakU kEpAdAmu…InDoNesiA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berkibarlah bendera bangsaku di langit biru....”&lt;br /&gt;Merdeka!!!&lt;br /&gt;Sesaat lagi Indonesia akan merayakan ulang tahunnya yang ke-65. Hampir setiap tahun  pada bulan Agustus, kemeriahan itu tampak nyata di berbagai wilayah, daerah di Indonesia. Jelas terlihat dari asesoris-asesoris yang terpajang di pinggir jalan maupun depan tiap-tiap rumah. Tak heran pula para pedagang- pedagang dadakan berjejer menjajakan bendera dan segala macam pernak-pernik yang turut menyemarakkannya. Tak hanya mereka, setiap keluarga pun sibuk mempersiapkan hari kemerdekaan ini dengan bermacam acara. Ada yang ngecat gapura, mengadakan lomba-lomba (panjat pinang, balap karung, grak jalan dsb).&lt;br /&gt;Tak ketinggalan salah satu keluarga di Purbalingga pun turut sibuk menyambut 17 Agustus mendatang. Pada suatu pagi, seorang lelaki tengah sibuk menebang beberapa pohon bamboo, sendiri. Suara berisik yang terdengar dari belakang rumah memikat perhatianku untuk melihat dan memastikannya. Ternyata, kudapati bapak tengah asyik bersama senjatanya tengah menebang bamboo. Singkat kata, bamboo itu digunakan untuk memasang layur, dan bendera. Melihat itu, aku jadi tertarik untuk ikut nimbrung membersihkan bamboo yang sudah ditebang.&lt;br /&gt;Omong-omong tentang hari kemerdekaan yang akan kita rayakan besok hari jumat, rasanya tak bisa meninggalkan peran para pendahulu yang dengan rela berjuang mempertahankan Indonesia. Perayaan ini menjadi saat bagi kita untuk mengenang, mengingat kembali segala pengalaman kita akan Indonesia. Ini menjadi sebentuk penghargaan istimewa, bahwa perjuangan mereka pun tetapi kita hargai dan hormati. Sekedar rasa syukur, bangga dan terimakasih atas perjuangan mereka (para pendahlu).&lt;br /&gt; Mgr. Soegiyopranoto pernah menghimbau pada kita semua “JadiLaH oRaNg yAnG 100% WaRga GeReJa daN 100% waRgANeGaRA”. Ini menimbulkan pertanyaan refleksi bagi saya : “Lalu : bagaimana atau apa yang bisa kuperbuat”?&lt;br /&gt;Bacaan kita sore ini pun sengaja saya ambil dari Matius mengenai MemBaYaR pAjAk kePaDA KaISaR. “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”. Semoga Rahmat kemerdekaan Indonesia yang ke-65 ini membawa buah-buah yang berlimpah bagi kebaikan kita bersama. Sehingga segala sesuatunya menjadi semakin baik untuk yang terbaik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-7085734687893733065?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/7085734687893733065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/10/cinta-damai-coklat-birunya-langit-beri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/7085734687893733065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/7085734687893733065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/10/cinta-damai-coklat-birunya-langit-beri.html' title=''/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-7371570141338997833</id><published>2010-05-14T18:12:00.000-07:00</published><updated>2010-05-14T18:14:40.248-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PaPer'/><title type='text'>Pengampunan dan Perjanjian Baru</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Anthony Bash&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengantar&lt;br /&gt;Dalam paper ini kami mengulas tema Pengampunan dan Perjanjian Baru sebagai bagian dari tulisan Anthony Bash. Tema ini disoroti seorang kristen yang ingin menggali makna pengampunan dalam Perjanjian Baru. Untuk itu, kami ingin menampilkan paper ini dalam dua bagian, yaitu pertama, kami menampilkan isi tulisan Anthony Bash mengenai Pengampunan dan Perjanjian Baru, kedua, tanggapan kelompok terkait dengan paham dan praktek Gereja Katolik mengenai pengampunan.&lt;br /&gt;Pengampunan merupakan karakter iman Kristiani yang bertolak dari Yesus sendiri yang menampilkan pengampunan itu dalam hidupNya, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat“ (Luk 23:34), serta doa yang diajarkan Yesus kepada kita, “ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12; Luk 11:4). Dengan demikian wajar jika mengampuni adalah sikap integral, anjuran moral bagi umat Kristiani dan bahkan menjadi kesadaran umum banyak orang.&lt;br /&gt;Jones memandang pengampunan sebagai yang “melekat” dalam meta-narasi Kitab suci. Ia melihat bahwa mengampuni adalah sifat-yang melekat- pada Tuhan – bagian esensial dalam diri Tuhan- dan adanya manusia. Dengan demikian, adanya manusia ialah untuk memberikan cinta yang menjadi karakter Tuhan. Semua orang saling mengampuni satu samal lain.&lt;br /&gt;Selanjutnya, Bash menunjukan realitas pengampunan itu dalam Perjanjian Baru. Dalam surat Paulus, pengampunan disebutkan beberapa kali. Bagi para penulis Sinoptik, Lukas paling banyak menulis tentang pengampunan, Markus dan Matius hanya mengulas sedikit, sementara Yohanes tidak mengulasnya secara eksplisit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pertobatan, Yohanes Pembaptis dan Pengampunan&lt;br /&gt;Ada persoalan mengenai makna Baptisan Yohanes, “baptis pertobatan untuk pengampunan dosa” (Mrk 1:4 dan Luk 3:3), bahwa dengan pertobatan dibawalah pengampunan (webb 1991). Baptis merupakan ritus yang menjadi mediasi pengampunan, saluran bagi Tuhan untuk mengampuni dosa dan Yohanes Pembaptis adalah perantara dari pengampunan itu (Webb). Sementara yang sedang dipersoalkan Apakah baptis dan pertobatan ex opere operato membawa pengampunan?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3 Pertobatan dan Pengampunan&lt;br /&gt;Pertobatan dipahami sebagai perubahan sikap dan tindakan “tidak taat” dihadapan Allah. Pertobatan yang dilakukan menghasilkan pemulihan hubungan (seperti hubungan orangtua dan anak) serta menjadi usaha untuk kembali pada “kebijaksanaan yang adil” karena orang telah menyimpang dari kebijaksanaan tersebut (Luk 1:16-18). Contoh desakan Yohanes dalam pertobatan tampak dalam teks Lukas 3:7-14 (dialamatkan untuk banyak orang, penarik pajak, dan para serdadu) dan Matius 3:7-10 (untuk orang Farisi dan Saduki).&lt;br /&gt;Kata pertobatan dalam frase “Baptis pertobatan” dalam Injil Markus (Mrk 1:4) dan Lukas (Luk 3:3) (kata Yunani) menunjuk pada tindakan subyektif (pertobatan orang yang dibaptis). Orang yang dibaptis menampilkan sikap pertobatan mereka dalam hidup harian. Demikian baptis diasosiasikan dengan pertobatan. Dengan pemahaman bahwa orang yang bertobat dibaptis, maka baptis menjadi indikasi pertobatan atau menjadi ungkapan dari pertobatan mereka.&lt;br /&gt;Sementara Injil Matius, mengabaikan frase Baptisan Yohanes (Mat 3:1-6) dalam frase ‘baptis pertobatan untuk pengampunan dosa’ meski Matius menekanan pertobatan dan pengakuan dosa sebagai pusat baptisan Yohanes. Matius menunjuk air Baptis Yohanes sebagai adanya “pertobatan” (Mat 3:11) dengan makna bahwa orang dibaptis karena mereka telah bertobat. Perintahnya sama : Yohanes memanggil orang-orang untuk bertobat (Mat 3:2) dan setelah baptis dilanjutkan dengan pengakuan dosa-dosa (Mat 3:6). Oleh karena itu, tidak ada baptis tanpa pertobatan (lih Mat 3:8 dimana Yohanes menyindir kaum Farisi dan Saduki yang datang minta dibaptis tetapi mereka belum bertobat). Pertanyaannya mengapa Matius mengabaikan frase baptis pertobatan untuk pengampunan dosa? Kemungkinan karena Matius melihat pengampunan dosa itu sebagai berkat dari kematian Yesus (Mat 1:21, 26:28). Selain itu Matius berusaha memfokuskan kembali baptis pada Kedatangan Tuhan, bukan pengampunan datang dari baptis. Sebagaimana dalam Mat 26:28 bahwa pengampunan dosa mengalir dari darah Yesus, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi pengampunan dosa.&lt;br /&gt;Dalam injil sinoptik, pertobatan bukan semata keutamaan moral dan pertobatan tidak berakhir dengan baptis. Baptis sebenarnya mau menegaskan bahwa orang telah siap dan mempersiapkan diri “untuk Tuhan” saat Dia datang. Maka bukanlah baptis dan pertobatan yang membawa pengampunan. Dalam ketiga injil sinoptik, mereka yang menerima “baptis pertobatan” menandakan bahwa mereka telah siap seperti yang Yohanes wartakan. Lukas secara spesifik menyinggung keselamatan Tuhan yang akan datang -termasuk pengampunan– yang akan datang bersama dengan kedatangan Tuhan (Luk 3:6).&lt;br /&gt;Yohanes tidak mengatakan bahwa mereka yang bertobat harus pergi kepada para imam untuk mempersembahkan korban untuk menebus dosa-dosa mereka (Luk 3;10-14). Dari pernyataan itu kemungkinan pengampunan telah datang melalui pertobatan tanpa perlu mempersembahkan korban lagi. Dunn mengiyakan bahwa Yohanes tidak melakukan persembahan korban, sebab Yohanes menawarkan “ritual miliknya sebagai alternatif ritual bait Allah”, dan pertobatan yang diungkapkan melalui baptis menjadi cara efektif untuk mendapat pengampunan atau pembebasan dosa. Alasan lain mengapa orang tidak mempersembahkan korban bagi dosa-dosa mereka adalah pengharapan mereka, Yohanes dan banyak orang, terhadap penebusan dan pengampunan yang datang melalui kedatangan Kerajaan Surga (Mat 3:2), keselamatan Tuhan (Luk 3:6) dan baptis dengan Roh Kudus (Mat 3:11, Mrk 1:8, Luk 3:16). Dengan kata lain persembahan korban dapat mengaburkan orang dari pengenalan akan kebenaran sumber dan tempat harapan eskatologis serta mengalihkan pencarian mereka terhadap kedatangan Yesus yang membawa aphesis (pembebasan, kebebasan, pengampunan).&lt;br /&gt;Bash menghubungkan pertobatan dalam Injil Matius dengan kematian Yudas Iskariot. Pertobatan yang dilakukan oleh Yudas rupanya tidak membawa pengampunan dosa. Yudas mengkhianati Yesus (Mat 26:14-16), dan setelah Yesus ditangkap, Yudas menyadari bahwa dia melakukan kesalahan dan dia sangat menyesali tindakannya. Penyesalan Yudas bisa dikatakan bahwa dia bertobat, karena dia menyadari kesalahan perbuatannya dihadapan Allah, tetapi secara moral Yudas tetap bersalah. Istilah pertobatan dalam Yunani metanoco (KK), atau metanoia (KB). Sementara pertobatan Yudas digunakan istilah metamelomai – Kata yang dipakai Matius untuk menekankan bahwa pertobatan Yudas tidak mendorong pada pengampunan. Bahkan saat Yudas menyadari dirinya berdosa, “aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah” (Mat 27:4) mau menunjukan bahwa dia putus asa terhadap apa yang telah dia perbuat dan dia juga tidak yakin dapat atau akan diampuni. Yudas mengembalikan uang pengkhianatan itu kepada para Imam Kepala dan Penatua tetapi mereka malah bersikap acuh tak acuh; mereka menolak menerima uang itu, dan implikasinya tidak menawarkan absolusi terhadap apa yang telah Yudas perbuat. Dalam Matius 27: 5 dikatakan singkat, setelah itu Yudas bunuh diri, menggantung diri. Tindakan Yudas itu terkadang mengkarakterkan orang yang kehilangan harapan, pertolongan dan pegangan, dan berpikir bahwa tidak ada jalan keluar dari situasi yang tengah mereka hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2 Baptis dan pengampunan&lt;br /&gt;Bagian ini diawali dengan pertanyaan Apakah baptis mengakibatkan pertobatan orang-orang berdosa menjadi diampuni? Anthony Bash melihat ini melewati sejarah, baptis merupakan ritus dalam Kultus Yahudi, dan kini dapat digunakan untuk menginterpretasikan baptisan Yohanes serta menjawab persoalan Apakah Baptis membawa pengampunan dosa? Bash sedikit membanding-bandingkan Baptisan Yohanes dengan praktek yang ada dalam Yahudi&lt;br /&gt;1. Baptisan Yohanes berbeda dengan pencelupan dalam Yahudi&lt;br /&gt;§ Dalam tradisi Yahudi :&lt;br /&gt;1. Pencelupan Yahudi dalam permandian disebut miqueh. Fungsinya untuk pembersihan dari ritual kenajisan dan bagi kaum proselit (abad ke 2).&lt;br /&gt;2. Menurut sistem korban Yahudi, hanya seorang imam yang dapat menebus dosa. Oleh karena itu, penting untuk membedakan antara ritual kenajisan menurut Kultis Yahudi dan dosa (sanders 1985).&lt;br /&gt;§ Baptisan Yohanes&lt;br /&gt;1. Baptisan Yohanes bukan untuk pembersihan dari ritual kenajisan tetapi suatu ungkapan pertobatan dari dosa.&lt;br /&gt;2. Hubungan (baptisan Yohanes dan pencelupan air) adalah “pencelupan tidak bermakna tanpa pembersihan hati sebelumnya (dari dalam dirinya/inner self) melalui pertobatan dan praktek kebenaran (Taylor). Hubungan ini mungkin sedikit menjelaskan juga inti dasar Baptisan Yohanes, yang pasti bukan ritual kenajisan.&lt;br /&gt;2. Baptisan Yohanes berbeda dengan penyucian air jemaat yang dipraktekkan di Qumran dan tradisi Yahudi lainnya dimana praktek Penyucian air di Qumran dilaksanakan untuk pembersihan dari ritual kenajisan, bukan dosa.&lt;br /&gt;§ Hubungan Baptisan Yohanes dan Praktek penyucian air adalah meresmikan (menginisiasikan) mereka masuk dalam komunitas, serta menunjukan pembalikan dari ketidakbenaran menuju kebenaran, tetapi tidak ada ritus inisiasi ke dalam komunitas yang baru. Pencelupan juga tidak bermakna tanpa membersihkan diri lebih dulu dengan pertobatan dan praktek kebenaran (Taylor).&lt;br /&gt;Baptisan Yohanes menurut Josephus (Ant 18.116-19) membawa pengampunan. Baptisan itu dihubungkan dengan ritual pembersihan yang berfungsi untuk “pembersihan badan”. Pembersihan badan itu terjadi karena “jiwa telah dibersihkan oleh kebenaran” (Ant 18.117). Dia juga menghubungkan Baptisan Yohanes dengan “memaafkan” dosa-dosa (epi tinon hamartadon paraitesei) bagi mereka yang telah dibaptis (Ant 18.117). Pandangan Josephus, “baptis dan berbalik pada kebenaran dapat membatalkan dosa”, terangkum secara sintaksis dan teologis juga dalam kata eis yang terdapat dalam frase “untuk (eis) pengampunan dosa-dosa (bdk Luk 24:47)”. Eis dapat diinterpretasikan dengan maksud tertentu, yairu orang bertobat dengan tujuan pengampunan dosa, dan benar dosa-dosa tersebut akan diampuni, atau dalam hubungan sebab-akibatnya, yaitu orang bertobat karena dosa-dosa mereka akan diampuni. Sementara Turner, eis dalam konteks pengampunan, dengan meringkasnya dalam ide “dengan maksud untuk”, dan membedakan dengan Kis 2:38, dimana pengampunan pada hari Pentakosta adalah dasar dari pengampunan dosa-dosa (sebab akibat).&lt;br /&gt;Menurut Bash interpretasi eis dapat menterjemahkan baptisan Yohanes dalam seting eskatologis dari pengajarannya. “Dengan memaafkan” dosa –pengampunan- sebagaimana diwartakan oleh Yohanes, dan berhubungan dengan masa depan, setelah kematian Yohanes. Untuk itu Bash melihat bahwa makna eis bukan pengampunan sebagai hasil pertobatan dan baptis, tetapi sebagai hasil kedatangan dan pelayanan Yesus sendiri. Bahkan jika arti Eis dimaknai sebagai sebab akibat (dengan indikasi bahwa baptisan Yohanes adalah “karena pengampunan dosa-dosa”), frase ini tetap konsisten dengan gambaran Lukas-Kisah Para Rasul. Baptis mengandaikan pertobatan dari dosa dan orang siap untuk menerima rahmat pengampunan. Lantas muncul pertanyaan terkait dengan kata eis, Apakah eis menunjuk sesuatu yang akan datang, ataukah sesuatu yang telah manusia terima atau alami?.&lt;br /&gt;Uraian diatas, seting telogis dan sosial, mendukung kesimpulan berikut ini:&lt;br /&gt;1. Dalam lingkungan masyarakat Yahudi (dimana Yohanes tinggal) dipahami bahwa kebenaran datang melalui korban di bait Allah, dan bukan melalui pembalikan pada kebenaran.&lt;br /&gt;2. Tidak mungkin umat Kristiani awal akan menghubungkan pengampunan dengan pemaknaan lain selain iman dalam Yesus Kristus.&lt;br /&gt;3. Baptisan Yohanes tidak membawa pengampunan dosa (Penjelasan Lukas). Lukas dan Kisah Para Rasul melihat inti pesan Baptisan Yohanes adalah keselamatan yang sudah ada. Yohanes hanya berperan mempersiapkan banyak orang mengenai keselamatan yang akan datang melalui pengampunan dosa (Luk 1:77). Keselamatan dapat dialami dengan adanya pertobatan (alasan Baptisan Yohanes) dan baptis dalam Roh Kudus (Luk 3:16, Mrk 1:8 dan Mat 3:11). Oleh karena itu Baptisan Yohanes sebenarnya tidak dengan sendirinya membawa pengampunan dosa (Kis 13:24 dan 19:4) karena Baptis pertobatan dapat membawa pengampunan dosa jika mengalir dari Yesus Kristus sendiri (Kis 2:38). Kehadiran Yohanes Pembaptis adalah perintis bagi yang lain. Peran Yohanes bukan untuk mengampuni tetapi untuk pertobatan dan mempersiapkan banyak orang bagi kedatangan Yesus. Hal ini dilihat Lukas dalam air Baptis Yohanes yang tidak menandakan pembersihan dari dosa atau ritual kenajisan tetapi pertobatan. Yesus yang akan datanglah yang menghadirkan “jalan kedamaian”, yaitu rekonsiliasi antara manusia dan Tuhan, dan kedamaian ditengah konflik (Luk 1:79).&lt;br /&gt;Dari uraian tersebut Bash menyatakan bahwa Baptis dalam baptisan Yohanes adalah suatu tanda yang keluar dari pertobatan dari dalam. Baptis mengungkapkan kesiapan orang untuk menerima Yesus. Yesus diyakini sebagai penyelamat Israel yang lama dinanti, yang membawa pengampunan dosa. Maka baptis menurut Injil Sinoptik tidak secara otomatis menghasilkan pengampunan dosa. Mengapa demikian? Pengampunan adalah rahmat Tuhan bagi mereka yang menerima keselamatan dari Yesus. Sementara berdasar pandangan sintaksis dan teologis, pengampunan tidak perlu diberikan dalam membalas baptis dan pertobatan. Bersama Tuhan, yang hadir sebagai manusia, pengampunan adalah rahmat dan tindakan mengampuni bukanlah tugas.&lt;br /&gt;Namun masih ada persoalan, Mengapa Yohanes pembaptis? Mengapa Yohanes memilih ritus baptis yang justru memunculkan banyak interpretasi jika baptis tidak membersihkan dan membawa pengampunan dosa?&lt;br /&gt;Para penulis Injil Sinoptik menjawab persoalan tersebut dengan interpretasi bahwa pelayanan Yohanes adalah untuk mempersiapkan Pribadi yang akan datang, yang akan membaptis bukan dengan air tetapi dengan Roh Kudus dan Api (Luk 3:16, Mat 3:11, Mark 1:8). Baptisan dengan Roh Kudus- disimbolkan air baptis- menunjukan tindakan Tuhan yang mengampuni dosa-dosa manusia. Air baptis menyelubungi pribadi dan membersihkannya dari kekotoran, demikian juga dengan Lukas menyatakan baptis Roh Kudus juga menyelubungi orang (Kis 2:1-4) dan membersihkan dosa karena baptis seperti Api (permurnian) dan angin (yang meniup kotoran) (Yoh 20:22). Berdasarkan interpretasi ini, baik air baptis Yohanes maupun baptis dengan Roh Kudus membawa pengampunan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Yesus, Pertobatan dan Pengampunan&lt;br /&gt;Injil Sinoptik menyatakan pengampunan adalah rahmat Tuhan, berkat yang diberikan bagi mereka yang mencari rahmat Tuhan. Dalam Lukas 18:9-14, orang-orang Farisi yang terlalu menonjolkan doa, tidak diampuni oleh Tuhan, dibandingkan dengan gambaran penarik pajak yang justru diampuni oleh Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 Yesus dan Pertobatan&lt;br /&gt;Yesus, seperti Yohanes, mewartakan pertobatan. Dalam pengajaran Yesus, pertobatan dan iman hadir bersama-sama (Mrk 1:15). Pertobatan dan iman menjadi alasan adanya perubahan hidup seseorang, sementara pengampunan menjadi buahnya (Luk 24:47). Kekhususan dalam Kristen dilihat oleh Jones bahwa pertobatan menjadi komponen yang harus ada dari pengampunan (Jones 1995:121). Dan Tuhan seakan membutuhkan suatu perubahan yang harus terjadi dalam diri manusia agar mereka bisa memperoleh pengampunan dan rekonsilliasi (1995:127).&lt;br /&gt;Pertobatan merupakan pesan sentral Yesus dan para muridNya (Mrk 1:15; 6:12, Mat 4:17). Meski begitu, pertobatan yang ditawarkan Yesus dan para murid tidak selalu senada dengan hukum yang berlaku. Pertobatan yang dipahami sebagai suatu tanggapan atas panggilan rahmat Allah, untuk itu korban bait Allah dan keterikatan (taat) pada hukum tidak selalu dibutuhkan untuk menunjukan pertobatan itu. Ada pro-kontra mengenai penting tidaknya tuntutan hukum itu. Beberapa pihak menyetujui pentingnya tuntutan hukum tanpa mempertimbangkan adanya gerakan dari Yesus : Misalnya Zakeus, petugas pajak (Luk 19:1-10). Yesus mengijinkan orang-orang menunjukan pertobatan mereka sesuai dengan gambaran Kerajaan Allah yang pantas (Jones 1995:110). Misalnya, wanita berdosa (Luk 7:36-59), terkait dengan kecaman bagi para murid yang tidak bertobat dan tetap “pendosa’, Yesus mengungkapkan perumpamaan tentang “sukacita di surga (Luk 15:7) dan “sukacita pada malaikat-malaikat Tuhan” (Luk 15:10) karena satu orang yang berdosa bertobat. Perumpamaan lain tentang Anak Sulung yang hidup berfoya-foya, yang menggambarkan sukacaita ayahnya karena pertobatan anak sulungnya (Luk 15:11-32). Sementara Sanders melihat adanya dua pandangan mengenai pertobatan, yakni :&lt;br /&gt;1. Sangat sedikit alasan yang menghubungkan Yesus dengan motif kolektif, pertobatan nasional berdasarkan pandangan eskaton, meskipun Sanders menegaskan bahwa Yesus tidak menolak ide pertobatan, seperti bahan (material) yang telah ditambahkan oleh para penginjil (evangelis). Yesus tidak mewartakan pertobatan “karena Dia memahami bahwa Yohanes melaksanakan tugasnya secara menyeluruh” dengan mempersiapkan orang untuk kerajaan.&lt;br /&gt;2. Untuk pertobatan pribadi (1985), dia berpendapat secara “spekulatif” bahwa “penyerangan” Yesus disebabkan (Mark 2:7 paralel dengan Luk 5:21) karena Yesus berpihak pada pendosa, memasukan mereka dalam Kerajaan. Hal itu dilakukan Yesus karena Dia tidak membutuhkan pertobatan. Dampak yang diterima Yesus kemudian adalah “Dia dianggap menjadi teman para pendosa”. Dengan kata lain, Yesus menyambut dan memasukkan mereka yang membutuhkan-Nya (karena Dia yakin tentang kedekatan masa eskaton) dan tidak membutuhkan pertobatan sebagaimana digambarkan dalam hukum. Yesus menawarkan pertobatan dengan cara yang lebih informal. Selain itu Yohanes Pembaptis, juga yakin tentang kedekatan masa eskaton, mewartakan pertobatan dan kebenaran (tetapi bukan korban di Bait Allah).&lt;br /&gt;Pendapat Sanders dapat disimpulkan, “Yesus menawarkan persahabatan bagi orang-orang jahat israel sebagai suatu tanda bahwa Tuhan akan menyelamatkan mereka, dan keselamatan itu tidak dipengaruhi (tergantung) pada perubahan hukum”. Yesus tidak membutuhkan (memaksa) pendosa untuk mengubah hukum dan bertobat.&lt;br /&gt;Pandangan Sanders bahwa Yesus tidak memanggil untuk pertobatan nasional ditantang 2 alasan yaitu :&lt;br /&gt;1. Pemisahan antara pertobatan nasional dan personal tidak dibenarkan (tidak dimungkinkan),&lt;br /&gt;2. Yesus memanggil untuk pertobatan nasional (Wright 1996).&lt;br /&gt;Disamping itu untuk menghilangkan pertobatan sebagai motif sentral dalam pengajaran Yesus adalah dengan mengeluarkan Yesus dari lingkungan masyarakat Yahudi dan mengabaikan perubahan moral yang dilaksanakan banyak orang yang menanggapi Yesus. Demikian perubahan adalah ungkapan-ungkapan pertobatan, yang sering diekpresikan sesuai hukum, dan hasilnya perjumpaan dengan Yesus.&lt;br /&gt;§ Bersama Yesus, pengampunan bukan merupakan kesatuan atas adanya bentuk-bentuk khusus dari pertobatan atau kepenuhan dari kriteria yang ditetapkan.&lt;br /&gt;§ Bersama Yesus, pengampunan adalah rahmat, menampilkan cinta dan memberikan sesuatu dengan cara-cara yang tidak diharapkan. Sebagaimana terjadi dalam kisah ‘mewarisi hidup abadi” (Mrk 10:17-22, Mat 19:16-22, Luk 18:18-23). Pengampunan bukan upahan, dan tak seorangpun pantas mendapatkannya. Pengampunan adalah rahmat dari pengampun, diberikan dalam menanggapi yang ideal bahwa pengampunan adalah keutamaan secara moral.&lt;br /&gt;Ada dua cara yang dapat dilihat untuk menginterpretasikan pendekatan Yesus untuk pertobatan menurut hukum, yaitu :&lt;br /&gt;1. Yesus menyeimbangkan syarat hukum untuk bertobat dengan syarat hukum yang lain, seperti dengan menampilkan cinta dan rahmat. Efeknya, Yesus secara implisit mempersoalkan syarat-syarat yang diberikan oleh hirarki dan – secara khusus - mempersoalkan hasil dari hirarki yang terlalu menekankan intensi dan tujuan hukum (Mat 23:23). Contoh lain saat Yesus mengutuk suku-suku dan orang-orang Farisi yang mengaburkan syarat untuk menunjukan keadilan, rahmat dan kepenuhan iman ditampilkan dengan memungut zakat. Yesus mengampuni tanpa “dalam beberapa kasus” menuntut suatu ungkapan pertobatan tertentu.&lt;br /&gt;2. Pendekatan lain bahwa Yesus mengenal tuntutan hukum dan terkadang mempertanyakan apakah maksud hukum itu. Keterikatan pada syarat hukum tertentu, bagi beberapa lingkungan, dapat memberikan efek yang tidak menguntungkan, yang menyangkal kebaikan moral sebagaimana hukum harapkan, misalnya Matius 12:11. Selain itu, Yesus juga mengampuni mereka yang berada diluar hukum masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2 Yesus, Pengampunan dan Kerajaan Allah&lt;br /&gt;Bagi Lukas, pengampunan adalah pusat pesan Kerajaan Allah. Kata yang umumnya digunakan untuk pengampunan dalam Yunani (Aphesis) terjadi melalui pelayanan dan pesan Yohanes Pembaptis dan Yesus yang disebut “Manifesto Nazareth”. Aphesis, pengampunan : menunjukan pelepasan dan kebebasan dari apa yang mendesak orang –baik dari dosa maupun efeknya, dari tekanan atau tawanan fisik, atau dari konsekuensi karena tidak memiliki “keselamatan Tuhan” (Luk 3:6) dan “Tuhan Penyelamat” (Luk 4:19).&lt;br /&gt;Pengampunan dalam kata Yunani dapat dimaknai dua hal : Pertama, dalam Luk 3:3-6 ketika Yohanes memanggil orang untuk bertobat dan baptis dengan maksud untuk pengampunan yang datang bersama dengan kedatangan Tuhan dan keselamatanNya. Kedua, pada awal pelayanan Yesus, di Galilea, Yesus mengutip Yesaya 61:1, dan menyiapkan pelayanan masa depannya (Luk 4:16-21). Kabar gembira Injil adalah “pembebasan” (Aphesis) yang telah dijanjikan Allah bagi mereka yang mau mempersiapkan kedatanganNya. Kerajaan adalah perintah yang baru bahwa Tuhan akan mengenalkan diriNya, yang akan menyatu dengan dunia saat ini.&lt;br /&gt;Pengampunan adalah rahmat Tuhan pada masa eskaton ketika Kerajaan Allah sempurna. Lukas menegaskan bahwa pengampunan Tuhan adalah untuk tahun-tahun yang akan datang: yang adalah bagian dari Aphesis Kerajaan Allah. Di tempat lain, Lukas berbicara bahwa pengampunan (sama dengan penyembuhan dan penyelamatan yang datang bersama kerajaan) dapat dialami saat ini dan sampai Kerajaan menjadi berkembang, pengampunan dipraktekkan dan bentuk pengampunan masa depan ditampilkan sekarang ini diantara para murid Yesus. Dengan kata lain, pengampunan adalah tindakan manusia yang ideal, dan model pengampunan Eskatologis Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3 Apakah Yesus mengampuni Dosa?&lt;br /&gt;Bash memperlihatkan dua perikop di dalam Perjanjian Baru yang mencoba memperlihatkan kisah pengampunan Yesus, yakni luk 5:20,23,dan luk 7:48. Namun menariknya, di dalam kedua ayat tersebut Yesus sama sekali tidak menyebutkan kata-kata absolusi. Ayat yang menunjukkan pengampunan ditampilkan dalam bentuk kalimat pasif. Secara literer kalimat ini tidak menjelaskan pihak manakah yang memberikan pengampunan. Model kalimat seperti ini juga digunakan di dalam Markus 2:5,9. Merujuk pada pandangan Jeremias, pengampunan yang ditampilkan di sini merupakan tindakan ilahi. Pendapat serupa juga diperlihatkan Sanders yang mencoba membandingkannya dengan injil Markus, di situ ditunjukkan bahwa Yesus tidak merujuk dirinya serupa dengan yang ilahi, sebagai seseorang yang mengampuni dosa. Dalam hal ini Yeremias dan Sanders benar. Yesus tidak secara arogan mengatakan dirinya memiliki kuasa ilahi untuk mengampuni, melainkan ia mengkorfimasi dan mengafirmasi suatu fakta eskatologis bahwa Allah yang berbelaskasih telah mengampuni orang yang lumpuh dan wanita yang berdosa. Yesus cukup berhati-hati sehingga tidak mudah disamakan dengan apa yang dilakukan oleh tukang sihir/dukun.&lt;br /&gt;Dalam kisah penyembuhan terhadap orang lumpuh (Luk 5:17-26), teman-teman si lumpuh menurunkan si lumpuh dari atap agar Yesus sanggup menyembuhkan. Namun terhadap si lumpuh Yesus mengatakan bahwa dosanya telah diampuni. Tindakan yang dilakukan Yesus diinterpretasikan oleh orang banyak sebagai tindakan seorang dukun/ tukang sihir. Tetapi lalu Yesus pun menanggapi mereka dengan menyatakan bahwa anak manusia memiliki kuasa di bumi untuk mengampuni dosa (ay.24).&lt;br /&gt;Pertanyaan yang dapat diajukan di sini adalah, mengapa banyak orang melawan ketika Yesus mengatakan dosamu diampuni. Pertama, dalam pemikiran Yahudi terdapat kaitan antara penyakit fisik dan dosa. Saat Yesus menyembuhkan (Luk 5:24), maka Yesus mempraktekkan bahwa dosa orang yang bersangkutan telah diampuni. Kedua, berdasarkan pemikiran Dunn, perlawanan itu muncul karena Yesus mengucapkan kata-kata pengampunan (dan menyembuhkan orang itu). Kata-kata-kata ini merupakan bagian dari ritus yang biasa diucapkan oleh para tukang sihir (bagian dari sebuah pemujaan).&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga, terhadap perlawanan tersebut Lukas sama sekali tidak memberikan suatu tanggapan. Tanggapan lain justru diperlihatkan dalam Lukas dalam Luk 5:21. Orang banyaklah yang memahami bahwa Yesus sendirilah yang melakukan pengampunan tersebut, terlebih setelah diperkuat dengan afirmasi dalam Luk 5:24 “Anak manusia memiliki kuasa di bumi untuk mengampuni dosa.” Dengan pernyataan tersebut, ada dua hal yang kemudian ditandaskan di kisah ini, pertama Yesus menunjuk kepada Allah yang mengampuni, kedua, dia merujuk kepada dirinya sebagai seseorang yang mampu, memiliki kuasa juga untuk mengampuni.&lt;br /&gt;Kedua hal tersebut tidak diragukan akhirnya menimbulkan suatu konflik. Resolusi yang paling disukai adalah bahwa pemahaman pertama ingin menjelaskan bahwa Yesus mengafirmasi tindakan Allah yang mengampuni si lumpuh dan penyembuhan terhadap si lumpuh untuk menampilkan pengampunan tersebut. Sedangkan pemahaman kedua berasal dari periode kemudian bahwa pengembangan cerita tersebut diarahkan kepada tema kristologi pada Gereja awal, sebagai pembenaran Gereja awal mempunyai kuasa untuk mengampuni dalam nama Yesus.&lt;br /&gt;Perkembangan yang sama juga dapat dilihat dalam Luk 7:36-50. Dalam kisah ini, Lukas menceritakan seorang kisah seorang perempuan berzinah yang mengurapi Yesus dengan minyak. Gagasan terpenting dalam kisah tersebut adalah tindakan sang wanita sebagai reaksi atas pengampunan yang telah ia terima atas segala dosanya. Yesus menyatakan bahwa dosanya sudah diampuni (ay.48); tetapi perkataan Yesus tidak dapat dikatakan sebagai sebuah absolusi. Pada ayat 49, orang banyak di sekitarnya bereaksi terhadap perkataan Yesus. Karena mengangap Yesus tidak layak mengucapkan hal itu. Jeremias justru berpendapat bahwa perkataan Yesus sendiri merujuk kepada tindakan ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4 Jesus, the forgiving victim- Korban yang Mengampuni&lt;br /&gt;Yesus mencoba memberikan contoh apa artinya mengampuni. Dalam 1Pet 2:24, dikatakan bahwa Yesus sendirilah yang telah memikul dosa-dosa kita. Gagasan yang hendak disampaikan di sini adalah bahwa dengan menanggung dosa manusia, Yesus menyembuhkan kondisi manusia dan Ia meninggalkan teladan kepada manusia supaya mengikuti jejakNya (1Pet 2:21).&lt;br /&gt;Yesus menjadi gambaran pribadi yang terluka dan tidak berdaya. Di dalam injl Matius (26:53) dikisahkan bagaimana Yesus menolak untuk memanggil malaikat penyelamatNya ketika ia sedang ditangkap. Di salib, ia justru berdoa kepada Bapa agar mengampuni dosa para algojo. Pengampunan pribadiNya diberikan secara implisit kepada orang-orang yang tidak menyesali kesalahannya sebagai suatu hadiah, walaupun mereka sendiri tidak meminta, mengharapkan dan bahkan berseru. Injil Lukas sedemikian rupa menampilkan kemanusiaan Yesus. Lukas menekankan pula bahwa Yesus adalah model pengampunan, dalam konteks kekejaman dan penderitaan yang tidak adil. Yesus sama sekali menunjukkan sikap balas dendamnya.&lt;br /&gt;Pendekatan yang dilakukan oleh Yesus sangat kontras dengan orang-orang yang masih sulit mengampuni dan mengharapkan pembalasan. Bash menambahkan bahwa perbedaan antara menjadi pengampun dan tidak menjadi pengampun adalah terletak pada bagaimana seseorang menggunakan kekuatan (kuasa-power) yang mereka miliki. Mereka yang tidak dapat mengampuni nampaknya ingin memperlihatkan kekuatannya, kekuatan untuk melawan, dengan tujuan agar dapat membalas, dan membuat orang yang bersangkutan (yang bersalah) merasakan seperti apa yang ia rasakan-tidak berdaya. Antara pelaku dan korban justru akan berlangsung sikap saling membalas yang tak akan kunjung berakhir dan terselesaikan. Lebih lanjut, keduanya justru kemudian menjadi korban. Yesus sebaliknya memilih menjadi pribadi yang tidak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5 Pengampunan Ilahi Dan Manusiawi&lt;br /&gt;Pada perumpamaan tentang hamba yang yang tidak mampu mengampuni (Mat 18:23-35), Matius memperlihatkan kepada kita bagaimana rahmat Allah terlibat (menyelimuti) di dalam relasi antar manusia, dan secara khusus mengajak bagaimana manusia mengampuni satu sama lain. Perumpamaan yang hanya ada di dalam injil Matius ini, berpusat pada tema pengampunan.&lt;br /&gt;Dalam perumpamaan tersebut dikisahkan ada seseorang yang berhutang sepuluh ribu talenta kepada raja. Element penting dalam kisah ini adalah fakta adanya relasi di dalam Perjanjian Baru antara melepaskan hutang dengan pengampunan. Setelah meninggalkan sang Raja, hamba tersebut bertemu dengan hamba lain yang berhutang kepadanya. Hamba itu menolak untuk menghapus hutang hamba lain yang berhutang kepadanya sejumlah seratus dinar. Karena mendengar sikap hamba yang tidak bermurah hati itu, sang raja menjadi marah dan menyerahkannya hamba itu kepada para algojo untuk dimasukkan ke dalam penjara sampai ia melunasi hutang-hutangnya.&lt;br /&gt;Perumpamaan tersebut memperlihatkan bahwa sesungguhnya pengampunan merupakan sebuah anugerah, sebagai suatu bentuk ungkapan kerendahatian yang luar biasa. Bash berpandangan bahwa karena di dalam Perjanjian Baru pengampunan sebagai sebuah anugerah, maka pengampunan itu bersifat regenarative, transformatif, dan paradigmatic. Pengampunan harus dapat membawa seseorang pada suatu perubahan, dan perubahan tersebut hendaknya berdampak di dalam relasi dengan orang lain. Secara khusus, seseorang yang telah menerima rahmat pengampunan dari Allah harus berusaha berusaha keras pula untuk dapat mengampuni orang lain. Kegagalan orang yang berhutang sepuluh ribu talenta bukan karena ia gagal mengampuni melainkan karena ia gagal untuk berkeinginan dan mencoba mengampuni. Point terakhir ini sangat kuat ditekankan dalam ayat 33 dan 35. Seseorang yang telah menerima belas kasih dari Allah hendaknya memperlihatkan belaskasih itu kepada orang lain. implikasi jika mereka tidak melakukan hal itu adalah mereka akan kehilangan pengampunan dan belas kasih dari Allah. Memang benar, bahwa manusia sama sekali tidak terikat suatu kewajiban untuk dapat mengapuni sebagaimana Allah melakukannya. Tetapi yang terbaik yang dapat dilakukan adalah manusia dapat mengimitasi tindakan Allah, menjadikannya sebagai model ideal pengampunan, walaupun manusia tidak akan pernah mencapai seluruhnya. Kegagalan dalam mengampuni sebagaimana dilakukan oleh Allah, selalu akan dialami oleh manusia. Bash sendiri mengakui bahwa pernyataan ini terlihat sedikit hiperbolik. Tak seorang pun dapat menjadi murah hati dan pengampun seutuhnya sebagaimana halnya Allah yang murah hati dan Maha pengampun. Manusia, lanjut Bash, telah diberikan suatu keutamaan moral yang baik untuk diikuti, namun karena kondisi kemanusiaannya, mereka tidak pernah bisa seutuhnya memenuhi tuntutan tersebut.&lt;br /&gt;Tema serupa juga ditemukan di dalam doa Bapa kami. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah makna kata as dalam Mat 6:12 atau Luk 11:4? Apakah itu berarti hanya dan bila saya mengampuni orang lain, maka Allah akan mengampuni saya? Jika hal itu yang menjadi sudut pandangnya, maka anugerah ilahi tersebut tergantung pada pengampunan manusia. Namun tentu saja hal ini tidak mungkin mungkin diterima dan sedikit bertentangan dengan hakekat Allah. Cinta Allah diberikan secara Cuma-Cuma kepada manusia. Interpretasi lain adalah bahwa Allah akan mengampuni seseorang dengan cara yang sama orang itu mengampuni sesamanya. Pendapat ini pun juga disangkal oleh Bash karena pengampunan merupakan sesuatu yang diberikan oleh Allah. Interpretasi terbaik menurut Bash adalah menerjemahkan hoc dengan since, yang bermakna karena/sejak manusia mengampuni orang lain (dan itu berarti adanya perubahan karena pengampunan dari Allah), Allah pun melanjutkan pengampunan kepada orang yang mengampuni.&lt;br /&gt;Mrk 11:25 senantiasa melihat adanya gambaran transformatif dari pengampunan Allah. Sesuai dengan apa yang disampaikan Yesus, “Bilamana kamu berdoa, ampunilah dahlu seseorang yang belum kau ampuni, sehingga Bapamu di surga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” Versi Matius (6:14) terlihat lebih eksplisit “jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jika kamu tidak mengampuni orang, Bapamu di srga juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Demikian halnya dalam injil Lukas (6:37) dikatakan, “ampunilah maka kamu akan diampuni”, meskipun di sini tidak jelas pengampunan manusia atau ilahi yang menjadi tujuan dari sikap mengampuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6 Pengampunan Interpersonal&lt;br /&gt;Bagaimana dan kapan manusia harus mengampuni? Apakah idealnya pengampunan diberikan oleh pihak korban ketika mereka yang bersalah menyesal? Ataukah yang ideal adalah pengampunan senantiasa dilakukan tanpa memperhatikan perilaku mereka yang bersalah? Pastinya yang ideal adalah bahwa sang korban harus mampu mengampuni mereka yang bersalah dan menyesal, termasuk jika kesalahan tersebut dilakukan berulang kali. Di dalam Kitab Suci disebutkan bahwa seseorang harus mengampuni 7 kali sehari (luk 17:31). Apa yang Yesus maksudkan adalah bahwa tidak seberapa penting pelaku melakukan kesalahannya, korban harus berusaha mengampuni meski si pelaku tidak menyesal. Sang korban harus tetap berusaha untuk mengampuni pelaku yang tidak memperlihatkan penyesalannya. Menurut Bash, jawaban Yesus itu nampaknya memperlihatkan seseuatu yang tidak hanya berlebihan tetapi juga sebagai kemurahatian yang tidak mungkin,-terlebih apabila angka tujuh dipandang sebagai suatu kesempurnaan.&lt;br /&gt;Kisah tentang wanita yang mengurapi Yesus (Luk 7:36-50) menggambarkan hal itu. Seorang wanita diceritakan secara berlebihan mengurapi Yesus. Seorang farisi mengamati tindakan sang wanita dan mengkritik Yesus yang mengijinkan wanita semacam itu menyentuhnya. Yesus menanggap kritik itu dengan menceritakan perumpamaan tentang dua orang yang memiliki hutang lima ratus dinar dan lima puluh. Karena keduanya tidak sanggup membayar, hutang keduanya dihapus. Menjawab pertanyaan Yesus, Simon menyetujui bahwa dia yang hutangnya lebih banyak akan lebih mengasihi dia. Yesus lalu menggunakan prinsip perumpamaan dua orang yang berhutang untuk menjelaskan sikap perempuan yang berzinah itu.&lt;br /&gt;Yesus memakai gagasan itu untuk menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara orang-orang yang telah diampuni dengan perubahan yang telah diterima sebagai hasil. Orang yang menerima sedikit pengampunan (pengalaman pengampunan) akan sedikit pula berbuat kasih. Namun sebaliknya Bash menekankan bahwa bukan berarti orang yang telah menerima banyak pengampunan karena banyaknya kesalahan yang ia lakukan akan serta merta banyak berbuat kasih atau lebih banyak mengampuni . Yang ingin dikatakan Yesus tentang wanita itu adalah karena cinta wanita itu maka ia pun memperoleh pengampunan, bukan justru karena dia telah dicintai maka ia mau memafkan.&lt;br /&gt;4 PAULUS&lt;br /&gt;Tema pengampunan hanya muncul sedikit dalam surat-surat paulus. Paulus justru lebih banyak menulis tentang yustifikasi. Yustifikasi merupakan suatu konsep Yuridis,-tidak menyatakan tentang pengampunan- berkenaan dengan tindakan pembebasan manusia melaui wafat dan kebangkian Kristus, sehingga manusia dapat berelasi kembali dengan Allah dan berpartisipasi penuh dalam komunitas umat Allah. Kata yang digunakan Paulus untuk menerjemahkan “forgiveness” adalah charizomai (2Kor 2:7; 10; 12:13). Paulus memahami pengampunan sebagai sebuah anugerah, diberikan secara bebas, dengan penuh kerendahatian, sebagai suatu konsekuensi partisipasi penuh dalam komunitas umat Allah melalui Yustifikasi.&lt;br /&gt;Tulisan Paulus tentang tema pengampunan merupakan sebuah aksioma akan hidup Kristus. Melalui tema pengampunan, secara implisit, Paulus ingin menerangkan apa artinya menjadi seorang Kristiani. Dalam Kristus, Allah telah menghapus dosa manusia, dan hidup seorang kristen hendaknya menyerupai hidup Kristus, sebagaimana Kristus telah mengampuni dosa manusia (bdk.Fil 2:5-11). Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah bagaimana orang Kristen melakukan hal ini? Menurut Bash, Paulus tidak menjawab ini secara eksplisit. Sebagian besar jawaban yang diberikan Paulus menyatakan bahwa kekuatan/kemampuan untuk mengampuni datang dari Allah. Paradigma yang dugunakan Paulus di sini adalah peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus. Dalam peristiwa Wafat dan kebangkitanNya, Yesus tidak membangkitkan dirinya sendiri. Ia dibangkitkan oleh kuasa Allah. Dalam cara yang sama, seorang Kristen barangkali perlu berhenti untuk hanya bersandar kepada kekuatan dan kapasitasnya sebagai manusia untuk kemudian berharap serta memohon kepada Tuhan agar dimampukan supaya dapat hidup sesuai kehendakNya sehingga mereka pun dapat mengampuni ( bdk. 2Kor 1:5, 8-10). Anugerah pengampunan dapat diterima oleh setiap orang. Dengan menerima anugerah tersebut seseorang dirubah sehingga menjadi ‘pengampun’ dengan cara yang sama Allah mengampuni. Sebagaimana Paulus memandang bahwa adalah mustahil orang hidup dalam Jalan (kehendak) Allah tanpa mengandalkan kekuatan Allah maka mustahil pula dapat mengampuni seperti Allah tanpa mengandalkan kekutanNya. Suatu kehidupan dalam kehendak/ jalan Allah memperlihat bahwa seorang telah mengalami pengalaman kebangkitan. Dengan pengalaman kebangkitan tersebut, orang kristen menerima kekuatan untuk bisa mengampuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Kesimpulan&lt;br /&gt;Bash memandang bahwa tidak diragukan jika Perjanjian Baru menunjukkan suatu kebingungan berkaitan dengan tema pengampunan. Mengampuni merupakan bagian dari tindakan keutamaan moral. Mengampuni merupakan sebuah tindakan ideal dan tindakan perwujudan dari mengikuti Yesus. Para penulis Perjanjian Baru, menyatakan bahwa pengampunan sebagai sebuah jalan hidup. Meski demikian, mengampuni tidak dapat dikatakan sebagai sebuah kewajiban moral, karena mengampuni terkadang menjadi sesuatu yang tidak mungkin, atau bahkan sangat sulit untuk dilakukan. Tindakan mengampuni merupakan ciri khas etika/ keutamaan Kerajaan Allah. Mereka yang menjalankan hal itu akan menampilkan kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini saat ini.&lt;br /&gt;Berkenaan dengan absolusi dan pengampunan, meskipun Lucan menyatakan bahwa Yesus membebaskan manusia dari dosa, Jones (1996) justru menyatakan bahwa Yesus sungguh mewujudkan pengampunan dan diriNya adalah pengampun. Absolusi sesungguhnya akan terjadi saat Kerajaan Allah sungguh datang dan dinyatakan. Ditambahkan pula, bahwa di dalam Perjanjian Baru, baptis dan pertobatan memberikan pengampunan pada seseorang; baptisan kemudian dipahami sebagai sebuah tanggapan dan anugerah dari Allah.&lt;br /&gt;Kemampuan/ kapasitas pengampunan interpersonal berhubungan dengan pengalaman pengampunan yang diterima dari Allah karena pengampunan itu sendiri, menurut Bash, bersifat regenerasi, memampukan seseorang untuk menjadi manusia pengampun. Mereka yang mengalami pengampunan dari Allah dan menjadi manusia pengampun, akan melanjutkan/ meneruskan pengalaman pengampunan tersebut. Dalam perumpamaanNya, Yesus memperingatkan mereka yang telah mengalami pengampunan dari Allah namun tidak dapat mengampuni orang lain akan menerima pengampunan dari Allah tidak lebih dari yang mereka berikan kepada orang lain. pernyataan ini memiliki implikasi tertentu. Menurut Bash, seseorang dapat saja menduga bahwa seseorang yang telah mendapat pengalaman pengampunan akan selalu mudah mengampuni orang lain; atau dengan kata lain sebuah pengampunan akan menghasilkan pengampunan baru. Ketika pengampunan bukan sebuah moralitas ideal dari perilaku manusia, maka balas dendam, pembalasan, kemarahan akan menjadi sebuah prinsip alternatif bersamaan dengan kehacuran pribadi dan konsekuensi sosial yang dibawanya.&lt;br /&gt;Pemahaman bahwa orang yang tidak bisa mengampuni tidak akan bisa diampuni, dipandang Bash sebagai sesuatu yang kontradiktif. Jika pengampunan merupakan sesuatu anugerah dari Allah yang luar biasa -dan sesungguhnya tidak pantas diterima manusia- bagaimana mungkin dapat diletakkan dalam tingkatan/ takaran pengampunan di antara sesama manusia? Salah satu pemecahan yang diberikan oleh Bash antara lain sebagai berikut; jika seseorang berjuang sedemikian rupa untuk mengampuni orang lain, sebagai sebuah tanggapan utuh atas pengampunan yang diberikan oleh Allah, maka Allah akan memberikan rahmat pengampunan kepada mereka, jauh lebih besar dari yang pernah Allah berikan. Jika mereka yang menerima rahmat Allah tersebut namun menolak kekuatan transformasi yang diberikan, maka pengalaman pengampunan ilahi yang diberikan Allah kepada orang yang bersangkutan pun juga menjadi terbatas. Bash lebih melihat bahwa mengampuni merupakan suatu usaha dan kerja keras dalam melaksanakan dan menerapkan prinsip moral yang ideal. Seseorang justru dikatakan berdosa bukan karena orang itu gagal mencapai yang ideal tersebut melainkan karena gagal dalam mencoba berusaha untuk mencapai yang ideal tersebut.&lt;br /&gt;Pada akhirnya Bash menambahkan pula, kisah perumpamaan tentang anak yang hilang menggambarkan bahwa pengampunan akan tetap tinggal menjadi sesuatu yang tidak berarti, tidak sempurna sampai terwujud dalam suatu tindakan dan penerimaan kembali mereka yang bersalah. Pada saat pengampunan benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata dan diterima dengan cara ini, termasuk penerimaan seseorang yang bersalah, maka rekonsiliasi pun terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 Tanggapan Kelompok : Sakramen Pengampunan Dosa dalam Gereja Katolik&lt;br /&gt;1. Pandangan Biblis&lt;br /&gt;Jika dalam salah satu perikop yang dipergunakan Bash sempat menyinggung bahwa kata-kata pengampunan dan peristiwa penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus hanya merupakan sebuah afirmasi dari tindakan Yesus, maka kami pun bertanya, manakah pendasaran biblis yang digunakan oleh Gereja Katolik dalam sakramen Tobat.&lt;br /&gt;Sacrosantum Concilium (SC 72) biasa menyebut dengan sakramen tobat. Istilah yang biasa digunakan dalam kazhanah gereja adalah “sakramen rekonsiliasi”. Istilah rekonsiliasi merangkum pengertian: inisiatif Allah yang terlebih dahulu menawarkan pendamaian kepada umatNya (pendamaian dengan Allah), pendamaian kita dengan sesama dan seluruh alam ciptaan sebagai dimensi sosial dan ekologis, dan penyembuhan yang bermakna penemuan kembali kehidupan damai pada hati semua orang yang bertobat dan telah menerima pengampunan dosa.&lt;br /&gt;Dasar-dasar sakramen tobat ini dapat kita temukan, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.a Perjanjian Lama&lt;br /&gt;Praktek pertobatan dikenal dalam Perjanjian Lama menurut segi ritual kultis maupun menurut aspek batiniah dan sikap hidup maupun perbuatannya. Bencana dan penderitaan sering dihubungkan sebagai akibat dosa. Konteks dosa dan kesalahan, pertama-tama adalah seluruh umat. Kesejahteraan bangsa ditentukan oleh pertobatan umat setempat yang diungkapkan dalam bentuk tanda dan upacara kultis; berkumpul untuk mengaku dosa (Ezr 9:13; Neh 9:36-37), berpuasa (Neh 9:1), menaburkan abu di atas kepala (Yer 6:26), mengenakan kain kabung (Neh 9:1), menyampaikan kurban bakaran (Im 16:1-19). Tradisi para nabi menekankan bahwa yang terpenting adalah pertobatan batin, pertobatan hati dan sikap hidup yang tampak dalam dimensi sosial (lih. Yes 58:6-7; Yl 2:12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.b Perjanjian Baru&lt;br /&gt;Sejak awal karyaNya, Yesus sudah mewartakan pentingnya pertobatan demi Kerajaan Allah (Mrk 1:14). Pertobatan akan membawa orang pada pengampunan dosa. (lih 2:12). Dalam teks tersebut diungkapkan penyembuhan kepada orang tersebut juga menganugerahkan pengampunan dosa. Kedua, teks dipahami sebgai kuasa mengampuni dosa yang juga dimiliki oleh Yesus.&lt;br /&gt;Menurut Perjanjian Baru, kuasa untuk mengampuni dosa yang dimiliki Yesus kini dianugerahkan kepada Gereja. Gagasan pelimpahan kuasa untuk mengampuni dosa dari Yesus kepada Gereja antara lain dikembangkan dalam injil Matius. Matius menyiratkan suatu dimensi eklesiologis, sebagaimana pararel dengan Markus 2:12, “maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia” (Mat 9:8). Kuasa pengampunan dosa Yesus kemudian dilanjutkan dalam diri Petrus (Mat 16:19) dan Gereja (Mat 18:18). Barulah dalam Yoh 20:22-23 kuasa untuk memberikan pengampunan dosa secara eskatologis pada Gereja benar-benar dilimpahkan oleh Yesus Kristus.&lt;br /&gt;Dengan demikian, Perjanjian Baru memahami kuasa untuk mengampuni dosa sebagai kuasa yang dimiliki oleh Yesus sendiri, yang tentu saja diterima dari BapaNya di surga. Sebab,”kepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan Bumi” (Mat 28:1). Kuasa untuk mengampuni dosa orang itu diberikan dan dilimpahkan oleh Yesus Kristus kepada Gereja secra keseluruhan, dan tentu saja dilaksanakan secara konkret melalui para pelayan Gereja. Di dalam Gereja perdana, pengampunan dosa yang hanya berasal dari Tuhan itu sendiri menuntut beberapa unsur; pertobatan dan penyesalan (bdk. Luk 15:11-14; Kis 2:37-39; 2 Kor 7:9-10), pengakuan dosa (1Yoh 1:8-10; Yak 5:15-16), dan juga usaha yang aktif untuk mengatasi ataupun membuat silih atas dosa, entah memberi sedekah (mat 6:2-6), berpuasa (Mat 6:16-18), dan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani (1 Tim 1:18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kebiasaan Gereja yang Berubah-ubah&lt;br /&gt;Kebiasaan Gereja Perdana diteruskan dalam Gereja kuno pada zaman para Bapa Gereja. Pada zaman Patristik dikembangkan model tobat publik. Tobat publik ini diperuntukkan bagi warga Gereja yang melakukan dosa berat. Tobat publik ini hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup. Mereka harus mengaku dosanya dihadapan Uskup, ditempatkan di kalangan orang yang sedang melakukan laku tapa, dan memiliki tempat kkhusus dalam gereja. Praksis Tobat pribadi mulai berkembang sekitar abad VI dalam kehidupan Gereja barat yang berasal dari rahib Irlandia. Pengakuan dosa pribadi dilakukan secara pribadi di hadapan seorang Bapa pengakuan. Pada zaman skolastik, Tobat udah diterima sebagai bagian dari ketujuh sakramen. Persoalan yang muncul pada masa ini adalah kuasa imam untuk memberikan absolusi. Teolog skolastik menyatakan, Absolusi imam hanya bersifat deklaratif; rahmat Allah sendirilah yang mengampuni dosa. Pernyataan absolusi imam hanya bersifat; menyatakan secara eksplisit apa yang telah dikerjakan Allah itu dan menyatakan bahwa orang itu sudah bersih dari dosa dan boleh kembali ikut perayaan iman Gereja. Thomas Aquinas menyatakan bahwa pengampunan dosa dari Allah itu berdaya dan efektif karena interaksi antara pertobatan orang yang berdosa itu dan absolusi yang dinyatakan imam. Absolusi bersifat kausativ, ikut menyebabkan turunnya rahmat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pandangan dalam Ajaran Gereja&lt;br /&gt;Konsili Vatikan II Meninjau kembali sakramen tobat. Yang terpentng di dalamnya adalah tobat dan “orang beriman yang bertobat” (bdk. LG 28). Hubungan dengan Gereja juga ditekankan (LG11). Yang dilakukan oleh pentobat dalam sakramen tobat adalah pengakuan dan penitensi. Tobat hendaknya dilakukan dengan laku tapa dan matiraga sukarela. Sakramen tobat terarah pada penerimaan kembali oleh Allah di dalam Gereja. Yang menjadi pokok sakramen tobat adalah pengakuan iman terhadap belaskasihan Tuhan (Bdk. Ef 2:8-10). Oleh rahmat Allah, orang sadar akan kemalangannya sendiri dan menyatakan kelemahannya di hadapan Allah. Allah sendiri menarik orang berdosa. Dengan mengaku diri orang berdosa, manusia menyerahkan diri kepada Allah yang maharahim. Yang pokok adalah orang yang berdosa mohon belaskasihan Tuhan. Dalam Katekismus Gereja Katolik, sakramen tobat penting untuk menyembuhkan dosa-dosa setelah seseorang dibaptis. Kerapuhan dan kelemahan kodrat manusia, hawa nafsu, tetap tinggal setelah Baptis maka dosa tetap ada.&lt;br /&gt;4. Diskusi Ekumenis tentang Sakramen Tobat&lt;br /&gt;Martasudjita menyebutkan bahwa dalam diskusi dengan kelompok reformasi mengenai sakramen tobat masih pada tingkat awal. Gereja reformasi tidak memandang tobat sebagai sakramen tersendiri. Martin Luther, melihat apa yang disebut confessio dan absolutio (Gereja Katolik) tidak lebih daripada reditus ad baptismum (kembali kepada semangat baptisan Kristiani) . Atas dasar itulah Luther melihat bahwa pengampuan dosa bukanlah sakramen tersendiri di samping baptisan dan perjamuan, melainkan suatu usaha kembali kepada semangat baptisan. Tokoh lain, Calvin misalnya pertobatan dalam Gereja Katolik tidak lebih dari sekedar recordatio baptismi, ingatan kembali akan baptisan. Absolutio hanyalah suatu pemakluman tentang pengampunan dosa yang telah terjadi dalam baptisan. Manusia berdosa sudah dibenarkan satu kali dalam baptisan dan tidak perlu diulangi dalam pengakuan dosa berkali-kali. Pertobatan adalah baptisan yang menjadi efektif secara baru dalam iman. Mereka menempatkan tobat sebagai yang penting dalam keseluruhan hidup iman. Bagi mereka, perayaan tobat merupakan pewartaan rahmat Allah yang bersifat membenarkan orang dan mengampuni dosa. Dengan kata lain, pertobatan adalah semata-mata anugerah Allah. Manusia tidak berjasa sedikit pun dalam pertobatan.&lt;br /&gt;Selain itu, kaum protestan juga tidak sependapat terhadap penitensi atau silih atau denda yang dipraktekkan dalam Gereja Katolik. Mereka tidak melihat adanya tapa denda setelah pengampunan dosa, karena itu berarti bahwa pengampunan dosa atas nama Kristus tidak sungguh-sungguh terjadi. Menurut mereka, penitensi yang benar adalah iman dalam Kristus dan hidup yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Diskusi Kelompok&lt;br /&gt;7.1 Apa yang dilakukan oleh Yudas Iskariot, bunuh diri, menjadi representasi manusia yang putus asa, kehilangan harapan. Apa yang dilakukan oleh Yudas berlawanan dengan konsep kehidupan yang merupakan rahmat Tuhan sendiri. Bagaimana Gereja menanggapi realitas bunuh diri tersebut, dan bagaimana pengampunan itu bisa terjadi bagi mereka yang bunuh diri?&lt;br /&gt;Untuk menjawab persoalan tersebut, dapat digunakan dasar dari Katekismus Gereja Katolik yang menyatakan bahwa tindakan bunuh diri adalah bertentangan dengan kasih Allah dan manusia (Katekismus Gereja Katolik no. 2281-2282).&lt;br /&gt;“Everyone is responsible for his life before God who has given it to him. It is God who remains the sovereign Master of life. We are obliged to accept life gratefully and preserve it for his honor and the salvation of our souls. We are stewards, not owners, of the life God has entrusted to us. It is not ours to dispose of” (The Cathecism of the Catholic Church, no. 2280).&lt;br /&gt;Tiap orang semestinya bertanggungjawab atas kehidupannya, sebab Allah telah memberikan hidup kepadanya. Kewajiban manusia ialah untuk tetap menjaga hidup dengan mempertahankan hidup demi kehormatanNya dan demi keselamatan jiwa. Dengan demikian bunuh diri bertentangan sekali dengan kodrati manusia yang merupakan anugerah Cuma-Cuma dari Allah. Bunuh diri berarti menghilangkan kehidupan yang semestinya dipelihara dan dipertahankan. Gereja tidak setuju terhadap tindakan bunuh diri ini, sebab bunuh diri berarti menghilangkan kehidupan, bertentangan dengan konsep cinta kepada Allah yang hidup.&lt;br /&gt;“Suicide contradicts the natural inclination of the human being to preserve and perpetuate his life. It is gravely contrary to the just love of self. It likewise offends love of neighbor because it unjustly breaks the ties of solidarity with family, nation, and other human societies to which we continue to have obligations. Suicide is contrary to love for the living God”. (The Cathecism of the Catholic Church, no. 2281).&lt;br /&gt;Mereka yang melakukan bunuh diri, berdosa. Bahwa mereka yang terlibat atau mendukung peristiwa bunuh diri juga berdosa. Kedosaan tersebut akan menjadi penuh pada saat peristiwa tersebut dilakukan dengan penuh kebebasan (The Cathecism of Catholic Church, 2282). Bunuh diri adalah berdosa. Secara pastoral, berat dan ringan kedosaan itu dilihat kasus per kasus, atau tergantung dari kebebasan di pelaku. Pertanyaan selanjutnya adalah Apakah orang yang bunuh diri akan mendapatkan pengampunan juga dari Allah? Allah adalah kasih. Ia lebih dulu mengampuni, dan akan selalu mengampuni. Orang yang bunuh diri, menurut Gereja, akan mendapatkan pengampunan jika pada saat-saat terakhirnya itu, ia menyatakan kedosaannya. Bagi keluarga yang ditinggalkan, seorang imam pun mestinya mewartakan kabar sukacita dimana keselamatan itu akan selalu datang dan dialami oleh siapapun. Allah masih memberikan kesempatan untuk adanya keselamatan abadi.&lt;br /&gt;We should not despair of the eternal salvation of persons who have taken their own lives. By ways known to him alone, God can provide the opportunity for salutary repentance. The Church prays for persons who have taken their own lives. (The Cathecism of the Catholic Church, no. 2283)&lt;br /&gt;Dalam berpastoral, Gereja menggemakan kabar pengharapan bagi mereka yang telah meninggal. Orang tidak boleh kehilangan harapan akan keselamatan abadi bagi mereka yang telah mengakhiri kehidupannya. Allah sendiri masih memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat supaya diselamatkan. Gereja tetap berdoa bagi mereka yang telah mengakhiri kehidupannya. Demikian Gereja tetap memberikan pengharapan bagi mereka yang telah meninggal, dan teristimewa keluarga yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2 Bagaimana pelayanan pastoral bagi keluarga yang meninggal karena bunuh diri. Apakah boleh diadakan misa bagi keluarga yang meninggal karena bunuh diri?&lt;br /&gt;Dalam kasus-kasus tertentu, perayaan ekaristi tetap bisa diadakan untuk mendoakan jiwa orang yang telah meninggal. Gereja tetap memberikan dukungan doa bagi mereka, teristimewa keluarga yang ditinggalkan. Dalam konteks pastoral, komuni dalam ekaristipun tetap dapat diberikan kepada keluarga yang bersangkutan (yang bunuh diri) selama keluarga tidak terlibat dalam peristiwa bunuh diri tersebut. Intinya, Gereja secara pastoral tetap memberikan dukungan doa bagi orang yang meninggal maupun keluarga yang ditinggalkan. Namun begitu, Gereja tidak bisa menyamaratakan langkah pastoral ini secara menyeluruh, sebab berbagai peristiwa harus dilihat kasus-kasusnya terlebih dahulu. Maka Gereja harus mempertimbangkan apakah ekaristi tersebut menjadi batu sandungan bagi masyarakat lain atau tidak. Oleh karena itu, Gereja harus memperhatikan segala sesuatunya secara kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.3 Yesus mewartakan Kabar Gembira bagi banyak orang. Mengapa Yesus membawa warta Kabar Gembira?&lt;br /&gt;Yesus mewartakan kabar gembira menjadi tekanan dalam Perjanjian Baru. melalui pewartaan Kabar Gembira tersebut, tekanan pengampunan dalam Perjanjian Baru menjadi nyata. Ada perubahan paradigma dan nilai dari Perjanjian Lama, yakni konsep mata ganti mata, gigi ganti gigi, “Tetapi jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak” (Kel 21:23-25). Paradigma baru berkembang dalam Injil, dimana Injil menjadi Injil karena ada pengampunan, yakni orang yang bertobat diampuni. Inilah yang menjadi kekhasan kristiani. Pengampunan bukan saja karakter iman tapi inti iman Kristiani.&lt;br /&gt;Apabila dibandingkan dengan Paulus mengenai iustifikasi. Sebenarnya tidak bisa dipisahkan antara iustifikasi dan pengampunan karena pembenaran dilakukan dengan pembenaran, dan tidak ada pengampunan tanpa pembenaran. Sementara persoalan Protestan dan Katolik adalah soal bagaimana cara iustifikasi tersebut? Apakah iustifikasi tersebut berasal dari perbuatan manusia itu sendiri atau semata-mata dari Allah (perlu Allah). Menurut Katolik, iustifikasi semakin benar dengan perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Penutup&lt;br /&gt;Yesus mewartakan supaya bertobat. Seruan ini adalah bagian hakiki dari pewartaan Kerajaan Allah, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15). Seruan pertobatan pertama ditujukan bagi mereka yang berlum mengenal Kristus, dan dalam pertobatan kedua, ditujukan bagi mereka orang-orang Kristen. Demikian Gereja selalu menjalankan pertobatan dan pembaharuan terus menerus (LG 8).&lt;br /&gt;Pertobatan pertama-tama adalah karya rahmat Allah, yang membalikkan hati manusia kepadaNya. Demikian pula pengampunan menjadi milik Allah yang hadir dalam diri Yesus yang mendapat kuasa untuk mengampuni (Mrk 2:10), bahkan berkat otoritas ilahiNya, Ia memberi kuasa tersebut kepada manusia, supaya merekapun melaksanakannya atas namanya. Inilah yang dapat disimpulkan, tentu saja dari kacamata kristiani, bahwa Allah senantiasa berbelaskasih kepada manusia, melalui pengampunan yang dilimpahkannya kepada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;___”____, Kitab Hukum Kanonik, Roma, 1983&lt;br /&gt;___”____, The Cathecism of the Catholic Church, Vatican, 1997&lt;br /&gt;Bash, Anthony, Forgiveness and Christian Ethics, Cambridge University Press, New York, 2007.&lt;br /&gt;Griffin, James A, Ringkasan Katekismus Katolik Yang Baru, Penerbit Obor: Jakarta, 1996&lt;br /&gt;Konferensi Waligereja Indonesia, Iman Katolik, Penerbit Kanisius: Yogyakarta, 1996.&lt;br /&gt;Mali, Matheus, Diktat Moral Dasar, Fakultas Teologi Kepausan Wedhabakti; Yogyakarta&lt;br /&gt;Martasudjita, E, Sakramen-sakramen Gereja, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003.&lt;br /&gt;Sujoko, Albertus, MSC, Praktek Sakramen Pertobatan dalam Gereja Katolik : Tinjauan Historis, dogmatis, dan pastoral, Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasetya Handaya Wicaksana, Ignatius&lt;br /&gt;Tri Kusuma, Albertus &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-7371570141338997833?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/7371570141338997833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/05/pengampunan-dan-perjanjian-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/7371570141338997833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/7371570141338997833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/05/pengampunan-dan-perjanjian-baru.html' title='Pengampunan dan Perjanjian Baru'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-8001632194867389838</id><published>2010-04-29T20:39:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T20:48:11.456-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Keterlibatan hati dengan orang sakit</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;A. Sebuah Kisah Perjumpaanku dengan Bapak Mohammad&lt;br /&gt;Keterlibatan hati dengan orang sakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari beranjak siang, aku telah mondar-mandir, longak-longok ke ruang pasien serta menyapa mereka, pasien, yang terbaring di atas tempat tidurnya di bangsal Elisabeth satu. Elisabeth satu terbagi dalam dua kelas, yaitu kelas dua dan tiga. Aku memasuki hampir semua ruang dan bertegur sapa dengan hampir semua pasien dan keluarganya. Ruang 108 adalah salah satu ruangan yang aku tengok. Namanya Bpk Mohammad Mudiarjo.&lt;br /&gt;Dalam perbincangan aku menjadi tahu bahwa dia sakit batu ginjal. Dalam riwayat sakitnya, dia pernah dioperasi dengan penyakit yang sama kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Dan kali ini dia harus menjalani operasi batu ginjal lagi. Mohammad Mudiarjo tinggal di daerah Pancingan, Umbulharjo. Dia tinggal bersama istri sementara anak-anaknya telah berumahtangga dan memberikan dua cucu, dan masih menunggu kelahiran satu cucu lagi. Mohammad Mudiarjo bercerita dengan semangat tentang keluarga dan asal-usulnya. Ternyata dia asli berasal dari Bumiayu, Purwokerto. Tidak heran apabila dia bisa menggunakan bahasa banyumasan dengan baik. Suasana bertambah hangat ketika aku memperkenalkan diri, aku berasal dari Purbalingga. Dia langsung merespon, “lah dénéng tanggané dhéwék. Bu, kiyé, mas Tri sekang Purbalingga. Lah ketemu seduluré dhéwék kiyé” dengan logat banyumasan yang kental.&lt;br /&gt;Batu ginjal telah diambil, tanda bahwa dia telah melewati operasi dengan baik. Hal ini aku ketahui saat aku berkunjung menemui dia. Yang terlihat olehku adalah tubuh Mohammad yang lemas, dan sesekali dia merintih kesakitan. Istrinya bilang, “ini loh mas, bapaké réwél terus. Perawat sudah ngomong sabar pak, sabar. Tapi dia tetep ngéyél”. Saat dia merintih kesakitan, aku berada disampingnya, berulang kali ia merintih dan mengeluh, dan aku tidak tahu harus mengatakan apa, “mas Tri, dénéng lara temen, kepriwé kiyé mas. Aduh..aduh.. dénéng lara temen mas”. Aku hanya menemani, memegang tangan, dan sesekali menghibur dengan cerita-cerita dengan harapan bisa mengalihkan rasa sakitnya. Namun toh dia tetap merasakan sakit, “sabar ya mas, ngomong sih gampang, tapi angél mas, angél banget nglakoniné. Lara banget mas”. Aku hanya menjawab, “iya pak, iya. Tidak apa-apa. Pasti akan sembuh”. Aku sungguh semakin tergerak untuk menemani dia dalam sakitnya. Saat kesakitan ia merintih dan tangannya memegang erat tanganku. Aku menyahutnya dengan genggaman yang erat pula, tanda bahwa aku ada disampingnya dan menemaninya.&lt;br /&gt;Aku hanya berharap bahwa keberadaanku di sampingnya bisa membuat dia sedikit lebih tenang, kendati tidak banyak yang aku lakukan. Aku terus menemaninya dengan sabar, dan diapun merasa senang saat aku menemaninya. Memang dia sedikit berlebihan dalam bersikap. Ia selalu menguras perhatian para perawat dan karena itulah ia dipindahkan ruang, dari 108 ke ruang 101. Akupun heran melihat tingkah Mohammad yang hiper menarik perhatian para perawat, dalam hatiku menjawab, “mungkin dia ingin selalu ditemani”. Di ruang 101, ia telah mengalami banyak perkembangan. Ia bisa kencing tanpa menggunakan cateter, tapi menggunakan alat lain, semacam tempat kencing (pispot). Ia sering kencing, dan setiap kencing ia merintih kesakitan, “aduh lara banget mas, kencingnya ésih metu ora mas, lara mas”. Bahkan ia sempat putus asa, ingin mati saj&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/S9pSCSD_FWI/AAAAAAAAAEg/UvrxS0oKVuM/s1600/5597376-md.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; FLOAT: left; HEIGHT: 235px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465771296929289570" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/S9pSCSD_FWI/AAAAAAAAAEg/UvrxS0oKVuM/s320/5597376-md.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;a daripada menahan sakit yang tidak kunjung reda. Aku menemaninya dan mendukungnya dengan sabar. Sesekali aku masih membuang air kencing yang telah penuh di pispot. Kendati sedikit risih, tapi tak ada pilihan lain selain aku harus melakukannya, dan aku menjadi biasa. Perasaan yang muncul adalah rasa tulus dan senang karena bisa membantu meringankan kesulitannya.&lt;br /&gt;Aku menemaninya berjam-jam dan aku tetap berada disampingnya tanpa meninggalkan sedikitpun. Sesekali aku duduk dan berdiri dengan tangan tetap memegang erat tangannya, atau bahkan berdiri terpaku, diam hanya memandang wajahnya saat Mohammad memejamkan mata. Aku sungguh ingin menemani dia dalam sakitnya, apalagi istrinya berpesan padaku kalau dia merasa tenang dan senang ditemani olehku, “iki pak, mas tri wis teka”. Aku merasa senang dan bahagia bisa menemaninya. Dalam pikirku, aku merasakan kedekatan dengannya. Aku merasakan yang dia rasakan. Bagaimana dalam sakitnya, ia membutuhkan seseorang yang berada disampingnya dan mendukungnya. Inilah yang menguatkanku bertahan menemani dan menghiburnya. Mohammad menjadi pribadi yang hadir dan menggerakkanku untuk terlibat merasakan sakitnya. Melalui penghiburan-perhatian kecil, aku merasa bisa menjadi sahabat baginya. Sebagaimana dia pun merasakan nyaman dengan kehadiranku berada di sampingnya. Inilah yang menggerakkanku untuk terlibat dalam pergulatan sakit Mohammad. Bahwa ia manusia yang ingin diperhatikan, ditemani, didukung oleh yang lain, dan aku melakukan itu sebagai pribadi yang memperhatikan dan menemaninya.&lt;br /&gt;Pengalaman bersahabat dengan orang sakit memunculkan perasaan dan suatu penyikapan akan apa yang harus aku lakukan. Tentu pertama-tama bukan sekedar mau menghibur, apalagi menasehati, tetapi sungguh ingin menemani, berjalan bersama dia yang sedang sakit, dan keluarganya. Mohammad membutuhkan perhatian sebagai pribadi yang utuh, dan melalui perhatian serta perlakuan manusiawi itulah ia merasa nyaman dengan hidupnya yang sedang sakit. Aku kira Mohammad tidak sekedar butuh diberi obat atau makanan saja, tetapi butuh disapa, ditemani dalam sakit yang ia derita. Melalui pengalaman tersebut, aku ingin meringkaskan pengalaman bersahabat dengan orang sakit dengan “Keterlibatan hati untuk mau hadir, menemani, dan merasakan apa yang dirasakan orang sakit merupakan perwujudan iman akan Allah yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Tesis :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman live-in di rumah sakit Panti Rapih selama kurang lebih 9 hari menjadi sahabat orang sakit dan keluarganya, memberi kesan mendalam bagiku. Kesan itu tergoreskan melalui pengalaman eksistensial dimana aku sungguh mengalami perjumpaan bahkan keterlibatan langsung dengan mereka, orang sakit dan keluarganya. Keterlibatan yang mewujudkan imanku secara personal kepada Allah. Keterlibatan yang menghormati, menghargai mereka sebagai pribadi yang utuh, nguwongke, sebab mereka adalah manusia yang bermartabat, gambar dan citra Allah yang merupakan anak Allah sendiri. (Martabat hidup manusia datang dari Allah, dan akan kembali kepda Allah (Evangelium Vitae, 11)&lt;br /&gt;Keterlibatan personal menjadi sahabat orang sakit mengajakku bertanya, Apa yang mendorongku melakukan itu? Pertanyaan ini mengantarku untuk berefleksi bahwa kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta adalah jawabnya. Tentu saja terinsipirasi dari Yesus sendiri yang menampilkan kehadiran dan penyerahan diri-Nya yang penuh cinta dalam mengasihi orang lain (Mat 8:1-4, 9:1-10; Yesus yang hadir menyembuhkan lumpuh, sakit kusta). Bentuk kehadiran yang melibatkan diri dengan menyerahkan diri penuh cinta inilah yang menggerakanku terlibat dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Untuk itu aku rumuskan dalam sebuah tesis :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“Melalui kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta menjadi sabahat orang sakit, aku dipanggil untuk terlibat dalam usaha meneruskan karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus yang bersolider dengan manusia”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tesis ini menguraikan dinamika iman yang mewujud dalam tindakan praktis sehingga iman menjadi kongkret. Kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta menjadi sahabat orang sakit merupakan bentuk keterlibatan hati yang nyata, sekaligus wujud ambil bagian dalam penderitaan Yesus Kristus yang disalib (Bdk. Kis 5:41,“Para rasul bergembira karena mereka telah dianggap layak menderita oleh karena nama Yesus Kristus”) sebagai penerusan akan karya keselamatan Allah yang berlangsung dalam Yesus Kristus yang bersolider dengan manusia. Konsili Vatikan II mengartikan ini sebagai wahyu, yakni pemberian diri Allah dan misteri kehendak-Nya kepada manusia (Ef 1: 9 “Sebab Ia telah mnyatakan rahasia kehendaknya kepada kita, sesuai dengan rencana keselaanNya yaitu kerelaan yang dari semula ditetapkannay dalam Kristus; DV 2) yang berpuncak pada Yesus Kristus (DV 4). Dengan kata lain, Allah menyapaku melalui pemberian diri Allah yang berpuncak dalam Yesus Kristus (DV 2), dan aku menyatakan “ketaatan iman” kepada Allah (DV 5). Inilah relasi wahyu dan iman, dimana Allah menyapaku dan aku menanggapi tawaran Allah yang telah melibatkan hidup-Nya dalam kehidupan manusia secara bebas dan merdeka. Maka tesis ini dimaksudkan bahwa Allahlah yang pertama-tama berinisiatif dan aku tergerak untuk menanggapinya dengan bebas dan terwujud dalam tindakan moral yakni kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta menjadi sahabat orang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Karya Keselamatan Allah dalam Yesus Kristus yang bersolider dengan manusia&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Keselamatan yang dikerjakan Allah dalam Yesus Kristus, merupakan suatu keterlibatan dinamis kedua pihak, yakni bahwa hidup dan usaha manusia tidak mungkin dipisahkan dari kehendak dan usaha Allah (rahmat). Allah telah terlibat dalam sejarah dan telah memanggil manusia supaya ikut berjerih-payah bagi keselamatan semua orang (DV 2), maka dengan kepercayaan dasar dan usaha, orang memberikan jawaban pada Allah (DV 5). Allah telah berulang kali dan dengan berbagai cara berbicara dengan nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi, pada zaman akhir ini berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya (Ibr 1:1, “setelah pada zaman dahulu Allah ebrulang kali dan dalam perbagai cara berbicara kepada nenk morayng kita dengan perantaraan para nabinya”). Dalam Kristus, Allah telah melibatkan diri dengan hidup dan sejarah manusia, “sebab Ia mengutus Putera-Nya, yakni Sabda kekal, supaya tinggal di tengah umat manusia (Yoh 1:1-8), dan menyelesaikan karya penyelamatan (Yoh 5:36 “segala pekerjaan yng diserahkan B&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/S9pSQn1MbeI/AAAAAAAAAEo/9rJLYSVemb0/s1600/wajah+yesus.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 250px; FLOAT: left; HEIGHT: 320px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465771543290998242" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/S9pSQn1MbeI/AAAAAAAAAEo/9rJLYSVemb0/s320/wajah+yesus.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;apa kepadaku, paya aku melaksanakan pekerjaaan itu, itulah yang memberi kesaksian bahwa Bapalah yang megnutus Aku, 17:4, “Aku mempermuliakan Engkau dengan jalan menyelesaikan pekerjaan di bumi”) (DV 4).&lt;br /&gt;Peran Yesus sebagai pengantara dan jaminan perjanjian baru dilaksanakan dalam solidaritas dan penebusannya. Antara Yesus dan manusia terjalinlah solidaritas. Yesus menjadi senasib dengan manusia berdosa dan malang, dan manusia dapat menjadi senasib dengan Yesus Kristus oleh Allah diselamatkan dan selanjutnya dapat ikut serta menikmati keselamatan itu. Rencana dan maksud Allah itu tertuju kepada keselamatan manusia berdosa, “Allah mengutus Anak-Nya” Yesus Kristus (Yoh 3:17”Yesus datang ke dunia bukan u menghakimi, tp meyelamatkan dalam nama Dia”; 17:18, “Engkau utus Aku, Aku utus mereka”; 1 Yoh 4:9.10, Gal 4:4, Rm 8:3,”mengutus anaknya sendiri dalam daging”). Apa yang dialami dan dibuat Yesus terjadi menurut “kehendak Allah” (Kis 2:23, “Dia yang telah diserahkan Allah mnrt mksud dan rencnya, tlah km salibkan..dst”; 4:28; Gal 1:4, “Yang telah serahkan diriNya karena dosa2kita, tuk lepaskan kita dari ygjaht, mnr kehenk Bapa”; Luk 24:26), bahkan adalah karya Allah (Yoh 4:34; 5:36; 10:37; 14:10). Yesus pun dengan rela dan taat melaksanakan “rencana dan kehendak Allah” itu (Flp 2:8, “Allah adalah saksiku..ds”t; Yoh 4:34, “Makanaku ialah melakukan kehendak Bapa, selesikannya pula”; 5:30; Rm 5:19, Ibr 5:8, Mat 16:21; Yoh 3:14). Oleh karena itu solidaritas timbal balik atara Yesus dan manusia sesuai dengan “rencana kehendak Allah”. Solidaritas itu hadir bagi Kristus dengan menerima kemanusiaan sepenuhnya, senasib dengan manusia (Flp 2:1-11,”merendahkan diri seperti Kristus”). Allah menjadi senasib dengan manusia, Allah membiarkan diri dibatasi oleh situasi konkret manusia, jerih payah hidup, penderitaan dll. Jurgen Moltmann membahasakan keterlibatan Allah dalam hidup manusia itu dengan bentuk Allah yang peduli (Allah yang pathos). Para nabi merefleksikan bahwa Allah adalah Allah yang peduli, (dalam konteks Israel) Allah yang peduli (pathos) terhadap bangsa Israel (situation of God). Melalui pathos, Allah memperhatikan dan masuk secara mendalam ke dalam situasi umat yang Ia pilih. Dengan demikian, pengalaman, tindakan dan penderitaan umat-Nya mempengaruhi Allah. Kasih Allah itu bukan melulu batiniah semata, tetapi terwujud dalam tindakan konkret dalam keterlibatan-Nya dengan penderitaan umat-Nya.&lt;br /&gt;Untuk itu, dalam pandangan teologi moral, segala usaha hanya berarti bila dikerjakan di dalam Kristus. Orang mengikat diri pada Kristus dan pada saat yang sama mengharapkan keselamatan dari Allah lewat Kristus. Yesus senasib dengan manusia-setiakawan dengan kemalangan mausia (Ibr 2:17, “ia dismkan dengan sudara-saudranya”), bahkan sampai harus menderita dan wafat (Rm 6:23, “hidup yang kekal dlam Allah”), inilah Solidaritas negatif. Yesus mau senasib dengan manusia yang dikungkung oleh dosa, meskipun Ia tidak melakukan dosa (2 Kor 5:21, “dia dosa karena kita”). Selain itu, manusia yang berdosa turut serta diselamatkan oleh Yesus Kristus yang selamat.Yesus yang diselamatkan, disempurnakan, dibangkitkan oleh Allah menjadi pokok keselamatan abadi (Ibr 5:9, “sesudah ia mecapai kesempurnaan, ia jdi pokok keselamtan bagi semua orang”) bagi semua manusia, solidaritas positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kehadiran dan Penyerahan diri yang penuh cinta menjadi sahabat orang sakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Solidaritas Allah dengan manusia merupakan suatu tanda Allah yang menyapa manusia dengan mau terlibat di dalam penderitaan manusia. Dalam pengalaman live-in itu, akupun menanggapi sapaan Allah yang mau meny&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/S9pSgJAfHfI/AAAAAAAAAEw/fjTjVQ3nApk/s1600/roseb017a.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; FLOAT: left; HEIGHT: 247px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465771809894768114" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/S9pSgJAfHfI/AAAAAAAAAEw/fjTjVQ3nApk/s320/roseb017a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;elamatkan itu dalam bentuk kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta kepada mereka yang sakit. Perjumpaan dengan mereka yang sakit memanggilku untuk terlibat, sehati seperasaan dengan penderitaan mereka. Ini merupakan tanggapanku atas tawaran Allah yang sungguh telah melibatkan hidup-Nya dalam kehidupan manusia secara bebas dan merdeka. Tindakanku yang hadir dan menyerahkan diri dengan semangat cinta merupakan perwujudan imanku akan Allah yang sungguh mau terlibat dengan manusia.&lt;br /&gt;Karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus yng bersolider dengan manusia memanggilku untuk mau terlibat pula dalam hidup relasiku dengan sesama. Seperti Yesus sendiri yang selalu tampil dalam hidup dan karya-Nya untuk mengasihi sesama, memperjuangkan kehidupan (Yesus memberitakan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada tawanan, penglihatan bagi orang buta dst, bdk Luk 4:18-19). Yesus sungguh tampil untuk memperjuangkan kehidupan. Demikian pula aku melalui keterlibatan secara konkret, aku melibatkan diri dalam karya keselamatan. Dalam pengalaman live-in yang lalu, kehadiran dan penyerahan diri yang penuh cinta menjadi wujud iman yang lahir secara konkret dalam tindakan moral.&lt;br /&gt;Dengan melibatkan diri dalam karya keselamatan Allah di dunia, yang telah terjadi melalui Yesus Kristus, aku pun dipanggil untuk meneruskan misi Yesus yang memperjuangkan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Visi, Misi, dan Strategi Pastoral&lt;br /&gt;a. Visi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rumah Sakit Katolik ikut ambil bagian dalam mewujudkan Kasih Allah terhadap manusia di dunia melalui pelayanannya yang holistik bagi semua orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Misi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Menjadi sahabat bagi pasien dan keluarganya dengan didasari cintakasih&lt;br /&gt;2. Memberikan pelayanan yang holistik dengan semangat Kasih bagi semua orang, terutama pasien dan keluarganya&lt;br /&gt;3. Membangun semangat solidaritas umat beriman terutama bagi mereka yang sedang sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;c. Stategi Pastoral&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Bidang Rohani dan Kepribadian&lt;br /&gt;1. Menjadi sahabat yang mau terlibat dengan penuh totalitas dalam menghadapi dengan pergulatan pasien dan keluarganya&lt;br /&gt;2. Memberikan pelayanan spiritual bagi pasien dan keluarga yang membutuhkan sesuai dengan agama dan kepercayaan mereka masing-masing (jejaring dengan tokoh agama lain misalnya imam, kyai dll).&lt;br /&gt;3. Membantu dalam memberikan pelayanan sakramen-sakramen bagi pasien.&lt;br /&gt;4. Memotivasi pasien dan keluarga untuk memperjuangkan kesembuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;strong&gt;. Bidang Sosial Ekonomi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Memberikan pelayanan yang berkualitas bagi semua pasien&lt;br /&gt;2. Membentuk jaringan kerjasama dengan pihak-pihak tertentu untuk menyediakan dana sosial bagi para pasien tidak mampu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Bidang Institusi Rumah Sakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Mengoptimalkan karya pelayanan pastoral care atau unit pastoral sosio-medis dengan melibatkan banyak pihak demi pelayanan yang holistik&lt;br /&gt;2. Membangun kerjasama berbagai pihak (networking) demi peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· Bernhard Kieser, SJ, &lt;em&gt;Wahyu Ilahi Ditemukan Dalam Penerusan Manusiawi,&lt;/em&gt; manuscript, Yogyakarta, 2006&lt;br /&gt;· CB. Kusmaryanto, &lt;em&gt;Etika Medis,&lt;/em&gt; manuscript, Yogyakarta, 2009&lt;br /&gt;· Dokumen Konsili Vatikan II&lt;br /&gt;· Groenen, OFM, &lt;em&gt;Soteriologi Alkitabiah,&lt;/em&gt; Yogyakarta : Kanisius, 1994&lt;br /&gt;· Jurgen Moltmann, &lt;em&gt;The Crucified God,&lt;/em&gt; dalam &lt;a href="http://theologytoday.ptsem.edu/apr1974/v31-1-article.htm"&gt;http://theologytoday.ptsem.edu/apr1974/v31-1-article.htm&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Tri Kusuma, Albertus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-8001632194867389838?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/8001632194867389838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/04/keterlibatan-hati-dengan-orang-sakit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/8001632194867389838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/8001632194867389838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/04/keterlibatan-hati-dengan-orang-sakit.html' title='Keterlibatan hati dengan orang sakit'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/S9pSCSD_FWI/AAAAAAAAAEg/UvrxS0oKVuM/s72-c/5597376-md.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-4351611285222493370</id><published>2010-04-29T20:35:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T20:39:15.222-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Saat Kesepian Datang</title><content type='html'>Biarlah rasa ini tersimpan rapat dalam sebotol sunyi&lt;br /&gt;menyisakan denting dalam hati lalu sepi.....&lt;br /&gt;yang kemudian hilang bersama terang yang perlahan datang,&lt;br /&gt;yang menawarkan senyum untuk dicecap atau disimpan dalam-dalam&lt;br /&gt;sebagai cadangan saat kesepian itu kembali datang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-4351611285222493370?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/4351611285222493370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/04/saat-kesepian-datang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/4351611285222493370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/4351611285222493370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/04/saat-kesepian-datang.html' title='Saat Kesepian Datang'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-6710255070142222146</id><published>2010-04-20T05:08:00.000-07:00</published><updated>2010-04-24T20:39:28.105-07:00</updated><title type='text'>Tesis Teologi Sosial</title><content type='html'>&lt;div&gt;TESIS:&lt;br /&gt;“Bertolak dari Ketidakadilan dalam Dunia Kerja Buruh, Orang Kristiani Dipanggil untuk Terlibat dalam Usaha Memulihkan Keutuhan Martabat Manusia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar&lt;br /&gt;Tidak dapat dipungkiri bahwa kerja adalah aspek penting dalam kehidupan. Dengan bekerja dan mendapat upahlah manusia mampu melangsungkan hidupnya, mencukupi semua kebutuhannya. Tapi tidak jarang ditemukan adanya ketidakadilan dalam dunia kerja: PHK semena-mena, THR yang urung diberikan, jaminan kerja yang tidak ada, upah yang rendah, situasi kerja yang tidak manusiawi, jam kerja yang berlebihan, dan seribu satu persoalan lainnya. Berbagai bentuk ketidakadilan itu merendahkan keluhuran martabat manusia dan menantang Gereja untuk tidak tinggal diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakadilan dalam Dunia Kerja Buruh&lt;br /&gt;Selama sepuluh hari live-in di PT. Air Mancur Unit Pelem – Wonogiri, kami berjumpa dengan berbagai bentuk realitas kerja. Di satu sisi, kerja para buruh menampakkan cinta mereka terhadap keluarga dan kelangsungan hidupnya. Di sisi lain, kami berjumpa dengan ketidakadilan dalam dunia kerja buruh. Kebijakan dan aturan perusahaan dibuat oleh perusahaan dengan persetujuan Serikat Pekerja Farkes (SPF) yang pengurusnya dipilih oleh perusahaan. Perusahaan mulai menggunakan buruh kontrak (outsourcing) yang tidak mempunyai perlindungan kerja yang layak . Perusahaan sering menambah jam kerja (lembur) dengan proporsi upah yang tidak sebanding . Gaji buruh yang sedikit di atas UMR tidak mampu memenuhi kesejahteraan buruh; kenaikan gaji tidak sebanding dengan kenaikan inflasi dan harga kebutuhan sehari-hari. Mereka yang mengabdi puluhan tahun mendapat gaji yang kurang dari satu juta. Perusahaan memperlakukan buruh lebih sebagai sarana mengejar target jumlah produk daripada sebagai tujuan mencapai kesejahteraan.&lt;br /&gt;Berbagai ketidakadilan itu berlangsung lama, tidak begitu saja disadari, terstruktur dan dilestarikan dengan berbagai aturan yang memihak perusahaan. Ketidakadilan strutural seperti ini menempatkan orang pada situasi kemiskinan dimana orang tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup pokoknya, tidak mempunyai bargaining power, dan tidak otonom untuk menetukan arah dan tujuan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Kerja Manusia&lt;br /&gt;Kerja merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia. Dalam pandangan Gereja Katolik, kerja bukanlah sekedar cara untuk melangsungkan hidup melainkan rahmat dari Allah . Gereja mendasarkan pandangannya pada kisah penciptaan dimana Allah menciptakan manusia seturut gambar-Nya sendiri dan memberi mereka perintah untuk menaklukkan bumi beserta segala isinya (lih. Kej. 1:28; LE 4). Semuanya itu terwujud dalam dan melalui tindakan kerja (GS 33-34; LE 4, 9) . Melalui kerja manusia mewujudkan dan menyempurnakan martabat dirinya sebagai citra Allah, sebab di sana ia mencerminkan kegiatan Sang Pencipta sendiri (LE 4) dan menjadi partner kerja Allah (LE. 25). Maka, dimensi subjektif kerja (manusia) haruslah lebih diperhatikan dari pada dimensi objektif kerja (teknologi). Kerja adalah pertama-tama demi manusia dan bukan manusia untuk kerja (LE 6)&lt;br /&gt;Selain bersifat pribadi, kerja juga memiliki sifat sosial (QA 69). Orang bekerja dengan sesama dan untuk sesama. Kerja akan me&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/S9O5Q2wKTxI/AAAAAAAAAEQ/J7RCSmcpWuQ/s1600/5603474-lg.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; FLOAT: left; HEIGHT: 220px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463914472157105938" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/S9O5Q2wKTxI/AAAAAAAAAEQ/J7RCSmcpWuQ/s320/5603474-lg.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;njadi semakin subur dan produktif ketika manusia semakin menyelami potensi produktif sumber daya alam serta semakin memperdalam pemahaman akan kebutuhan sesama, yang memperoleh manfaat dari kerjanya itu (CA 31).&lt;br /&gt;Namun, dalam realitasnya, kerja tidak selalu dimaknai sebagai karya penciptaan (co-creator). Kerja dipandang sekadar job yang berorientasi pada upah, efisiensi dan produktivitas. Para buruh menjadi sarana untuk menghasilkan produk yang sebanyak-banyaknya secara efektif dan efisien. Dengan demikian, berbagai bentuk exploitasi buruh sulit dihindari. Hal ini jelas melukai keluhuran dan keutuhan martabat manusia sebagai partner kerja Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martabat Manusia&lt;br /&gt;Kitab Suci mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah. “Manusia diberi martabat yang sangat luhur, berdasarkan ikatan mesra yang mempersatukannya dengan Sang Pencipta: dalam diri manusia terpancarlah gambar Allah sendiri” (EV 34). Martabat manusia ini bukan hanya dikaitkan dengan asal-usulnya yang berasal dari Allah, tetapi juga dengan tujuan akhir hidupnya, yakni persatuan dengan Allah dalam pengetahuan dan kasih denganNya (EV 38). Martabat manusia itu dijunjung lebih tinggi lagi dengan inkarnasi dan penebusan Kristus. Dengan penebusan Kristus, manusia diangkat menjadi anak-anak Allah (Gal 3:26) .&lt;br /&gt;Martabat manusia itu bersifat intrinsik. Ia hadir bersama existensinya, dan tidak berhubungan sama sekali dengan karya atau prestasi seseorang. Manusia bermartabat karena ia manusia. Karena martabatnya yang sama, manusia tidak pernah boleh ‘digunakan’ sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan . Sebaliknya, tiap orang wajib berbuat baik kepada orang lain; berusaha mempromosikan kesejahteraan; menaruh hormat pada hak-hak manusia; menghindari pencederaan, dan ‘berusaha sejauh mungkin mewujudkan tujuan sesama’. Manusia adalah pelaku rasional, yaitu pelaku-pelaku bebas yang mampu mengambil keputusan untuk mereka sendiri, menempatkan tujuan-tujuan mereka sendiri, dan menuntun perilaku mereka dengan akal budi (Bdk. LE.6).&lt;br /&gt;Martabat manusia erat hubungannya dengan hak asasi manusia. Menjunjung tinggi martabat manusia berarti menghormati hak asasi manusia. Begitupun sebaliknya, pelanggaran terhadap hak asasi manusia akan melukai martabat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja Dipanggil untuk Terlibat Memulihkan Keutuhan Martabat Manusia&lt;br /&gt;Terhadap praktek ketidakadilan Gereja tidak tinggal diam. Gereja dipanggil untuk terlibat memulihkan keutuhan martabat manusia (SRS 29, 39, 41, 43, 45; CA 34). Alasannya adalah:&lt;br /&gt;1. Alasan Kristologis: Yesus (historis) juga memperjuangkan kebebasan yang menyeluruh dan kepenuhan harapan bagi keselamatan manusia . Yesus berjuang untuk mewartakan keselamatan kepada mereka yang miskin dan tertindas (Mat 9:36; 14:14; 20:34; Mrk 1:41; 6:34; 8:2; Luk 4:18-19; 7:13). Gereja diajak untuk melanjutkan misi Yesus dalam memperjuangkan kebebasan dan kepenuhan harapan bagi keselamatan manusia (AG 1 § 1-2, 5, 8).&lt;br /&gt;2. Alasan Eklesiologis: Panggilan itu muncul dari refleksi Gereja atas dirinya sendiri sebagai sakramen keselamatan (LG 9, 48; GS 45). Gereja adalah tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia (LG 1). Sejak semula, Allah berencana untuk menyelamatkan semua manusia (LG 2). Gereja menjadi wujud nyata tanggapan manusia atas karya keselamatan Allah itu (LG 13). Gereja tidak menikmati keselamatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi berbagi dan mengusahakan keselamatan itu bagi semua orang di dunia ini (LG 17).&lt;br /&gt;Realitas ketidakadilan tidak hanya dialami oleh kelompok agama, suku, dan ras tertentu tetapi mencakup semua kelompok. Usaha pemulihan harus melibatkan berbagai pihak. Untuk itu Gereja diajak untuk berdialog dan bekerjasama dengan mereka yang berkehendak baik (GS 31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi Pastoral&lt;br /&gt;Terhadap ketidakadilan yang kami jumpai dalam PT Air Mancur, kami mengusulkan strategi pastoral untuk menyadarkan dan menguasakan para buruh, yaitu pembentukan komunitas basis. Konkretnya para buruh dibagi dalam kelompok-kelompok kecil 8-10 orang. Pintu masuk kegiatan ini dengan menggunakan waktu arisan yang dilakukan sebulan sekali. Pertemuan tersebut diusahakan secara bertahap memberi kesadaran kepada para buruh bahwa mereka berada pada situasi ketidakadilan. Untuk itu diperlukan program kunjungan terhadap para buruh, sapaan personal, “ruang” untuk mengungkapkan diri, dan dialog untuk melihat realitas ketidakadilan dan menumbuhkan kehendak untuk keluar dari realitas itu. Melalui komunitas basis, mereka mempunyai “kuasa” untuk menyuarakan kepentingan mereka tanpa melalui jalan kekerasan, kebencian, usaha revolusioner yang menciptakan rezim baru yang lebih tidak adil, dan penghancuran kelompok yang lain.&lt;br /&gt;Selain itu, beberapa pihak yang perlu diajak bekerjasama yaitu pengusaha, masyarakat umum, dan pemerintah. Berbagai jalan bisa ditempuh misalnya sarasehan, public control terhadap kebijakan, seruan-seruan melalui media massa, pembentukan divisi atau lembaga yang memperhatikan kehidupan buruh.&lt;br /&gt;Perlu diusahakan juga pembentukan jaringan (serikat) yang lebih luas antar-buruh di berbagai perusahaan sekitar kota Wonogiri-Solo. Jaringan ini bertujuan demi terciptanya kesatuan yang kuat di kalangan kaum buruh dan mengkuasakan. Kerja sama dengan pengusaha perlu ditingkatkan untuk memperjuangkan keadilan dan keseimbangan yang benar, walaupun perbedaan kepentingan akan terjadi dan golongan yang berkuasa sulit membongkar struktur ketidakadilan yang menguntungkan mereka. Kerja sama dengan tokoh-tokoh umat beriman lain (mayoritas buruh di PT Air Mancur Unit Pelem Wonogiri adalah orang Muslim) juga harus diusahakan. Dengan demikian, harapannya semua kalangan yang peduli dan berkehendak baik mendukung usaha kaum buruh menuju kehidupan yang lebih baik sebagai wujud keutuhan martabat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Dunia kerja buruh tidaklah baik-baik saja. Ada berbagai bentuk ketidakadilan yang sering tidak disadari dan terstruktur. Ketidakadilan itu merusak keutuhan martabat manusia. Terhadap praktik ketidakadilan itu, Gereja tidak berpangku tangan. Gereja sebagai bagian dari masyarakat terpanggil untuk terlibat dalam usaha memulihkan keutuhan martabat manusia. Melalui dialog dan kerjasama dengan berbagai pihak yang berkehendak baik Gereja mengusahakan tercapainya kesejahteraan bersama.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-6710255070142222146?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/6710255070142222146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/04/tesis-teologi-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/6710255070142222146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/6710255070142222146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2010/04/tesis-teologi-sosial.html' title='Tesis Teologi Sosial'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/S9O5Q2wKTxI/AAAAAAAAAEQ/J7RCSmcpWuQ/s72-c/5603474-lg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-938286238236588701</id><published>2009-04-16T17:15:00.000-07:00</published><updated>2009-04-16T17:21:13.678-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>bonum commune</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Bercermin dari para tokoh katolik dalam&lt;br /&gt;memaknai kembali esensi politik&lt;br /&gt;bonum commune&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SefK4-W9ryI/AAAAAAAAAEA/7oXkknlqC8Q/s1600-h/9a146137c1a0d3da.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325448164549701410" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 70px; CURSOR: hand; HEIGHT: 130px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SefK4-W9ryI/AAAAAAAAAEA/7oXkknlqC8Q/s400/9a146137c1a0d3da.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Manusia adalah zoon politicon kata seorang filsuf Yunani Kuno, Aristoteles. Kata itu mendefinisikan bahwa manusia adalah makhluk yang berpolitik. Ada juga yang mengartikan bahwa manusia tak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Dari ungkapan itu ada kata yang pantas kita cermati bersama, yakni “Politik”. Kata politik mengandung makna sangat luas. Bayangkan peristiwa akhir-akhir ini, bendera-bendera partai terpajang di pinggiran jalan, beramai-ramai orang berkampanye mengumbar janji dan program kerja atas nama bangsa dan negara. Mereka sedang berpolitik. Kata Politik menyiratkan beragam dinamika. Politik bisa menjadi sesuatu yang sangat kejam tapi kita perlukan karena kita tidak bisa hidup tanpa berpolitik dengan orang lain. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Makna politik secara leksikal dipahami sebagai suatu kegiatan dalam negara untuk mengurus kesejahteraan warga negara. Kesejahteraan warga negara itu tampak dalam perwujudan hak-hak seseorang sebagai warga negara. Namun apakah prakteknya demikian? Tujuan etis dari kegiatan politik adalah untuk dehumanisasi (menghumanisasikan hidup). Artinya dengan berkegiatan politik manusia semakin berkembang untuk mewujudkan hak-hak dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai warga negara&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;. Pemaknaan prinsip dan tujuan politik itu sebenarnya selalu murni. Namun terkadang muncul persepsi lain bahwa politik itu kotor. Apakah benar demikian? Kita tentu tidak bisa menghakimi bahwa politik itu kotor. Tidak ada politik yang kotor. Kita harus membedakan antara politik dalam artian hakiki dengan politikus yang sering menyalahgunakan kekuasaan politisnya. Tujuan politik adalah bonum commune, artinya kesejahteraan bersama (umum). Panggilan sejati seorang politikus adalah menjadi pelayan dalam mengusahakan kesejahteraan umum. Kesejahteraan umum harus menjadi cita-cita yang senantiasa dikejar dan diusahakan. Kesejahteraan umum makin mungkin diwujudkan bila keadilan, kemakmuran dan kedamaian terus menerus direalisasikan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Gereja berpandangan sama tentang citra politik itu. Politik dalam arti sesungguhnya tidaklah kotor melainkan pelaksana politik itu sendiri yang cenderung kotor. Untuk itu dibutuhkan suatu spiritualitas yang menghidupi saat berkecimpung dalam dunia politik. Spiritualitas yang ditimba dari Yesus dalam mengembangkan bonum commune. Politik harus berpihak kepada manusia. Kesejahteraan umum tidak berarti mengorbankan kepentingan individu. Politik adalah sarana untuk mengangkat (humanisasi) hidup manusia. Inilah politik yang benar yakni membebaskan dan memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan, kekerasan politik, manipulasi, ketidakadilan, kebodohan dan kemiskinan dalam kehidupan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Umat Katolik Berpolitik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita tengok para tokoh Katolik pada dekade sebelum 1990-an yang sangat disegani oleh komunitas non -Katolik karena kejujuran dan integritasnya yang tinggi. Para politisi Katolik &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SefLNNMKDeI/AAAAAAAAAEI/d6_O-6me1K8/s1600-h/b1d1e8071b4a4b4a.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325448512128290274" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 126px; CURSOR: hand; HEIGHT: 145px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SefLNNMKDeI/AAAAAAAAAEI/d6_O-6me1K8/s400/b1d1e8071b4a4b4a.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;yang kini mulai menggeliat untuk tampil di percaturan politik menjelang pemilu 2009 perlu sejenak bercermin pada tokoh-tokoh yang memiliki integritas yang tinggi yang tentu saja mereka ini meneladani Yesus Kristus. Ia adalah I.J. Kasimo Hendrowahyono (1900-1986)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;. I.J. Kasimo seorang Katolik sekaligus politikus tidak pernah melepaskan dari pikiran dan hatinya filosofi bonum commune dan secara tegas menjauhi praktik homo homini lupus (manusia adalah srigala bagi sesamanya). Ini semua terbentuk karena bimbingan hati nurani dan akal sehatnya sebagai seorang politisi Katolik. Ia meneladani Yesus Kristus yang berjuang juga untuk bonum commune. Satu motto yang Kasimo pegang dalam perjuangannya adalah “Salus Populi Suprema Lex”, keselamatan Bangsa merupakan hukum Tertinggi. Artinya kesejahteraan umum ia pahami dan hayati di atas segala-galanya dalam hidup bermasyarakat. I.J. Kasimo sebagai warga negara Indonesia sekaligus umat Katolik bisa dikatakan tahu letak dan peranannya. Agama bagi dirinya memberi visi hidup, inspirasi, orientasi dan motivasi hidup pribadi dan hidup bermasyarakat bersama&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;. Kasimo tampil sebagai politikus yang berkepribadian dalam politik. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Figure pahlawan Negara dan Gereja Mgr. Soegijopranoto, SJ adalah pribadi istimewa yang pantas kita teladani pula. Ia mengungkapkan pro ecclesia et patria menjadi per Ecclesiam pro patria: menjadi Gereja untuk Negara. Jadilah umat Katolik yang sejati, raihlah masa depanmu sesuai dengan nilai-nilai Injili dan ajaran Gereja untuk mengabdi Gereja dan Negara&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;. Sebagai seorang Katolik, ia memberikan dirinya secara total demi perluasan kasih di muka bumi. Ia amat bijaksana dalam menempatkan diri sebagai warga negara Indonesia sekaligus umat Katolik, seratus persen warga negara dan seratus persen katolik. Tidak ketinggalan tokoh Fransiskus Xaverius Frans Seda. Ia banyak berkecimpung dalam dunia politik dalam rentang waktu yang panjang. Ia pernah berkarya sebagai menteri empat departemen dan dipandang sebagai tokoh awam sejati. Ia dikelompokkan dalam segelintir pemikir bersama kaum Klerus yang turut berkiprah dalam membangun negara dan gereja&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mereka adalah tokoh-tokoh Katolik yang berani dengan lantang memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan diri sebagai warga maupun umat beragama. Mereka merasa peduli untuk membangun bangsa. Mereka terusik untuk meneriakkan kesejahteraan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sense of History, Sense of sacrifice, dan sense of priorities&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kita bercermin dari para tokoh yang berani berjuang dalam dunia politik, yang mengemban kesejahteraan bersama sebagai prioritas utama. Keterlibatan mereka dalam politik menjadi suatu sikap yang pantas kita renungkan. Keterlibatan mereka memberi warna positif, kehadiran mereka memberi perubahan yang baik bagi jalannya suatu pemerintahan. Lantas bagaimana kita bisa ambil bagian seperti mereka? Kita sadar bahwa kita adalah mahluk yang berpolitik. Mau tidak mau kita senantiasa bersentuhan dengan kehidupan politik. Lantas apa yang bisa kita buat? Kita dapat bercermin dan bertanya kepada hati nurani kita bahwa politik sangat penting dijaga kemurniannya. Kesadaran ini mau menempatkan diri dalam suatu kesadaran sejarah hidup yang penting untuk diperjuangkan. Pernah ada yang mengatakan bahwa seorang yang memiliki kesadaran politik, harus pula memiliki kesadaran sejarah (sense of history). Suatu kesadaran bahwa hari kemarin menentukan hari ini dan hari ini menentukan hari esok dalam suatu proses yang kontinyu. Dan yang menentukan penentuan-penentuan tersebut adalah manusia yang memberi bentuk pada kegiatannya. Sebab itu manusia adalah pelaku sejarah. Baik buruknya suatu proses sejarah tergantung kita, pelaku sejarah, bijaksana atau tidak dalam memperjuangkannya. Kesadaran sejarah ini bisa kita temukan dalam diri I.J. Kasimo, Mgr. Soegijopranoto, SJ dll. Mereka sungguh peduli terhadap bangsa dan negara. Kepedulian mereka memberi nuansa positif bagi perkembangan bangsa.&lt;br /&gt;Perjuangan para tokoh dan kita semua umat beriman yang beritikad baik ini membentuk lembaran sejarah yang baru. Meski tidak selalu mudah untuk merealisasikannya sebab disana-sini terkadang peluh dan ari mata turut mewarnainya. Inilah kesadaran pengurbanan yang harus juga tumbuh. Kesadaran untuk terus berjuang dalam suatu pembentukan sejarah yang baik. Inilah kesadaran pengurbanan (sense of sacrifice). Dalam menemukan kesulitan itu, kita diajak menjadi bijaksana. Bahwa tujuan dan motivasi awal berpolitik adalah demi kesejahteraan bersama harus diprioritaskan (sense of priorities). Jika setiap orang yang bergerak dalam dunia politik tidak peduli terhadap kesejahteraan bersama. Niscaya politik menjadi lembaran hitam yang menyisakan luka bagi banyak jiwa. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kita semua adalah penentu sejarah itu. Keterlibatan dan kepedulian kita, sebagai warga dan umat beriman, sungguh dibutuhkan. Negara Indonesia membutuhkan kearifan berpolitik dari pengelolanya. Untuk itu nilai-nilai moral mesti dibangun di atas merebaknya perilaku politik demi kepentingan sesaat. Tujuan negara harus diutamakan di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Intinya setiap actor/pelaku, termasuk kita, politik harus mengembalikan esensi politik kepada maknanya yang agung. Caranya adalah berpolitik tanpa dusta. Jujurlah dalam bicara dan berbuat demi kesejahteraan bersama (bonum commune), sebagaimana Mgr. Soegijopranata, SJ tegaskan bahwa tugas membangun Gereja serta bangsa tidak pernah selesai. Kekatolikan dan keindonesiaan selalu ditempatkan dalam proses yang dinamis. Kita semua diajak untuk memperjuangkan kebesaran Gereja dan sekaligus untuk tidak kenal lelah mewujudkan kejayaan bangsa dan negara sebagai suatu panggilan suci yang mesti dihidupi&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari raya kabar sukacita,&lt;br /&gt;Rabu, 25 Maret 2009&lt;br /&gt;frtri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.balinter.net/Politik"&gt;http://www.balinter.net/Politik&lt;/a&gt; dan Godaan Kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; http://citizennews.suaramerdeka/Kegairahan Politik Katolik.com&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Pak Kasimo dan Kita, Mingguan Hidup, Ed. Ulang Tahun ke 80 Bapak I.J. Kasimo, Jakarta, 1980.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.mirifica.net/"&gt;http://www.mirifica.net/&lt;/a&gt;/D. Gusti Bagus Kusumawanta, P&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/frans-seda&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Ed, Mikhael Dua, Febiana R. Kainama, Kasdin Sihotang, “Politik Katolik Politik Kebaikan Bersama”, Obor: Jakarta, 23&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-938286238236588701?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/938286238236588701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/04/bonum-commune.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/938286238236588701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/938286238236588701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/04/bonum-commune.html' title='bonum commune'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SefK4-W9ryI/AAAAAAAAAEA/7oXkknlqC8Q/s72-c/9a146137c1a0d3da.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-3131082118385791349</id><published>2009-03-27T13:43:00.000-07:00</published><updated>2009-03-27T14:04:24.182-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Perseteruan Hati</title><content type='html'>Hati bertanya, "Apa gerangan yang terjadi?"&lt;br /&gt;Mengapa sayang itu tumbuh bersemi&lt;br /&gt;dalam perseteruan hati&lt;br /&gt;antara persahabatan, profesi, status, dan&lt;br /&gt;perasaan takut kehilangan&lt;br /&gt;Ijinkan kubertanya, "Apakah perasaanku keliru?"&lt;br /&gt;"Kamu terlalu sentimentil,&lt;br /&gt;kamu terlalu mudah menilai perasaanmu", itu katamu&lt;br /&gt;yang ingin mendamaikan perseteruan hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hehe aku tertawa,&lt;br /&gt;bingung akan apa yang terjadi&lt;br /&gt;akan perasaan yang bersemi&lt;br /&gt;akan waktu yang bergulir pergi&lt;br /&gt;bersamamu dalam mimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan benar,&lt;br /&gt;"rasa ini" tidak boleh tumbuh bersemi,&lt;br /&gt;sebab mungkin terjepit duri,&lt;br /&gt;atau berada pada bentangan batas tak bertepi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah rasa sayang tersimpan rapat dalam sebotol sunyi&lt;br /&gt;menyisakan denting dalam hati&lt;br /&gt;lalu sepi......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-3131082118385791349?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/3131082118385791349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/03/perseteruan-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/3131082118385791349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/3131082118385791349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/03/perseteruan-hati.html' title='Perseteruan Hati'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-500158166802782290</id><published>2009-03-27T13:38:00.000-07:00</published><updated>2009-03-27T13:42:43.760-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sebuah Perseteruan Hati</title><content type='html'>Ternyata...&lt;br /&gt;cinta tumbuh di dada,&lt;br /&gt;semakin dalam mencintai,&lt;br /&gt;semakin sakit rasa di hati&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-500158166802782290?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/500158166802782290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/03/sebuah-perseteruan-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/500158166802782290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/500158166802782290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/03/sebuah-perseteruan-hati.html' title='Sebuah Perseteruan Hati'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-7551363590815390275</id><published>2009-02-20T23:29:00.001-08:00</published><updated>2009-02-20T23:29:48.654-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Untuk Seorang Sahabat</title><content type='html'>&lt;em&gt;“Seorang sahabat adalah: seseorang yang datang sementara seluruh dunia meninggalkanmu, sesorang yang selalu melihat yang terbaik darimu dan melupakan yang buruk, seseorang yang tidak pernah terlalu sibuk untuk mendengarkan dan mengerti masalahmu seseorang yang akan mengundang engkau makan bersama tanpa harus menunggu hari uang tahunnya”.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat kapan terakhir kali kamu datang ke sini.&lt;br /&gt;Saat itu kamu membawakan kebahagiaan yang jarang kurasakan. Dan benar, kehadiranmu sahabat, amat kurindukan.&lt;br /&gt;Kesepian terus membayangiku&lt;br /&gt;Menghabiskan keceriaanku,&lt;br /&gt;Menguras kasih dan cintaku pada sebuah rindu.&lt;br /&gt;Lama ku menunggu,&lt;br /&gt;Lelah ku mencari tanpa batas waktu&lt;br /&gt;Cara paling mudah memuaskan kebutuhan itu&lt;br /&gt;adalah pergi dari rumah ini.&lt;br /&gt;Berkeliling kota, sedikit tebar pesona&lt;br /&gt;Sembari mengumbar mata yang beringas mencari keindahan  berharap seseorang kutemukan&lt;br /&gt;dan mau berbagi denganku, siapa pun.&lt;br /&gt;Sahabat adalah tempat yang paling indah untuk berbagi.&lt;br /&gt;Kamu adalah sahabatku, meski tak terlalu kerap bertemu,&lt;br /&gt;Tiga tahun kebersamaan kita telah kujaga&lt;br /&gt;Bahkan ku letakkan dalam ruang istimewa&lt;br /&gt;Dalam pigura istimewa&lt;br /&gt;Dari dedaunan seroja dan wewangian ala eropa&lt;br /&gt;Persahabatan tetap ku jaga.&lt;br /&gt;Tak terbuang dalam pikirku, tak pernah.&lt;br /&gt;Bersamamu adalah kegembiraanku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-7551363590815390275?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/7551363590815390275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/untuk-seorang-sahabat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/7551363590815390275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/7551363590815390275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/untuk-seorang-sahabat.html' title='Untuk Seorang Sahabat'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-1977944053250446151</id><published>2009-02-20T23:26:00.001-08:00</published><updated>2009-02-22T01:03:13.161-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>SenJa (BerDua) BerSaManYa</title><content type='html'>Siang itu, 07 Januari 2008, gerimis melanda kota. Langit begitu hitam menghadirkan mega-mega mendung yang surutkan teriknya matahari, yang semestinya bersinar terang hari ini. Tidak seperti biasanya, siang ini ada hati seorang pria yang mengalami kegelisahan. Gelisah atas hujan yang turun tanpa henti. Padahal tidak seperti hujan-hujan sebelumnya. Ia tidak pernah merasa peduli dengan hujan atau tidak. Selain itu, dalam hatinya berkecamuk sejumlah perasaan yang belum pernah ia rasakan pula. Yang jelas, satu sisi ia merasa gelisah dan cemas atas hujan ini namun sekaligus ia pun merasakan ada getar-getar kegembiraan yang tidak pernah ia rasakan dan temukan sebelumnya.&lt;br /&gt;Sesudah makan siang, gerimis masih saja melanda kota ini. Tanah-tanah basah. Dedaunan pun basah. Semua basah. Hawa dingin pun menusuk tulang membuat rasa malas untuk melakukan aktivitas apapun. Ia pun mengalami hal yang sama. Ia langsung menuju kamar, tempat istimewa, tempat yang paling ia suka. Tak lama kemudian komputer dinyalakan &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-s_GRkvMI/AAAAAAAAACY/S0GJt9WCiJQ/s1600-h/5859883-md.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305149086081793218" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 213px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-s_GRkvMI/AAAAAAAAACY/S0GJt9WCiJQ/s320/5859883-md.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;dan diputarnya tembang-tembang cinta, seolah mau mengungkapkan perasaannya. Memang, banyak orang bilang, kalau lagu-lagu mampu mewakili perasaan seseorang. Entah bahagia maupun sedih. Pokoknya, lagu-lagu itu mampu merangkumkan perasaan seseorang yang tidak terungkapkan dengan kalimat-kalimat lugas lainnya. Mungkin inilah yang tengah dialami oleh pria itu. Ia mengalami hal yang sama sebagaimana kebanyakan orang alami, yakni ada sejumlah perasaan yang tak mampu terungkapkan dan cukup terwakili dengan sekedar kata-kata gembira, atau senang dan lain sebagainya. Ah, mungkinkah pria itu sedang jatuh cinta?.&lt;br /&gt;Tak lama kemudia handphonenya bergetar. Ada pesan masuk. Tertulis dalam pesan itu sebuah nama yang amat ia kenal. Tak menunggu lama, ia langsung mengambil handphone itu dan membacanya perlahan.&lt;br /&gt;“udan-ne jadi ga?”&lt;br /&gt;Tanpa maksud menjawab secara langsung, ia menuliskan begini :&lt;br /&gt;“ Engga pa2. Hjan’a ga bsar koq. Smoga ntar dah reda. U dah bawa helm to?. Oh ya Tp, mnurtmu sndr bgaimn?” tanpa pikir panjang dan banyak pertimbangan ia langsung &lt;em&gt;sending&lt;/em&gt; saja pesan itu.&lt;br /&gt;“Ya Bawalah, ya kalo Nindya cih ga mslh santai getoloh, tapi ntar plge Nindya anter ke t4 krj q lag ya cz jam 08.30 ad tmn mau ket4 krj ok”&lt;br /&gt;“Yap”. Akhirnya jadi juga kami bertemu senja nanti. Meskipun hari masih dilanda gerimis dan langit tampak tidak begitu ceria. Tapi hatinya sendiri tak menampakkan hal itu. Ia tampak bahagia. Dan telah mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Sepeda motor di tangan. Uang dikantong. Dan segenggam keberanian telah menggumpal menjadi sebentuk hasrat yang mesti ditumpahkan. Inilah sebuah peristiwa yang telah lama ia nanti. &lt;em&gt;Dinner &lt;/em&gt;bersama seorang gadis yang sangat ia sayang, berdua. Sebagaimana ia kerap membayangkannya setiap malam. Ini adalah hari kebahagiaan baginya. Yang mungkin tak akan bisa ia lupakan.&lt;br /&gt;Siang ini, ia menghabiskan waktu bersama lagu-lagu cinta. Ia mencoba membangun suasana yang romantis dalam dirinya. Maklum ia sendiri cukup gugup apabila bicara soal cinta. Ia ingin menghadapi senja ini berdua seperti dalam sinetron-sinetron yang pernah ia lihat atau kisah percintaan ala korea yang tak jarang membuatnya “mupeng”. Ia tidak tidur siang. Ini beda dari biasanya. Maklum, kalau soal tidur ia jagonya, sampai tak tau waktu. Bisa-bisa ia &lt;em&gt;kebablasan&lt;/em&gt; sampai malam dan tak jadilah kencannya senja ini. Ia telah mengambil keputusan itu dengan tepat. Tanpa berpikir-pikir lagi , ia habiskan waktu dalam kesendirian sampai waktu yang ia nantikan mendekati dirinya.&lt;br /&gt;Angannya telah merangkak jauh, sejauh terik yang berganti senja. Lama tetapi pasti. Berbagai macam cerita telah ia persiapkan. Berbagai bahan obrolan telah ia rancang. Ia beranggapan bahwa jangan sampai dalam perjalanan bersama dengannya berlalu dengan sia-sia. Jangan sampai sedetikpun berlalu tanpa menyisakan kenangan. Ia telah merencanakan semuanya dengan mantap. Ya…mungkin inilah gejolak kawula muda yang dilanda cinta dan akan berkencan bersama seorang gadis yang sangat ia sayang dan cinta.&lt;br /&gt;Berulang kali tangannya mengambil handphone yang tersanding di depannya. Apa yang ia lihat. Oh, ternyata masih satu jam lagi. Demikian ia lakukan berulang kali. Tak sabar rasanya menunggu sampai jam 16.30. dan matanya pun berulang kali mengamat-amati weker yang ada di depannya, tepat di bawah komputer miilknya. Seakan ingin memastikan kembali, apakah waktu yang ditunjukan dalam handphone benar adanya.&lt;br /&gt;“Huuuh…” sesekali ia menghela nafas panjang. Setelah mengetahui bahwa waktu yang ia tunggu masih begitu lama. Ia jadi tahu bagaimana rasanya menunggu. Mungkin benar kata orang, menunggu adalah saat-saat yang membosankan.&lt;br /&gt;“Nanti lwt per4an bangjo kekanan trs nnt ad per3an ambil kanan lagi trs ad per4an kecil ambil kanan dikit tar dikiri jln ad ruko planet square yg ad pohn palm’a”. sebuah pesan kembali masuk.&lt;br /&gt;“Ok…ntar aq sms u. U aktifkan trs hp u ya”. Sebagai balasan dengan harapan ia akan dapat menemukan tempatnya dengan segera. Maklum ini adalah kali pertama ia menuju tempat Nindya bekerja. Semenjak ia tahu bahwa Nindya bekerja di situ. Tak pernah sekalipun ia menyempatkan waktu mengunjunginya. Senja ini adalah kesempatan terbaik baginya untuk bertandang menemuinya.&lt;br /&gt;Benar juga sebagaimana ia harapkan. Gerimis perlahan mereda meski masih menyisakan mendung pada langit-langitnya. Dedaunan mulai mengering, tinggal sisa tetesnya saja yang berguliran menuju tanah. Tanah-tanah basah dan penuh genangan air perlahan-lahan pun mengering. Airnya menyusut dan menyisakan bopeng, seperti tato emping alias panu yang menempel pada kulit manusia, pada bekas genangan. Haha…...lucu juga membayangkan genangan itu seperti tato emping. Hujan telah reda. Hatinya kian bahagia-berbunga-bunga. Semangatnya berbinar dan tak kalah degup jantungnya pun berlarian mengucurkan peluh kecemasan &lt;em&gt;(alias grogi).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Waktu telah menunjukan pukul 16.30 WIB. Disambanya handuk yang &lt;em&gt;nangkring&lt;/em&gt; di gantungan dekat pintu masuk kamarnya beserta alat mandinya. Bergegas menuju kamar mandi. Ia tidak ingin kalau Nindya menunggu terlalu lama. Maka, tidak beberapa lama kemudian, ia telah keluar dari kamar mandi dan sedikit berlari menuju kamar untuk berganti pakaian. Waktu masih cukup baginya untuk berdandan mempersiapkan segala supaya terlihat pantas dipandang. Sekedar parfum ia semprotkan ke tubuhnya.&lt;br /&gt;"emm....wangi....." gumamnya dalam hati.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, berangkatlah ia dengan semangat dengan motor pinjaman bahkan tanpa surat-surat yang lengkap. Ya, terang saja, STNK motor itu sedang diperpanjang. Dengan modal nekat, ia memberanikan diri untuk tetap berangkat dengan motor tanpa surat-surat itu. Dengan harapan akan berjalan aman-aman saja. Kendati sebelumnya, ia pun telah meminjam kepada salah seorang temannya yang lain. Tapi, ia tak menghiraukannya lagi. Ia telah memutuskan untuk menanggung segala resiko yang akan ia hadapi.&lt;br /&gt;“Ketilang yo wis” begitu gumamnya dalam hati saat dalam perjalanan menuju tempat Nindya.&lt;br /&gt;Keberangkatannya berjalan lancer. Kendati sempat kesasar juga. Namun dengan segera ia menemukan tempat yang mereka sepakati.&lt;br /&gt;“Nindya aq dah di dpn planet square. U dimn?” Ia menuliskan pesan itu untuk Nindya. Dan tak berapa lama kemudian, seorang perempuan keluar dari sebuah coffee caffe. Senyum terpancar dari wajahnya yang manis, sembari melambaikan tangan mulusnya. Ia pun tersenyum, malu. Jantungnya berdetak semakin keras.&lt;br /&gt;“Gila..semakin cantik saja dia. Rambutnya ia ikat rapi. Tak lupa tas hitam yang ia suka melekat ditubuhnya”. Gumamnya dalam hati sembari mendekati Nindya.&lt;br /&gt;“hai….koq cepet banget tahu tempat ini, ter”&lt;br /&gt;“ya iyalah. Aq gituloh. Aku kan sering main, dolan-dolan”&lt;br /&gt;“Nindy….mau kemana niech..?” Ia sedikit bingung untuk mengawali pembicaraan ini. Ternyata engga mudah saat bertemu langsung dengan orangnya. Berbagai macam rencana yang telah ia persiapkan berlalu begitu saja. Untuk itu, ungkapan-ungkapan spontan lebih kerap muncul. Dan ini benar-benar mengagumkan, bahwa akhirnya mereka bisa berbincang bersama dengan asyiknya.&lt;br /&gt;Ia dan Nindya pergi berdua. Mereka pergi menuju tempat yang sangat istimewa. Hanya berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja, 10 Januari 2008&lt;br /&gt;atas sebuah kisah yang pernah terjadi pada 07 Januari 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-1977944053250446151?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/1977944053250446151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/senja-berdua-bersamanya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/1977944053250446151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/1977944053250446151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/senja-berdua-bersamanya.html' title='SenJa (BerDua) BerSaManYa'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-s_GRkvMI/AAAAAAAAACY/S0GJt9WCiJQ/s72-c/5859883-md.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-8120812684558929521</id><published>2009-02-20T23:25:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T23:26:07.891-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sekedar luka hati</title><content type='html'>Tuhan,&lt;br /&gt;Aku terlalu payah untuk melayaniMu,&lt;br /&gt;Litani keluhan malah kerap terlontar dari mulutku,&lt;br /&gt;bahkan menghiasi benak terdalamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak begitu gampang memaafkan orang lain&lt;br /&gt;Aku lebih gampang mencela, mencaci atau  mengkoreksi,&lt;br /&gt;Tapi terkadang tidak pernah terlontar,&lt;br /&gt;Sebatas emosi di dada&lt;br /&gt;Yang …..tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Aku terlalu payah untuk melayaniMu,&lt;br /&gt;Ternyata aku sibuk dengan diriku sendiri,&lt;br /&gt;Apakah demikian?&lt;br /&gt;Kadang aku malah melawan, berontak…&lt;br /&gt;Ah, tidak. Aku sudah cukup mau berbagi dengan orang lain&lt;br /&gt;Bahkan aku mengorbankan kepentinganku sendiri untuk mereka,&lt;br /&gt;Aku mengorbankan waktu untuk berjalan dari pintu ke pintu&lt;br /&gt;Aku mengetok dari hati ke hati&lt;br /&gt;Dan berjumpa dengan wajah-wajah kemalasan&lt;br /&gt;Ah, Tuhan&lt;br /&gt;Aku terlalu payah  untuk melayaniMu,&lt;br /&gt;Mungkin karena aku belum mengenal Mu&lt;br /&gt;Mungkin aku terlalu menutup diri dariMu&lt;br /&gt;Tapi, mau bagaimana lagi,&lt;br /&gt;Terkadang pengalaman berbicara, bahwa  Engkau&lt;br /&gt;Tidak b egitu akrab dengan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Mengapa kita tidak bisa akrab.&lt;br /&gt;Kita kerap kali bertengkar,&lt;br /&gt;Kita kerap kali berbeda pendapat,&lt;br /&gt;Aku ingin ini, sementara kamu ingin itu&lt;br /&gt;Akibatnya, aku menjadi kurang suka denganMu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-8120812684558929521?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/8120812684558929521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/sekedar-luka-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/8120812684558929521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/8120812684558929521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/sekedar-luka-hati.html' title='Sekedar luka hati'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-2754567436056223014</id><published>2009-02-20T23:24:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T23:25:00.699-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Saat Ku SenDirI</title><content type='html'>KeCemAsan keRap MembAyanGi&lt;br /&gt;TErMasuK MalaM ini&lt;br /&gt;Lagi-laGi….&lt;br /&gt;sAat ku seNdiRi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KenTungAn, 25 SepTember 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-2754567436056223014?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/2754567436056223014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/saat-ku-sendiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/2754567436056223014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/2754567436056223014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/saat-ku-sendiri.html' title='Saat Ku SenDirI'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-4106090047717033824</id><published>2009-02-20T23:22:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T23:24:11.752-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Mimpi</title><content type='html'>Tepat hari Rabu saat fajar telah merekah&lt;br /&gt;Tepat tanggal 05 Maret 2008&lt;br /&gt;Dia bermimpi...&lt;br /&gt;Aku pergi dari seminari....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentungan, 06 Maret 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-4106090047717033824?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/4106090047717033824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/mimpi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/4106090047717033824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/4106090047717033824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/mimpi.html' title='Mimpi'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-4896714451500286381</id><published>2009-02-20T23:21:00.001-08:00</published><updated>2009-02-20T23:21:34.219-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Ketakutan manusia</title><content type='html'>Tebal debu ini mengotori lembar demi lembar&lt;br /&gt;Menyuramkan keindahan dan lekak-lekuknya, unik sekali&lt;br /&gt;Hati-hati&lt;br /&gt;Jangan sentuh&lt;br /&gt;Jangan ditiup&lt;br /&gt;Ia terbang&lt;br /&gt;Ia bisa membuatmu buta&lt;br /&gt;Ia bisa membuatmu menangis&lt;br /&gt;Dan bahkan batuk berdahak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebal debu ini mengotori lembar demi lembar&lt;br /&gt;Perjalanan dulu hingga kini&lt;br /&gt;Telah lama&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-4896714451500286381?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/4896714451500286381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/ketakutan-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/4896714451500286381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/4896714451500286381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/ketakutan-manusia.html' title='Ketakutan manusia'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-5973587596352364962</id><published>2009-02-20T23:20:00.001-08:00</published><updated>2009-02-20T23:20:26.368-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sebuah perhelatan malam</title><content type='html'>Terhenyak bangun dari tidurku,&lt;br /&gt;yang diselingi tanya di hati&lt;br /&gt;Dalam gelap malam dirimu hadir&lt;br /&gt;Menangis sendu sedan  bimbangkan seluruh malam&lt;br /&gt;Kita berdua ada pada satu poros&lt;br /&gt;Berjubel-jubel mata mengawasi&lt;br /&gt;Tingkah manjamu yang menggoyang-goyangkan tubuh tegasku&lt;br /&gt;Aneh…&lt;br /&gt;Berjubel-jubel mata itu,&lt;br /&gt;tidak mau pergi mengawasi&lt;br /&gt;tidak mau berhenti menilai&lt;br /&gt;Mata keheranan, penuh waspada&lt;br /&gt;Serta aba-aba mendesak terus kebebasanku&lt;br /&gt;Ah, mengapa mereka mengawasi kita???&lt;br /&gt;Mata-mata berselimutkan serba putih&lt;br /&gt;Berawal ujung rambut sampai kaki&lt;br /&gt;Serba putih dan putih&lt;br /&gt;Dalam gelap malam ketika bersama denganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentungan, April 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-5973587596352364962?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/5973587596352364962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/sebuah-perhelatan-malam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/5973587596352364962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/5973587596352364962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/sebuah-perhelatan-malam.html' title='Sebuah perhelatan malam'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-8289319338272785966</id><published>2009-02-20T23:18:00.001-08:00</published><updated>2009-02-20T23:18:59.628-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Mengapa kamu menangis ?</title><content type='html'>Semalam kamu hadir&lt;br /&gt;Saat kusendiri&lt;br /&gt;Di kesunyian&lt;br /&gt;Airmata membasahi pundakku&lt;br /&gt;Tangan halusmu mencengkeram tubuhku&lt;br /&gt;Sesak napasmu risaukan hatiku&lt;br /&gt;“Mengapa kamu menangis”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kentungan, April 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-8289319338272785966?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/8289319338272785966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/mengapa-kamu-menangis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/8289319338272785966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/8289319338272785966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/mengapa-kamu-menangis.html' title='Mengapa kamu menangis ?'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-1934344635091797693</id><published>2009-02-20T23:17:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T23:18:09.965-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sendumu</title><content type='html'>Datang tiba-tiba,&lt;br /&gt;dalam kebimbangan.&lt;br /&gt;Lalu isak tangis bersambung tanya,&lt;br /&gt;yang dengan keras kamu luapkan,&lt;br /&gt;yang dengan deras kamu alirkan.&lt;br /&gt;Pada tubuhku kaku,&lt;br /&gt;yang terbingkai erat tubuhmu.&lt;br /&gt;Aku menyentuh tubuhmu,&lt;br /&gt;laluku seka genangan pada lekak-lekukmu&lt;br /&gt;Sembari berkata “Sudahi saja sendumu”&lt;br /&gt;Sungguh airmatamu membuatku&lt;br /&gt;Ngilu rindu hadirmu&lt;br /&gt;Ketika fajar baru belingsatan mencari jalannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentungan, April 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-1934344635091797693?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/1934344635091797693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/sendumu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/1934344635091797693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/1934344635091797693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/sendumu.html' title='Sendumu'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-499250864218146907</id><published>2009-02-20T23:16:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T23:17:25.832-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Marilah Kita Mencoba</title><content type='html'>Perhelatan anak manusia baru mulai,&lt;br /&gt;kegelisahan sesekali menyelimuti diri&lt;br /&gt;setelah lama berlari&lt;br /&gt;bermimpi menggapai keberhasilan yang selama ini pergi.&lt;br /&gt;Fisik bukanlah apa-apa,&lt;br /&gt;Aku masih bisa berlari jika hatiku bersemi&lt;br /&gt;Aku akan memenuhi segala janji jika  kau tak enggan menerima cinta&lt;br /&gt;Teman, perjuangan kita belumlah usai&lt;br /&gt;akan aku perkenalkan kau pada dunia&lt;br /&gt;dan setidaknya kau mau mencoba.&lt;br /&gt;Jangan katakan nanti,&lt;br /&gt;jangan katakan tidak mau.&lt;br /&gt;Tapi cobalah untuk mengerti&lt;br /&gt;Hargailah usaha yang telah dibangun,&lt;br /&gt;supaya kita saling mengerti,&lt;br /&gt;supaya kita bisa saling melengkapi.&lt;br /&gt;Teman,&lt;br /&gt;Jangan sekali-kali menyisakan kesempatan baik bagi kita&lt;br /&gt;Jangan pernah mengulang kegagalan yang sama&lt;br /&gt;aku ingin kita semua berkembang&lt;br /&gt;Aku ingin kau dan aku maju bersama&lt;br /&gt;Jangan katakan tidak,&lt;br /&gt;marilah kita coba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentungan, 12 April 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-499250864218146907?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/499250864218146907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/marilah-kita-mencoba.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/499250864218146907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/499250864218146907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/marilah-kita-mencoba.html' title='Marilah Kita Mencoba'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-5023455207168526935</id><published>2009-02-20T23:15:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T23:16:13.101-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Akan Kubangun Menara Itu</title><content type='html'>Mungkin usia mengantar diri pada kedewasaan&lt;br /&gt;Yang merubah pandanganku pada kehidupan.&lt;br /&gt;Mungkin kegelisahan juga sedikit mendongkrak semangat&lt;br /&gt;supaya kegagalan tertepis&lt;br /&gt; sejauh langkah kaki melangkah.&lt;br /&gt;Kemalasan yang selama ini ada tengah beralih.&lt;br /&gt;Memang, semangat kerja inilah yang kubangun&lt;br /&gt;Untuk membangun menara impian.&lt;br /&gt;Biar  kutunjukan,&lt;br /&gt;Tak selamanya roda kesengsaraan melanda,&lt;br /&gt;akan kubangun menara ini untukmu,&lt;br /&gt;akan kutunjukan pada dunia impian sesungguhnya.&lt;br /&gt;Tanpa kamu menara-pun dapat kubangun&lt;br /&gt;Tak lagi bergantung padamu,&lt;br /&gt;karena dirimu telah andil pula merobohkan menara impian,&lt;br /&gt;ketika keputusan terucap sebagai kata terakhir darimu.&lt;br /&gt;                                                                                                                                                     Kentungan, 3 April 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-5023455207168526935?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/5023455207168526935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/akan-kubangun-menara-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/5023455207168526935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/5023455207168526935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/akan-kubangun-menara-itu.html' title='Akan Kubangun Menara Itu'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-2676649191902532594</id><published>2009-02-20T23:14:00.002-08:00</published><updated>2009-02-20T23:15:18.735-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Indahnya Persahabatan</title><content type='html'>Dua hari menjelang keberangkatanku menuju Jogja&lt;br /&gt;Penuh dengan tawa.&lt;br /&gt;Dua hari menjelang keberangkatanku menuju Jogja&lt;br /&gt;Penuh dengan kebahagiaan.&lt;br /&gt;Dua hari menjelang keberangkatanku menuju Jogja&lt;br /&gt;Enggan untuk kulupakan&lt;br /&gt;Bahkan rasanya ingin selalu demikian.&lt;br /&gt;Hari pertama sebelum keberangkatanku menuju Jogja&lt;br /&gt;Telah terjadi janji antar manusia yang lama tak jumpa&lt;br /&gt;Mungkin telah bertahun-tahun bergulat dengan cinta dan cita&lt;br /&gt;Tapi kini bertemu dalam keberasamaan penuh cinta&lt;br /&gt;Hari pertama kuhabiskan waktu bersama mereka&lt;br /&gt;Semenjak matahari belum nangkring di atas kepala&lt;br /&gt;Sampai ia masuk dalam peraduannya yang amat ia suka&lt;br /&gt;Aku masih ada bersama mereka&lt;br /&gt;Hari pertama sebelum keberangkatanku menuju Jogja&lt;br /&gt;Enggan untuk kulepaskan.&lt;br /&gt;Hari kedua sebelum keberangkatanku menuju Jogja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purbalingga, 27 Oktober 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-2676649191902532594?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/2676649191902532594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/indahnya-persahabatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/2676649191902532594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/2676649191902532594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/indahnya-persahabatan.html' title='Indahnya Persahabatan'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-8482742363775987689</id><published>2009-02-20T23:14:00.001-08:00</published><updated>2009-02-20T23:14:33.406-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Pesan Kosong</title><content type='html'>Siang itu matahari bersinar terik.&lt;br /&gt;Padahal ia belum bertengger di atas kepala, tapi rasanya sudah  terbakar.&lt;br /&gt;Tubuhku penuh keringat, pakaianku basah, dan tenggorokan amat nafsu menelan serpihan-serpihan es batu yang perlahan mencair.&lt;br /&gt;Siang ini matahari bersinar terik.&lt;br /&gt;Seluruh hari-pun terasa kering kerontang, bagai dedaunan&lt;br /&gt;di sepanjang jalan kenangan kering, layu tanpa air.&lt;br /&gt;Siang ini matahari bersinar terik.&lt;br /&gt;Dan  aku beringasan mencari penghiburan.&lt;br /&gt;Entah apa yang akan ku lakukan,&lt;br /&gt;tapi ditanganku telah ada handphone merah muda, romantis, dan feminin.&lt;br /&gt;Memang, si empunya enggan mengganti casing.&lt;br /&gt;Ia lebih suka apa adanya.&lt;br /&gt;Ya sudah, akupun tak begitu malu menggunakannya.&lt;br /&gt;Tanganku mulai menari di atas tuts handphone merah muda, milik adikku.&lt;br /&gt;Tapi sebentar, ia berhenti saat selesai menekan 0 8  5 6...&lt;br /&gt;Jari-jarinya berhenti bergerak,&lt;br /&gt;Sebentar kemudian jari telunjuknya menekan tuts C.&lt;br /&gt;Layar kosong tanpa angka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentungan, November 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-8482742363775987689?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/8482742363775987689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/pesan-kosong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/8482742363775987689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/8482742363775987689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/pesan-kosong.html' title='Pesan Kosong'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-8972978447080454897</id><published>2009-02-20T23:13:00.001-08:00</published><updated>2009-02-20T23:13:26.698-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Janji</title><content type='html'>Tak usah berjanji&lt;br /&gt;Daripada berjanji tidak menepati&lt;br /&gt;Siapapun tak suka dusta&lt;br /&gt;Daripada dusta lebih baik luka&lt;br /&gt;Hindarkanlah lidah yang bersilat&lt;br /&gt;Karena akan mengantarkan diri kepada dosa&lt;br /&gt;Mulut siapa yang berdusta&lt;br /&gt;Tak bakal dipercaya&lt;br /&gt;Karena semua orang tak suka dusta&lt;br /&gt;Kendati mereka sendiri tak bisa hindari dusta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(inspirasi dari Pengkotbah)&lt;br /&gt;Kentungan, 16 April 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-8972978447080454897?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/8972978447080454897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/janji.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/8972978447080454897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/8972978447080454897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/janji.html' title='Janji'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-3211561759014979665</id><published>2009-02-20T23:10:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T23:11:59.544-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Pintaku Satu, Ijinkan aku.....</title><content type='html'>Ijinkan ku duduk di sini&lt;br /&gt;Dalam kegelapan senja&lt;br /&gt;Saat orang-orang tak lagi bercanda,&lt;br /&gt;Saat suara burung-burung tak lagi ramai terdengar,&lt;br /&gt;Saat bunga-bunga pun menutup diri&lt;br /&gt;Kembali meringkuk dalam pelukan malam&lt;br /&gt;Yang tak bersahabat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-3211561759014979665?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/3211561759014979665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/pintaku-satu-ijinkan-aku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/3211561759014979665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/3211561759014979665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/pintaku-satu-ijinkan-aku.html' title='Pintaku Satu, Ijinkan aku.....'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-3500025101910403186</id><published>2009-02-20T23:09:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T23:10:27.096-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Pesan Singkat</title><content type='html'>Hai teman,&lt;br /&gt;“Dia telah memiliki surga, tetapi ia memilih golgota&lt;br /&gt;Ia ingin berbagi cinta bagi kita’.&lt;br /&gt;Met paskah…..&lt;br /&gt;Semoga paskah membawa kebangkitan bagimu.&lt;br /&gt;Serangkai kata ku kirim kan lewat SMS&lt;br /&gt;Untukmu……..&lt;br /&gt;Sahabatku yang pernah kucinta&lt;br /&gt;Bahkan untuk selamanya, dirimu tak bisa ku lupa&lt;br /&gt;Entah mengapa…..??&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, handphone ku berbunyi…&lt;br /&gt;“Kristus udah menderita, mati, dan Ia udah bangkit.&lt;br /&gt;Semua adalah untuk kita. Semangatlah dalam hidup.&lt;br /&gt;Bangkitlah bersama Kristus yang Bangkit”. Met paskah ‘ter…&lt;br /&gt;Kubaca berulang kali&lt;br /&gt;Biar meresap dan tinggal dalam hati&lt;br /&gt;Ia menyemangatiku.&lt;br /&gt;Aku pun tersenyum sendiri&lt;br /&gt;Sementara jariku telah bergulir di atas tuts handphone&lt;br /&gt;Merangkai kata-kata balasan untukmu, sahabat yang pernah&lt;br /&gt;Tinggal dalam hatiku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentungan, 12 April 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-3500025101910403186?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/3500025101910403186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/pesan-singkat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/3500025101910403186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/3500025101910403186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/pesan-singkat.html' title='Pesan Singkat'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-110566156002884182</id><published>2009-02-20T23:08:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T23:09:19.256-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sendiri</title><content type='html'>Tempat ini terlalu sunyi&lt;br /&gt;Aku tidak kerasan.&lt;br /&gt;Aku ingin pergi untuk sekedar&lt;br /&gt;mencari teman bicara.&lt;br /&gt;Dan malam ini tak bisa kuhindari&lt;br /&gt;Hingga keterpaksaanlah yang mendiamkanku di sini&lt;br /&gt;dalam sepi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentungan, 12 April 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-110566156002884182?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/110566156002884182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/sendiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/110566156002884182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/110566156002884182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/sendiri.html' title='Sendiri'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-628704335863725802</id><published>2009-02-20T23:07:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T23:08:01.313-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Ingatkah Kamu</title><content type='html'>Ingatkah kamu……&lt;br /&gt;kapan terakhir kalinya aku berbincang denganmu&lt;br /&gt;saat malam beranjak larut,&lt;br /&gt;Binatang riuh bernyanyi&lt;br /&gt;Dingin malam enggan berkompromi&lt;br /&gt;Dan kesepian perlahan pergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentungan, 12 April 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-628704335863725802?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/628704335863725802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/ingatkah-kamu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/628704335863725802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/628704335863725802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/ingatkah-kamu.html' title='Ingatkah Kamu'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-6084526600333914414</id><published>2009-02-20T22:56:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T23:05:16.185-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Fajar Di Kaki Sindoro-Sumbing</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-m76lyF_I/AAAAAAAAACQ/M9Pe8u6c8iI/s1600-h/5859883-md.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305142434335954930" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 213px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-m76lyF_I/AAAAAAAAACQ/M9Pe8u6c8iI/s320/5859883-md.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;        Diluar sana begitu gelap. Matahari belum keluar dari peraduan, seakan enggan bersaing dengan kabut-kabut pegunungan pagi ini. Burung-burung enggan keluar dari sarangnya. Sekedar binatang malam, yang mbandel, masih terlihat nongkrong beberapa di pinggir jalan sembari melakukan peregangan, mengusir dingin yang menggigilkan tubuhnya.&lt;br /&gt;        Tak terlihat ramai, seperti hari-hari sebelumnya. Ada apa? Tampaknya, orang-orang di pegunungan ini masih asyik bercengkerama dalam kehangatan dan balutan tubuh yang bergelayut di atas kasur empuk. Menggiurkan.  Ah...gila.......!!.&lt;br /&gt;        Tetes embun bergulir membasahi bumi, dan kabut pagi terus selimuti kota kecil di kaki Sindoro-Sumbing. Aku masih menelungkup diri di bawah lindungan selimut tipis lorek-lorek hitam, malas.&lt;br /&gt;        Tak kubiarkan kesepian melandaku pagi ini. Kusambar diskman di sampingku dan kuputar lagu melo keras-keras. Kulanjutkan kembali tidurku, setengah sadar, sembari mendengarkan lagu dan mengikutinya dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Kutuliskan kesedihan semua tak bisa kau tinggalkan&lt;br /&gt;Bahkan kutakkan bicara dengar Hatiku&lt;br /&gt;Buang semua puisi antara kita berdua&lt;br /&gt;Kau butuh dia sesuatu yang kusebut itu cinta&lt;br /&gt;Yakinkan aku Tuhan, dia bukan milikku&lt;br /&gt;Biarkan waktu, waktu hapus aku&lt;br /&gt;Sadarkan aku Tuhan, dia bukan milikku&lt;br /&gt;Biarkan waktu, waktu hapus aku&lt;br /&gt;Ku tuliskan kesedihan&lt;br /&gt;semua tak bisa kau tunjukan&lt;br /&gt;bahkan ku takkan bicara dengar jiwaku&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;        Satu persatu lagu-lagu Nidji menemaniku pagi ini. Di luar sana, matahari sudah tak tahan lagi bersembunyi dari sarangnya. Satu persatu sinarnya menembus korden jendela kamarku seperti lampu sorot, saat pesta sekaten di Jogja. Bersilangan, dari kanan ke kiri dan sebaliknya. Terang sekali. Salah satu sinarnya berhasil menembus selimut tipis lorek-lorek hitamku. Aku kesal dibuatnya. Habis, pagi ini, rasanya ingin kuhabiskan saja di atas tempat tidur.&lt;br /&gt;        Belum selesai dengan rasa kesalku, tiba-tiba terdengar gaduh di luar sana. Pikirku langsung tertuju pada Sapta. Kursi-kursi digeser, tidak diangkat, alhasil suara tak nyaman terdengar ditelinga.&lt;br /&gt;        “Srrrttt..ngiiiiiitt.”&lt;br /&gt;        “Waduh, dasar Sapta. Pagi-pagi udah bikin gaduh, bikin pusing aja” keluhku dalam hati, sembari kulipat selimut tipis lorek-lorek kesayanganku.&lt;br /&gt;        “Sapta...., diangkat dong kursinya”&lt;br /&gt;        “Berisik tahu!!”&lt;br /&gt;        “Eh....bangun. Matahari udah di atas kepala, tuch. Nyapu-nyapu-ke”&lt;br /&gt;        Sapta membalas teguranku dengan sedikit marah. Sembari melempar kursi-kursi dengan kerasnya.&lt;br /&gt;        Oh, ya omong-omong soal selimut. Aku jadi ingat Nindya. Waktu itu, aku mo pergi ikut kegiatan sekolah, home stay, di lereng Merapi-Merbabu. Satu hari sebelum keberangkatanku bersama rombongan, rencananya ada 2 bis, Nindya ngasih bingkisan kecil, berwarna merah muda, bermotif bunga.&lt;br /&gt;        “Jaga diri baik-baik ya”&lt;br /&gt;        “Buka hadiah ini, saat kamu mau tidur. Ingat!! Sebelum tidur.”&lt;br /&gt;        Aku mengamat-amati bingkisan kecil, berwarna merah muda, dan bermotif bunga dalam tanganku. Aku tersenyum kecil.&lt;br /&gt;         “Terima kasih, Nindya...”&lt;br /&gt;         “Aku akan membuka bingkisan ini sebelum aku tidur, seperti yang kamu minta”&lt;br /&gt;         Kami berpandangan, tersenyum dan kemudian melangkahkan kaki menuju warung di pinggir sawah, dan persis dibawahnya sungai mengalir jernih. Gemericik air mengiringi percakapan kami yang ndhledhek kemana-mana, sesekali gelak tawa mengisi kesendirian bunyi air di bawah kami.&lt;br /&gt;                                                                                       ***&lt;br /&gt;         Sebenarnya, aku belum begitu mengenal Nindya. Aneh juga, saat pertama kali ketemu dia. Tak ada perasaan apa-apa. Mungkin, lantaran sering berjumpa, menyapa dalam kegiatan yang sama, aku menjadi akrab dengannya. Keceriaan yang selalu tampak dari wajah sederhananya, membuatku turut merasakannya. Keceriaannya membuat banyak lelaki jatuh hati kepadanya. Jujur saja. Ia anak yang gaul. Teman-temannya bilang begini ;&lt;br /&gt;         “Nindya itu ODI…”&lt;br /&gt;         Aku terkejut mendengar pernyataan itu.&lt;br /&gt;         “O..D…I..?”.&lt;br /&gt;         “Maksudmu….?”, dengan beban tanya menggelayut dalam pikirku. Berharap dengan segera mendapatkan jawabnya.&lt;br /&gt;         “Eh..ODI itu..Ora Duwe Isin…ha..ha,..ha”, temanku menjawab dengan girang disambut dengan tawa lepas yang keras, membuat heran beberapa orang yang lewat di sekitar kami.&lt;br /&gt;         “Tapi..emang benar…Nindya itu ora duwe isin”.&lt;br /&gt;         “kemana-mana maunya melucu..guyon..dan membuat sesuatu yang aneh, nganeh-anehi, ngono-lah”.&lt;br /&gt;         “Tapi anehnya, banyak orang yang suka sama dia. Mungkin karena sikapnya yang los, lepas dan enak diajak berteman kali”.&lt;br /&gt;         “EH, tapi….ada apa ya..jangan-jangan..”, temanku mulai curiga dengan sikapku yang seakan menyelidik segala sesuatu tentang NIndya. Tangannya menuding-nuding dan disambung dengan tawa lepas yang keras lagi.&lt;br /&gt;                                                                                           ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bulan dan bintang&lt;br /&gt;temani aku malam ini&lt;br /&gt;ku ingin nyanyikan sebuah lagu&lt;br /&gt;tentang kisah cintaku dengannya&lt;br /&gt;Hari-hari yang kujalani&lt;br /&gt;bersamanya berwarna dan bermakna&lt;br /&gt;cinta yang pernah kurasakan dulu&lt;br /&gt;tak seperti cintaku saat ini&lt;br /&gt;Andai aku menjadi malaikat cinta bersayap&lt;br /&gt;akan kubawa kau terbang&lt;br /&gt;menuju taman bunga cinta yang sedang bersemi&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;        Tapi, aku belum mengatakannya. Aku belum cukup berani untuk mengatakannya. Biarlah rasa ini kupendam dalam hati, hingga saat yang tepat telah tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Sapta....diangkat dong kursinya..!!”&lt;br /&gt;        “Berisik tahu!” &lt;em&gt;(to be continued) &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-6084526600333914414?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/6084526600333914414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/fajar-di-kaki-sindoro-sumbing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/6084526600333914414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/6084526600333914414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/fajar-di-kaki-sindoro-sumbing.html' title='Fajar Di Kaki Sindoro-Sumbing'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-m76lyF_I/AAAAAAAAACQ/M9Pe8u6c8iI/s72-c/5859883-md.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-2827760265751277723</id><published>2009-02-20T22:48:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T22:54:31.111-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Surat Kepada Malam</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-lDVpxeWI/AAAAAAAAACI/vCjw12HOzLw/s1600-h/3348105-lg.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305140362836277602" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 225px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-lDVpxeWI/AAAAAAAAACI/vCjw12HOzLw/s320/3348105-lg.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Senja begitu muram. Tetangga-tetangga tidak begitu ramai bercakap. Sepi. Persis 17.30 di hari MInggu, jika tidak salah tanggal 13 bulan ke delapan tahun 2006, aku sendiri. Mataku sayu. Tubuhku lemas. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dan kini, Sabtu malam minggu masih dalam bulan ke delapan tahun yang sama. Sepi menyelimuti kotaku lagi. Tak seperti malam minggu sebelumnya. Aku bermuram durja. Tanpa mengajak teman, aku pergi menuju angkringan, persis sebelum aku menuangkan kegelisahanku dalam tulisan ini. Kuhabiskan segelas the-jahe panas dan tempe goring khas Jogja, yang kini telah menjadi makanan kesukaanku. Hampir setiap rabu dan minggu malam, kuhabiskan waktuku hanya untuk sekedar minum the-jahe dan beberapa tempe goreng yang bakar. Tak jarang sembari menikmati enaknya makanan ala angkringan, dan kesendirian yang menemani membuatku betah berlama-lama nongkrong di sana.&lt;br /&gt;“Malam ini sendiri”, gumamku dalam hati.&lt;br /&gt;“Seandainya......”, pikirku mulai nakal terinspirasi perempuan-perempuan lajang, berbadan sexy dan sedikit mengundang birahi. Ah bukan itu maksudku. Kok seronok banget. Maksudku, perempuan-perempuan laksana bunga, wangi, harum, dan membuat senang siapa saja yang memilikinya. Oh, gila ibarat orang bercinta, dunia seakan milik berdua. Akupun ingin seperti itu, Ingin kucintai salah satu dari sekian juta perempuan di dunia. Satu saja. Tidak usah banyak-banyak, biar pun satu, tapi dia akan kuikat erat dalam hati bahkan kubawa sampai mati. Kata orang, apa yang sudah disatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusa. Rasanya, kalimat itu cukup membuatku berani untuk mengatakan bahwa satu orang perempuan dalam hidupku adalah cukup adanya.&lt;br /&gt;Tapi, mungkin aku terlalu berkhayal. Bagai pungguk merindukan bulan. Rasanya anganku terlalu berlebihan. Salama ini, aku sendiri selalu mengundurkan diri, mengasingkan diri hingga para perempuan tak sempat mengenalku lebih dalam. Apakah aku takut?. Tidak. Bukan atas dasar ketakutan aku menjauhi mereka, tapi pada...... Ah , tidak jelas. Aku malas membicarakannya. Lebih baik, lupakan saja tulisanku di atas tadi. Aku terlalu berlebihan menilai diriku, lagian aku tak ingin begitu terbuka pada kalian semua. Ada ruang privacy yang mesti terkunci, dan tak seorangpun boleh membuka atau memasukinya, alias rahasia.&lt;br /&gt;Malam semakin kelam. Angkringan pun semakin sepi pengunjung…….&lt;em&gt;(to be continued)&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-2827760265751277723?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/2827760265751277723/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/surat-kepada-malam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/2827760265751277723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/2827760265751277723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/surat-kepada-malam.html' title='Surat Kepada Malam'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-lDVpxeWI/AAAAAAAAACI/vCjw12HOzLw/s72-c/3348105-lg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-1876103401717077889</id><published>2009-02-20T22:44:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T22:48:24.055-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RenuNgan'/><title type='text'>Metamorfosa Diri</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-jq8nQuqI/AAAAAAAAACA/_Tyf1g4FY9s/s1600-h/3693139-lg.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305138844286368418" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-jq8nQuqI/AAAAAAAAACA/_Tyf1g4FY9s/s320/3693139-lg.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Legio Mariae Ratu Para Saksi Iman Kota Baru&lt;br /&gt;13 September 2006, 17.00 wib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yak 3:16-4:3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dari Yakobus,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membayangkan pada hari ini kudapatkan sepucuk surat dari Yakobus. Dia seorang Hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Ada perasaan berkecamuk dalam diriku. Kira-kira apa yang ia maksudkan dalam surat tadi.&lt;br /&gt;Perlahan aku mulai membaca surat itu dan ternyata sebuah nasehat atau mungkin peringatan yang ia tujukan kepadaku.&lt;br /&gt;Pada ayat sebelumnya ay. 13 yang ia tulis, dia bertanya kepadaku “ Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan”. Spontan perasaan yang muncul adalah bingung? Kenapa ia bertanya seperti itu? Apakah ia meragukan hidupku, Apalah ia mengajakku untuk berefleksi tentang hidupku. Benarkah aku sudah bijak dan berbudi?&lt;br /&gt;Lalu dalam kalimat berikutnya ia cantumkan begini “sebab dimana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metamorfosa Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya, manusia tercipta baik adanya. Benar kata Kitab Kejadian yang mangatakan “segala sesuatu diciptakan Tuhan baik adanya”. Demikian manusia, diciptakan paling sempurna dibanding dari mahluk-mahluk ciptaanNya di dunia. DiberiNya hak untuk menguasai dan menggunakan isii dunia untuk kesejahteraan dirinya. Serta beranak cucu mengisi dunia. Tak pernah puas menikmati segala sesuatu yang ada adalah salah satu ciri manusia sekarang ini. Sejatinya, manusia menginginkan kesempurnaan dalam hidupnya. Tidak pernah puas akan apa yang telah diperoleh. Seandainya bisa mendapatkan dua mengapa harus satu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sejak saat itulah, persaingan marak mewarnai dunia. Homo homini lupus Kata itu tak asing di telinga kita. Manusia tega memakan sesamanya. Mungkin rasa cinta, kemanusiaan telah tertanggalkan dari benaknya, sehingga sesama tak lagi dianggap ada. Tak peduli lagi rasa kemanusiaan, tak ingat bahwa saling tercipta dari keberasalan yang sama. Makna kuasailah dunia menjadi berganti amat pribadi, sehingga terbuka persaingan untuk saling menjatuhkan satu sama lain demi sejengkal kekuasaan yang tak kan pernah mampu puaskan hati.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Terkadang aku heran bahwa sekarang ini manusia telah memaklumkan persaingan yang saling menjatuhkan. Dan mungkin, aku sendiri telah turut serta mengabadikannaya dalam pergaulan sehari-hari. Lihat saja, bunuh membunuh selalu mengintai di sekitar kita, pertikaian antar suku, daerah, bahkan sampai agama mewarnai hidup kita sekarang ini. Sebenarnya, inti persoalan itu apa? Memang, kita tak dapat menyimpulkan begitu saja pada satu titik persoalan. Ada serentetan peristiwa yang tidak begitu saja dapat disimpulkan, bahkan cenderung tak memberikan kesimpulan alias tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aku mencoba memilahkan pendorong ketidakharmonisan dalam masyarakat yang kerap kita temui sekarang ini. Bukan hal baru, namun sekedar menampilkan kembali supaya kita kembali tersadar bahwa persoalan kita sama. Dan ada akar permasalahan yang selalu sama meski kadarnya berbeda. Iri hati. Wah kata ini kiranya sangat lekat dengan kehidupan kita. Semenjak kita kecil, kita telah dijejali oleh istilah tersebut. Yang terkadang menkondisikan kita hidup dalam rasa perasaan semacam itu. Tentu kita tak bisa menyalaahka siapa penyebab munculnya rasa iri hati. Bahwa manusia memiliki iri hati dalam hatinya adalah benar adanya. Dan kita mengakui kebenarannya. Kendati tak semua, dari kita, memiliki kadar yang sama.&lt;br /&gt;Ya, iri hati, egoisme....itu biasa, wajar sebagai manusia normal. Eksistensiku sebagai manusia mesti ada. Aku mesti diakui oleh orang lain. Aku tidak mau hidup dalam kekurangan, sekali lagi aku tegaskan, jika bisa memiliki AB mengapa mesti punya B. Sebab dalam kekurangan terkadang aku merasa minder, takut bergaul dengan orang lain. Untuk itu aku lebih tertantang untuk memiliki apa yang orang lain punya untuk ku miliki pula.&lt;br /&gt;Sejenak aku berpikir....apakah benar permenunganku tadi?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sesaat aku sadar. Betul juga. Iri hati disebabkan dari ketidakmampuan diriku untuk mencapai sesuatu dan aku begitu berhasrat untuk memilikinya, sementara orang lain mampu meraihnya. Iri hati bisa lahir dari rasa tidak suka, tidak terima atas sesuatu yang orang lain miliki. Entah itu pekerjaan, kehormatan, popularitas, kekayaan, dan lain sebagainya. Iri hati membuatku menjadi tidak mengenal diriku sendiri, oleh karena terlalu diperbudak oleh prestise dan harga diri. Bahkan iri hati membuatku menutup diri dari orang lain. Sehingga tidak sedikit, orang lain mengacuhkanku. Terkadang aku menjadi begitu sulit untuk diajak terbuka. Aku takut jika orang lain tahu siapa diriku yang sebenarnya. Aku yang penuh dengan kekurangan. Reaksi penolakan ku secara spontan adalah marah, tidak terima apabila orang lain mengusik ketenangan batinku yang penuh lubang-lubang kebobrokan. Ya, surat ini cukup membuatku luka. Membuatku kembali berpikir akan sikap ku yang telah lalu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kesadaranku ini kembali diteguhkan saat membaca kalimat berikutnya : “Ingat, hikmat yang datang dari atas adalah pertama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, belas kasih, tidak memihak dan tidak munafik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Benar juga, bagi Allah jelas tidak mungkin akan memberikan sesuatu melampaui batas kemampuanku. Keras kepalaku saja sebagai manusia, yang akhirnya mengikatku dalam keangkuhan, lupa bahwa, Ia telah mempertimbangkan segala sesuatunya dengan amat bijaksana. Yakobus mengingatkanku bahwa Allah tetap memberikan yang terbaik bagiku dengan segala keterbatasan yang kumiliki. Aku menjadi sadar bahwa aku bukan asal mula dan tujuan akhir. Dan tidak ada seorangpun dapat berdiri di atas kakinya sendiri.&lt;br /&gt;Allah tidak akan pernah membuat umatNya jatuh. Seluruh usahaNya terhadap manusia menunjukan kesaksian yang tak tergoyahkan atas kesetianNya. Ia hanya minta ketetapan hati, kesetiaanku. Allah tak pernah terkalahkan. kemenanganNya pasti.&lt;br /&gt;Aku jadi ingat pesan kitab suci begini “Cukuplah karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mengenal dan menerima kerapuhan diri merupakan sikap benar di hadapan Tuhan, yang membuat orang mau menerima kekecilan, yang memerlukan uluran tangan Tuhan. Disposisi kita berhadapan dengan karya rahmat Allah. Dari situ dapat ditemukan pergulatan kita berhadapan dengan rahmat Allah dalam diri Yesus Kristus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Marilah kita memerangi relasi emosional dalam diri kita. Nafsu-nafsu yang menghambat relasi kita dalam kelompok, masyarakat dan dengan Tuhan sendiri.&lt;br /&gt;Marilah kita memerangi permusuhan emosional kita. Sikap ini manghalangi damai, cinta dalam diri kita. Bagaimana kita bisa belajar kecuali melalui beberapa kesalahan dan kegagalan?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Renungan:&lt;br /&gt;Apakah terasa ada kekuatan untuk lebih berani mempercayakan diri kepada Tuhan, sehingga kuatlah harapan, iman dan kasih? Memiliki optimisme sekaligus realistis terhadap kenyataan diri, karena percaya akan kuasa rahmat Allah?&lt;br /&gt;Apakah dorongan kehendak untuk maju dalam perkara rohani semakin tumbuh?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aku semakin yakin sesungguhnya dalam setiap ciptaan terkandung keistimewaan. Yang mana kelebihan dan kekurangan adalah isinya. Aku ingat saat pastur pendampingku berkata : “pada prinsipnya, mawar adalah mawar. Yo wis aku ki mawar. Aku gak bakal bisa menjadi melati, bunga terompet atau yang lain. Demikian melati, tak bisa menjadi mawar, terompet. Atau bunga yang lainnya”. Bahwa bunga-bunga itu dapat menjadi indah karena ia bertumbuh menjadi dirinya. Ia tak pernah membayangkan diri atau bermimpi menjadi bunga yang lain. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kesejatiannya ada pada identitas dirinya. Demikian setiap dari kita adalah insan yang istimewa. Kita tak perlu bermimpi untuk menjadi orang lain. Tetapi cukuplah menjadi diri sendiri dengan segala kepenuhannya &lt;em&gt;(Pendamping Rohani, Tri Kusuma)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-1876103401717077889?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/1876103401717077889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/metamorfosa-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/1876103401717077889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/1876103401717077889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/metamorfosa-diri.html' title='Metamorfosa Diri'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-jq8nQuqI/AAAAAAAAACA/_Tyf1g4FY9s/s72-c/3693139-lg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-6313793731061315343</id><published>2009-02-20T22:40:00.001-08:00</published><updated>2009-02-20T22:44:18.438-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RenuNgan'/><title type='text'>Mengenang Jiwa-jiwa Orang Beriman</title><content type='html'>&lt;div&gt;Alukusio&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Legio Mariae Ratu Para Saksi Iman Kota Baru&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;1 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mengenang Jiwa-jiwa Orang Beriman dalam Keabadian Surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugeng Kondur, romo yang baik. You are my good teacher, you are my good friend, but, above all, you are my inspiration. The inspiration of how to live the life. Selamat mengiringi misa requiem Sri Paus di Sorga sana dengan jari-jarimu di atas tuts. Aku ingin jadi tukang parkir saja kalau sorga memerlukannya, sebab mungkin belum ada sampai jumpa lagi -- Rudi Hardono, Pr -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan Romo M. Sampai jumpa di tanah terjanji. Sekarang kami berdoa unt&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-irN1wD0I/AAAAAAAAAB4/spftW91mH2s/s1600-h/Beberapa+warga+Tionghoa+berdoa+di+sebuah+klenteng+di+Jakarta,+pada+malam+menjelang+perayan+Tahun+Baru+Cina..jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305137749398916930" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 222px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-irN1wD0I/AAAAAAAAAB4/spftW91mH2s/s320/Beberapa+warga+Tionghoa+berdoa+di+sebuah+klenteng+di+Jakarta,+pada+malam+menjelang+perayan+Tahun+Baru+Cina..jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;uk Romo. Dan kalau Romo sudah bertemu dengan Tuhan, doakan kami semua. Salam dan doa dari kami semua, teman-teman Romo – E. John Paul Tarigan –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terharu,&lt;br /&gt;Saya tidak tega lihat foto yang dikirim Putut kemarin. Saya ingat nabi Ayub dan hari ini Tuhan berkenan memanggil Romo M. Tuhan terimalah dia di sisi-Mu. Berilah kekuatan untuk keluarganya, banyak sekali teladan baik yang telah Romo M berikan kepada kami semua. Selamat jalan Romo. Selamat bertemu dengan yang empunya hidup. Selamat istirahat dalam damai. Selamat bertemu dengan saudara-saudara Romo yang telah lebih dulu dipanggil Tuhan.&lt;br /&gt;Romo, bila bertemu Bapa, ingatlah kami yang masih di dunia. –HB.Sapto Nugroho--.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan 2 Kor 4: 14 – 5:10 Hari Arwah Semua Orang Beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus&lt;br /&gt;§ Paulus tidak menyampaikan secara langsung kepada Korintus, tapi ia menitipkannya pada Titus. Maklum saat itu,Paulus dan Jemaat Korintus baru mengalami pertikaian, perpecahan. Tidak damai.&lt;br /&gt;§ Surat itu berupa surat rujukan untuk jemaat Korintus.&lt;br /&gt;Isi Rujukan : Supaya tidak tawar hati dalam menghadapi hidup. Ia menawarkan sebuah keyakinan iman yang semakin mendalam kepada Yesus Kristus. Itulah sebabnya Paulus sendiri tidak putus asa dalam penderitaan karena ia mempunyai harapan akan kekuatan dan kuasa Allah. Penderitaan itu bahkan mengubah dirinya dalam kemuliaan. Intinya adalah adanya Pembaharuan Batin (Keyakinan iman akan Yesus Kristus yang semakin mendalam).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sementara berhubungan dengan hari Arwah yang kita peringati esok hari yaitu 02 November 2006, dimana jiwa-jiwa orang hidup telah kembali kepada pencipta abadi, kita kenangkan dan doakan mereka. Bahwa setiap manusia mengalami kematian itu benar dan pasti. Kita akan mati. Tapi tak tahu kapan itu terjadi?. Kita tidak pernah bisa mengetahuinya.&lt;br /&gt;Aneh.......Apakah kematian itu aneh?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Memang, Rasanya tidak adil bahwa kita harus kehilangan orang-orang yang kita sayangi. Dan rasanya kematian itu menyedihkan bagi kita yang ditinggalkan. Saya teringat saat lebaran kemarin. Rasa kehilangan orang yang disayangi begitu saya rasakan. Sewaktu nenek masih hidup, lebaran adalah saat istimewa bagi keluarga kami untuk datang berkunjung ke rumah nenek (satu keluarga), Jalan kaki. Sesampai di rumah nenek, kami selalu membuat acara istimewa dengan keluarga lain. Meskipun kami Katolik sendiri, tapi kedekatan dengan nenek amat terasa bagi kami.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Lebaran kemarin sepi. Ada yang kurang. Meskipun saudara-saudara datang, tetapi kami tetap tak bisa berjumpa dengan nenek. Sadarlah saya, bahwa nenek telah meninggal. Tapi, meskipun nenek telah tiada tapi kehadirannya masih terus saya rasakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mari kita lihat, bayangkan peristiwa di Baturaden. Ibu hamil, anak-pemuda, bapak meninggal tanpa di duga. Tiba-tiba. Amat gampang, kematian itu ada. Kebahagiaan berganti tangis, banjir air mata serta jeritan histeris membuat rasa perasaan kitapun tak tega melihatnya.&lt;br /&gt;Tapi apakah kita akan menghindari kematian? Pasti tidak. Kematian bukan peristiwa yang perlu dihindari/takuti. Melainkan diterima/dilakoni sebagai bagian dari perjalanan hidup kita. Kematian sebagai bagian rencara Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Satu keyakinan kita bahwa Bagaimana pun di dalam peristiwa itu ada Tuhan. Tuhan punya rencana yang melampaui umur hidup manusia di atas bumi. Dan kita mesti melihat kematian sebagai rencana Tuhan. Keyakinan Paulus sendiri bisa kita teladani bahwa Ia amat yakin bahwa Allah mampu membangkitkan hidup dari kematian. (Terjadi dalam Yesus Kristus). Kitapun mesti yakin bahwa kematian bukan hal yang buruk bagi orang yang mati itu sendiri.&lt;br /&gt;Kita hening sebentar...mendoakan jiwa saudara-saudara, teman, keluarga yang telah mendahului kita. Semoga jiwa-jiwa arwah orang beriman diterima dalam kebahagiaan kekal bersama Bapa di Surga. Dan semoga kitapun senantiasa dilimpahi berkat oleh Tuhan dalam melakoni peziarahan kita di dunia &lt;em&gt;(Pendamping Rohani, Tri Kusuma)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-6313793731061315343?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/6313793731061315343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/mengenang-jiwa-jiwa-orang-beriman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/6313793731061315343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/6313793731061315343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/mengenang-jiwa-jiwa-orang-beriman.html' title='Mengenang Jiwa-jiwa Orang Beriman'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-irN1wD0I/AAAAAAAAAB4/spftW91mH2s/s72-c/Beberapa+warga+Tionghoa+berdoa+di+sebuah+klenteng+di+Jakarta,+pada+malam+menjelang+perayan+Tahun+Baru+Cina..jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-1845248261563832310</id><published>2009-02-20T22:33:00.001-08:00</published><updated>2009-02-20T22:38:55.548-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RenuNgan'/><title type='text'>Jangan Memberi Label</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-hcdWHA0I/AAAAAAAAABw/tv1537d2gvw/s1600-h/041227441823_9515734_n.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305136396351505218" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 217px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-hcdWHA0I/AAAAAAAAABw/tv1537d2gvw/s320/041227441823_9515734_n.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Alukusio&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Legio Mariae Ratu Para Saksi Iman Kota Baru&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kita pasti akan lebih gampang, mudah percaya atau menilai bahwa dari seekor ulat bulu yang jelek itu bisa lahir seekor kupu-kupu yang indah, juga tidak sulit bagi kita menerima bahwa dari sebuah telur yang kecil itu, akan menetas seekor burung perkasa, tapi sulit bagi kita melihat potensi seorang yang baik, dalam diri orang yang kita anggap musuh, orang biasa atau tidak kita kenal. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Seperti satu titik hitam yang menodai selembar kertas putih polos, akan begitu jelas dan gampang kita lihat hitamnya. Jika di tanya ada apa di selembar kertas ini? Pasti langsung dijawab titik hitam. Demikian sisi negatif itu lebih gampang kita lihat dalam diri orang lain. Dan sekali kita mencap seseorang itu secara negatif, maka tak akan sedemikian mudah kita menemukan sisi positif dalam dirinya. Label. Mungkin kita lebih gampang memasang label pada seseorang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saat kita berbelanja kita akan melihat label harga menempel di baju..150.000 (waduh mahal), 75.000 (lumayan murah tapi...bahannya jelek), 25.000 (wallah tipis sekali, nanti kelihatan dong kalau pake). Demikian pula terhadap orang lain, “ooo..si A itu malesan, si B gak bisa dipercaya, sementara si C orangnya sulit diajak kerjasama, individualis, egois, Nah kalau si D itu sombong. Gila... mentang-mentang dia punya ..bla..bla ..bla dan lain sebagainya.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Label-label yang telah terpasang ini secara otomatis akan mewarnai mempengaruhi pandangan kita terhadap orang lain. Mungkin kita akan selalu berhati-hati dalam bergaul dengan orang yang ber”label” itu, atau malah mungkin menjauhinya sama sekali. Label-label ini tak sepenuhnya baik. Mungkin benar, bahwa tiap orang tidak akan pernah lepas dari label, tapi bagaimana kita memberi label positif itu lah yang penting. Bagaimana kita menemukan unsur positif dalam diri seseorang yang kita anggap malesan, ember, tak bisa dipercaya dan lain sebagainya?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Refleksi kita bahwa semua orang adalah citra Allah. Sangat tidak mungkin jika tak ada kebaikan dalam dirinya. Ada seorang tokoh Iris Murdoch mengatakan bahwa dengan memandang seseorang, sesuatu, atau situasi dengan penuh kasih-perhatian, orang semakin mencapai pengertian yang sungguh-sungguh dan karenanya ia seolah-olah dengan sendirinya tahu bagaimana harus bersikap. Ide “Yang Baik” telah ada dalam pikiran kita. Jika telah terjadi demikian, maka tidak akan gampang kita memberi label pada seseorang, atau menilai seseorang. Bahwa kebaikan itu ada merupakan sebuah kepastian yang harus kita perjuangkan. Dan jika kita telah berani dan mau terus berusaha memandang secara positif maka, tidak hanya ulat bulu yang jelek lalu menjadi kupu-kupu saja yang mudah, gampang kita lihat, tetapi dalam diri orang “yang berlabel negatif” itupun akan kita temukan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Marilah kita mencoba tebarkan sisi positif dan cinta untuk orang lain yang kita anggap “jelek, negatif”. Paul Coelho mengatakan dalam novel Di Tepi Sungai Piedra bahwa semakin banyak kita memberi cinta, semakin dekatlah kita pada pengalaman spiritual. Berarti kita semakin mencinta dan menemukan serpihan Tuhan dalam diri mereka. Semoga demikian. &lt;em&gt;(Pendamping Rohani, Tri Kusuma)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-1845248261563832310?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/1845248261563832310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/jangan-memberi-label.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/1845248261563832310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/1845248261563832310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/jangan-memberi-label.html' title='Jangan Memberi Label'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-hcdWHA0I/AAAAAAAAABw/tv1537d2gvw/s72-c/041227441823_9515734_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-2361514225571213295</id><published>2009-02-20T22:28:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T22:31:47.065-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RenuNgan'/><title type='text'>Bunda Maria, Penjaga Pintu Surgawi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-fwdLTWQI/AAAAAAAAABo/7dGIqFsphuQ/s1600-h/m74.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305134540880304386" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 211px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-fwdLTWQI/AAAAAAAAABo/7dGIqFsphuQ/s320/m74.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Alukusio&lt;br /&gt;Legio Maria Ratu Para Saksi Iman Kota Baru&lt;br /&gt;04 Oktober 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan : Luk 1 : 46 – 56 “Nyanyian Pujian Maria”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Kata itu terlontar dari mulut Maria atas kesanggupanNya menerima Roh Kudus dalam diriNya. Istilah latinnya fiat. Jawaban Maria setidaknya memberi inspirasi bagi kita untuk juga menanggapi segala sesuatunya dengan “Ya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rahim Marialah Sang Sabda menjadi Daging!. Maria mau menanggapinya dengan tulus. Fiatnya terlontar :”Jadilah padaku menurut perkataanMu itu”. (dalam bab sebelumnya). Ia mengungkapkan fiatnya dalam iman. Menyerahkan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;Keterlibatan Maria dalam mengandung Yesus, melahirkan, membesarkan, dan menghadapkannya kepada Bapa di Kenisah, serta ikut menderita dengan PuteraNya yang wafat di kayu salib, Ia sungguh istimewa bekerja sama dengan karya juru selamat, dengan ketaatannya, iman, dan pengharapan serta cinta kasihNya yang berkobar.&lt;br /&gt;Ya-Nya adalah bentuk keterlibatannya dalam karya keselamatan.&lt;br /&gt;Nah, peran Maria dalam keselamatan bagaimana : Memang tidak lepas dari Yesus sendiri. Ia melahirkan juru selamat, Yesus, dan berkat Yesus, Maria turut terlibat dalam karya keselamatan. Peran Maria dalam karya penebusan berkisar pada tugasnya sebagai ibu Yesus. Partisipasi lain tampak dalam saliib Kristus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Gambaran Maria tampak jelas dalam kidung pujian Marianya. Ia amat mengagungkan Allah yang telah berkarya dalam dirinya. Setidaknya kitapun bisa belajar dariNya: Apa yang bisa kita belajar:&lt;br /&gt;1. Kesediaan Maria menjadi tempat lahirnya Yesus, Juru selamat. Bagaimana dengan kita? Apakah kitapun telah bersedia menjadi tempat Allah dalam mewartakan keselamatan bagi orang lain? Atau kita cenderung mengabaikannya?&lt;br /&gt;2. Kesetiaan Maria dalam mengikuti Kristus.&lt;br /&gt;3. Kelemahlembutan Maria adalah cinta dan belas kasihan. Ia amat memiliki kasih sayang.&lt;br /&gt;Perawan Maria menempatkan dirinya di antara PutraNya dan manusia. Semakin berdosa kita, semakin besar kelemahlembutan dan belaskasihan yang ia berikan bagi kita&lt;br /&gt;Yesus, anaknya yang menyebabkan Maria meneteskan paling banyak air mata adalah anak yang paling dicintainya. Tidakkah seorang ibu senantiasa bergegas menolong anaknya yang paling lemah dan paling rentan terhadap bahaya? Tidakkah seorang dokter di rumah sakit lebih memperhatikan mereka yang menderita sakit yang paling serius? Hati Bunda Maria begitu lemah lembut terhadap kita, hingga andai saja hati segenap ibu di seluruh dunia digabung menjadi satu akan serupa sekeping es saja dibandingkan dengan hatinya. Lihat, betapa amat baiknya Perawan Tersuci! Hambanya yang mengagumkan, &lt;a title="Agustus" href="http://www.indocell.net/yesaya/id234.htm#st__bernardus" target="_top"&gt;St. Bernardus&lt;/a&gt;, biasa menyapanya, “Salam bagimu, Maria”. Suatu hari, Bunda yang baik ini menjawabnya, “Salam bagimu, puteraku Bernardus.” Mungkin kita juga??????&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Semua orang kudus memiliki devosi yang mendalam kepada Bunda Maria; tak ada rahmat datang dari surga tanpa melalui tangan-tangannya. Kita tak akan dapat masuk ke dalam rumah tanpa berbicara kepada penjaga pintunya; nah, Perawan Tersuci adalah penjaga pintu Surgawi.&lt;br /&gt;Segala yang diminta Putra dari Bapa diberikan kepada-Nya. Segala yang diminta Bunda dari Putra, demikian juga, diberikan kepadanya. Jika kita menggenggam sesuatu yang harum, maka tangan kita akan mengharumkan apa saja yang disentuhnya: biarlah doa-doa kita melewati tangan-tangan Perawan Tersuci; ia akan mengharumkan doa-doa kita. Aku pikir bahwa pada akhir dunia Perawan Tersuci akan sangat tenang dan damai; tetapi sementara dunia berakhir, kita menarik-nariknya ke segala penjuru …. Perawan Tersuci bagaikan seorang ibunda dengan begitu banyak anak - ia terus-menerus sibuk memeriksa dan memelihara anak-anaknya satu persatu (&lt;em&gt;Pendamping Rohani, Tri Kusuma)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-2361514225571213295?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/2361514225571213295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/bunda-maria-penjaga-pintu-surgawi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/2361514225571213295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/2361514225571213295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/bunda-maria-penjaga-pintu-surgawi.html' title='Bunda Maria, Penjaga Pintu Surgawi'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-fwdLTWQI/AAAAAAAAABo/7dGIqFsphuQ/s72-c/m74.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-415330615720996618</id><published>2009-02-20T21:30:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T21:31:55.864-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Aku Ingin Bertemu</title><content type='html'>Sebenarnya aku kangen dengan sahabatku&lt;br /&gt;Aku ingin berbincang melepas kerinduan&lt;br /&gt;Kerinduan yang selama ini terpendam,&lt;br /&gt;Menjadi seonggok sampah di pembuangan&lt;br /&gt;Aku ingin bertemu&lt;br /&gt;Sekedar berbincang melepas kerinduan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentungan, 12 April 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-415330615720996618?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/415330615720996618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/aku-ingin-bertemu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/415330615720996618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/415330615720996618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/aku-ingin-bertemu.html' title='Aku Ingin Bertemu'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-7844262243026756681</id><published>2009-02-20T21:23:00.000-08:00</published><updated>2009-02-21T23:31:55.205-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PaPer'/><title type='text'>MewarTakan KisaH KrisTus</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;strong&gt;1. Pengantar&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kenaikan BBM yang terjadi pada tanggal 23 Mei 2008 menjadi keprihatinan bagi sebagian besar orang Indonesia&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;. Efeknya sangat besar dan menyengsarakan: Kenaikan harga bahan pokok, kenaikan tarif angkutan umum, dsb. Semuanya disebabkan kenaikan harga BBM. Namun kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM adalah hal yang tak dapat dihindarkan lagi. Pemberian subsidi BBM memang harus dikurangi sehingga roda ekonomi masih terus dapat berjalan. Situasi lokal ini sebenarnya berelasi dengan situasi global, yaitu kenaikan harga minyak per barel. Maka dapat dikatakan: penderitaan ini adalah milik dunia! Gelombang protes dan demonstrasi, menentang kenaikan harga minyak dunia, membahana di mana-mana. Hampir seluruh dunia menjerit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada peristiwa apa dibalik melonjaknya harga minyak dunia? Jelas bahwa ada permainan tertentu dari spekulan pemain pasar komoditas dunia. Mereka diuntungkan dengan melonjaknya harga tersebut karena strategi penyimpanan “barang” yang telah dilakukan. Maka sebagian kecil golongan sangat diuntungkan dengan penderitaan hampir seluruh umat manusia.&lt;br /&gt;Kenaikan harga BBM dan penderitaan yang dihasilkannya bagi banyak orang adalah realitas sejarah dunia. Situasi dan kondisi riil ini adalah konteks terkini di dalam masyarakat tempat kita hidup. Pertanyaannya adalah: Bagaimana kita dapat mewartakan kisah Kristus dalam realitas tersebut? Inilah tema besar yang hendak dijawab dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Mewartakan Kisah Kristus: Belajar dari Sejumlah Tokoh dan Peristiwa&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Usaha untuk mewartakan kisah Kristus adalah sebuah usaha untuk membahasakan iman. Dengan kata lain menyajikan sebuah doktrin dalam kehidupan. Menurut John Henry Newman, doktrin itu bukanlah sesuatu yang baku dan statis, melainkan dinamis dan berkembang; sesuai dengan hakekat kekristenan, yaitu perkembangan dalam sejarah. Inilah realitas sejarah yang dihadapi: penderitaan. Maka dalam situasi ini, doktrin yang kami tampilkan berciri profetis: memaklumkan keterlibatan Allah dan dikemukakan tuntutan iman. Singkatnya, doktrin menjadi petunjuk arah dalam situasi kegamangan (akibat penderitaan) yang dihadap&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SaD_Ttf0ChI/AAAAAAAAADI/3u8Opc5puz8/s1600-h/5603474-lg.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305521075138071058" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 220px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SaD_Ttf0ChI/AAAAAAAAADI/3u8Opc5puz8/s320/5603474-lg.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;i, seperti: apa yang harus dilakukan? Bagaimana Kritus tetap diimani dalam situasi tersebut? Dalam kaitan dengan usaha menampilkan doktrin yang profetis di tengah situasi penderitaan yang dialami, ada beberapa tokoh dan peristiwa yang akan kami jadikan sebagai sumber pembelajaran: John Henry Newmann, Dietrich Bonhoffer, Konsili Vatikan II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.1 John Henry Newman&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Berbicara mengenai keterlibatan Allah dalam sejarah, nama John Henry Newman tidak boleh dilewatkan. Tesis utamanya adalah penjelmaan Allah dalam diri Yesus Kristus, dalam sejarah. Sejarah itu sendiri senantiasa berkembang, maka kristianitas pun hakekatnya adalah perkembangan. Identitas dan gerak perkembangan itu bukanlah hak dan tugas ekslusif kaum berjubah, melainkan menjadi milik dan tugas seluruh umat Kristiani. Maka peran kaum awam dinilai dengan sangat berarti. Newman juga menegaskan bahwa “kristianitas punya eksistensi obyektif, yaitu terjun diri dalam pergulatan besar umat manusia. Tanah Airnya adalah dunia, dan untuk mengerti kristianitas yang nyata, kita mesti mencarinya di dunia dan mendengar bagaimana dunia bicara mengenai dia”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;. Dalam konteks pertumbuhan iman personal, Newman mengedepankan peran dan kepekaan suara hati manusia dalam setiap situasi konkret. Suara hati ini harus senantiasa diasah sehingga peka terhadap segala krisis dan dapat menyuarakan kebenaran. Di sini, lembaga pendidikan (universitas) hadir sebagai wadah untuk mendidik dan mengembangkan suara hati manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari serpihan pemikiran Newman di atas, kelihatan bahwa Gereja senantiasa didorong untuk terlibat dalam sejarah perjuangan hidup manusia. Jika terjadi ketidakadilan yang menyebabkan penderitaan, maka Gereja harus senantiasa bersuara menentangnya. Permainan para spekulan pasar harus dikritik. Mengapa mereka begitu tega bergembira di atas penderitaan jutaan orang? Dari ini bisa ditarik garis lurus pertanyaan dan arahan peran keluarga dan lembaga pendidikan sebagai “padepokan” pembinaan suara hati. Apakah pelbagai kegiatan pembinaan dan ilmu yang diajarkan hanya mampu menghasilkan pribadi yang pandai secara intelektual namun lemah secara moral? Hal ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi kaum religius dan awam yang bergerak di bidang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja adalah umat Allah (baca: awam), maka awam pun harus terlibat dalam gerakan perjuangan melawan ketidakadilan. Ini adalah gerakan bersama. Di lain tempat, para politikus dan penentu kebijakan ekonomi sudah selayaknya bekerja dengan hati nurani yang tajam dengan berorientasi pada kemanusiaan, bukan profit dan kuasa. Mereka yang punya hak dan kesempatan dalam menentukan kebijakan (entah dalam lembaga legislatif ataupun eksekutif), hendaknya memperjuangkan nilai-nilai yang luhur dan membela mereka yang miskin dan tertindas. Dalam tataran praktis, setiap orang Kristen -selain punya hak untuk bersuara dan melawan ketidakadilan- juga wajib bertindak bijak dalam penggunaan BBM: hemat dan seperlunya, sehingga beban hidup dapat diminimalisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tataran pewartaan, di setiap mimbar, dalam setiap ekaristi, para imam tidak lagi cukup dengan hanya berkotbah tentang tema salib, cobaan dan kepasrahan dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan di dunia. Ada nilai kehidupan yang harus diperjuangkan oleh semua orang bersama Gereja. Perjuangan ini tidak berasal dari usaha manusia sendiri tapi digerakkan oleh keterlibatan Allah yang hadir dalam sejarah. Allah senantiasa hadir dan selalu (tidak hanya pernah) terlibat dalam sejarah untuk menentang ketidakadilan. Gambaran Allah yang menentang ketidakadilan dapat dilihat dalam kisah hidup Yesus yang senantiasa meluangkan waktu dan karyanya bagi mereka yang lemah, miskin, dan tertindas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.2 Dietrich Bonhoeffer&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Selain Newman, pemikiran lain tentang tema ini disuarakan juga oleh Dietrich Bonhoeffer. Ia hidup dalam zaman di mana Kristianitas tidak lagi memegang kendali dunia tetapi lebih sebagai paguyuban kecil di tengah dunia yang pluralis dan terus berkembang tanpa bisa dikendalikan. Bonhoeffer mengkritik Gereja Lutheran yang berafiliasi dengan Nazi yang memimpin pemerintahan. Ia juga mengkritik Gereja Katolik yang “diam” terhadap pembantaian enam juta orang Yahudi. Bonhoeffer terlibat secara dekat dalam usaha untuk menggulingkan pemerintahan Hitler yang kejam, sebagai usaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan bagaimana manusia dewasa ini berjumpa dengan Allah yang merahmatinya. Kesaksian dan perjuangan teologi-sosial-politiknya menghantar orang pada keyakinan bahwa Allah hadir dalam kondisi dunia yang penuh penderitaan dan keterhimpitan hidup. Bonhoeffer membayar mahalnya rahmat Allah dalam perjuangan itu dengan nyawanya sendiri. Ia dihukum mati (rahmat Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Bonhoeffer, dalam diri Yesus, Allah menjadi riil dalam dunia. Maka Yesus menjadi pusat hidup kita kalau kita terlibat dalam usaha agar Allah menjadi real di dunia. Menjadi orang Kristen menurut Bonhoffer berarti menjadi kristosentrik dalam praksis; Kristus hanyalah pusat hidup dalam keterlibatan konkret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Gereja Katolik Indonesia Apakah sudah cukup bersuara dan mengambil sikap atas krisis kenaikan BBM yang merugikan orang miskin? Atau masih saja sibuk dengan Kongres Ekaristi, Nota Pastoral Remaja-Anak-anak dan Lingkungan Hidup. Bukankah ini saatnya untuk berbagi Lima Roti dan Dua Ikan dari Tuhan itu kepada yang sungguh-sungguh membutuhkannya? Bersama Bonhoeffer kita bisa bertanya, dalam situasi seperti ini, adakah Allah hadir dan berperan di dalamnya(etsi deus non daretur: seakan-akan Allah tidak ada)? Ia meminta Gereja bukan hanya merawat para korban yang tergilas roda kekerasan melainkan juga bertugas untuk melibatkan tangannya pada jeruji-jeruji roda kekerasan politik dan menghentikannya. Turun tangan seperti itu adalah politik langsung dan Gereja hanya boleh dan harus bertindak seperti itu kalau Gereja melihat bahwa negara gagal dalam tugasnya untuk mewujudkan keadilan dan ketertiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.3 Konsili Vatikan II&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam Konsili Vatikan II, Gereja melihat keberadaannya di dunia ini: bagaimana dirinya terlibat dalam masalah-masalah utama zaman ini, terutama yang berkaitan dengan hidup konkrit manusia. Gereja menjadi sarana kehadiran Kristus di dunia ini. Kristus yang menyampaikan kabar gembira keselamatan bagi semua orang. Untuk itu, Gereja tampil sebagai sakramen keselamatan manusia (LG art 1, 9, 48). Keselamatan itu bersifat universal, maka Gereja diutus untuk melibatkan diri dalam dunia/masyarakat melalui pelayanan dalam pemenuhan keselamatan pada akhir jaman, "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru" (Why 21:5).&lt;br /&gt;Dalam situasi dan kondisi masyarakat Indonesia dengan kenaikan BBM, Gereja dituntut untuk hadir, terlibat serta memberikan kegembiaraan dan harapan bagi umat manusia, khususnya mereka yang menderita akibat kebijakan politik ini. (Gaudium et Spes art 1). Di sini menghadirkan karya keselamatan-Nya bagi siapa saja di dunia. Gereja mengejawatahkan keterlibatan Allah dalam peristiwa hidup manusia. Allah adalah Allah yang terlibat dalam sejarah manusia. Hal ini berarti bahwa Allah bertindak bersama dan dengan umat-Nya di dunia, supaya semua umat Allah masuk dalam kesatuannya dengan Allah (GS art 40).&lt;br /&gt;Siapakah Gereja yang harus terlibat itu? Gereja adalah seluruh umat Allah yang hidup dan dipersatukan oleh Roh Kudus. Gereja menjadi realitas nyata kehadiran Kristus dalam dunia, sekaligus dipanggil untuk melanjutkan karya-Nya di dunia sesuai dengan konteks zaman. Inilah peran Gereja sebagai persekutuan umat Allah yang hidup dalam dunia, serta terlibat dalam dunia. Mereka, umat Allah, menjalankan segala macam tugas dan pekerjaan duniawi di tengah-tengah realitas sosial mereka sesuai dengan kompetensi, kharisma-kharisma pribadi sebagai karunia Allah (LG art 31, 36). Keterlibatan itu merupakan suatu panggilan sebagaimana mereka tercipta melulu demi kemuliaan Allah. Demikian keterlibatan mereka lahir dari keselarasan suara hati, sebagai bagian Gereja dan dunia, supaya perutusan Gereja dalam dunia semakin nyata bersentuhan dengan realitas yang hidup di dalamnya (LG art 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks sosial masyarakat Indonesia sekarang ini, kenaikan BBM menyisakan persoalan dalam kehidupan masyarakat. Entah munculnya demo, kenaikan harga tiket angkutan, maupun harga sembako. Tentu saja hal ini merepotkan masyarakat yang miskin. Mungkin di sinilah muncul ketidakadilan. Siapa yang paling merasakan ketidakadilan ini tidak lain adalah masyarakat miskin. Gereja setidaknya memberikan penyadaran dan pembelaan terhadap mereka, sejauh kapasitas Gereja sendiri. Apabila masyarakat sadar dengan realitas ketidakadilan yang mereka alami, setidaknya mereka akan terpacu untuk memperjuangkan hidup supaya lebih baik, serta berkehendak menciptakan tatanan dunia yang baru demi kemuliaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Tesis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;u&gt;&lt;em&gt;Kisah Kristus yang hendak kami wartakan di tengah situasi penderitaan ini adalah Kristus yang senantisa berjuang mewartakan Kerajaan Allah dan menentang ketidakadilan (Mt 6:33). Ini menjadi tanda keterlibatan Allah dalam sejarah dunia. Dengan ini orang Kristen diajak untuk bersikap tegas dalam melawan ketidakadilan yang berakibat pada penderitaan. Allah menjadi sumber penggerak sekaligus yang terlibat, Dia pulalah yang memberikan harapan akan masa depan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Sumber: Tempo Edisi 26 Mei – 1 Juni 2008. Harga baru premium Rp. 6.000,- (dari Rp. 4.500,-); solar Rp. 5.500,- (dari Rp. 4.300,-); dan minyak tanah Rp. 2.500,- (dari Rp. 1500 ).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Lih. JH. Newman, The Development of Christian Doctrine, dikutip dalam: Beriman Sungguh-Sejarah Doktrin Gereja, (diktat oleh Bernhard Kieser SJ,), Yogyakarta, 2001, hlm 142.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-7844262243026756681?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/7844262243026756681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/mewartakan-kisah-kristus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/7844262243026756681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/7844262243026756681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/mewartakan-kisah-kristus.html' title='MewarTakan KisaH KrisTus'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SaD_Ttf0ChI/AAAAAAAAADI/3u8Opc5puz8/s72-c/5603474-lg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-7655043694889981753</id><published>2009-02-20T21:16:00.001-08:00</published><updated>2009-02-20T21:40:40.007-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PaPer'/><title type='text'>Kristianitas yang “Katolik” dan menyejarah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pertanyaan Mendasar:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam kajian tentang pemikiran John Henry Newman ini, kami hendak mengajukan tiga buah rumusan pertanyaan yang hendak dijawab dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;1. Bagaimana Orang Kristen dapat mengenal Allah secara personal untuk kemudian mengungkapkan dan membahasakan imannya dengan tepat di tengah dunia yang terus menerus berubah?&lt;br /&gt;2. Bagaimana Orang Kristen dapat bersikap terbuka terhadap perkembangan zaman sambil terus memperhatikan dan setia pada pelbagai ajaran Gereja yang sudah ada?&lt;br /&gt;3. Apa yang dimaksud dengan Katolisitas dalam perkembangan sebagai wujud Gereja yang sejati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Riwayat Hidup dan Latar Belakang&lt;br /&gt;1. KELUARGA DAN PENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;John Henry Newman (1801-1890) lahir di London, dalam keluarga Anglikan sebagai anak sulung dari enam bersaudara. Ayahnya bernama John Newman yang adalah pemilik bank. Ia merupakan anggota Gereja Anglikan. Beliau meninggal pada tahun 1824. Sedangkan ibunya -Jemima Fourdrinier- berasal dari keluarga Protestan-Kalvinis Perancis yang dengan getol mendidik Newman dengan ‘agama kitab suci’ (Protestan). Beliau meninggal tahun 1836.&lt;br /&gt;Ketika berumur tujuh tahun, Newman disekolahkan secara privat di Ealing milik Dr. Nicholas. Newman mempunyai kegemaran membaca Kitab Suci, roman Walter Scott. Dia juga gemar membaca buku-buku karangan Paine, Hume dan bahkan Voltaire yang beraliran skeptis. Buku-buku itu rupanya memberi pengaruh bagi pemikirannya. Pada usia 15 tahun, Newman mengalami pertobatan eksistensial mendalam: kesadaran bahwa hanya ada Aku dan Penciptaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegembiraan masa kecil Newman rupanya diwarnai dengan situasi yang tidak mengenakkan. Maret 1816, bank milik ayahnya harus tutup karena adanya (dan akibat) perang yang dilakukan oleh Napoleon. Tutupnya bank tersebut membuat perekonomian keluarga menjadi kacau. Masa krisis ini menyebabkan Newman tetap tinggal di sekolah meskipun dalam masa liburan. Newman mencoba mengambil hikmahnya dengan adanya peristiwa ini. Peristiwa ini dianggap sebagai salah satu yang sudah ditakdirkan Tuhan bagi hidupnya. Perubahan pandangan Newman ini di bawah bimbingan Rev Walter Mayers yang nantinya mengarahkan Newman pada aliran Kalvinis-evangelis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 4 Desember &lt;a title="1816" href="http://en.wikipedia.org/wiki/1816"&gt;1816&lt;/a&gt;, Newman diterima di &lt;a title="Trinity College, Oxford" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Trinity_College,_Oxford"&gt;Trinity College, Oxford&lt;/a&gt;. Memang dari segi biaya Newman mengalami ketersendatan. Tetapi kecerdasannya melebihi teman-temannya sehingga dia mendapat beasiswa. Dan pada tahun 1823, Newman mampu menyelesaikan itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. IMAM: DARI ANGLIKAN KE KATOLIK SAMPAI MATI&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pada tahun 1825, newman ditahbiskan menjadi imam Anglikan. Setahun berikutnya ia menjadi pengajar dan pendidik di Oxford dan pengkhotbah di gereja universitas. Khotbah dan renungan-renungannya membuat Newman menjadi terkenal di dalam gerejanya. Gambaran gereja yang diperoleh melalui studi para Bapa Gereja membuat dirinya tertekan dan sedih karena gambaran yang dia punyai berlainan dengan dengan gereja yang aktual. Tahun 1983 dia bersama rekan-rekannya melihat Gereja Katolik secara lebih detail dan mereka menilai bahwa Gereja Katolik juga jauh dari gereja sejati. Newman semakin menyadari tugasnya yang tidak mudah yaitu mengadakan pembaharuan hidup gereja sejati. Ia mendirikan gerakan pembaharuan itu dikemudian hari disebut dengan Gerakan Oxford.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Tahun 1839, Newman mencapai puncak kegelisahan pemikiran dalam gereja. Ia mulai meragukan asas Gereja Anglikan yang melihat gereja bapa-bapa gereja sebagai asasnya&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;. Tahun 1843 Newman meletakkan jabatannya sebagai imam dan juga berhenti sebagai dosen dan pengkhotbah.&lt;br /&gt;8 Oktober 1845 Newman beralih ke Gereja Katolik. Dan pada tahun 1847, dia ditahbiskan sebagai imam katolik. Dia mencoba untuk membina iman dalam katolisitas atau universalitas sejati. Tahun 1854 Newman merintis dan mendirikan Universitas Katolik di Dublin / Irlandia. Baginya, pendidikan di universitas yang bersifat terbuka memampukan orang kristiani untuk hidup beriman dalam dunia. 1879 ia diangkat sebagai kardinal oleh Paus Leo XIII. Perjalanan panjangnya berakhir ketika ia wafat pada 11 Agustus 1890. Pada tahun 1991, ia mendapat gelar Venerable (“Yang Dimuliakan”) dari tahta suci dan kini proses beatifikasinya masih terus berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup Newman meliputi hampir seluruh abad 19.; mulai dari zaman Napoleon yang membawa Revolusi Perancis ke semua negara Eropa, lewat masa ‘romantik’ budaya dan religius, lewat puncak zaman kolonial dan lewat revolusi industri, lewat masa awal demokrasi sampai puncak kuasa negara-negara nasional, pada ambang masa Perang Dunia Pertama. Di masa yang sama, Gereja Katolik, melalui Paus Pius VII (1800-1823), mengadakan pembaharuan dengan lahirnya banyak kongregasi membiara (terutama untuk memberantas kemiskinan dan untuk karya misi di wilayah penjajahan); ada Paus Gregorius XVI (1831-1846) dan Paus Pius IX (1846-1878) yang membela tahta suci dan membentengi gereja melawan dunia yang bermusuhan; dan ada Paus Leo XIII (1878-1903) ingin membawa warta gembira dalam dunia yang tidak lagi peka terhadap kehadiran rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu paham yang mewarnai kehidupan jaman itu adalah liberalisme (iman) yang menekankan kebebasan berpikir dalam beriman yang tidak terkungkung pada ajaran otoritas tertentu. Walau pandangannya terkesan progresif, namun Newman (saat masih berada di Gereja Anglikan) melawan liberalisme iman dengan menegaskan bahwa iman kristiani mengandalkan pokok-pokok iman yang terumus dalam syahadat, dan gereja merupakan paguyuban tertata di bawah pimpinan uskup&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. POKOK-POKOK PEMIKIRAN&lt;br /&gt;1. Pewahyuan dan kesetujuan iman&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;a. Allah Hadir dalam Sejarah dan Menjadi Manusia: Ide Dasar Kristianitas&lt;br /&gt;Bagi Newman, kristianitas merupakan suatu fakta sejarah dan dapat menjadi pokok penelitian dari penalaran&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;. Maksudnya Newman melihat bahwa kristianitas bermula dari peristiwa Allah yang menyejarah: menjadi manusia, hadir dalam sejarah hidup manusia dalam diri Yesus. Inilah ide awal kekristenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan kristianitas yang menyejarah itu tidak datang begitu saja. Newman mendasarkan pandangan itu pada pengalaman hidupnya: Pertama, pada saat ia belajar di Trinity-College di Oxford. Ia mulai tertarik terhadap “kehidupan gereja para bapa gereja serta keyakinan akan gereja sebagai paguyuban iman yang katolik, yang universal sepanjang masa”. Pemahaman ini mengarahkan dirinya dalam pergulatan hidup yang senantiasa mengalami perkembangan. Perkembangan inilah tanda sejati bagi kehidupan. Kedua, saat ia mempelajari Konsili Khalkedon, ia melihat bagaimana para teolog serta uskup dari alexandria (yang monofisit&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;) terus-menerus mengacu pada “ajaran kuno”, yakni ajaran tradisi lama. Tindakan para teolog dan uskup tersebut merupakan usaha untuk membela pendapat mereka melawan Paus Leo I serta menantang rumus Konsili Khalkedon. Sementara dalam perjalanan waktu, Gereja Katolik, Anglikan, maupun protestan mengakui isi dari Konsili Khalkedon&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua pengalaman itu, Newman melihat bahwa kristianitas itu menyejarah dan berkembang. Dan hal tersebut bisa dianalogikan dengan perumpamaan biji sesawi. Biji sesawi adalah biji yang paling kecil. Namun manakala ditaburkan, ia akan bertumbuh menjadi pohon besar yang dapat memberikan perlindungan bagi mahluk lain di sekitarnya. Analogi “biji sesawi’ ini sangat tepat kiranya untuk menggambarkan adanya perkembangan yang bertahap dalam Gereja. Biji sesawi yang dimaksud adalah Kehadiran Allah dalam diri Yesus. Inilah ide awal-dasariah yang senantiasa direfleksikan oleh Gereja sesuai dengan konteks zamannya. Contoh nyata dari perkembangan refleksi Gereja akan Yesus adalah Gereja para rasul, Gereja Patristik, Skolastik, Trente, Vatikan I, Vatikan II sampai pada akhir zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Suara Hati Sebagai Sumber Kesetujuan Iman&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kristianitas yang menyejarah merupakan hasil refleksi dan buah kesetujuan iman Gereja. Iman terus mengalami perkembangan dan tidak akan pernah mandeg untuk digali. Newman melihat bahwa manusia mampu berefleksi tentang Allah karena Allah menganugerahkan daya imajinasi religious kepada diri manusia.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Allah sebagai kenyataan yang hidup kita kenal dengan daya imajinasi religious, dan diyakini sebagai kebenaran melalui penalaran teologis. Bukan seakan-akan ada pemisahan tegas antara dua cara kesetujuan itu, antara yang teologis dan yang religius. Semua orang punya penalaran dan semua punya imajinasi; demikian pula semua orang-dalam arti tertentu- berteologi. Dan teologi hanya dapat tumbuh dan berkembang dengan daya awal dan daya dorong dari religiositas yang hidup”&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;&lt;em&gt;[8]&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan refleksi manusia akan Allah itu tidaklah sempurna karena keterbatasan manusia dalam membahasakan imannya. Oleh karena itu, Newman berpendapat bahwa refleksi iman yang telah terbahasakan tersebut dapat selalu direfleksikan lagi sesuai dengan konteks zamannya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Semua manusia berakal budi dan mengerti, namun tidak semua orang merefleksikan pengertian mereka, apalagi dapat berefleksi tepat dan cermat, sehingga mereka dapat menjelaskan pendapat mereka. Dengan kata lain, semua manusia punya alasan namun tidak semua orang dapat menjelaskan pengertian mereka dengan alasan ……..”&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;&lt;em&gt;[9]&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam refleksi iman ini, Newman membedakannya adanya 2 kategori kesetujuan untuk membentuk iman yang berkembang, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Real Assent&lt;/strong&gt; (kesetujuan real): merupakan kesadaran pada pusat pribadi manusia yang menangkap hidup dalam sejarah dan juga menangkap Dia sebagai Tuhan kita. Kesadaran ini ada dalam diri manusia yang berasal dari suara hati saat menangkap suatu realitas, sehingga mengantar pada suatu kesetujuan pribadi. Fokus perhatiannya pada iman yang hidup. Iman bukanlah suatu sikap yang tidak bisa berubah, iman lebih dari sekedar ajaran tertentu, tetapi iman merupakan kesetujuan dari suara hati yang hidup dalam hati setiap manusia dan mengarahkan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Notional Assent&lt;/strong&gt; adalah kesetujuan iman yang diterima secara kritis. Iman tidak sekedar kesetujuan tanpa nalar, tetapi diterima dengan konsep logika yang benar. “Tanpa pengalaman, iman tidak kredibel, tanpa usaha nalar, iman tidak konsisten”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;. Iman lahir dari kejujuran setiap pribadi yang ingin beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dikatakan bahwa Notional assent merupakan pemahaman kritis akan iman dalam pemikiran teologi, ajaran/dogma dll, sementara real assent adalah kesetujuan iman berdasarkan pengalaman hidup yang direfleksikan. Dasar refleksi itu adalah suara hati yang mengarahkan manusia kepada Allah&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;. Pengalaman hidup yang diterima oleh panca indra dan diolah akal budi. Pengalaman itu kemudian dituliskan dalam gagasan teologi yang bersifat terbatas. Hal itu dikarenakan iman selalu bisa berkembang dan selalu bisa didialogkan dengan pengalaman seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinamika untuk melihat peran suara hati dalam kaitannya dengan real assent dan notional assent dapat digambarkan sebagai berikut : ide awal mengenai Yesus direfleksikan oleh Gereja yang dikontraskan dengan pengalaman pribadi. Dari sini suara hati mulai berbicara apakah refleksi mengenai Yesus, yang telah dibahasakan dalam doktrin oleh Gereja, sambung atau tidak dengan pengalaman hidup. Jika doktrin Gereja tersebut tidak sambung dengan pengalaman hidup, akhirnya suara hati turut berperan untuk merefleksikan kembali doktrin tersebut. Contoh sederhana untuk menggambarkan peran suara hati dalam mengambil keputusan konkret adalah ketajaman hati dan pemahaman yang menyeluruh ketika menghadapi gencarnya tuntutan legalisasi aborsi di jaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan tentang suara hati dalam kerangka kesetujuan iman mengungkapkan asumsi antropologis Newman tentang manusia: pribadi yang merdeka dan otonom terhadap segala macam ketentuan dari luar. Dengan suara hati&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;, manusia menyatakan kesetujuan iman. Dalam kesungguhan suara hati, manusia berjumpa dengan Allah sendiri. Dalam nuansa moral, Newman melihat suara hati sebagai pengarah dan pengatur tindakan manusia, yang menunjukkan eksistensinya dalam partikularitas. Artinya: menyajikan apa yang harus diperbuat, mana yang benar atau salah, dalam situasi konkret. Partikularitas inilah yang mendasari argumennya bahwa suara hati tidak dapat terlibat dalam pertentangan dengan ajaran Gereja (khususnya infalibilitas)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;, karena keduanya memiliki wilayah cakupan yang berbeda. Bagi Newman, suara hati juga bersifat imperatif: ada di dalam setiap pribadi dan menjadi pengarah yang bersifat memaksa&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pendidikan Suara Hati&lt;br /&gt;Suara hati yang berperan dalam merefleksikan iman Gereja secara jujur membutuhkan sarana. Sarana tersebut adalah pendidikan. Di sini Newman melihat bahwa pendidikan amat penting untuk terbentuknya suara hati yang jujur. Dengan pendidikan, suara hati diajar untuk mengenal nilai-nilai moral, baik dan buruk, sehingga suara hati semakin murni dalam melihat, menilai dan mengambil keputusan. Suara hati juga diasah untuk berkembang, khususnya ketika berhadapan dengan dunia yang juga berkembang. Jadi, suara hati tidak hanya terbelenggu pada fanatisme, tetapi mau melihat pelbagai ajaran yang ada (baca:doktrin) tersebut secara jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Iman dan Pembahasaannya yang Berkembang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kristianitas adalah agama yang menyejarah. Dan sejarah itu tidak hanya bermakna sebagai kemunculannya di masa lampau namun juga perkembangannya ke masa depan. Sifat menyejarah itu mencakup pula perkembangan iman dan doktrin: untuk dapat membahasakan dan mengungkapkan iman yang hidup secara terus menerus. Pengungkapan iman juga didorong oleh situasi zaman yang terus berubah. Maka pembahasaan iman juga merupakan respon terhadap tuntutan zaman. Dengannya terungkap iman yang senantiasa teraktualisasi untuk hidup di sini dan saat ini (hic et nunc).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan dengan budi manusia, Newman mengungkapkan alasan terjadinya perkembangan iman yaitu budi manusia yang menangkap, mengolah, dan mengembangkan ide (obyek tentang kristianitas) yang ia terima&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt;. Dan karena hakekat kristianitas adalah Allah yang terlibat dalam sejarah, maka perkembangan adalah suatu hal yang normal dan (bahkan) dibutuhkan demi pencapaian ide yang utuh tentang Kristianitas. Hal ini tidak pertama-tama dimengerti sebagai hasil diskusi yang panjang, melainkan lahir dari proses kehidupan dalam Gereja&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Studinya mengenai sejarah dan pemikiran Bapa-bapa Gereja membuatnya semakin yakin bahwa selain ide perkembangan, kriteria kebenaran iman juga ditentukan oleh Katolisitas. Kata ini mengisyaratkan tema keterbukaan dan universalitas, artinya terbuka terhadap perkembangan dan merangkum perjalanan umat Allah sebagai satu kesatuan yang memberi bentuk bagi doktrin dan hidup gereja, tidak hanya ditentukan oleh hirarki. Maka bagi Newman, “katolisitas dalam perkembangan” adalah wujud Gereja sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Newman menjadi Katolik (1845) ketika sedang bergumul dalam pembuatan buku Essay on the Development of Christian Doctrine, dan pergumulan itu pulalah yang akhirnya mengantar dia untuk bergabung dengan Katolik Roma. Konversinya ini tidak dilihatnya sebagai perubahan, melainkan perkembangan Penelitiannya terhadap sejarah Kristen memaksanya untuk mengakui bahwa semua hal berkembang dan berubah dalam waktu, termasuk Gereja. Baik institusi maupun ide kekristenan telah berkembang. Dan ia melihat bahwa secara bertahap, Gereja Katolik Roma telah mengalami perkembangan tersebut selama berabad-abad, menjadi sebuah entitas yang berbeda dengan Gereja patristik. Namun garis perkembangan itu tetap bersifat kontinyu&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tujuh Kriteria: perkembangan atau kemerosotan&lt;br /&gt;Dalam Essay on the Development of Christian Doctrine, Newman melihat bahwa perkembangan doktrin kristinanitas dalam sejarah bukanlah tanpa batasan, di mana setiap perubahan-gerakan dapat dipandang sebagai perkembangan. Newman membedakan antara perkembangan dengan kemerosotan. Dan untuk melihatnya sebagai perkembangan, ada tujuh kriteria yang menjadi batasan untuk melihat suatu perubahan sebagai perkembangan.&lt;br /&gt;1. Setia pada ide awali&lt;br /&gt;2. Nampaklah kontinuitas dalam asas-asas&lt;br /&gt;3. Mampu mengasimilasi ide-ide dari luar&lt;br /&gt;4. Ajaran ini di kemudian hari dikenal kembali dalam ajaran kuno&lt;br /&gt;5. Penelitian membuktikan kesinambungan&lt;br /&gt;6. Ajaran kuno dipelihara utuh dalam doktrin di kemudian hari.&lt;br /&gt;7. Hidup iman penuh gairah berlangsung terus&lt;br /&gt;Ketujuh kriteria ini memegang peranan penting dalam ide “perkembangan”, bahwa ada inti yang terus menerus menetap ada dalam gerakan tersebut, namun ada juga yang senantiasa bergerak atau dengan kata lain berkembang. Maka tidak boleh ada kemandegan dalam doktrin iman. Metafor yang dapat digunakan dalam menggambarkan perjalanan doktrin kekristenan adalah bola salju. Di dalam bola salju ada inti terdalam yang terus menerus ada dan menetap. Namun bola salju itu terus bergerak dari waktu ke waktu, maka ada yang senantiasa yang berkembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Konsekuensi dari Gerak Perkembangan Iman dan Doktrin&lt;br /&gt;Pertanyaan yang layak ditujukan dalam mencermati teori tentang perkembangan ini adalah Jika kristianitas adalah satu dan berpijak pada peristiwa Allah yang menyejarah, maka dari mana asalnya pelbagai macam perbedaan dalam pengungkapan dan pembahasaan iman? Sejarah gereja telah mencatat lembaran-lembaran “hitam” disintegrasi dalam Gereja, tidak hanya dalam aneka disiplin namun juga pada teologi dan pengungkapan imannya. Apakah ini konsekuensi logis dari gerak perkembangan iman ini?&lt;br /&gt;Dari perspektif Newman, ketujuh kriteria yang dibuatnya menjadi patokan untuk melihat hal tersebut. Namun fakta bahwa ada disput dan perpecahan dalam Gereja yang menyejarah, tidak adil bila rasanya istilah “kemerosotan” diarahkan pada mereka. Secara lebih positif mungkin dapat dikatakan bahwa pembahasaan iman yang berbeda timbul dari suatu doktrin yang diekstrimkan. Bila suatu doktrin menjadi ekstrim, mutlak; maka hal yang berkebalikan akan juga muncul dan berupaya menyeimbangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakekat waktu menjadi sangat vital, karena kebenaran iman yang sejati tertuang dalam perkembangan, konkretnya dalam sejarah. Maka setiap gerak perkembangan kekristenan harus dilihat dalam konteks waktu. Terlihat bahwa Newman yakin: kebenaran ternyata dalam (lanjutan) waktu: Praevalebit Veritas&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Relevansi dan Sumbangan Pemikiran Newman&lt;/strong&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;&lt;strong&gt;[19]&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Newman menekankan pentingnya melihat sejarah dalam konteks pembahasaan iman yang terus berkembang. Kata “sejarah” mengandaikan adanya pangkal, proses, dan tujuan. Demikian juga kristianitas. Pangkalnya adalah penyataan diri Allah dalam Yesus Kristus. Proses perkembangannya dapat terlihat dari potret sejarah Gereja. Sedangkan tujuannya adalah mencapai kebenaran, berjumpa dengan Allah sendiri. Maka tidak ada harga mati dalam suatu doktrin. Demikian juga ajaran Gereja bukanlah kata akhir. Namun kebenaran iman ditangkap dalam sikap bersejarah, yaitu dalam keterbukaan pada masa depan, di mana waktu menjadi penguji sah doktrin iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode teologi Newman, yang senantiasa berpijak dari sejarah, membuatnya layak disebut teolog historis. Keyakinan iman yang dipegang adalah Allah (senantiasa) bertindak, bersama dan dengan umat Allah, dalam sejarah umat manusia (GS 40). Iman itu pun berkembang kalau umat menyeluruh (baca:katolik) terbuka dalam melibatkan diri untuk perjuangan hidup manusia. Newman mengatakan pula bahwa “tanah air” kekristenan adalah dunia. Eksistensi obyektif kristianitas adalah terjun dalam pergulatan umat manusia&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Newman memberi tempat bagi peran masing-masing pribadi dalam menghayati dan membahasakan iman, yaitu kesungguhan suara hati. Otonomi dan kebebasan manusia Kristen diungkapkan dengan kesetujuan real untuk beriman (DV 5) pada tindakan Allah dalam sejarah, khususnya dalam diri Yesus Kristus (DV 4). Newman membantu orang untuk menjadi semakin beriman, mengiyakan Allah dalam hidupnya secara eksistensial. Iman bukan hanya ketaatan buta pada sejumlah ajaran, tapi harus berpijak pada pengalaman dan diuji secara nalar&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Tema kesetujuan iman masing-masing pribadi dalam menghayati hidup dan menangkap Allah, memberi kredit tersendiri bagi peran kaum awam dalam membentuk dan mengembangkan doktrin kekristenan. Dalam salah satu karangannya&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt;, ia mengingatkan bahwa katolisitas dari iman Kristiani yang utuh itu dipercayakan pada seluruh Gereja dan diungkapkan oleh pewartaan Uskup, pengajaran para teolog dan juga oleh keyakinan umat. Secara bersama-sama, mereka mewujudkan perkembangan Kristianitas&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;[23]&lt;/a&gt;. Tema katolisitas juga menekankan pentingnya peran awam dalam hidup menggereja. Gereja adalah sakramen dan pertama-tama Umat Allah (bdk LG 9, 10-12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide katolisitas juga diungkapkan dengan tepat, khususnya ketika banyak sikap resisten bermunculan dengan dogma infalibilitas Paus. Newman menjawab resistensi itu&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn24" name="_ftnref24"&gt;[24]&lt;/a&gt; dengan menyatakan bahwa infalibilitas Paus dimengerti dalam rangka infalibilitas iman seluruh Gereja, dan terutama infalibilitas Paus mengandalkan dan mengandaikan kebebasan dan tanggungjawab suara hari setiap orang beriman dan sama sekali tidak dapat membatalkannya&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn25" name="_ftnref25"&gt;[25]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Sumbangsih yang tak kalah pentingnya hadir dalam pemikirannya tentang peran pendidikan bagi perkembangan kekristenan. Dalam sejarah hidupnya, ia banyak bergulat dengan bidang pendidikan&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn26" name="_ftnref26"&gt;[26]&lt;/a&gt;. Dalam tulisannya yang berjudul The Idea of University, ia menekankan peran penting yang seharusnya tampil dari universitas (lembaga pendidikan), yaitu mempersiapkan orang-orang dari dunia bagi dunia. Di dalamnya, aneka pemikiran kritis dari dunia modern harus dikaji, bukan diabaikan. Selain itu, pelbagai ilmu dikaji secara mendalam, aneka metode diajarkan, sehingga menghasilkan studi yang berbuah bagi kehidupan&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn27" name="_ftnref27"&gt;[27]&lt;/a&gt;. Baginya jelas bahwa daya intelektual manusia dipertajam dengan ilmu pengetahuan. Dalam kaitan dengan iman dan kesetujuan suara hati, pendidikan berperan dalam menyajikan sarana untuk membentuk iman yang terbuka dan berkembang dalam dunia. Dalam konteks doktrin, pendidikan juga mengasah suara hati untuk tidak terbelenggu pada fanatisme dan kekakuan, tetapi mau melihat kembali doktrin-doktrin tersebut secara jujur, sehingga dapat berkembang. Doktrin dan perumusan iman harus ditafsirkan secara terbuka, seluas mungkin bagi umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Newman hadir di saat tepat, di masa Gereja sedang mengalami transisi. Ia memperantarai kekakuan pembahasaan iman yang tertuang dalam Konsili Vatikan I dan pemikirannya menjadi benih-benih yang meramalkan Konsili Vatikan II&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn28" name="_ftnref28"&gt;[28]&lt;/a&gt;, di mana salah satu gagasan dasariahnya adalah keterbukaan. Sebutan tokoh ekumenis juga disematkan pada dirinya. Salah satu sebabnya adalah bahwa ketika ia bergabung dengan Gereja Katolik (tahun 1845), ia membawa warisan “protestannya” dan tidak membuangnya&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn29" name="_ftnref29"&gt;[29]&lt;/a&gt;. Baginya konversinya pada Gereja Katolik Roma adalah sebuah perkembangan. Selain itu, ide katolisitas dan keterbukaan dalam penafsiran rumus iman, yang bertujuan agar penghayatannya merangkum seluas mungkin orang, memperkuat posisinya sebagai tokoh ekumenis. Ia menjelajahi katolisitas iman yang terdapat dalam Gereja Katolik, namun tidak terbatas hanya pada Gereja Katolik&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn30" name="_ftnref30"&gt;[30]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Hidup orang beriman adalah usaha untuk mencari kebenaran. Ini jugalah yang mendorongnya untuk senantiasa terbuka pada perkembangan dalam doktrin. Termasyur pula semboyan atas makamnya ex umbris et imaginibus in Veritatem (dari bayangan dan gambaran menuju sampai kebenaran) mengungkapkan bahwa gambaran tidak sama dengan kebenaran. Pelbagai ajaran Gereja bukanlah kata akhir, bukanlah Tuhan sendiri. Perjalanan hidup Newman adalah untuk mencari kebenaran&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn31" name="_ftnref31"&gt;[31]&lt;/a&gt;. Demikianlah setiap doktrin senantiasa berkembang dalam sejarah. Pemikirannya telah mengajak kita terus berproses untuk senantiasa membahasakan iman dalam konteks yang tepat dalam sejarah, senantiasa berkembang, namun tetap setia pada ide awalnya: Kehadiran dan keterlibatan Allah dalam sejarah, terutama dalam diri Yesus Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka:&lt;br /&gt;Kieser, Bernhard. Beriman Sungguh Sejarah Doktrin Gereja, (Diktat) FTW, Yogyakarta, 2001&lt;br /&gt;Grave, SA. Conscience in Newman’s Thought, Clarendon Press, Oxford, 1989&lt;br /&gt;Martin, Brian. John Henry Newman-His Life and Works, Chatto and Windus, London, 1982&lt;br /&gt;Tablet, vol 262, Januari 2008&lt;br /&gt;R. Boudens, Growth” A Key Concept in Understanding Newman, dalam Ephemeridhes Theoloogicae Lovanenses, Vol. 69, 1993&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catur Priyo Utomo&lt;br /&gt;Dandi Sebastian&lt;br /&gt;Eko Wahyu&lt;br /&gt;Raka Setiaji&lt;br /&gt;Tri Kusuma&lt;br /&gt;Ulun Ismoyo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Gerakan Oxford adalah gerakan pembaharuan suatu gereja yang independen dari penguasa politik sebagai paguyuban orang beriman yang mendapat wewenangnya dari para rasul, bukan dari raja atau dari DPR.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Karangan brosur “Beberapa catatan mengenai bagian dari 39 Artikel”, yakni artikel dalam Prayer Book (Syahadat Resmi Gereja Anglikan), menghasilkan konflik dengan sejumlah uskup dan awam terkemuka dalam Gereja Anglikan. Dalam karangan ini, Newman memperlihatkan bahwa ke-39 artikel ini dapat dan harus diartikan secara Katolik.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Lih. Bernard Kieser, SJ, Beriman Sungguh : Sejarah Doktrin Gereja, Yogyakarta, hlm 141&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Disadurkan dari J.H.Newman, An Essay on the Development of Christian Doctrine. The Edition 1845. Edited with an introduction by J. M. Cameron, Pinguin Books, 1974. Kutipan diambil dari Chapter II, On The Development Christian Ideas, Antecedently Considered Section I. On The Probability of Development In Christianity, 148-165, sebagaimana dikutip oleh Bernard Kieser, SJ, Beriman Sungguh : Sejarah Doktrin Gereja, Yogyakarta, 150.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Gereja-Gereja besar yang tidak menerima rumus iman dari Khalkedon, yaitu mengenai rumus trinitaris dan kristologis, adalah Gereja monofisit koptik di Mesir, Syria Barat, dan Gereja Armenia dan Georgia.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Isi dari Konsili Khalkedon adalah adanya pengakuan bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah Anak yang satu dan sama, sebagai begitu sempurna dalam keallahan dan sempurna dalam kemanusiaan, Yesus adalah sungguh Allah-sungguh manusia.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; John Henry Newman (1801-1890) memandang suara hati adalah kesadaran untuk tak tergoyahkan, tanpa menghiraukan segala macam pertimbangan dan kepentingan kita sendiri. Jadi, ada kemutlakan tuntutan untuk melakukan apa yang disadari sebagai kewajiban dirinya sebagai manusia.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Kutipan dari Essay in aid of a grammar of assent…….” dalam Bernard Kieser, SJ, Beriman Sungguh : Sejarah Doktrin Gereja, hlm. 145&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Bernard Kieser, SJ, Diktat Iman Wahyu, hlm.42.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Bernard Kieser, SJ, Beriman Sungguh : Sejarah Doktrin Gereja, Yogyakarta, 145.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Maka kesetujuan iman adalah gerak perkembangan terus menerus antara real assent dan Notional Assent.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Istilah “suara hati” khas Newman sendiri memiliki dua nuansa: moral dan otoritas tertinggi manusia. Suara hati juga ditampilkan sebagai “tindakan”, yang “memberikan pegangan tertentu”, “ketentuan”, dan juga “perasaan” Lih. SA Grave, Conscience in Newman’s Thought, p. 30, 60&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Tema tentang infalibiltas ini akan dikupas lebih lanjut dalam bagian penutup&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Lih. SA Grave, Opcit, hlm 179&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Obyek ini tidak pernah menjadi suatu ide yang utuh dalam budi manusia, dan bahkan menantang budi manusia untuk mencari dan melengkapinya dalam perkembangan.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; R. Boudens, “Growth” A Key Concept in Understanding Newman, dalam Ephemeridhes Theoloogicae Lovanenses, Vol. 69, 1993.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Lih. Brian Martin, Opcit, hlm 75&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Lih. Bernhard Kieser, Opcit, hlm. 145&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Dalam pembahasan ini, kami melihat bagaimana pemikiran Newman menjadi benih-benih (sesuai dengan) ide yang dihasilkan Konsili Vatikan II. Maka beberapa sumbangan pemikiran, dikaitkan dengan pelbagai dokumen hasil konsili tersebut. Lih juga. B. Kieser, hlm 146-147&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt; Sebagaimana dikutip dalam B. Kieser, Opcit, hlm. 142&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; Dapat dikatakan bahwa ide tentang suara hati dalam kaitan dengan hidup beriman, hendak memberi “jalan tengah” antara rasionalisme (yang melulu mengandalkan akal budi) dengan fideisme (yang melulu mengandalkan pengalaman iman)&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt; On Consulting the Faithful in Matters of Doctrine&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;[23]&lt;/a&gt; Ia juga menambahkan dengan memberi contoh bahwa di masa Arianisme, iman akan Yesus Kristus sebagai Anak Allah diwartakan, diteguhkan, dan dipelihara lebih oleh kaum awam dibandingkan para uskup.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref24" name="_ftn24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Salah satunya: Letter to the Duke of Norfolk, di mana ia menjawab tuduhan PM Inggris, Gladstone yang mencela orang Katolik bahwa ketaatan pada Paus berlawanan dengan loyalitas pada negara.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref25" name="_ftn25"&gt;[25]&lt;/a&gt; Lih. Bernhard Kieser, Opcit, hlm. 144.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref26" name="_ftn26"&gt;[26]&lt;/a&gt; Ia sendiri mengurus dan mendirikan sejumlah lembaga pendidikan: Oratori di Birmingham dan London, Universitas Katolik di Dublin. Lih. Tablet, vol 262, Januari 2008, p. 6&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref27" name="_ftn27"&gt;[27]&lt;/a&gt; Untuk pembahasan tentang peran dan hakekat universitas ini, Lih. Brian Martin, John Henry Newman-His Life and Works, p. 144-146&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref28" name="_ftn28"&gt;[28]&lt;/a&gt; Benih pemikirannya dan metode teologinya yang mengantisipasi Konsili Vatikan II membuatnya dijuluki: “The Father of Vatican II”. Lih. Iar Kerr, Newman, The Councils, dan Vatican II, in Communio vol 28, 2001, p. 723&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref29" name="_ftn29"&gt;[29]&lt;/a&gt; Salah satu warisan tersebut adalah pengenalan Kitab Suci yang mendalam: “Kalau ingin mengenal Kristus, harus mengenal Kitab Suci”. Kontak dengan tokoh-tokoh teologi lberal dalam Gereja Anglikan membuatnya belajar untuk “belajar berpikir sendiri”. Selain itu nuansa ekumenis dimunculkan pula dengan pandangannya tentang “pertobatan terus menerus” untuk dapat berjumpa dengan Kristus.Lih. B. Kieser, Opcit, hlm. 146&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref30" name="_ftn30"&gt;[30]&lt;/a&gt; Lih. Bernhard Kieser SJ, Beriman Sungguh : Sejarah Doktrin Gereja, hlm. 139&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref31" name="_ftn31"&gt;[31]&lt;/a&gt; Sebagaimana diungkapkan dalam Apologia Pro Vita Sua (1863), di mana Newman mencoba menjawab tuduhan dari Charles Kingsley: bahwa klerus Katolik mempermainkan kebenaran&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-7655043694889981753?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/7655043694889981753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/kristianitas-yang-katolik-dan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/7655043694889981753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/7655043694889981753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/kristianitas-yang-katolik-dan.html' title='Kristianitas yang “Katolik” dan menyejarah'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-6789764446413236803</id><published>2009-02-20T21:13:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T21:41:37.811-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PaPer'/><title type='text'>JeSus cHriSt SuPeRsTar</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;(InterPretasi Atas Film "Jesus ChRist Superstar")&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jesus Christ Superstar (Norman Jewison, 1973) merupakan film musical, yakni film yang dikemas ala opera music rock. Film Jesus Christ Superstar mengisahkan tujuh hari hidup Yesus yang menampilkan tokoh-tokoh sentral seperti Yudas Iskariot, Maria Magdalena, Annas dan Kayafas, Ponsius Pilatus dan Herodes, Petrus dan Simon Zelot. Kisah hidup Yesus sampai pada matinya di salib diceritakan melalui syair-syair lagu yang dinyanyikan semua pemain, lengkap dengan iringan music rocknya yang kental. Selain itu, film tersebut menampilkan aspek modern, tidak seperti film Yesus yang lain, terlihat dari kostum yang dikenakan para pemainnya. Paling kentara misalnya Yudas. Yudas yang berkulit hitam (representasi pengkhianatannya) mengenakan kostum merah dan syal ungu yang melekat pada tubuhnya. Demikian pula pada tokoh-tokoh lain, yang dikemas amat apik nan modern. Saat melihat film ini, saya menemukan banyak percakapan dan perhelatan dengan Yudas pada awal dan akhir, disertakan pula pujian Simon Zelot, kritikan pedas dari Anas dan Kayafas, peristiwa perjamuan, penangkapan Yesus, siksaan, kematian Yudas, sampai pada kematian-Nya di salib. Yesus dihujani interogasi.&lt;br /&gt;Jesus Christ Superstar kiranya berusaha menampilkan pribadi Yesus yang manusiawi. Aspek kemanusiawian Yesus inilah yang amat ditonjolkan. Tidak ada peristiwa mukjizat yang diperbuat oleh Yesus. Segala peristiwa yang ditampilkan Yesus apa adanya, sehingga amat logis dilakukan oleh manusia biasa. Yesus tampil dengan wajah penuh senyuman, kegembiraan, ada rendah diri sebagai manusia, Salah satu contoh kekentalan Yesus adalah kebersamaan-Nya bersama para murid, dan penderitaan yang dialami-Nya, yang mengantarkan-Nya pada salib. Teristimewa perjumpaan-Nya dengan Yudas dan Maria Magdalena. Ada sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Maria Magdalena yaitu “'I Don't Know How to Love I-Fun' mungkin mau menggambarkan cintanya kepada Yesus. Dia sendiri merasa heran atas cinta yang dimiliknya, mengagetkan dan memalukan, karena dia memiliki banyak lelaki sebelumnya '….had so many men before'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain, peran-peran Yudas mau menggambarkan kemanusawian Yesus. Yudas yang selama ini dipahami sebagai penkhianat Yesus ternyata tak digambarkan sama. Yudas setelah mati, ia mengenakan pakaian serba putih bersama dengan paduan suara surgawi. Dan secara tegas, Yudas mau menggambarkan Yesus “superstar” hanyalah manusia biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar bahwa menonton film Jesus Christ Superstar membawa kita pada kemanusiaan Yesus yang nyata. Satu sisi hal ini memberi wacana atas kemasuk akalan hidup Yesus yang dipahami sebagai penyelamat manusia. Peristiwa mukjizat serta kebangkitan yang lekat dalam hidup Yesus (sinoptik), dan menampilkan keillahiannya, tidak jelas terlihat dalam film ini. Buktinya terlihat dalam film ini bahwa setelah Yesus di salib. Ia di tinggalkan sendiri. Dalam kebisuan para pemain yang perlahan pergi meninggalkan dirinya. Sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja mengajak kita semua untuk berefleksi mengenai siapakah Yesus bagiku, apabila mengamati Yesus yang sedemikian manusiawinya. Bagi saya sendiri, setelah menonton film ini, film Jesus Christ Superstar memberi perspektif baru untuk mengenali kemanusiaan Yesus. Semoga keyakinan serta kemendalaman relasi dengan Yesus semakin mendalam dan mendapatkan warna yang indah. &lt;em&gt;(Kristologi, by Tri Kusuma)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-6789764446413236803?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/6789764446413236803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/jesus-christ-superstar-interpretasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/6789764446413236803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/6789764446413236803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/jesus-christ-superstar-interpretasi.html' title='JeSus cHriSt SuPeRsTar'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-7241283976725392121</id><published>2009-02-20T21:09:00.000-08:00</published><updated>2009-02-21T23:22:20.149-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PaPer'/><title type='text'>“Menjadi berIman : Keterlibatan demi pembebasan”</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Meneladan Hidup Yesus Yang Membebaskan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengantar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Iman yang hidup akan Yesus Kristus mengandaikan komitmen dan keterlibatan demi pembebasan dari segala bentuk kemiskinan, penindasan. Siapa yang sungguh melibatkan diri (dan karena itu sadar akan posisi sosialnya) akan berupaya menangkap dimensi pembebasan dari misteri Yesus Kristus. Dia akan menekankan tindakan Yesus historis yang memerdekakan, karena sebagai Putra yang menjadi daging, Yesus mewartakan kabar gembira dan bersikap sedemikian sehingga tercipta suatu kondisi kebebasan yang benar-benar baru bagi umat-Nya. Pewartaan dan sikap Yesus merupakan titik tolak bagi umat Kristen dalam mengikuti Tuhannya, juga dalam suatu konteks kemiskinan, penindasan, situasi yang harus diatasi dalam suatu proes pembebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berkaca Pada Sebuah Sketsa Yang Terluka&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Realitas kemiskinan, penindasan, dan penderitaan rupanya tidak akan mudah lenyap dari kehidupan manusia, secara khusus dalam konteks Indonesia sekarang ini. Realitas kemiskinan, penindasan, dan penderitaan datang silih berganti, bergulir mengisi hari-hari kehidupan rakyat Indonesia. Entah bencana yang melanda, musibah, kecelakaan, atau kemiskinan structural&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; sebagai buah ketidakadilan pihak-pihak tertentu. Gambaran ini melukiskan Indonesia yang tengah dirundung malang!. Kenaikan harga kebutuhan pokok membuat banyak rakyat menjerit. Di tengah jeritan-jeritan itu, ada simpang siur fakta yang serba kontras dan berlawanan satu sama lain. Ketika masyarakat berjuang untuk bertahan supay&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SaD6fv2Nu7I/AAAAAAAAAC4/q8O7rGYQs5I/s1600-h/Menghibur+Teman+Senasib+dan+..+Happy+aja,+Dan..+Tetap+Tersenyum+menyambut+dunia+ini...jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305515784369191858" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 229px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SaD6fv2Nu7I/AAAAAAAAAC4/q8O7rGYQs5I/s320/Menghibur+Teman+Senasib+dan+..+Happy+aja,+Dan..+Tetap+Tersenyum+menyambut+dunia+ini...jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;a bisa hidup, sebaliknya segelintir orang hidup dalam kelimpahan. Jumlah orang miskin di Indonesia tidak pernah susut, kira-kira 16,85 % dari total penduduk atau sekitar 36,8 juta jiwa hidup dalam kemiskinan, penderitaan, akibat kenakalan beberapa pihak&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat miskin selain mengalami kemiskinan, juga mengalami perendahan harkat dan martabat sebagai manusia. Perlakuan tidak adil kerap ditimpakan kepada mereka. Kebisuan dan kebekuan tutur adalah suatu jawab yang tak pernah mereka inginkan sebelumnya. Keterbatasan memaksa mereka memasung dan meratapi hidup dalam alur derita berkepanjangan. Demikian kemiskinan amat dekat dengan derita yang menyatu seperti keping mata uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi kemiskinan, penderitaan, dan penindasan mau tidak mau menantang sampai akhirnya melahirkan pergulatan dalam hati setiap orang. Kebebasan sebagai manusia yang tercipta baik adanya, menyadarkan eksistensi manusia yang seharusnya ada pada penghargaan yang sama satu dengan yang lain. Meski status, kondisi, dan persoalan yang dialami berbeda-beda. Kebebasan mengawali sejarah manusia, mulai dari pandangan teologis hingga humanis. Dikisahkan bahwa Tuhan memberikan kebebasan bagi manusia pertama untuk taat kepada perintah-Nya atau menuruti kehendak hatinya sendiri. Simbolisasinya: jangan memakan buah tentang pengetahuan yang baik-buruk yang ada di tengah Firdaus. Kisah kebebasan ini berlanjut hingga manusia terdampar ke Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia toh tetap memiliki kebebasan untuk percaya kepada Tuhan atau tidak. Ia menyediakan air dan udara bagi kebaikan setiap manusia, yang percaya ataupun tidak. Membingungkan jika kemudian ada ciptaan yang merampas kebebasan ciptaan lainnya yang lemah, tidak memiliki daya, atau miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan kemiskinan, penderitaan, dan penindasan memiskinkan diri dan orang lain sebagai ciptaan yang mulia. Situasi ini membuat gelisah dan menggugah ranah rasa manusia untuk bergerak dan berbicara soal kehidupan yang semestinya. Penulis tidak memaksudkan kemiskinan sebagai obyek studi yang mesti diberantas atau penderitaan, dan penindasan sebagai peristiwa yang harus ditolak. Tetapi bagaimana dalam situasi itu, kita mampu menemukan Allah yang berbicara terlebih dalam kehadiran Yesus, Putra-Nya ke dunia. Selain itu, berdasarkan uraian sketsa yang terluka tersebut, penulis ingin menampilkan bagaimana hidup Yesus mendasari tindakan manusia untuk terlibat dalam keprihatinan sesamanya. Bagaimanakah sikap dan perhatian Yesus terhadap situasi kemanusiaan yang berkembang di sekitar-Nya? Bagaimana Yesus benar-benar menjadi kabar gembira bagi orang-orang miskin, menderita, tertindas?. Secara umum semua manusia terus mencari realitas yang mendamaikan dan menyatukan dalam hidupnya, dan sebagai orang Kristen kita menemukannya dalam Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jembatan Antara Kristus dan Kita Manusia&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Jika Kristus merupakan nilai penentu bagi eksistensi, maka alasan utamanya adalah bahwa dalam Dia kita menemukan jawaban atas masalah-masalah dan harapan-harapan kita sebagai manusia. Jawaban diberikan sekian sehingga menyangkut Allah dan manusia, dan kita menemukan jawaban itu justru dalam diri Kristus. Iman telah menemukan Allah manusia dalam diri-Nya. Kita mengakui, bahwa dalam Kristus kita menemukan jalan sekaligus tujuan: melalui manusia kita sampai kepada Allah, melalui Allah kita memahami siapa manusia sesungguhnya&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;. Kita telah melihat bahwa dalam kemanusiaan-Nya iman telah menemukan keilahian. Atas dasar ini kemanusiaan merupakan jembatan yang menghubungkan Kristus dan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Misteri Inkarnasi : Kenosis Kristus sebagai Hamba yang Menderita.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Peristiwa inkarnasi&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; yang mengungkapkan solidaritas Allah kepada manusia kiranya menjadi sebentuk pertanyaan bagi kita terlebih kepada pribadi ketiga, yaitu Yesus sendiri. Yesus adalah sabda yang telah menjadi daging&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;. Ini jelas mengindikasikan bahwa Yesus adalah Allah dalam wujud manusia. Thomas sang murid mengungkapkan pada Yesus, "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28). Yesus tidak mengoreksi dia. Rasul Paulus menggambarkan Dia sebagai, “……Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus” (Titus 2:13). Rasul Petrus mengatakan hal yang sama, “….…Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” (2 Petrus 1:1). Allah Bapa adalah Saksi dari identitas Yesus yang sepenuhnya, “Tetapi tentang Anak Ia berkata: "Tahta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.” Nubuat-nubuat mengenai Kristus dalam Perjanjian Lama menyatakan keillahianNya, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Dengan &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SaD83v1QbPI/AAAAAAAAADA/tgBYAzpi7Vw/s1600-h/1_941829829l.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305518395705289970" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SaD83v1QbPI/AAAAAAAAADA/tgBYAzpi7Vw/s320/1_941829829l.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;kata lain, Misteri inkarnasi tersebut hendaknya dilihat dalam konteks perutusan Anak dari Bapa utuk melaksanakan rencana keselamatan Allah, yakni mendamaikan Allah dengan manusia (2 Kor 5:18-19)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;. Puncak penyelamatan dan pendamaian tersebut terjadi dalam peristiwa salib Kristus (Kol 1:20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa maksud semua itu? Bagi umat Kristiani, Yesus adalah pusat iman. Yesus adalah Allah yang mau merendahkan diri dengan mengambil rupa manusia, sebagai ungkapan kerahiman Allah yang mencintai umatnya. Misteri penjelmaan Allah tersebut hadir dalam rupa Yesus yang hadir ke dunia untuk melaksanakan perutusan Bapa. Pemberian diri Allah dalam misteri inkarnasinya merupakan tanda dan sarana perjumpaan manusia dengan misteri Kerajaan yang datang. Yesus yang mengambil rupa manusia, yang penuh dengan kelemahan dan keterbatasan. Dan peritiwa ini merupakan peristiwa pengosongan diri Allah yang sangat total baig manusia. Pengosongan diri tersebut diungkapkan pula oleh Paulus dalam suratnya kepada umat di Fillipi yaitu :&lt;br /&gt;“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menjadi manusia tanpa berhenti menjadi Allah. Allah –manusia ini bernama Yesus Kristus. Yesus yang mencintai, dan menyelamatkan manusia. Bentuk pengosongan inilah yang dilakukan Allah dalam dan melalui Yesus. Dalam diri-Nyalah, Allah menghadirkan diriNya dekat dengan manusia. Inilah misteri inkarnasi. Misteri inkarnasi ini hendaknya dilihat dalam konteks sejarah keselamatan manusia. Allah yang sungguh-sungguh sudi menjadi manusia adalah untuk keselamatan manusia. Hal itu terlukiskan dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus yang berbunyi, “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus bahwa Ia yang oleh kamu menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya (2 Kor 8:9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah gambaran Allah yang sungguh mengambil rupa manusia. Dengan segala kemanusiaanya, Yesus merasakan dirinya sebagai manusia pada umumnya, dimana penderitaan dialami-Nya. Pengosongan ini menggambarkan Allah sungguh melepaskan atribut keilahianNya dan mengosongkan diri. Ia adalah hamba dari segala hamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Misteri Inkarnasi merupakan luapan cinta Allah yang berlimpah. Karena Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8), maka “Allah ingin menjelma untuk memberi kesaksian kepada manusia tentang persahabatan-Nya. Ia rindu turun sendiri ke dalam dunia supaya dunia dapat naik ke surga. Allah yang turun menjadi manusia memiliki tujuan supaya manusia dapat ambil bagian alam hidup ilahi, dan karenanya punya relasi dengan diri-Nya. Yang paling kelihatan dari cinta Allah adalah salib. Pengurbanan diri yang radikal, di mana Yesus merangkul dosa dan penderitaan manusia, adalah penebusan sengsara menjadi belaskasih. Inkarnasi adalah kenosis Kristus yang menjelma sebagai hamba yang menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Yesus orang Nazaret&lt;/strong&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;&lt;strong&gt;[7]&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Allah hadir ke dunia mengambil rupa manusia yaitu Yesus orang Nazaret. Omong tentang Yesus kiranya perlu memperhatikan Perjanjian Baru sebagai sumber pentingnya, dimana dalam Perjanjian Baru banyak ditampilkan informasi penting seputar Yesus. Kesulitannya Perjanjian Baru menampilkan atau memuat banyak kristologi, entah Kristologi menurut Matius, Markus, Lukas, maupun Yohanes. Masing-masing memahami Yesus secara berbeda, sesuai dengan keyakinan dan refleksi mereka terhadap Yesus yang mereka kenal serta sesuai dengan keyakinan iman yang berkembang dalam konteksnya&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemahaman Jon Sobrino, dalam Jesus in America, Yesus historis merupakan pribadi yang hidup dengan ajaran-ajaran tertentu. Yesus memiliki sikap-sikap, kegiatan, perkembangan hidup, serta nasib yang dialaminya sebagaimana manusia biasa&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;. Hal tersebut terdapat dalam salah satu tulisan Job Sobrino yang penulis kutip sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Unsur yang paling historis dalam Yesus historis adalah praktek hidup-Nya, yaitu kegiatan-Nya yang dibawa ke tengah-tengah realitas lingkungan-Nya dengan tujuan untuk mentransfomasikannya dan mengarahkannya kepada arah tertentu yang dipilih, arah Kerajaan Allah. Inilah praktek hidup-Nya yang pada zaman-Nya membuka sejarah dan yang sampai kepada kita sebagai sejarah yang terbuka. Ciri historis di sini, seperti yang didefinisikan Jurgen Moltmann berkaitan dengan kebangkitan Kristus, yaitu yang mendorong gerak sejarah”&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;&lt;em&gt;[10]&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tulisan tersebut, nampaknya mau menunjukan historisitas Yesus dalam dunia. Nama Yesus merupakan nama lazim pada waktu itu (abad ke-2 sesudah Masehi). Nama Yesus merupakan bentuk Yunani (iesous) yang digunakan untuk menyebut orang laki-laki dalam PL. sementara dalam PB tentu saja langsung menunjuk pada Yesus dari Nazaret (Mat 2 : 23, Luk 18:37). Nama Yesus kiranya mau menekankan, pertama, kemanusian-Nya. Yesus Kristus sungguh-sungguh manusia yang pernah hidup dalam sejarah manusia&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;. Kedua, Yesus sungguh-sungguh tokoh historis dan bukan tokoh mitologis. Akhirnya, semakin jelas bahwa Yesus dalam sikap, kegiatan, hidup, serta nasib-Nya adalah seperti manusia pada umumnya. Inilah kemanusiaan Yesus, sungguh total menjadi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Yesus Kristus Sepenuhnya Allah= Sepenuhnya Manusia&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam misteri inkarnasi Allah menjadi manusia. Umat Kristiani percaya bahwa Yesus Kristus-sabda Allah yang berinkarnasi itu- adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Namun, tidak bisa dilupakan bahwa pemahaman sungguh Allah, sungguh manusia inipun menimbulkan pro-kontra. Ada pandangan yang berbeda mengenai Yesus Kristus sungguh Allah, sungguh manusia, pihak pertama, mereka yang menolak Yesus Kristus yang berinkarnasi dalam manusia historis Yesus. Kedua, mereka yang tidak menerima bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh manusia. Kedua pandangan ini bertolak belakang satu sama lain. Gereja secara tegas, dalam proses, menolak kedua pandangan ini. Gereja, dalam Konsili Kalsedon sejak 451 mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Dua sifat ini berada dalam satu pribadi Yesus Kristus tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa pembagian dan tanpa pemisahan&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Yesus Kepenuhan Janji Allah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Misteri inkarnasi merupakan pemenuhan janji Allah yang berpangkal dari Perjanjian Lama, yang mencatat ide mesias dan kerajaan mesianik&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;. Kerajaan Mesianik merupakan tradisi yang berkembang di Israel yang banyak dihubungkan dengan keturunan Daud (bdk 2 Sam 7) &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;. Namun harapan itu pupus manakala raja-raja duniawi tidak seperti yang mereka harapkan. Harapan itu berganti yakni Mesias yang digambarkan sebagai yang ilahi (Bdk Dan 7:13)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepenuhan janji Allah terwujud dalam kehadiran Yesus. Kehadiran Yesus ini tidak bisa lepas dari konteks perjanjian yang terjadi antara Allah dengan bangsa Israel. Peristiwa perjanjian antara Allah dengan bangsa Israel adalah saat bangsa Israel menantikan kedatangan Sang Mesias, nubuat para nabi Perjanjian Lama, yang kini terpenuhi dengan kehadiran Yesus. Demikian semua Injil memperkenalkan Yesus sebagai Mesias (dalam bahasa Yunani : Kristus), orang yang diurapi dari keturunan Daud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Yesus merupakan pemenuhan harapan mesianis Yesaya (Luk 4:16-21) serta jawaban atas pertanyaan murid-murid Yohanes (Mat 11:1-6), dimana Yesus dilihat sebagai utusan Allah yang mengangkat serta memulihkan keadilan dan banyak berpihak kepada orang miskin, lemah dan tersingkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kekhasan Yesus : Warta Kerajaan Allah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kehadiran Yesus ke dunia dalam rangka perutusan Bapa adalah untuk mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah kepada manusia. Kerajaan Allah inilah yang menjadi pokok pewartaan Yesus (Mrk 1:15; Mat 4:17; Luk 4:18-30). Pokok pewartaan Yesus mengenai Kerajaan Allah adalah warta asli, historis, bukan merupakan hasil refleksi, pengolahan para penginjil atau jemaat perdana&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt;. Pewartaan Yesus mengenai kabar gembira Kerajaan Allah dihadirkan dan dialamatkan kepada seluruh umat manusia, dan diteruskan oleh para murid serta generasi-generasi selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Allah sebagai kekhasan warta Yesus merupakan kehadiran dan kegiatan Allah yang menyapa manusia untuk membawa manusia kepada keselamatan, menyelamatkan manusia dari dunia, dalam dan melalui karya Yesus&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;. Allah sendiri yang datang, hadir di tengah umat-Nya dan bertindak menyelamatkan umat-Nya. Kehadiran-Nya adalah untuk menegakkan pemerintahan-Nya di dunia dengan mau dan ikut bersusah payah dalam suka-duka kehidupan manusia sehari-hari&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus tidak bersifat politis. Namun, sifat religious Kerajaan Allah sungguh tersirat di dalamnya, yakni tentang tindakan Allah yang hadir di tengah-tengah umat-Nya dengan penuh kebebasan untuk membawa manusia kepada keselamatan&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Isi Pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Isi pewartaan Yesus mengenai Kerajaan Allah lahir dari relasi yang dekat dan khas diri-Nya dengan Allah. Allah hadir serta tampil sebagai yang penuh kasih. Allah bukanlah Allah yang menghakimi, menilai manusia tetapi menawarkan keselamatan kepda manusia. Dasar perutusan Yesus ke dunia adalah berkat intimitas relasi tersebut. Untuk itu, perutusan yang dilakukan oleh Yesus selalu dalam kerangka perutusan Allah yang penuh kasih, dan ketaatan total adalah tanggapan-Nya. Bukti ketaatan total Yesus kepada Allah berpuncak pada peristiwa derita, dan wafat-Nya di kayu salib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah yang ditampilkan Yesus adalah Allah yang penuh belas kasih dan murah hati. Allah adalah Bapa yang suka mengampuni dan bersukacita karena pertobatan satu orang yang berdosa&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt; (Luk 15:7). Gagasan Allah yang penuh belas kasih dan murah hati terlihat pula dalam tindakan-karya, dan pengajaran yang Yesus lakukan. Yesus sendiri mencerminkan Allah yang penuh belas kasih dan pengampunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kerajaan Allah hadir bagi orang-orang miskin&lt;br /&gt;a. Palestina sebagai Konteks Hidup Yesus&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Penduduk Palestina adalah Yahudi. Mereka hidup mengembara (Ul 26:5) dengan tata kehidupan yang sederhana. Awalnya, relasi miskin dan kaya berlangsung baik. Namun, setelah masyarakat semakin maju dengan adanya pertanian, kepemilikan tanah dll, suasana solidaritas, kebersamaan, saling bergantung perlahan memudar. Masyarakat menjadi terbagi 2 kelompok yaitu kelompok miskin (petani), dan kelompok tuan tanah. Perbedaan ini menyebabkan ketegangan relasi di dalamnya.&lt;br /&gt;Yesus hadir dalam suasana semacam ini. Ia datang pada rakyat jelata (the people of the land, “am haarest”, atau rakyat jelata)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt;. Mereka kerap dianggap sebagai orang miskin yang kurang beragama karena kurang mengetahui seluk-beluk hokum yang telah dikuasai dan dipersulit oleh kaum farisi. Kedatangan Yesus tepat di tengah masyarakat Yahudi. Dia menantang struktur masyarakat Yahudi, praktek-praktek ekonomi, keagamaan yang mapan dan terasing dari rakyat miskin. Secara khusus, Yesus memperhatikan yang miskin dan susah (bdk. Mat 6:34). Sikap dan cara hidup Yesus menunjukan penghargaan terhadap nilai-nilai kemiskinan. Yesus adalah orang gunung Galilea, daerah pinggiran dan semi kafir.&lt;br /&gt;Kemiskinan Yesus merupakan pilihan fundamental-Nya yang nyata dalam inkarnasi. Yesus menerima dan mengalami kerapuhan serta kelemahan sebagai manusia. Dia solider, “tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan mengosongkan diri-Nya sendiri” (Flp 2:6-7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Kabar baik Kerajaan untuk yang Miskin&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pada awal pewartaan-Nya, Yesus menggunakan kata-kata Yesaya yaitu, “menyampaikan kabar baik bagi orang-orang miskin....” (Yes 61:1-2). Rupanya orang miskin mendapat tempat pertama dalam tugas dan sasaran perutusan. Dalam teks Sabda Bahagia, Yesus mengatakan, “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa” (Luk 6:20b-21).&lt;br /&gt;Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus tidak semata untuk orang-orang miskin, lapar dan tersingkir dalam arti sesungguhnya. Tetapi sikap hidup yang dapat dimiliki oleh seseorang yang beriman secara sungguh-sungguh kepada Allah. Yang berbahagia adalah mereka yang terbuka menerima kehadiran Allah sebagai satu-satunya raja yang menguasai hidup mereka&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt;. Hidup dalam pengharapan kepada Allah membuka peluang hadirnya Kerajaan Allah dalam hidup mereka. Keterbukaan hati dan pengosongan diri atas segala sesuatu yang mereka miliki, termasuk hati yang utuh untuk hidup dalam diri-Nya menempatkan mereka sebagai milik Allah. Allah yang berkarya dan manusia menyambutnya dengan tangan terbuka. Dengan kata lain “Orang miskin dalam roh adalah mereka yang menemukan keamanan mereka di dalam pengetahuan mereka mengenai Allah yang benar-benar mengasihi hidup mereka dan akan menyelamatkan mereka bukan dari apa yang mereka miliki”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;[23]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;c. Kerajaan Allah yang Membebaskan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan orang-orang kecil, hina, dan miskin: “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan, ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan,ketiak Aku telanjang, kamu member Aku pakaian, ketika Aku sakit, kamu melawat Aku ….dst” (Mat 25:35-36). Selain itu, bertolak dari teks 25:31-46, Kristus hadir dan turut bekerja dalam setiap perjuangan untuk membela keadilan dan kebenaran. Perjuangan sosial dan pembelaan terhadap orang-orang yang diperlakukan tidak adil dan tertindas merupakan bentuk kehadiran Kristus. Inilah yang dimaksud dengan pewartaan Yesus mengenai Kerajaan Allah merupakan pewartaan pembebasan, yang terutama menyentuh orang miskin dan tertindas. Ia hadir memperjuangkan keadilan dan kebenaran, yakni untuk memberikan damai sejahtera bagi semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Relevansi: Meneladan Hidup Yesus Yang Membebaskan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Inilah bentuk keteladanan yang bisa kita ambil dari hidup Yesus yang merendahkan diri dengan menjadi seorang hamba. Kehadiran-Nya adalah untuk memberikan pembebasan bagi mereka yang tertindas, miskin, dan tersingkir. Kita sebagai umat beriman yang percaya kepada-Nya, beriman akan Yesus Kristus mengandaikan komitmen dan keterlibatan demi pembebasan dari segala bentuk penindasan, kemiskinan yang hadir dalam lingkungan sekitar kita. Keterlibatan aktif dengan mengikuti keteladanan Yesus yang memberikan pembebasan bagi orang miskin akan memampukan kita untuk melahirkan kebebasan itu bagi diri dan orang lain.&lt;br /&gt;Keterlibatan kita dalam masyarakat memang tidak harus bersifat social ekonomi, tetapi dengan menghadirkan Kristus yang mewartakan Kabar gembira Kerajaan Allah bagi semua orang pun merupakan cara menggemakan iman kita kepada Yesus yang membebaskan. Pewartaan dan sikap Yesus merupakan titik tolak bagi umat Kristen dalam mengikuti Tuhannya, juga dalam suatu konteks penindasan, situasi yang harus diatasi dalam suatu proes pembebasan.&lt;br /&gt;Kristus meresapi segala sesuatu, mengambil bentuk konkret dalam Yesus dari Nazaret, karena sejak keabadian Dia sudah dipikirkan dan direncanakan untuk menjadi pusatnya, di dalam-Nya Allah memperlihatkan diri secara penuh di tengah ciptaan. Manifestasi diri Allah berarti Dia dan manusia saling meresap secara sempurna, bahwa mereka membentuk kesatuan yang tak terpisahkan dan tak dapat ditukar dan bahwa ini merupakan tujuan akhir ciptaan, tujuan yang diintegrasikan dalam misteri Trinitas. Yesus tampil sebagai contoh dan model dari apa yang akan terjadi dengan kita dan dengan segenap ciptaan. Yesus merupakan kenyataan interpretative dan menerangi segala sesuatu di masa lalu, masa kini dan masa depan. Dalam Dia menjadi jelas bahwa kosmos dan teristimewa manusia tak dapat mencapai kesempurnaanya jikalau mereka tidak diilahikan dan dikenakan oleh Allah. Allah menjadi “semua dalam semua” (1 Kor 15:28)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn24" name="_ftnref24"&gt;[24]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, realitas kemiskinan, penindasan, maupun penderitaan mendorong kita semua untuk menciptakan satu budaya yang menyelamatkan semua pihak&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn25" name="_ftnref25"&gt;[25]&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(Kristologi, by Tri Kusuma)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Buku&lt;br /&gt;Boff, Leonardo&lt;br /&gt;1999, Yesus Kristus, Maumere : Lembaga Pendidikan Berlanjut Arnold Janssen, diterjemahkan oleh Aleksius dan G. Kirchberger dari buku Leonardo Boff, edisi bahasa Jerman, Jesus Christus, der Befreier, Freiburg im Breisgau-Basel-Wien: Herder, 1986.&lt;br /&gt;Childs, B.S&lt;br /&gt;1993, Biblical Theologyy of the Old and New Testamen, Theological Reflection on the Christian Bible, Minneapolis: Fortress Press.&lt;br /&gt;Eko Riyadi, St&lt;br /&gt;2008, Manuscript Kristologi Alkitabiah, Kentungan, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Fuellenbach, John&lt;br /&gt;1994 Kerajaan Allah: Pesan Inti Ajaran Yesus Bagi Dunia Modern terjemahan dari The Kingdom of God The Central Message of Jesus’ Teaching in the Light of the Modern World, Ende: Nusa Indah.&lt;br /&gt;Gions, F, OFM&lt;br /&gt;2006, Karl Rahner Tentang Yesus Kristus: Sebagai Jawaban Atas Pertanyaan Dasariah Manusia, Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.&lt;br /&gt;Lalu, Yosef, Pr&lt;br /&gt;1998, Warta dan Gerakan Kerajaan Allah, Yogyakarta : Lembaga Pengembangan Kateketik Pusat.&lt;br /&gt;Martasudjita, E, Pr&lt;br /&gt;2000, Mencintai Yesus Kristus, Yogyakarta: Kanisius.&lt;br /&gt;Raush, Thomas P&lt;br /&gt;2003, Who Is Jesus : An Introducing to Christology, Collegeville, Minnesota: Liturgical Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Alkitab&lt;br /&gt;Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab, Percetakan LAI, Jakarta, 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Surat Kabar dan Artikel&lt;br /&gt;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;__________, Indonesia Kita Benahi Bersama, diambil dari Kompas, Sabtu, 10 Mei 2008, Kolom Tajuk Rencana.&lt;br /&gt;Jon Sobrino, Jesus In America, New York: Orbis Books, 1987, 66, sebagaimana dikutip oleh 1987, Hartono Budi, SJ, Kesaksian Hidup Kristiani: Semakin Menjadi “Kabar Gembira” Karena menerima Kabar Gembira, dalam Oreintasi Baru, No. 13, 2000, Yogyakarta : Kanisius, 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Kemiskinan structural adalah kemiskinan yang secara langsung disebabkan oleh factor-faktor yang berkaitan dengan perbuatan manusia, yang terdorong oleh nafsu berkuasa, misalnya penjajahan, pemerintahan yang otoriter dan militeristik, pengelolaan keuangan public yang sentralistik, merajalelanya praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme, kebijakan ekonomi yang tidak adil, serta tata perekonomian dunia yang lebih menguntungkan kelompok negara tertentu.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Indonesia Kita Benahi Bersama, diambil dari Kompas, Sabtu, 10 Mei 2008, Kolom Tajuk Rencana, 6.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Lenoardo Boff, Yesus Kristus, Maumere :Lembaga Pendidikan Berlanjut Arnold Janssen, 1999, 235, diterjemahkan oleh Aleksius dan G. Kirchberger dari buku Leonardo Boff, edisi bahasa Jerman, Jesus Christus, der Befreier, Freiburg im Breisgau-Basel-Wien: Herder, 1986.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Inkarnasi berasal dari kata Latin : in dan caro/carnis yang berarti dalam daging. Inkarnasi menunjuk realitas iman kristiani, bahwa pribadi Sang Sabda Abadi (Allah Putra) mengambil bagi Diri-Nya realitas manusiawi atau kemanusiaan untuk datang kepada citaan demi keselamatan manusia.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Bdk. Yoh 1:14.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Martasudjita, Pr, Mencintai Yesus Kristus, Yogyakarta: Kanisius, 2000, 55-56.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Hartono Budi, SJ, Salib Kristus, 210-211, dalam Ed. Hartono Budi, SJ dan Purwatma, Pr, Di Jalan Terjal: Mewartakan Yesus Yang Tersalib Di Tengah Masyarakat Risiko, Yogyakarta: Kanisius, 2004.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Thomas P Raush, Who Is Jesus : An Introducing to Christology, Collegeville, Minnesota: Liturgical Press, 2003, 1-2.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Jon Sobrino, Jesus In America, New York: Orbis Books, 1987, 64, sebagaimana dikutip oleh Hartono Budi, SJ, Kesaksian Hidup Kristiani: Semakin Menjadi “Kabar Gembira” Karena menerima Kabar Gembira, dalam Oreintasi Baru, No. 13, 2000, Yogyakarta : Kanisius, 2000, 92.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Jon Sobrino, Jesus In America, New York: Orbis Books, 1987, 66, sebagaimana dikutip oleh Hartono Budi, SJ, Kesaksian Hidup Kristiani: Semakin Menjadi “Kabar Gembira” Karena menerima Kabar Gembira, dalam Oreintasi Baru, No. 13, 2000, Yogyakarta : Kanisius, 2000, 92&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Martasudjita, Pr, Pro-Manuscript Misteri Kristus, Yogyakarta, 78-79.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; F. Gions, OFM, Karl Rahner Tentang Yesus Kristus: Sebagai Jawaban Atas Pertanyaan Dasariah Manusia, Yogyakarta, Yayasa Pustaka Nusatama, 2006, 136-137.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; B.S. Childs, Biblical Theology of the Old and New Testamen, Theological Reflection on the Christian Bible, Minneapolis, Fortress Press, 1993, 452.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; St. Eko Riyadi, Manuscript Kristologi Alkitabiah, Kentungan, Yogyakarta, 2008, 2.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; St. Eko Riyadi, Manuscript Kristologi Alkitabiah, 3.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Guido Tisera, SVD, Seperti Apakah Kerajaan Allah itu?, 7.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Guido Tisera, SVD, Seperti Apakah Kerajaan Allah itu?, 6.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt; E. Martasudjita, Pr, Mencintai Yesus Kristus, 81.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; E. Martasudjita, Pr, Mencintai Yesus Kristus, 81.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt; E. Martasudjita, Pr, Mencintai Yesus Kristus, 86-87.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; Guido Tisera, SVD, Seperti Apakah Kerajaan Allah itu?, 72.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt; Yosef Lalu, Pr, Warta dan Gerakan Kerajaan Allah, Yogyakarta : Lembaga Pengembangan Kateketik Pusat, 1998, 18.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;[23]&lt;/a&gt; Dikutip dari John Fuellenbach, SVD, Kerajaan Allah : Pesan Inti Ajaran Yesus Bagi Dunia Modern terjemahan dari The Kingdom of God The Central Message of Jesus’ Teaching in the Light of the Modern World, 204.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref24" name="_ftn24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Lenoardo Boff, Yesus Kristus, Maumere :Lembaga Pendidikan Berlanjut Arnold Janssen, 1999, 265, diterjemahkan oleh Aleksius dan G. Kirchberger dari buku Leonardo Boff, edisi bahasa Jerman, Jesus Christus, der Befreier, Freiburg im Breisgau-Basel-Wien: Herder, 1986.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref25" name="_ftn25"&gt;[25]&lt;/a&gt; Hartono Budi, SJ, Salib Kristus, 216, dalam Ed. Hartono Budi, SJ dan Purwatma, Pr, Di Jalan Terjal: Mewartakan Yesus Yang Tersalib Di Tengah Masyarakat Risiko, Yogyakarta: Kanisius, 2004.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-7241283976725392121?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/7241283976725392121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/menjadi-beriman-keterlibatan-demi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/7241283976725392121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/7241283976725392121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/menjadi-beriman-keterlibatan-demi.html' title='“Menjadi berIman : Keterlibatan demi pembebasan”'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SaD6fv2Nu7I/AAAAAAAAAC4/q8O7rGYQs5I/s72-c/Menghibur+Teman+Senasib+dan+..+Happy+aja,+Dan..+Tetap+Tersenyum+menyambut+dunia+ini...jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-3992478593525213616</id><published>2009-02-20T21:06:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T21:43:56.850-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PaPer'/><title type='text'>Yesus Kristus : Kesempurnaan Kenosis Allah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mencari Relevansi Kristologi bagi Masyarakat Asia&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prolog : Tantangan bagi Kristologi dari Pluralitas dan Kemiskinan Asia&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tidak dapat dipungkiri bahwa pluralisme menjadi topik yang semakin hangat dibicarakan di dalam dunia teologi. Kesadaran akan realita ini semakin mengusik orang beriman pada zaman sekarang. Sadar atau tidak sadar, dunia global seolah-olah sedang bergerak menuju suatu peradaban dunia di mana begitu banyak budaya dan tradisi keagamaan akan bersinggungan dan mempengaruhi satu sama lain. Banyak orang mulai sadar bahwa budaya dan tradisi religius mereka ternyata bukan satu-satunya budaya dan tradisi religius yang hidup di dunia ini. Klaim-klaim kebenaran dari sebuah komunitas religius semakin menjadi klaim-klaim yang bersifat semata-mata partikular dan tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralisme pada umumnya terkait dengan pertanyaan-pertanyaan kompleks seputar keunikan, universalitas, dan absolutisme dari pandangan tradisional. Kompleksitas ini pada akhirnya membutuhkan sebuah pencerahan baru (a new enlightment) yang didasarkan pada ke-lain-an (otherness) dan pluralitas untuk mengganti subjektivitas dan klaim-klaim keunikan absolut. Bagi umat Kristen, salah tantangan pluralisme terbesar tentu akan terkait dengan persoalan Kristologi, yaitu bagaimana Gereja saat ini harus memahami universalitas pewahyuan dan keselamatan dalam diri Yesus dan dalam waktu yang sama, tetap mengakui nilai-nilai pewahyuan dan keselamatan dari agama lain&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;. Banyak hal yang disampaikan pada intinya akan bermuara pada pertanyaan bagaimana Kristologi dapat berbicara dalam situasi dunia plural saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini tentu menjadi semakin relevan jika ditatapkan dalam konteks Gereja Asia, yang selain pluralime, juga diwarnai oleh kemiskinan dan usaha kuat untuk melakukan inkulturasi. Bagaimana dalam situasi kemiskinan dan plural seperti ini, pandangan Kristologi tradisional, lengkap dengan berbagai macam istilah yang membingungkan itu, tetap dapat mempunyai signifikansi dan relevansi bagi kehidupan Gereja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan hal ini, banyak beberapa orang teolog yang menyebut diri sebagai teolog pluralis (Aloysius Pieris, Jacques Dupuis, W.C. Smith, John Hick, Raimon Panikkar, Paul F. Knitter, Stanley Samartha, Tissa Balasuriya, Michael Amaladoss, dan masih banyak lagi) mencoba merefleksikan kembali Kristologi dalam konteks pluralitas dan kemiskinan masyarakat Asia. Refleksi mereka memang sangat memperkaya khazanah iman Gereja. Pemikiran-pemikiran ‘nakal’ yang coba mereka gulati dari hari ke hari menantang Gereja untuk tidak membiarkan saja keagungan misteri Kristus, terkungkung dalam rumusan-rumusan dogma yang kaku dan terkadang tidak berbicara apa-apa bagi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tetap harus disadari bahwa tidak jarang, beberapa pemikir akhirnya jatuh dalam ekstrem yang lain yang akhirnya tidak menyelesaikan persoalan Gereja dalam dunia plural ini, melainkan menambah persoalan baru terlebih terkait dengan fidelity refleksi mereka pada Kitab Suci dan Tradisi Suci Gereja. Maka, kendati sudah sepantasnya berterima kasih kepada mereka, Gereja tetap harus bersikap kritis dalam menerima pandangan-pandangan tersebut.&lt;br /&gt;Salah satu kriterium yang biasanya membuat beberapa pandangan berseberangan dengan Gereja adalah persoalan titik berangkat Kristologi. Ada dua titik berangkat yang berbeda yang digunakan oleh Gereja dan para teolog pluralis. Bagi Gereja, jelas bahwa pengalaman iman personal umat akan Yesus Kristus, Kitab Suci, dan Tradisi selalu menjadi sumber, konteks, dan titik berangkat Kristologi. Pengalaman iman akan Yesus Kristus ini diharapkan mampu memberikan motivasi atau cara pandang baru bagi Gereja untuk bersikap terhadap situasi dunia, termasuk di dalamnya dunia yang plural dan miskin. Pandangan orang akan Kristus akhirnya mendesak dan menantang orang untuk terlibat dan mengusahakan perubahan dunia.&lt;br /&gt;Sementara itu, para teolog pluralis terkadang merefleksikan Kristus dengan berpijak dan berawal dari situasi dan keprihatinan konkret dunia. Bagi mereka, pluralitas dan kemiskinan umat manusia (beberapa teolog masih menambahkan kerusakan lingkungan alam) harus menjadi starting point Kristologi. Gereja tidak dapat mendasarkan sikapnya atas keragaman religius dan kemiskinan pada pandangan-pandangan Kristologi yang terkadang sangat eksklusif dan selalu menempatkan Kristus di atas agama-agama lain&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;. Kristologi harus dirumuskan dan ditemukan dalam situasi konkret perjumpaan dengan mereka yang beragama lain (religious others) dan mereka yang miskin (suffering others)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;. Roger Haight, Paul F. Knitter, Jacques Dupuis sangat kuat menyuarakan metode Kristologi semacam ini. Maka, refleksi Kristologis idealnya harus terus berkembang sesuai dengan perubahan dan dinamika perkembangan situasi dunia&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam paper ini, penulis akan mendalami Kristologi macam apa yang diharapkan mampu berbicara bagi Gereja Asia. ‘Kemampuan berbicara’ ini pada akhirnya akan terkait dengan sejauh mana Kristologi mempengaruhi sikap dan pandangan Gereja terhadap dunia Asia yang miskin dan plural ini. Dalam usaha ini, penulis akan mencoba tetap setia pada metodologi Kristologi yang ditawarkan oleh Gereja, yakni dengan meletakkan pengalaman personal, Kitab Suci, dan Tradisi Gereja sebagai titik tolak Kristologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menuju Kristologi Asia&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Berbicara tentang Kristologi, perhatian orang tentu akan tertuju pada empat konsili awal Gereja yang berlangsung sampai abad IV M. Di sana memang dirumuskan pandangan Gereja yang cukup mendasar tentang Kristus. Namun, jika dilihat lebih lanjut, perumusan Kristologi pada abad-abad awal tersebut sebenarnya mengandung baik sisi positif maupun negatif. Di satu sisi, situasi ini membawa keuntungan bagi Gereja : Gereja mempunyai rumus-rumus tertentu yang dapat digunakan sebagai pegangan dan acuan dalam memecahkan persoalan-persoalan Kristologi pada zaman itu. Di sisi lain, rumusan-rumusan itu terkadang membatasi dan membingungkan. Banyak istilah khas Yunani yang digunakan pada waktu itu (ousia, homoousios, hypostases, prosopon), sekarang sudah tidak dapat dimengerti lagi dengan baik karena maknanya semakin lama semakin berbeda dan terdistorsi dari makna aslinya. Akhirnya, orang akan mudah terkurung dalam rumusan-rumusan istilah dan alih-alih memahami maksudnya, mereka hanya akan menghapalkan rumusan yang sudah ‘baku’ tersebut. Maka, sebenarnya menjadi hal yang sangat mendesak untuk merumuskan Kristologi khas Asia yang dapat merangkul pengalaman iman orang Asia dengan segala pergulatannya.&lt;br /&gt;Sebelum masuk ke sana, akan dijelaskan terlebih dahulu matriks teologi Asia sebagai kerangka luas perumusan Kristologi. Secara umum, negara-negara Asia hidup dalam suasana miskin dan minoritas. Hampir semua negara Asia merupakan negara yang belum maju secara ekonomi. Lebih dari tiga permepat kaum miskin di seluruh dunia hidup di Asia. Secara keagamaan pun, Gereja Asia tampil sebagai orang asing di rumah sendiri. Kekristenan memang muncul dan lahir di Asia. Namun, tidak lama setelah kemunculannya, Kekristenan segera meninggalkan Asia dan berkembang dengan pesat di daratan Eropa. Beberapa waktu kemudian, kekristenan mencoba kembali ke ‘rumah’nya dengan suasana yang sudah sangat lain. Dalam proses kembali ini, rupanya kekristenan tidak begitu mendapat tempat di hati orang Asia. Buktinya, sudah hampir 400 tahun karya misi terlaksana di Asia, jumlah orang Kristiani di Asia tidak lebih dari 3 %&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Dengan jumlah yang sedemikian kecil ini, Gereja Asia harus hidup berdampingan dengan banyak pemeluk agama yang lain. Kemiskinan dan kemajemukan religius inilah yang menurut Aloysius Pieris harus selalu diperhatikan ketika orang ingin membangun suatu teologi khas Asia ataupun ketika orang hendak melakukan usaha pembebasan Asia dari kemiskinan. Kedua hal tersebut saling terkait dan mempengaruhi. Artinya, penanganan problem kemiskinan di Asia hanya dapat berlangsung dengan tepat kalau dilakukan dalam konteks dialog dengan agama-agama Asia; dan dialog yang otentik dan berhasil antara agama-agama itu hanya mungkin kalau didasari oleh keprihatinan terhadap kaum miskin di Asia&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari konteks ini, Aloysius Pieris mengatakan bahwa pembicaraan tentang Kristus akan tergantung pada ditemukannya suatu tempat yang sensitif dalam lubuk hati orang-orang Asia, tempat Yesus akan menemukan ungkapan yang pantas untuk mengkomunikasikan identitasNya yang unik. Tempat itu dapat ditemukan dengan menelusuri kembali upaya Yesus sendiri untuk mewahyukan diriNya ke dalam konteks kereligiusan dan kemiskinan masyarakat sezamanNya di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hidup Yesus sebagai Peristiwa Kenosis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Salah satu tema Kristologi yang menarik yang mungkin menyentuh sisi sensitif lubuk hati orang-orang Asia adalah tema pengosongan diri (kenosis). Tidak sulit bagi orang-orang Asia untuk memahami usaha penyangkalan, pengingkaran, dan pengosongan diri demi mencapai taraf kehidupan spiritual yang lebih tinggi. Orang Asia sudah terbiasa dengan istilah-istilah mati raga, askese, dsb. Dari dimensi inilah, Kristus akan direfleksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Kristiani, Yesus menjadi sakramen pemberian diri Allah kepada manusia sekaligus sungguh-sungguh tanda dan sarana perjumpaan manusia dengan Misteri Kerajaan yang sedang datang. Dialah yang akan membebaskan manusia dari belenggu dosa dan kegelapan. Dalam Yesus yang hidup sebagai manusia yang terikat dengan ruang dan waktu, Allah telah memberikan diriNya secara utuh dan sempurna. Keutuhan dan kesempurnaan itu justru terletak pada identifikasi paradoksalNya dengan yang manusiawi. Dia yang begitu agung dan tidak terbatas, sudi mengambil rupa seorang hamba yang sarat dengan kelemahan dan keterbatasan. Dalam diri Yesus, nampak bahwa Misteri itu telah mengambil wujud dan menjadi nyata dengan membatasi diri melalui hidup, sengsara, dan wafatNya&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Kisah kenosis ini sangat jelas ditunjukkan oleh Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi 2:6-11 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan, dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai amati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku : “Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hymne tersebut, sungguh nampak bagaimana Allah bersedia mengosongkan diriNya dalam dan melalui manusia Yesus. Dalam Yesus, Allah mengidentifikasikan diriNya sedekat mungkin seperti manusia pada umumnya. Pengosongan diri Allah ini berlangsung sejak peristiwa penjelmaan Allah Putra dalam diri Yesus dalam misteri inkarnasi.&lt;br /&gt;Inkarnasi&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; adalah istilah yang menunjuk realitas dasar iman Kristiani bahwa Allah Tritunggal dalam Pribadi Sabda Abadi sebagai Pernyataan Diri Abadi Bapa telah mengambil bagi diriNya realitas manusiawi atau kemanusiaan untuk datang kepada ciptaan demi keselamatan manusia&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;. Dengan kata lain, inkarnasi pada dasarnya dipakai untuk menyebut tindakan penerimaan atau pengambilan kodrat manusia yang dilakukan oleh Sang Sabda dan sekaligus untuk menyebut realitas kodrat manusiawi yang tinggal tetap itu dalam diri Sang Sabda. Misteri inkarnasi ini haruslah dipandang dalam kaitannya dengan sejarah keselamatan umat manusia. Allah bersedia turun ke dunia dan mengambil wujud manusia, semata-mata adalah pro nobis, demi keselamatan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus bahwa Ia yang oleh kamu menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya (2 Kor 8:9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ini, Allah sendiri menjadikan Yesus senasib dengan manusia malang, keturunan manusia pertama yang terkutuk. Yesus, Sang Anak Allah, lahir dari perempuan yang di taman Firdaus terkena kutukan Allah; Ia pun menjadi taklukan hukum Taurat (Gal 4:4) yang ternyata adalah suatu beban yang tak terpikul (Kis 15:10)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;. Sebagai manusia, Yesus juga mengalami keterkungkungan dalam kedosaan umum (Rm 8:3; 2Kor 5:21) dan karenanya, terkutuk oleh Allah (Gal 3:13). Sungguh, dengan berkenan menjadi manusia, Allah telah benar-benar meninggalkan segala atribut keilahianNya dan mengosongkan diri, menjadi rendah, serendah-rendahnya. Ia adalah hamba dari segala hamba. Dalam konteks inilah, Aloysius Pieris mengatakan bahwa misteri inkarnasi merupakan perjanjian antara Allah dengan kaum hamba, yang mewujud dalam diri Yesus yang berpihak pada orang-orang yang tersingkir sebagai tanda dan bukti keilahianNya. Kelemahan dan kemiskinan menjadi kriteria pilihan Allah dalam menghadirkan diri. Dalam pengosongan diri itulah, Allah hadir dan menyelamatkan umat manusia (bdk. Mrk 15:39)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Salib, Puncak Kenosis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pengosongan diri demi keselamatan umat manusia ini memuncak pada peristiwa salib. Salib adalah poros di mana Kristus mengejawantahkan baik kemanusiaanNya yang otentik dan pandangan tentang kedekatan Allah pada manusia. Melalui dan dalam Yesus yang tersalib, kasih dan hakikat Allah yang tidak terbatas diwahyukan secara nyata dan jelas (Rm 5:8). KasihNya begitu tuntas diserahkan kepada manusia sehingga Ia rela untuk menyerahkan putraNya yang tunggal supaya semua manusia hidup (Rm 8:32; Yoh 10:10). Gereja percaya bahwa karena pengosongan diri Allah dalam Yesus yang tersalib inilah, manusia berdosa didamaikan dan kepadanya dibuka kesempatan baru untuk berelasi dengan Allah&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diri Yesus Kristus, manusia menemukan figur yang sangat istimewa karena Allah telah memilihNya menjadi satu-satunya wahana pengosongan diri Allah. Allah memang memilih Yesus sebagai jalan bagiNya untuk melakukan kenosis. Dengan jelas, keterpilihan ini diungkapkan oleh sinoptik : ada suara dari langit yang menegaskan bahwa dia itu anakNya yang terkasih, kepadanyalah Tuhan berkenan (Mrk 1:11; Mat 3:17; Luk 3:22)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;. Dalam diri Yesuslah, manusia dapat melihat peristiwa kenosis Allah yang sangat istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hymne Kristologis Surat Filipi tersebut, nampak jelas bahwa inti dari kenosis Allah adalah salib. Pengosongan diri itu tentunya bukan asal membuat diri kosong, melainkan meluangkan diri agar dipenuhi keilahian. Oleh karena itulah, dalam pengosongan diri itu, Yesus Kristus justru dapat menunjukkan gambar dari Allah yang tak terlihat. Kerendahan dan kehinaan kemanusiaan Yesus dipenuhi dengan kemuliaan dan kemenangan kuasa keilahian atas dosa dan maut. Pengosongan diri menjadi berarti bila disertai oleh kehadiran Allah yang Maha Kuasa sendiri. Kendati demikian, pengosongan dan pelepasan semua kebesaran ilahi Allah dan kerelaanNya untuk menjadi manusia biasa tetap merupakan suatu persoalan paradoksal yang amat sulit dipahami. Apalagi, dalam wujud manusia biasa pun, Yesus akhirnya tetap harus kehilangan martabatNya sebagai manusia. Nabi Yesaya sudah menubuatkan hal ini dalam Kitabnya. Di sana, Nabi menggambarkan keterpurukan Hamba sebagai yang menjadi batu sandungan, tidak dapat dipahami, dan mempermalukan mereka yang masih memiliki rasa kemanusiaan (Yes 52:13-53:12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salib merupakan hukuman yang amat sangat hina yang hanya diberikan kepada para penjahat yang tidak termaafkan lagi. Salib selalu membuat orang jijik, najis, dan tidak mampu memberikan komentar apa-apa. Dalam dunia Yunani, salib secara umum dikenal sebagai hukuman yang diimpor dari kaum barbar. Sedangkan bagi orang Romawi, salib merupakan summum supplicium (bentuk yang paling keji dan buruk dari eksekusi)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menderita sengsara, dan akhirnya mati di salib, Gereja sebenarnya juga disadarkan akan sikap kenabian Yesus pada zamanNya. Perutusan Yesus merupakan perutusan kenabian, yaitu perutusan dari kaum miskin dan perutusan bagi kaum miskin. Kewibawaan dan kemuliaan Yesus justru muncul dari kemiskinan dan kehinaanNya, bukan dari kekuasaan dan kekayaan. Karena itulah, hanya mereka (baca : Gereja) yang miskinlah yang mampu menjadi pengikut Kristus secara radikal. Bagi merekalah Kerajaan Allah tersedia. Yesus tidak mau kompromi antara Allah dan mamon. Kemiskinan telah diperhitungkan sebagai strategi menentang mamon yang dinyatakanNya sebagai saingan Allah (Mat 6:24). Kutuk dan celaanNya pada kaum kaya dan berkatNya untuk kaum miskin dipertajam dengan pernyataanNya tentang penghakiman terakhir. Hanya mereka yang memperhatikan dan memihak kaum miskinlah yang akan dibenarkan pada akhir zaman (Mat 25:31-46)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gereja yang Miskin dan Terbuka&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Keunikan Yesus Kristus sebagai kenosis Allah, juga menjadi keunikan Gereja yaitu berani mewartakan Allah yang berpihak pada mereka yang tersingkir, dengan hidup dan mati di salib sebagai hamba. Dalam konteks Asia, mewartakan Yesus yang tersalib berarti menampilkan Yesus dengan cara Yesus sendiri melaksanakan tugas perutusanNya di dunia. Artinya, keberpihakan pada kaum miskin dan tersisih harus selalu menjadi prioritas utama Gereja sebab hanya dengan cara itulah, Gereja dapat menghidupi kekhasannya sebagai murid-murid Kristus&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt;. Dengan kata lain, Gereja sekarang ini ditantang untuk kembali setia pada misi Yesus Kristus ketika Ia masih hidup sebagai manusia di tanah Palestina dua ribu tahun yang lalu, yaitu mewartakan Kerajaan Allah dan selalu menjadikan orang miskin sebagai pusat perhatianNya&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;. Bahkan, Yesus tidak hanya menyapa orang miskin, melainkan Ia juga mengidentifikasikan diriNya dengan orang miskin (bdk. Mat 25:34-50).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Paul F. Knitter, misi Gereja harus bercirikan Regnosentris (berpusat pada Kerajaan Allah). Gereja bukan lagi menjadi tujuan bagi dirinya sendiri, melainkan sarana demi tujuan yang terfokus pada misi dan pelayanan Yesus sendiri, yaitu Kerajaan Allah (Basileia tou Theou). Dalam pandangan John B. Cobb, Jr., tercapainya misi Kerajaan Allah akan ditandai dengan kesembuhan mereka yang sakit, pembebasan para tawanan, penghiburan bagi mereka yang berdua, yang lapar akan diberi makan, yang haus akan minum, dan yang telanjang akan berpakaian&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja sebagai komunitas orang beriman akan Kristus, terdorong akan iman pada misteri salib, tidak akan memalingkan kepala dari dunia yang penuh dengan dosa, penderitaan, dan maut. Sebaliknya, Kristus yang tersalib kiranya menjadi teladan bagi hidup Kristiani. Injil menantang setiap orang Kristiani untuk memikul salib setiap hari karena hal ini merupakan wujud konkret dalam mengikuti Kristus yang telah disalibkan oleh karena kelemahan manusia, namun hidup karena kuasa Allah (bdk. Luk 9:23; 2Kor 13:4)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt;. Allah yang mengidentifikasi Diri dengan yang tersalib merupakan motivasi paling mendasar bagi Gereja untuk memberikan jawaban yang khas sekaligus konkret bagi pertanyaan-pertanyaan mendasar yang menggelisahkan eksistensi manusia. Allah dari yang tersalib juga merupakan pembenaran sekaligus dorongan terbesar bagi usaha peziarahan manusia memahami dirinya sendiri secara lebih mendalam dan semakin terlibat dalam dunia melalui komitmennya pada keadilan, kebebasan, dan perdamaian. Pendek kata, misteri kenosis Allah dalam diri Yesus Kristus telah menantang Gereja untuk juga berani mengosongkan diri, menanggalkan segala bentuk kemewahan dan nostalgia kejayaan masa lalu, serta berani menyuarakan posisi membela mereka yang miskin. Bahkan, lebih dari membela kaum miskin, Gereja sendiri sebenarnya juga harus menjadi Gereja yang miskin. Gereja yang menutup mata terhadap realita kemiskinan adalah Gereja yang telah kehilangan identitasnya sebagai murid-murid Kristus yang diimani sebagai puncak yang sempurna dari pengosongan diri Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan keragaman religius yang juga hadir sebagai konteks hidup Gereja Asia, kenosis Allah dalam diri Yesus juga memberikan inspirasi yang luar biasa. Iman Kristen akan salib Kristus tidak membawa orang pada prasangka penuh curiga terhadap kenyataan keragaman iman yang sebenarnya sudah ada sejak semula hingga saat ini. Sebaliknya, keyakinan Kristiani akan hidup, wafat, dan kebangkitan Kristus justru menantang Gereja untuk tetap terbuka terhadap misteri bahwa dunia tercipta ini ada dan terus menjadi, termasuk juga misteri pluralitas iman. Dalam kerangka merefleksikan pengosongan diri Allah, keragaman iman bukanlah suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan menjadi suatu ekspresi dan konsekuensi keterpusatan Gereja pada Kristus yang mesti diterima&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt;. Maksudnya, ketika Allah menciptakan alam semesta dan membiarkan diriNya ditangkap oleh keterbatasan kemampuan manusia, terbukalah kemungkinan-kemungkinan bahwa akan ada suatu pluralitas dari jalan-jalan yang relatif menuju yang Absolut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, pluralisme menjadi implikasi logis dari pengosongan diri Allah. Ketika Allah tetap tinggal dalam keabadian tanpa berkenan mewahyukan diriNya, Allah tidak akan pernah dikenal dan karena itu, tidak akan pernah ada pluralitas iman&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt;. Namun, dengan memperkenalkan (baca : mewahyukan) diriNya kepada manusia, apalagi dengan menjelmakan diriNya dalam bentuk dan rupa manusia, Allah membiarkan diriNya ditangkap dengan berbagai macam ungkapan dan kemampuan manusia yang sebenarnya tidak akan pernah dapat menangkap keagungan Allah secara tuntas. Pluralitas iman justru menjadi tanda bahwa Allah memang Maha Agung sehingga kebesaran dan keagunganNya tidak pernah dapat diungkap hanya dari satu perspektif refleksi iman manusia. Semakin banyak refleksi manusia tentang Allah, itu berarti semakin menandakan bahwa Allah memang Maha Agung. KebesaranNya sebagai mysterium Tremendum tidak tertandingi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sikap inilah, orang Kristen diajak untuk kembali menjadi miskin, bukan hanya dalam arti supaya memperkaya orang lain, melainkan lebih pada arti supaya diperkaya oleh orang lain. Pemahaman dan refleksi iman Kristiani akan pewahyuan kenosis tidak hanya menyingkap misteri Allah, tapi juga misteri manusia seharusnya menantang kita untuk masuk secara serius dan tulus dalam dialog dengan orang beriman lain dalam seluruh aspek kehidupannya. Dalam dunia yang plural, mengikuti Kristus yang berkenosis berarti menanggapi kebutuhan orang-orang lain dan sekaligus terbuka terhadap seluruh segi keberadaan mereka, termasuk dimensi religius yang merupakan dasar orientasi hidup mereka di dunia. &lt;em&gt;(Kristologi, by Dedy Setyawan)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Groenen, OFM,&lt;br /&gt;1979 Panggilan Kristen, Kanisius, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Knitter P. F.,&lt;br /&gt;1996 Jesus and The Other Names : Christian Mission and Global Responsibility, Orbis Books, Maryknoll-New York.&lt;br /&gt;Martasudjita,&lt;br /&gt;2003 Pengantar Iman Kristiani, pro-manuscripto, Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nico Syukur Dister,&lt;br /&gt;2004 Teologi Sistematika 1, Kanisius, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel&lt;br /&gt;Beeck, F. J. van SJ,&lt;br /&gt;2004 “Picking up the Cross - Whose ? Christian Resources for Growth by Repentance”, dalam Dr. Purwatma, Pr - Dr. Hartono Budi, SJ (eds), Di Jalan Terjal : Mewartakan Kristus yang Tersalib di Tengah Masyarakat Risiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gianto, A. SJ,&lt;br /&gt;2004 “Tentang Salib dan Kebangkitan”, Dr. Purwatma, Pr - Dr. Hartono Budi, SJ (eds), Di Jalan Terjal : Mewartakan Kristus yang Tersalib di Tengah Masyarakat Risiko, Kanisius, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Knitter P. F.,&lt;br /&gt;2001 “Commitment to One-Opennes to Others, a Challenges for Christian”, Horizons Vol. 28 No. 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Knitter P. F.,&lt;br /&gt;2001 “Menuju Teologi Pembebasan Agama-agama”, dalam P. F. Knitter-J. Hick (eds.), Mitos Keunikan Agama Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Knitter P. F.,&lt;br /&gt;2007 “The Transformation of Mission in the Pluralist Paradigm”, Concilium, 2007/I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasetyantha, Y.B., MSF,&lt;br /&gt;2005 “Kenosis yang Membuka Masa Depan : Bertologi dalam Konteks Kebhinekaan Religiusitas Indonesia”, dalam Paul Suparno - V. Tripihatmini (eds), Pendidikan Manusia Indonesia yang Etis dan Terbuka, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwatma M.,&lt;br /&gt;2004 “Merendahkan Diri dan Menjadi Seorang Hamba, Menemukan Makna Yesus dalam Konteks Masyarakat Asia”, Dr. Purwatma, Pr - Dr. Hartono Budi, SJ (eds), Di Jalan Terjal : Mewartakan Kristus yang Tersalib di Tengah Masyarakat Risiko, Kanisius, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susin L. C.,&lt;br /&gt;2007 “Introduction : Emergence and Urgency of the New Pluralist Paradigm”, dalam Concilium 2007/1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Luiz Carlos Susin, “Introduction : Emergence and Urgency of the New Pluralist Paradigm”, dalam Concilium 2007/1, 9.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; P. F. Knitter, Jesus and The Other Names : Christian Mission and Global Responsibility, , Orbis Books, Maryknoll-New York, 199662.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; P. F. Knitter, “Commitment to One-Openness to Others : a Challenge for Christians”, 255.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; P. F. Knitter, “Menuju Teologi Pembebasan Agama-agama”, dalam P. F. Knitter-J. Hick (eds.), Mitos Keunikan Agama Kristen, 2001, 299.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 1, Kanisius, Yogyakarta, 2004, 230.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika I, 232.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Y.B. Prasetyantha, MSF, “Kenosis yang Membuka Masa Depan : Bertologi dalam Konteks Kebhinekaan Religiusitas Indonesia”, dalam Paul Suparno - V. Tripihatmini (eds), Pendidikan Manusia Indonesia yang Etis dan Terbuka, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2005, 69.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Inkarnasi berasal dari bahasa Latin : in + caro (daging) yang berarti mengambil wujud dalam daging (manusia).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; E. Martasudjita, Pengantar Iman Kristiani, pro-manuscripto, Fakultas Teologi Wedabhakti, 2003, 99.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; C. Groenen, OFM, Panggilan Kristen, Kanisius, Yogyakarta, 1979, 15.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; M. Purwatma, “Merendahkan Diri dan Menjadi Seorang Hamba, Menemukan Makna Yesus dalam Konteks Masyarakat Asia”, Dr. Purwatma, Pr - Dr. Hartono Budi, SJ (eds), Di Jalan Terjal : Mewartakan Kristus yang Tersalib di Tengah Masyarakat Risiko, Kanisius, Yogyakarta, 2004, 255.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Y.B. Prasetyantha, MSF, “Kenosis yang Membuka Masa Depan : Bertologi dalam Konteks Kebhinekaan Religiusitas Indonesia”, 73.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; A. Gianto, SJ, “Tentang Salib dan Kebangkitan”, Dr. Purwatma, Pr - Dr. Hartono Budi, SJ (eds), Di Jalan Terjal : Mewartakan Kristus yang Tersalib di Tengah Masyarakat Risiko, Kanisius, Yogyakarta, 2004, 124.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; F. J. van Beeck, SJ, “Picking up the Cross - Whose ? Christian Resources for Growth by Repentance”, dalam Dr. Purwatma, Pr - Dr. Hartono Budi, SJ (eds), Di Jalan Terjal : Mewartakan Kristus yang Tersalib di Tengah Masyarakat Risiko, 166.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Nico Syukur Dister, Teologi Sistematik 1, 240.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; M. Purwatma, “Merendahkan Diri dan Menjadi Seorang Hamba, Menemukan Makna Yesus dalam Konteks Masyarakat Asia”, Dr. Purwatma, Pr - Dr. Hartono Budi, SJ (eds), Di Jalan Terjal : Mewartakan Kristus yang Tersalib di Tengah Masyarakat Risiko, Kanisius, Yogyakarta, 2004, 255.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; P. F. Knitter, Jesus and the Other Names, Christian Mission and Global Responsibility, 109.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt; P. F. Knitter, “The Transformation of Mission in the Pluralist Paradigm”, Concilium, 96.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Y. B. Prasetyantha, MSF, “Kenosis yang Membuka Masa Depan : Bertologi dalam Konteks Kebhinekaan Religiusitas Indonesia”, 73.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt; Y. B. Prasetyantha, MSF, “Kenosis yang Membuka Masa Depan : Bertologi dalam Konteks Kebhinekaan Religiusitas Indonesia”, 74.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; Suatu keadaan yang menurut penulis sangat tidak mungkin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-3992478593525213616?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/3992478593525213616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/yesus-kristus-kesempurnaan-kenosis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/3992478593525213616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/3992478593525213616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/yesus-kristus-kesempurnaan-kenosis.html' title='Yesus Kristus : Kesempurnaan Kenosis Allah'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-8837401355636144976</id><published>2009-02-20T21:03:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T21:44:28.903-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PaPer'/><title type='text'>Yesus sebagai Mesias</title><content type='html'>&lt;strong&gt;(Markus 8:27-30)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pewartaan Yesus serta misteri perutusan-Nya di dunia merupakan point penting Markus. Memang, sejak awal mula Markus mengisahkan Yesus adalah Mesias (sebagaimana ditunjukan dalam gelar Christos) yang juga adalah Anak Allah, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;. Namun untuk memahami gelar tersebut, kiranya perlu diterangi dengan sebutan lain yang melekat dalam diri Yesus yaitu “Anak Manusia”. Memang, sebutan “Anak Manusia” bukanlah semacam gelar yang diberikan oleh penginjil atau siapapun, tetapi sebutan ini merupakan ungkapan Yesus sendiri mengenai diri-Nya (Mrk 2:10:28, 8:31.38, 9:912.31, 10:33.45 dll). Sebutan Anak Manusia itu digunakan Yesus sebagai self designation&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_edn1" name="_ednref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Kemesiasan Yesus tidak tampak dalam kemuliaan, tetapi dalam pengosongan diri, dengan menderita sebagai bukti cinta kepada Tuhan dan seluruh umat manusia. Markus mempersiapkan pembaca untuk menangkap realitas yang sesungguhnya bahwa Yesus mengindentifikasikan diriNya dengan siapapun yang menderita, yang miskin, yang sakit, yang lapar, pendosa&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_edn2" name="_ednref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang dimaksudkan oleh pengarang Injil Markus mengenai Kristologinya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang mengalami penderitaan sebagaimana manusia Anak Manusia. Konsep Markus mau menempatkan kekuatan dan kuasa yang ditawarkan dari gelar Anak Allah (mukjizat, pengusiran setan, dll), tetapi rupanya Markus juga tidak menampilkannya secara keseluruhan bahwa kekuatan dan kuasanya yang Illahi tetap tersembunyi dan tidak akan pernah diketahui dan tidak akan terpenuhi hingga parousia nanti, kembalinya Yesus dalam kemuliaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Yesus adalah Mesias&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kata Mesias berasal dari kata masyah, Mašía (KK) yang memiliki arti mengurapi. Dalam konteks Yahudi, pengurapan dikaitkan dengan tiga macam orang yaitu pertama, dihubungkan dengan nabi. Nabi Elia yang mendapat perintah dari Allah untuk mengurapi Elisa, sehingga berkat pengurapan, yang merupakan tanda Roh Kudus tersebut memampukan dirinya untuk mewartakan kabar gembira (1 Raj 19-16). Kedua, imam, Allah memerintahkan para imam untuk diurapi dan disucikan, “Maka semuanya itu haruslah kau kenakan kepada abangmu Harun bersama-sama dengan anak-anaknya, kemudian engkau harus mengurapi, mentahbiskan dan menguduskan mereka, sehingga mereka dapat memegang jabatan imam bagi-Ku” (Kel 28:41). Ketiga, Raja, pengurapan yang terjadi pada Daud, “kemudian disuruhnyalah menjemput dia, Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu Tuhan berfirman: “bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia. Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh Tuhan atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama” (1 Sam 16:12.13) Allah bersabda kepada Daud bahwa ia mengurapinya dengan minyak (Mzm 89:20)&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_edn3" name="_ednref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;. Pemahaman awal mengenai siapa “yang terurapi” amat dekat dengan ketiga hal di atas yaitu nabi, imam dan raja yang sekaligus melekat dalam diri Yesus&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_edn4" name="_ednref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;. Dan sejauh ini, kata Mesias tidak banyak ditemukan dalam Perjanjian Baru, kecuali dalam penggunaan kata Kristus yang menggambarkan kemesiasan tersebut.&lt;br /&gt;Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa sejak awal pengkisahan dikatakan Yesus adalah Mesias, Mesias sendiri memiliki arti “yang terurapi”, yang juga adalah Anak Allah. Pengurapan Mesianis Yesus tersebut terlihat dalam peristiwa pembaptisan yang diterima-Nya (Mrk 1:9-11) yang memampukan diri-Nya untuk menghadapi godaan iblis di padang gurun (Mrk 1: 12-13). Kisah hidup Yesus dalam Injil Markus termasuk mengalami ketegangan, antara mengungkan identitas Yesus yang sesungguhnya atau tetap diam dan mengabaikannya. Maksud diam dan mengabaikannya memang amat ditekankan oleh Yesus sendiri, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazareth? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang kudus dari Allah. Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya : Diam, kelaurlah dari padanya” (Mrk 1:24-25), “Bilamana roh-roh jahat melhat Dia, mereka jatuh terseungkur di hadapan-Nya dan berteriak : “Engkaulah Anak Allah. Tetapi dengan keras Ia melarang mereka untuk memberitahukan siapakah Dia” (Mrk 3:11-12), dan “Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapapun tentang Dia” (Mrk 8:30). Tegangan antara mewahyukan dan mewartakan inilah yang kemudian berkembang sebagai rahasia mesianis. Dan rupanya tekanan dalam Injil Markus ada pada ketegangan itu (Rahasia Mesianis).&lt;br /&gt;Gambaran Mrk 8:29-33 mengenai pengakuan Petrus “Engkau adalah Mesias”. Dan setelah pengakuan tersebut, Yesus malah membalas sebaliknya, Ia melarang Petrus untuk memberitahukan kepada siapapun. Alasan pelarangan tersebut tidak cukup jelas. Akan tetapi yang jelas bahwa kalau Yesus mulai berbicara mengenai sengsara dan wafat-Nya, “Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur Dia”.&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_edn5" name="_ednref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Petrus tampaknya kurang menerima keadaan Yesus sebagai Mesias yang selama ini Ia pahami. Karena pada kenyataannya, Yesus sebagai Mesias menceritakan hidupnya yang akan menderita. Gambaran ini tidak sambung dengan gambaran Petrus dan para murid-Nya..&lt;br /&gt;Untuk mengetahui gejolak dalam hati Petrus, kiranya perlu untuk mengetahui latar belakangnya dan para murid yang lain. Konteks Yahudi kiranya cukup mewarnai pandangan Petrus dan yang lain yang mana menempatkan harapan pada kedatangan Mesias yang menyelamatkan hidup mereka. Penjelasan terperincinya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Menurut Darmawijaya dalam gelar-gelar Yesus diuraikan mengenai harapan orang-orang Yahudi akan kedatangan Mesias. harapan itu tidak terdapat dalam Yesus karena Yesus mengalami penderitaan, mati. Maka, dalam pikiran mereka, bagaimana mungkin mesias yang selama ini mereka nantikan menderita? Oleh karena itu, mereka kurang menerima Yesus. Salah satu untur sederhana adalah mengenai harapan mesianis yang diharapakan menjaga kesatuan Kerajaan Daud, harapan akan adanya keadilan, kemakmuran dalam hidup, berakhirnya perang, perselisihan, keserasian antara manusia, alam dan ciptaan-ciptaan lain (Yes 11:6-9; 65:25), lenyapnya penderitaan, kelesuan dan kematian (Yer 31:12, Yes 35:10, 65:20-22), dan akan adanya kesucian,kejujuran hidup dalam kasih ilahi. Pandangan tersebut merupakan pandangan tentang dunia yang telah diperbaharui.&lt;br /&gt;Pengenalan akan Dia sebagai Mesias, Anak Allah muncul setelah Yesus memenuhi panggilan mesianik-Nya melalui wafat dan kebangkitan-Nya (Mrk 9:9, 13:9)&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_edn6" name="_ednref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;. Menurut W. Wrede bahwa tidak serang pun menghubungkanYesus dengan Mesias kecuali setelah kebangkitan-Nya. Selama hidup publiknya Yesus tidak pernah menuntut diriNya sebagai mesias, hanya sesudah kebangkitan, pandangan dan gambaran mengenai Yesus berubah&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_edn7" name="_ednref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;. Adapun selama hidup Yesus, mesianitas Yesus tetap tersembunyi.&lt;br /&gt;Dalam teologi Kristiani, Kristus atau Mesias mengandung empat fungsi antara lain&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_edn8" name="_ednref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; :&lt;br /&gt;1. Dia menderita dan mati untuk menebus manusia dari segala kedosaan karena keadilan Tuhan akan menghukum kedosaan seperti terdapat dalam Yesaya 52:13-53:12 mengenai Hamba Yahwe yang menderita dan Mazmur 22 yang menunjuk pada Yesus sendiri.&lt;br /&gt;2. Dia bertindak sebagai keteladanan/contoh yang tinggal sebgaimana Tuhan harapkan bagi umat-Nya untuk selalu bertindak.&lt;br /&gt;3. Dia juga mewartakan damai dan aturan-aturan dunia untuk sementara waktu. (lihat Credo Nicea 325-381 AD; Wahyu 20:4-6).&lt;br /&gt;4. Dia adalah Allah Abraham, Isak, dan Yakub dan Dia datang ke dunia sebagai manusia dan tinggal di antara kita.&lt;br /&gt;Demikian gambaran Yesus sebagai Mesias adalah Yesus yang menderita. Yang sejatinya mengalami kontradiksi sebagaimana terungkap dalam Kitab Daniel 7:13, dimana Yesus tampil dalam kemuliaan dan dilimpahi dengan berbagai kuasa, sementara dalam diri Yesus menurut Markus, Yesus mengalami penderitaan dan bahkan kematian&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_edn9" name="_ednref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;. Semua itu hanya akan tersingkap setelah peristiwa kematian-Nya di kayu salib serta kebangkitanNya&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_edn10" name="_ednref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Relevansi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kemesiasan Yesus dalam Injil Markus kiranya cukup menghentakkan bagi para pengikut-Nya yang memiliki paham dan harapan mesianis yang akan memberikan kebaharuan bagi mereka. Karena ternyata, Yesus yang mereka anggap mesias mengalami penderitaan dan kematian. Tentu hal ini amat mengaburkan harapan mereka. Namun bagi kita, para pembaca, memahami Yesus sebagai Mesias yang menderita dalam konteks Markus kiranya mau menggambarkan kepedulian dan kerelaan Yesus yang mau menderita demi semua umat manusia. Gambaran hidup yang baru kiranya ditawarkan oleh Markus kepada para pembaca.&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan oleh Yesus merupakan buah ketaatan sepenuh-Nya kepada Bapa. Ia melakukan hal itu untuk mewujudkan harapan Bapa yang amat mencintai manusia. Dengan penderitann dan kematian-Nya di salib merupakan tanda cintanya kepada manusia. Dan Yesus melakukan itu semua. &lt;em&gt;(Kristologi, by Tri Kusuma)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Mrk 1:1.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ednref1" name="_edn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Eko Riyadi, Catatan Kristologi Alkitabiah, Kentungan, Yogyakarta, 2006, 18.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ednref2" name="_edn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; www.bible.org&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ednref3" name="_edn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Darmawijaya, Gelar-Gelar Yesus, Yogyakarta: Kanisius, 1987, 79-80.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ednref4" name="_edn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Darmawijaya, 80.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ednref5" name="_edn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Tom Jacob, Emanuel, Yogyakarta: Kanisius, 2000, 76-77.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ednref6" name="_edn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Eko Riyadi, 19.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ednref7" name="_edn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Darmawijaya, 80.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ednref8" name="_edn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; www.bible.org&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ednref9" name="_edn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Eko Riyadi, 19.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ednref10" name="_edn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Eko Riyadi, 19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Darmawijaya, Gelar-Gelar Yesus, Yogyakarta: Kanisius, 1987.&lt;br /&gt;Eko Riyadi, Catatan Kristologi Alkitabiah, Kentungan, Yogyakarta, 2006.&lt;br /&gt;Tom Jacob, Emauel, Yogyakarta: Kanisius, 2000.&lt;br /&gt;www. Bible.org.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-8837401355636144976?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/8837401355636144976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/yesus-sebagai-mesias-markus-827-30.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/8837401355636144976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/8837401355636144976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/yesus-sebagai-mesias-markus-827-30.html' title='Yesus sebagai Mesias'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-4528745830607766567</id><published>2009-02-20T20:58:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T21:01:35.961-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PaPer'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;â€˜MINUM DARI MULUTâ€™&lt;br /&gt;Paham Gnostisisme dalam Injil Thomas Logia 108&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;â€œYesus berkata: Siapa yang minum dari mulutKu ia akan menjadi sama seperti Aku; dan Aku sendiri akan menjadi sama seperti dia; dan hal-hal yang tersembunyi itu akan dinyatakan kepadanyaâ€&lt;/em&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;&lt;em&gt;[1]&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengantar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di antara dokumen-dokumen di Nag Hammadi-Mesir yang ditemukan oleh Muhammad Ali al-Samman pada Bulan Desember 1945, terdapatlah Injil Thomas yang menjadi salah satu dokumen yang paling banyak dibicarakan hingga saat ini. Injil ini dianggap paling penting di luar kanon Kitab Suci Kristiani karena dari 114 logia tanpa narrative framework sebagai isi dari injil ini, lebih dari setengahnya&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[2]&lt;/a&gt; paralel dengan 4 injil kanonik. Menarik bahwa Injil Thomas ini tidak berbicara soal salib dan kebangkitan Yesus, tidak ada dosa dan penebusan&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[3]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kekuatan yang mewarnai injil ini sehingga tidak dikategorikan sebagai injil kanonik oleh Gereja adalah paham gnostik yang menjadi jiwanya. Konsep keselamatan dalam injil ini terkait dengan soal memahami pengetahuan yang tersembunyi. Penulis akan meneliti logia 108 sebagai jalan masuk untuk memahami kriteria pengetahuan macam apa yang menjadi patokan keselamatan kaum gnostik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Apa itu Gnostisisme?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Gnostisisme adalah sebuah aliran dualistik yang memandang bahwa dunia ini terdiri atas dua dunia yaitu dunia material yang jahat dan dunia rohani yang baik. Aliran ini mengklaim bahwa dunia (material) adalah tempat yang jahat, diciptakan oleh Tuhan yang jahat dan yang berbeda dari Tuhan yang benar dan esa. Paham ini berkembang dan sangat berpengaruh sekitar abad 2 M dan 3 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengikut gnostik Kristen menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Yesus Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. Yesus Kristus memberitakan rahasia (gnosis) pada para pengikut gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar"&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[4]&lt;/a&gt;. Gnostisisme percaya bahwa sekelompok orang tertentu menerima pengetahuan (gnosis) yang pasti, mutlak, personal dan menjamin keselamatan. Maka, konsep pengetahuan ini tidak terbuka bagi semua orang (eksoteris), karena menurut gnostisime pengetahuan atau gnosis itu hanya dibuka atau tersedia bagi kalangan terbatas â€œorang dalamâ€ sendiri (esoteris)&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[5]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, usaha untuk memahami dunia ini dan usaha memahami siapa Yesus bukan pertama-tama sebagai Sang Penyelamat yang datang ke dalam dunia tetapi sebagai tokoh yang dapat mengantar â€œorang dalamâ€ (kalangan gnostik) untuk membebaskan roh yang terpenjara dari dunia ini. Karena itu, Edwin K. Broadhead menulis bahwa peran Yesus dalam Injil Thomas adalah sebagai sang tokoh kunci untuk memahami dunia dan tokoh pembebas bagi kaum gnostik Kristen. Kita dapat menemukan indikasi yang cukup kuat berbicara tentang hal ini dalam tiga logia yakni logia 17, 77 dan 108&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[6]&lt;/a&gt;. Penulis secara khusus memperhatikan Logia 108 yang tentunya menjadi sebuah pintu masuk bagi pemahaman gnostisisme dalam Injil Thomas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Logia 108:&lt;/strong&gt; Oneâ€™s status is determined wholly in relation to Jesus&lt;br /&gt;â€œYesus berkata: Siapa yang minum dari mulutKu ia akan menjadi sama seperti Aku; dan Aku sendiri akan menjadi sama seperti dia; dan hal-hal yang tersembunyi itu akan dinyatakan kepadanyaâ€&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya logia ini mau menunjuk bagaimana status baru seseorang yang ditentukan oleh relasinya dengan Yesus. Kata kunci yang perlu dipahami dari logia ini adalah MINUM DARI MULUT. Bagi Richard Valantasis seorang Professor teks-teks Kristiani awal pada Saint Louis University, pokok pembicaraan dalam logia ini adalah minum dari mulut Yesus yang berarti: to be united with Him&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[7]&lt;/a&gt;. Bagaimana hal ini dijelaskan? Berdasarkan sumber-sumber yang ada, penulis ingin menjelaskan makna Minum dari Mulut pada logia 108.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Siapa yang minum dari mulutKu ia akan menjadi sama seperti Aku&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menurut Richard, kecurigaan pertama banyak orang ketika mereka membaca logia ini adalah â€˜orang yang mencariâ€™ (para pencari pengetahuan/kebenaran pada Yesus) dan Yesus akan menjadi satu orang yang sama. Akan tetapi, tekanan mendalam dari logia ini adalah pada mengalahkan kematian melalui membaca dan menginterpretasikan kata-kata, mereferensi terus-menerus pada pahan keabadian serta menjalankan kuasa&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[8]&lt;/a&gt;. Tiga hal ini terkait dengan identifikasi diri sang pencari (pengetahuan sejati) dengan yang dicarinya bila ia sudah berhasil menemukannya&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[9]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minum dari mulut Yesus berarti orang â€˜meminum kata-kataâ€™ yang Yesus ucapkan. Bagaimana orang mulai untuk meminum kata-kata itu? Hal ini terkait dengan proses menjadi anggota sah dari kelompok agama Kristen gnostik elitis itu. Proses dari simpatisan menjadi anggota sah dimengerti oleh kelompok ini sebagai permulaan transformasi kuasa dan identitas keilahian. Maka, minum dari mulut Yesus berarti juga usaha transformasi, pengkuasaan dan pembaruan identitas&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[10]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Professor Perjanjian Baru Bertil GÃ¤rtner dari University of Uppsala memberi interpretasi senada dengan Professor Richard bahwa minum dari mulut berarti menjadi seperti â€˜Diaâ€™ (Yesus) yang memiliki pengetahuan akan kebenaran berupa misteri wahyu yang tersembunyi. Minum dari mulut juga diartikannya sebagai tercipta kesatuan di antara Dia dan saya. Namun, ketika lebih lanjut mengungkap kata-kata ini sebagai salah satu pintu masuk gnostik, ada sesuatu yang menarik dimana Professor Bertil berasumsi bahwa kata-kata ini terkait dengan pembentukan partikel terang di dalam manusia dan terang kekekalan dari Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Professor Bertil tidak sekedar menafsir kata-kata â€˜minum dari mulutKu dan kamu akan menjadi seperti Akuâ€™ sebagai pembentukan partikel terang di dalam diri manusia dan terang kekekalan dari Yesus. Paham ini berdasarkan pada paham gnostik yang diupayakan oleh para penganutnya untuk melawan tradisi lain yang menafsir secara keliru arti dari minum dari mulut Yesus. Beril menemukan bahwa ungkapan minum dari mulut Yesus ini dipakai juga oleh aliran manikeisme yang melegitimasi kemabukan dalam arti duniawi&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[11]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku mazmur kaum manikeisme, di sana dituliskan kemabukkan diakibatkan oleh adanya anggur baru yang diberikan oleh Yesus untuk diminum. â€œMereka yang minum anggurMu, hati mereka bergembira di dalamnya, mereka minum dengan cintaMu dan kesenangan membentang atas mereka (151.14f)â€.&lt;br /&gt;Penganut manikeisme mungkin berasumsi bahwa karena anggur baru diberikan oleh Yesus maka kemabukan tidak menjadi masalah. Karena itu, kelompok manikeisme ini dianggap oleh penulis Injil Thomas sebagai mereka yang salah menafsir ajaran Yesus. Maka penulis dapat memahami logia 13b yang rupanya merupakan bentuk keprihatinan kaum gnostik terhadap kelompok manikeisme ini. â€œYesus berkata: Bukan gurumu Aku sebab engkau telah minum, telah mabuk minum dari mata air mengalir, yang telah Aku ukurâ€.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Professor Bertil berasumsi bahwa mulut (minum dari mulut Yesus) juga terkait dengan ide Logos (inkarnasi Putera). Maka, sebetulnya kaum gnostik juga menerima ungkapan kemabukan (intoxication) tetapi dalam arti mendapatkan pengetahuan yang sejati tentang Sang Logos. Kalau demikian maka penulis dapat meyakini bahwa kaum gnostik dipengaruhi pula oleh aliran lain dalam lingkup kekristenan awal yang mengklaim kebenaran bertolak dari the odes of Solomon (puji-pujian/kata-kata kebijaksanaan Salomo)&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[12]&lt;/a&gt;. Banyak orang yang terpikat dengan the odes of Solomon ini walau dibantah keasliannya oleh kalangan Kristiani, Yahudi dan sebagian kaum Gnostik pula. Tetapi lama-kelamaan the odes of Solomon berpengaruh bagi kaum gnostik karena ada sebuah kisah tentang munculnya Logos (inkarnasi Putera) dari mulut Tuhan Yang Mahatinggi seperti yang diungkapkan oleh Professor Mertil. Logos itu berciri ilahi dan dapat membawa manusia sampai pada tahap membebaskannya dari belenggu dunia jika manusia mengikutinya. Karena itu ada ode of Solomon yang berbunyi: â€œSebab mulut Tuhan adalah Sabda yang benar dan pintu yang berasal dari terang. Mulut Yang Mahatinggi berbicara bagi mereka dan pemahaman akan diriNya telah dibagi-bagikan kepada mereka oleh Diaâ€ (12.3). Logos itu ilahi karena diklaim sebagai mulut Tuhan. Maka, pernyataan ini diikuti oleh kaum gnostik sehingga â€˜Mulutâ€™- spekulasi Logos juga dikaitkan dengan â€˜kemabukan yang baikâ€™, mabuk akan air hidup yang datang dari Mulut Tuhan. Mabuk karena minum dari mulut Yang Mahatinggi diartikan oleh kaum gnostik Kristen dengan suatu relasi mendalam dengan Yesus yang berujung pada pengilahian manusia gnostik itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam fraseologi ode 30 of Solomon, ditemukan pernyataan: â€œrasakanlah bagi dirimu air yang berasal dari sumber yang hidup yang berasal dari Tuhan sebab sumber air itu telah terbuka bagimu. Datanglah semua yang haus dan minumlah. Beristirahatlah dalam sumber hidup dan murni yang berasal dari Tuhan itu dan ia akan memberikan ketenangan dalam batin. Air itu lebih manis daripada madu karena air itu mengalir dari bibir Tuhan dan dari hati Tuhan itulah namanya.......Terberkatilah mereka yang telah minum dari air itu dan merasakan ketenangan di dalamnya. Alleluyaâ€&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[13]&lt;/a&gt;. Pernyataan di atas bagi penulis cukup indah dan sangat inspiratif. Kemungkinan sair-sair ini memang sangat berpengaruh luas bahkan gaungnya menggema juga dalam Injil Yohanes 4:1-42, 7: 37-38.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari dua tradisi yang turut membentuk (pernyataan MINUM DARI MULUT) paham gnostik dalam Injil Thomas, ada tokoh Anand Krishna yang menafsirkan secara bebas konsep tentang siapapun yang minum dari mulutKu. Namun, bukan berarti pemahaman Krisna tidak bernilai. Anand juga senada dengan tafsiran kedua professor di atas. Ia mengungkap bahwa siapapun yang menghayati kata-kata dari Yesus ini akan menjadi sama seperti Dia. Karena itu, kesadaran Yesus bisa dicapai oleh siapa saja. Nada seperti ini sudah diungkapkan oleh Professor Bertil sebelumnya dimana ia mengaitkannya dengan Acts of John (kisah-kisah Yohanes, tulisan bernada gnostik dari abad 2-3). Bertil mengutip kata-kata dari Acts of John itu sebagai berikut: â€œTetapi ketika kodrat manusia diangkat, bangsa yang tertarik mendengarkan dan menaati suaraKu saat itu pula akan bersatu denganKu dan mereka tidak seperti keberadaannya yang sekarang tetapi lebih dari itu, mereka menjadi seperti Aku. Sebab begitu lama Aku tidak menjadi seperti yang sekarang dan kini Aku menjadi seperti yang sekarangâ€&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[14]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Konsekuensi dari MINUM DARI MULUT YESUS&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Konsekuensi orang yang minum dari mulut Yesus adalah dia akan menjadi sama seperti Yesus dan Yesus akan menjadi sama seperti dia. Menjadi seperti Dia merupakan â€˜hadiahâ€™ yang diterima oleh para pencari/pengikut gnostik karena pencarian pengetahuan sejati yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Para pencari pengetahuan ini akan menjadi tahu rahasia-rahasia besar dan menjadi kelompok yang dekat dengan Yesus sebagai jalan keselamatan. Maka, kita dapat sampai pada pertanyaan: â€Apakah yang dimaksud dengan hal-hal yang tersembunyi akan dinyatakan kepadanya?â€&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupa-rupanya paham tentang hal-hal yang tersembunyi akan dinyatakan kepadanya terkait dengan paham keselamatan yang tidak lain adalah soal pengetahuan. Pengetahuan di sini diyakini sebagai pengetahuan yang diwahyukan oleh Yesus kepada mereka (kaum gnostik) yang tidak diwahyukan kepada orang lain. Professor Bertil mengatakan bahwa hal-hal yang tersembunyi yang dinyatakan kepada seorang gnostik terkait dengan pengetahuan misterius yang hanya dapat diberikan kepada mereka yang memintanya. Pengetahuan misterius ini terkait dengan suatu kedamaian yang abadi &lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[15]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.H. Todd melihat gnostisisme sebagai paham yang merupakan bentukan dari dua aliran yakni dualistik Yunani dan docetisme&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[16]&lt;/a&gt;. Maka mengikuti dua aliran ini, pengetahuan yang tersembunyi itu terkait dengan usaha melepaskan roh dari penjara dunia material yang jahat. Peran Yesus adalah model sempurna bagi usaha mencapai pembebasan roh dari dunia material. Yesus adalah seorang yang datang untuk membawa pengetahuan yang sempurna dan tersembunyi itu. Karena itu, yang paling penting dalam paham keselamatan kaum gnostik ini adalah duduk dekat Yesus dan tahu betul apa yang dikatakannya. Usaha menjadi satu dengan Yesus merupakan ciri bahwa orang telah mencapai suatu pengetahuan yang tersembunyi, penuh dan tak akan mati. Karena itu, logia 108 dapat dengan mudah kita pahami bahwa keselamatan kaum gnostik itu terkait penuh dengan menemukan makna kata-kata dari Yesus. Kalau orang menemukannya maka mereka akan hidup dalam keabadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, senada dan tepatlah kesimpulan Romo Indra bahwa bahwa injil ini menawarkan keselamatan yang tidak datang ke dalam dunia (karena dunia adalah jahat sehingga harus dihindari), tetapi justru membebaskan roh terpenjara ini dari dunia ini. Inilah tokoh Yesus yang dianggap sebagai orang yang merealisasikan keselamatan macam ini kepada kaum gnostik&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[17]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Penulis akhirnya menemukan kesan kuat bahwa pernyataan Yesus mengenai: â€œSiapa saja yang minum dari mulutKu akan menjadi seperti Akuâ€ merupakan ungkapan yang sudah lazim dalam tradisi abad 2 (atau mungkin sejak Yesus) tetapi tidak selalu sama ketika diinterpretasikan oleh berbagai kelompok yang ada waktu itu. Kaum gnostik menafsirkannya sebagai kesatuan dengan Yesus sampai menjadi satu orang saja. Kesatuan ini diawali dengan suatu pintu masuk dalam pola umum keanggotaan kaum elitis gnostik dan ketika orang berhasil masuk dan menemukan makna di balik kata-kata Yesus itu, mereka memiliki suatu kuasa transformatif yang setara dengan â€œkuasa kata dan pribadi Yesusâ€. Karena itu, para pengikut gnostik kerapkali mengidentifikasi diri sebagai Yesus yang mengatakan Barangsiapa yang minum dari MulutKu akan menjadi sama seperti Aku &lt;em&gt;(Paper Kitab Non Kanonik, by Samson Kono)&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Bacaan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Besorah, M.. (Herlianto, teks),&lt;br /&gt;â€œInjil Thomas-Sejarah Alkitab Indonesiaâ€ dalam &lt;a href="http://www.yabina.org/"&gt;www.yabina.org&lt;/a&gt;, 1.&lt;br /&gt;Broadhead E. K.,&lt;br /&gt;2000 â€œAn uthentic Saying of Jesus in the Gospel of Thomas?â€ dalam New Testament Studies, 141.&lt;br /&gt;GÃ¤rtner, B.,&lt;br /&gt;1961 The Theology of The Gospel According to Thomas, Harper &amp;amp; Broders Publishers, New York , 130-134.&lt;br /&gt;Haskin, W.,&lt;br /&gt;1971 â€œPERSOALAN LOGIA JESOU di dalam Indjil Thomasâ€ dalam sebuah orasi ilmiah yang dilengkapi dengan terjemahan lengkap dari Injil Thomas, BPK, Djakarta.&lt;br /&gt;Indrasandjaya, V., Pr.,&lt;br /&gt;2008 â€œKANON, KANONIK dan NON-KANONIK Iâ€, Handout Kuliah seminar Injil-injil non Kanonik, FTW, Yogyakarta, 19.&lt;br /&gt;Krishna, A..,&lt;br /&gt;1999 ISA Hidup dan Ajaran Sang Masiha, Gramedia, Jakarta.&lt;br /&gt;Pagels, E. H.,&lt;br /&gt;1999 â€œRxegesis of Genesis 1 in The Gospels of Thomas and Johnâ€ dalam Journal of Biblical Literature, 477.&lt;br /&gt;Ramadhani, D., SJ,&lt;br /&gt;2007 menguak injil-injil rahasia, Kanisius, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[1]&lt;/a&gt; Dr. R. W. Haskin, â€œPERSOALAN LOGIA JESOU di dalam Indjil Thomasâ€ dalam sebuah orasi ilmiah yang dilengkapi dengan terjemahan lengkap dari Injil Thomas, BPK, Djakarta 1971. Penulis menggunakan versi ini. Ada versi lain yang diterjemahkan bebas oleh Anand Khrisna dalam bukunya berjudul ISA Hidup dan Ajaran Sang Masiha, Gramedia, Jakarta 1999 (sebuah tafsiran bebas).&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[2]&lt;/a&gt; Tepatnya 47 logia dari Injil Markus, 17 logia dalam Injil Mateus, 4 logia ada dalam Injil Lukas dan 5 logia ada dalam Injil Yohanes. Milis Besorah (Herlianto, teks), â€œInjil Thomas-Sejarah Alkitab Indonesia â€ dalam &lt;a href="http://www.yabina.org/"&gt;www.yabina.org&lt;/a&gt;, 1.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[3]&lt;/a&gt; V. Indra Sanjaya, Pr., â€œKANON, KANONIK dan NON-KANONIK Iâ€, Handout Kuliah seminar Injil-injil non Kanonik, FTW, Yogyakarta 2008, 19.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[4]&lt;/a&gt; Milis Besorah (Herlianto, teks), â€œInjil Thomas-Sejarah Alkitab Indonesia â€ , 1.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[5]&lt;/a&gt; Deshi Ramadhani, menguak injil-injil rahasia, Kanisius, Yogyakarta 2007, 34.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[6]&lt;/a&gt; Edwin K. Broadhead, â€œAn uthentic Saying of Jesus in the Gospel of Thomas?â€ dalam New Testament Studies, 2000, 141.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[7]&lt;/a&gt; Richard Valantasis, The Gospel of Thomas, Roudledge, London and New York 1997, 10.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[8]&lt;/a&gt; Richard Valantasis, The Gospel of Thomas, 188.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[9]&lt;/a&gt; Richard Valantasis, The Gospel of Thomas, 189.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[10]&lt;/a&gt; Richard Valantasis, The Gospel of Thomas, 189.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[11]&lt;/a&gt; Bertil GÃ¤rtner, The Theology of The Gospel According to Thomas, Harper &amp;amp; Broders Publishers, New York 1961, 130-134.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[12]&lt;/a&gt; Bertil GÃ¤rtner, The Theology of The Gospel According to Thomas, 132.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975..23&amp;amp;.intl=us"&gt;[13]&lt;/a&gt; Bertil GÃ¤rtner, The Theology of The Gospel According to Thomas, 132.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[14]&lt;/a&gt; Bertil GÃ¤rtner, The Theology of The Gospel According to Thomas, 132.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[15]&lt;/a&gt; Bertil GÃ¤rtner, The Theology of The Gospel According to Thomas, 131.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;.intl=us"&gt;[16]&lt;/a&gt; Elaine H. Pagels, â€œRxegesis of Genesis 1 in The Gospels of Thomas and Johnâ€ dalam Journal of Biblical Literature, 1999, 477.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.mg3.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=975.23&amp;amp;..intl=us"&gt;[17]&lt;/a&gt; V. Indra Sanjaya, Pr., â€œKANON, KANONIK dan NON-KANONIK Iâ€, 18.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-4528745830607766567?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/4528745830607766567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/aminum-dari-muluta-paham-gnostisisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/4528745830607766567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/4528745830607766567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/aminum-dari-muluta-paham-gnostisisme.html' title=''/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-5240498216349504122</id><published>2009-02-20T20:52:00.001-08:00</published><updated>2009-02-20T21:45:05.881-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PaPer'/><title type='text'>Dinamika Relasi Yesus Dengan Yudas</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Dalam Injil Yudas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebuah Problema&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yudas Iskariot merupakan salah satu pribadi yang masuk dalam lingkaran keduabelas murid Yesus. Ialah yang mengkhianati Yesus dengan menyerahkan-Nya kepada Pontius Pilatus. Kehidupan-Nya di dunia berakhir dalam peristiwa salib yang ia terima&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;. Kitab-kitab Kanonik memahami Yudas sebagai pengkhianat yang mengantarkan Yesus pada kematian. Namun, dalam perjalanan waktu ada persoalan dalam memahami sosok Yudas dalam peristiwa kematian Yesus. Apakah tindakan Yudas sekedar memenuhi nubuat para nabi dalam kitab Suci, yakni menyerahkan Yesus pada kematian untuk menebus dosa manusia, melakukan apa yang Yesus perintahkan kepadanya? Mengapa Yudas menyerahkan Yesus kepada orang-orang Yahudi dengan tanda ciumnya, hanya demi uang 30 perak? Apakah yang dimaksudkan Injil Perjanjian Baru? Kesempatan kali ini, Penulis tidak akan menjawab seluruh pertanyaan itu. Penulis hanya akan mengulas problematika, serta dinamika Injil Yudas yang menggemparkan dunia (publikasi, propaganda media). Dengan begitu Injil Yudas dapat dipahami secara benar dalam konteks iman kekristenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Konteks Injil Yudas&lt;br /&gt;a. Historisitas Injil Yudas&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Injil Yudas telah diketahui melalui Irenaeus, uskup Lyons abad kedua. Dia menyebutkannya hampir di bagian akhir buku pertamanya yang merupakan bagian dari lima buku karyanya dengan judul Agains Heresies. Buku itu ditulis sebagai tanggapan atas adanya guru-guru palsu. Beberapa hal yang dikatakan oleh Irenaeus mengenai sekte yang ada dibalik Injil Yudas. Ada istilah-istilah senada dalam Injil Yudas, seperti “bintang-bintang pengiring”, tidak diragukan adalah sesuatu seperti para malaikat penjaga. Irenaeus memiliki pengetahuan rinci mengenai komunitas yang menciptakan Injil Yudas. Berdasarkan pernyataannya: ia telah mengoleksi tuisan-tulisan mereka&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;. Penemuan lain adalah mengenai gerakan Kainit, suatu gerakan yang diduga menggunakan Injil Yudas, dalam tulisan yang dibuat Tertulianus dan beberapa bapa perintis gereja mula-mula lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai 1800 tahun kemudian, ditemukan kembali teks Injil Yudas yang telah lama hilang. Hal itu dilontarkan oleh National geographic Society. Buku itu ditemukan kembali 3 dekade yang lalu di luar El Minya, Kairo, Mesir. Teks tersebut ditulis dalam bahasa Mesir kuno: Koptik. Bahasa Koptik diciptakan oleh penulis Mesir, mirip Yunani. Koptik memiliki peran penting dalam bahasa salama kristenisasi Mesir di awal abad Masehi. Penulisan Injil Yudas dapat ditinjau dari penanggalan radio karbon yang menunjukan bahwa buku ini ditulis pada suatu rentang waktu antara pertengahan abad ketiga dan akhir abad keempat. Injil Yudas diperkirakan muncul pertengahan Abad pertama dengan menggunakan bahasa Yunani. Penulisan Injil Yudas, perkiraan para ahli, sekitar tahun 300 hingga 320 CE. Akhirnya tidak begitu jelas bagaimana sejarah Injil Yudas tercipta. Yang dapat kita simpulkan bahwa Injil Yudas pernah muncul dalam komunitas tertentu. Soal waktu dan siapa yang menuliskannya masih menjadi tanda tanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Nuansa Gnostisisme Dalam Injil Yudas&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ada beberapa nuansa Gnostisisme yang mengalir dalam Injil Yudas. Penulis membaginya dalam beberapa point, antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Paham mengenai keselamatan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Gnostisime: gnosis berarti pengetahuan, bukan ilmu tetapi ngelmu, kebatinan&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;. Gnostis menjadi semacam agama yang menawarkan pengetahuan sebagai jalan keselamatan. Pengetahuanlah yang akhirnya menentukan keselamatan itu berlangsung atau tidak. Bagi Gnostik, paham keselamatan diperoleh dari pengetahuan, yakni pengetahuan tentang rahasia dunia dan kebenaran dirinya. Ehrman menuliskan demikian :&lt;br /&gt;For Gnostic, a person is saved not by having faith in Christ or by doing good works (Ehrman is here confusing Paul’s teaching about “salvation” with his view of “justification,” but this need not distract us here). Rather, person is saved by knowing the truth-the truth about the world we live in, about who the true God is, and especially about who we ourselves are. In other words, this is largely self-knowledge: Knowledge of where we came from, how we got here, and how we can return to our heavenly home…For those Gnostics who were also Christian (many Gnostics were not), it is Christ himself who brings this secret knowledge from above. He reveals the truth to his intimate followers, and it is this truth that can seth them free&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keselamatan bukan berasal dari iman kepada Kristus yang melakukan karya baik, namun keselamatan itu didapat dari pengetahuan akan kebenaran itu sendiri. Paham seperti itu hanya ditemukan dalam Gnostisisme. Untuk itulah Injil Yudas sangat bernuansa Gnostik&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;. Adapun komunitas yang menggunakan Injil Yudas menekankan perhatian pada, “a dialog between Jesus and Judas”. Percakapan Yesus dan Yudas yang berpuncak pada perintah Yesus kepada Yudas untuk melepaskan-Nya dari tubuh yang fana, yakni dengan kematian&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Pola pikir Gnostis yang irasional&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ciri Gnostisisme yang lain ialah pola pikirnya yang irasional. Kelompok Gnostik amat mempercayai bahwa perasaan, pewahyuan, serta penglihatan-penglihatan akan sesuatu dapat dialami siapa saja&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;. Namun keterpilihan untuk menerima pewahyuan, penglihatan dikhususkan bagi orang-orang yang berpengetahuan dan tidak semua orang mampu mengalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Tidak ada paham penciptaan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Komunitas Gnostisisme rupanya berlawanan arus dengan Gereja Katolik. Hal tersebut dapat ditemukan dalam paham penciptaan. Gereja Katolik mengenal adanya penciptaan oleh Allah atas dunia dan segala isinya. Ciptaan tersebut baik adanya. Sementara dalam paham Gnostisime, penciptaan yang dimaksud adalah penciptaan sebagai buah karya dewa tertentu. Dewa tersebut berada di bawah dewa tertinggi. Dewa yang melepaskan diri dari dewa tertinggi. Penciptaan yang dilakukan adalah bersifat fana, tidak baik. Hal ini lahir dari pemahaman dewa gnostis yang memiliki sifat jahat, egois, dan tidak cakap. Ia menciptakan dunia sebagai tempat yang fana dan jahat&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gnostisisme disinyalir berasal dari kelompok intelektual Yudaisme yang berkembang menjadi anti Yahudi. Pemikiran Gnostik berseberangan dengan Yahudi kendati ada beberapa teks meminjam pernyataan beberapa tokoh Alkitab. Gnostisisme mengkritik Yudaisme pada tiga pendapat&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; yaitu penciptaan (Allah yang agung adalah Allah pencipta), pemilihan (Allah yang sejati menyatakan diri-Nya kepada orang Israel), dan pernyataan (Allah yang sejati menyatakan diri-Nya secara terbuka dan obyektif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Eksistensi Yudas Di Mata Yesus : Perspektif Injil Yudas&lt;br /&gt;Para Murid Marah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;“……………..Tetapi roh mereka tidak berani berdiri di hadapan(nya), kecuali Yudas Iskariot. Yudas mampu berdiri di hadapannya, tetapi tidak dapat menatap matanya, dan dia memalingkan wajahnya.&lt;br /&gt;Yudas (berkata) kepadanya, “Saya tahu siapa engkau sesungguhnya dan dari mana asalmu. Engkau berasal dari alam yang tak mengenal kematian, tempat kediaman Barbelo. Dan saya tak pantas untuk mengucapkan nama Dia yang telah mengutusmu”&lt;/em&gt; (Injil Yudas hal. 7).&lt;br /&gt;(Teks ini sekedar mau menampilkan kristologi injil Yudas yang bernuansa Gnostik&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Individualisme Yang Radikal Dalam Injil Yudas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Individualisme dalam Injil Yudas menunjuk pada diri Yudas yang istimewa di mata Yesus. Keistimewaan itu ditunjukan beberapa teks dalam Injil Yudas sebagai berikut :&lt;br /&gt;· Telah membuat kalian marah (di dalam) hati kalian. (biarlah) seseorang di antara kalian yang (cukup kuat) di antara manusia menunjukan kemanusiaannya yang sempurna dan berdiri di hadapanku (Injil Yudas hal 7.)&lt;br /&gt;· Inilah kisah rahasia mengenai pewahyuan yang diucapkan oleh Yesus dalam pembicaraannya dengan Yudas (Injil Yudas hal.3).&lt;br /&gt;· Jauhilah yang lain , dan aku akan membertahukan kepadamu misteri-misteri kerajaan (hal. 9).&lt;br /&gt;· Tetapi Roh mereka tidak berani berdiri dihadapan(nya) kecuali Yudas Iskariot (hal. 7)&lt;br /&gt;· Saya tahu siapa Engkau sesungguhnya dan dari mana asalmu..(hal. 8)&lt;br /&gt;· Lihat,, Aku telah menjelaskan kepadamu misteri-misteri kerajaan dan telah mengajarkan kepadamu mengenai kesalahan bintang-bintang…dst (hal. 21)&lt;br /&gt;· Tetapi engkau akan lebih besar daripada mereka semua; karena engaku akan mengorbankan wujud manusia yang meragai diriku (hal.36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks-teks di atas menampilkan bagaimana posisi Yudas dalam Injil ini. Yudas adalah pribadi yang istimewa. Ia paling banyak berbincang dengan Yesus, bahkan kepada dirinyalah Yesus menyampaikan rahasia-rahasia-Nya yang tidak diketahui oleh para murid lain. Puncak dialog antara Yesus dengan Yudas akhirnya berpuncak pada peristiwa perjamuan, Yesus mengingatkan Yudas bahwa “engkau,Yudas, akan lebih besar daripada mereka semua; karena engkau akan mengorbankan wujud manusia yang meragai diriku” (dalam Injil Yudas). Pengenalan Yudas akan Yesus adalah sesuatu yang istimewa, “saya tahu siapa engkau sesungguhnya dan darimana asalmu”. Pengenalan tersebut tidak dialami oleh keduabelas rasul yang lain. Inilah peran sentral Yudas. Ialah yang mampu mengenal Yesus dan dialah yang menerima rahasia-rahasia dari-Nya. Pemikiran semacam ini sangat melekat dan khas Injil Yudas. Rahasia-rahasia Yesus hanya diketahui oleh orang tertentu yakni yang berpengetahuan. Point ini menunjukan betapa besar pengaruh gnostis dalam Injil Yudas. Peran individu, Yudas, sangat ditonjolkan. Ia menyampaikan rahasia-rahasia hidup-Nya hanya kepada masing-masing pribadi yang mampu mengenalnya dengan kehebatan pengetahuan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Individualisme dalam Injil Yudas sangat kentara dalam peran masing-masing pribadi, tokoh, dalam mendapatkan pengetahuan. Tidak semua orang mampu mengenal Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Kristologi Yudas yang bernuansa Gnostik&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;“…Yudas (berkata) kepadanya, “Saya tahu siapa engkau sesungguhnya dan dari mana asalmu. Engkau berasal dari alam yang tak mengenal kematian, tempat kediaman Barbelo. Dan saya tak pantas untuk mengucapkan nama Dia yang telah mengutusmu”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Konsep pemikiran Injil Yudas dan Kitab Kanonik mengenai Yesus tentu sangat bertolak belakang. Dalam pemikiran Injil Yudas, Yesus adalah pribadi yang berasal dari “alam yang tak mengenal kematian, kediaman Barbelo”. Kitab Kanonik meyakini Yesus Putra Bapa yang berinkarnasi untuk menyampaikan kabar gembira keselamatan bagi semua orang. Demikian pula pemahaman mengenai Yudas Iskariot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan teks di atas kiranya menjadi titik tolak tulisan selanjutnya. Apa yang dimaksud dengan alam yang tak mengenal kematian? Siapakah Barbelo? Untuk menjawabnya, penulis mengambil beberapa pendapat mengenai Barbelo&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;. Barbelo adalah emanasi pertama dari Tuhan dalam pemikiran Gnostik aliran set.&lt;br /&gt;Barbelo refers to the first emanation of God in the various Sethian Gnostic cosmogonies. This figure is also variously referred to as “Mother-Father”, First Human Being”, “The triple Androgynous Nama, or “Eternal Aeon”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barbelo dipahami dengan berbagai macam bentuk. Ada konsep emanasi, konsep triple androgenes, Bapa-Ibu surgawi, dsb. Semua istilah itu muncul semata dalam pemikiran gnostik.&lt;br /&gt;Pemahaman mengenai Yesus berasal dari dunia yang tak mengenal kematian sangat kentara dalam pemikiran Gnostik. Pemikiran Kristologisnya lebih popular dengan sebutan docetisme. Docetisme percaya: Yesus hanya terlihat (Yunani: dokeo) seperti manusia. Esensi Yesus bukan manusia. Mereka menolak kemanusiaan Yesus. Yesus tidak mungkin menjadi manusia karena tubuh manusia adalah jahat. Yesus ditampilkan dengan pribadi yang dapat hadir dimana-mana, dalam bentuk apa saja, dan dapat menampakkan diri sebagai pribadi yang tua maupun anak-anak secara bersamaan&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemanusiaan Yesus sekedar bayang-bayang, namun anehnya mereka percaya bahwa Yesus terperangkap dalam tubuh jasmaniah. Untuk itu Yudas tampil menjadi penolong bagi-Nya. Kedua pemahaman terlihat berlawanan. Di satu sisi, Yesus berasal dari tempat kediaman Barbelo, seolah-olah manusia. Di sisi lain, Ia memerlukan Yudas untuk membebaskan dari keterbatasan dan keburukan tubuh materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila mengingat kembali tulisan di atas tentang penolakan Gnostisisme mengenai penciptaan. Rupanya Gnostisisme tidak mengenal realitas penciptaan. Mengapa demikian? Hal tersebut dapat dinalar bahwa adanya penciptaan sebagai realitas yang jahat. Penciptaan merupakan hasil ciptaan dewa jahat, bodoh, dan tolol, “The world as we know ut was made by a bad, stupid and perhaps capricious god. There is another divine being, a pure, wise and true divinity who is quite different from this creator god”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;. Realitas dunia tersebut membuat segala sesuatu yang bersifat materi menjadi jahat. Manusia salah satunya. Roh yang terpenjara dalam tubuh. Ungkapan tersebut mau menggambarkan bahwa materi bersifat jahat. Materi, tubuh, memenjarakan roh sehingga keselamatan hanya dapat diperoleh apabila roh tersebut bebas dari keterpejaraan tubuh. Menurut Gnostisisme, keselamatan tersebut dapat diperoleh dengan pengetahuan yang mendalam. Untuk itu, Gnostisisme tidak mengenal penciptaan. Penciptaan oleh Tuhan tertinggi (dalam Gnostis) adalah sesuatu yang tidak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akhir Sebuah Problema?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Setelah membuka, membaca, dan mempelajari kisah Injil Yudas. Penulis menemukan bermacam pendapat dan tafsiran mengenai keberadaan Injil Yudas. Ada pro-kontra atas kemunculan Injil Yudas, ada yang tenang, dan ada pula yang merasa terguncang dalam menanggapinya. Ini biasa terjadi sebagai suatu reaksi yang wajar di tengah kemapanan kekristenan sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini, penulis tidak akan mengambil kesimpulan di tengah penafsiran dan aneka reaksi pro-kontra mengenai Injil Yudas. Artinya, problema dalam Injil Yudas sendiri belum terjawab secara pasti, tetapi perlu direfleksikan lebih jauh lagi. Yang jelas kehadiran Injil Yudas di tengah kemapanan kekristenan sekarang ini mampu memberi wacana baru mengenai paham kekristenan yang pernah berkembang pada masa-masa awal. Penulis berharap dengan mempelajari problematika Injil Yudas, penulis dapat terbantu untuk menularkan informasi yang berguna mengenai Injil kepada semakin banyak orang (pastoral). Setidaknya, pemahaman serta pengenalan terhadap Injil Yudas mampu memberi perspektif baru mengenai dinamika sejarah kekristenan. Sebagai umat Katolik, penulis merasa semakin ditantang untuk berani mempertanggungjawabkan iman kekatolikan kepada semua orang, terlebih di tengah dunia yang plural &lt;em&gt;(Paper Kitab Non Kanonik, by Tri Kusuma).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Buku&lt;br /&gt;Jacob, Tom&lt;br /&gt;2000 Imanuel, Yogyakarta: Kanisius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasser, R, Marvin Meyer dan Gregor Wrust (ed)&lt;br /&gt;2006 Injil Yudas,Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhani, Deshi&lt;br /&gt;2007 Menguak Injil-Injil Rahasia, Yogyakarta: Kanisius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanjaya, Indra&lt;br /&gt;2008 Injil Yudas Dan Tiga Puluh Keping Perak, Manuscript Seminar Kitab Non-Kanonik.&lt;br /&gt;2008 Injil Yudas Dan Tiga Puluh Keping Perak, mengambil dari &lt;a href="http://http:%20/%20www.kheper.net/topics/Gnosticism/first%20emanation.html"&gt;http: // www.kheper.net/topics/Gnosticism/first emanation.html&lt;/a&gt;; terdapat dalam Manuscript, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wright, N.T&lt;br /&gt;2006 Judas and The Gospel of Jesus, Grand Rapids, United States : Baker Books.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Internet&lt;br /&gt;Herlianto&lt;br /&gt;2007 Injil Yudas menggugat Yesus Injil Kanonik, Sarapan Pagi Biblika, Kamis, 01 Maret 2007, 11:44, &lt;a href="mailto:herlianto@yabina.org"&gt;herlianto@yabina.org&lt;/a&gt;, diakses pada tanggal 03 Maret 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tupamahu, Ekaputra&lt;br /&gt;2008 Tanggapan Terhadap Injil Yudas, Satyabhakti Advanced School of Theology (STT Satyabhakti): INDONESIA, Saturday, July 14, 2007 diakses pada hari Rabu, 5 Maret 2008 dalam &lt;a href="http://www.google/Injil"&gt;www.google/Injil&lt;/a&gt; Yudas/com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.yahoo/Tanggapan%20Terhadap%20Injil%20Yudas/artikel.com"&gt;http://www.yahoo/Tanggapan%20Terhadap%20Injil%20Yudas/artikel.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Interpretasi Kitab Kanonik.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Nicholas Perrin, The Judas Gospel, Downers Grove: InterVarsity Press, telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Yeri Ekomunajat, Injil Yudas: Menggugah atau Menggugat Iman?, Yogyakarta: Andi, 2006, 8.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Tom Jacob, SJ, Imanuel, Yogyakarta: Kanisius, 2000, 156.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; N. T. Wright, Judas and The Gospel of Jesus, Grand Rapids, United States : Baker Books, 2006, 104.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; N. T. Wright, Judas and The Gospel of Jesus, 31.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; N. T. Wright, Judas and The Gospel of Jesus, 31.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Tom Jacob, SJ, Imanuel, 157.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Nicholas Perrin, The Judas Gospel, Downers Grove: InterVarsity Press, telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Yeri Ekomunajat, Injil Yudas: Menggugah atau Menggugat Iman?, Yogyakarta: Andi, 2006, 13.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Nicholas Perrin, The Judas Gospel, Downers Grove: InterVarsity Press, telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Yeri Ekomunajat, Injil Yudas: Menggugah atau Menggugat Iman?, Yogyakarta: Andi, 2006, 14.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Indra Sanjaya, Pr, Injil Yudas Dan Tiga Puluh Keping Perak, Manuscript Seminar Kitab Non-Kanonik, 2008, 10.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Barbelo adalah istilah Gnostik.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Indra Sanjaya, Pr, mengambil dari &lt;a href="http://www.kheper.net/topics/Gnosticism/first%20emanation.html"&gt;http://www.kheper.net/topics/Gnosticism/first%20emanation.html&lt;/a&gt;; terdapat dalam Manuscrip, Injil Yudas dan Tiga Puluh Keping Perak, Yogyakarta: 2008, 11.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Ekaputra Tupamahu, Tanggapan Terhadap Injil Yudas, Satyabhakti Advanced School of Theology (STT Satyabhakti): INDONESIA, Saturday, July 14, 2007&lt;a name="3D454331789904029279"&gt;&lt;/a&gt; diakses pada hari Rabu, 5 Maret 2008 dalam &lt;a href="http://www.google/Injil"&gt;www.google/Injil&lt;/a&gt; Yudas/com.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; N. T. Wright, Judas and The Gospel of Jesus, 32.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-5240498216349504122?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/5240498216349504122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/dinamika-relasi-yesus-dengan-yudas.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/5240498216349504122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/5240498216349504122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/dinamika-relasi-yesus-dengan-yudas.html' title='Dinamika Relasi Yesus Dengan Yudas'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-3578652783938017041</id><published>2009-02-20T20:42:00.000-08:00</published><updated>2009-02-21T23:08:13.102-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Gereja Pekalongan “Gereja Supermarket”&lt;br /&gt;Iya ‘ga sich, gitu ‘ga sich?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Siapakah Gereja?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gereja adalah persekutuan umat beriman kepada Allah. Mereka, umat beriman, berkumpul memuji dan memuliakan Allah. Lantas, Gereja pun tampil sebagai sakramen keselamatan manusia yang bersifat total -menyangkut seluruh eksistensi manusia-. Tuhan melepaskan manusia dari belenggu kehidupan dan menyatukan dengan diri-Nya dalam kebahagiaan, kehidupan penuh rahmat, kekudusan, dan kedamaian. Oleh karena itu Gereja terpanggil untuk terlibat menjadi saksi Kabar Gembira keselamatan bagi banyak orang. Inilah bentuk keterlibatan Gereja dalam dunia. Gereja yang berziarah dan menampilkan karya Allah di dunia supaya segala sesuatu menjadi baru dalam nama-Nya. “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatunya baru” (Why 21:5). Namun muncul pertanyaan kritis, “Siapakah yang dimaksud Gereja?”. Apakah Gereja sebagai persekutuan umat beriman kepada Allah (terungkap di atas) atau gereja sebagai bangunan yang berdiri megah dan mewah saja?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Gereja St. Petrus Pekalongan memiliki kemewahan luar biasa. Kita pantas bersyukur, kita memiliki gereja semegah itu. Namun jangan sampai kita berhenti di sini. Gereja y&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-HStI6AFI/AAAAAAAAABU/bKcVPO3HIls/s1600-h/IMG_5869.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305107641490079826" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-HStI6AFI/AAAAAAAAABU/bKcVPO3HIls/s320/IMG_5869.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ang terpenting adalah Gereja persekutuan umat Allah. Gereja yang adalah organisme, manusia beriman yang hidup di dalamnya, bukan semata susunan batu bata, semen, besarnya tiang-tiang, dan semaraknya lampu hias. Amat ironis jika aura keberimanan umat tidak semeriah bangunan gerejanya. Kita bisa berefleksi dari guliran-guliran cerita dibawah ini :&lt;br /&gt;“Setiap kali Gereja mengadakan kegiatan, seperti rapat, seminar, bedah buku, persekutuan doa, pesta-pesta (HUT, Natal, Paskah) hampir tidak banyak umat yang terlibat di dalamnya. Padahal jumlah umat Katolik Paroki St. Petrus Pekalongan kurang lebih 3000 jiwa. Tetapi mengapa yang terlibat tidak mencapai 25%, “Kemana umat yang lain?”. Selama ini umat yang aktif, itu-itu saja. Dalam rapat, seminar, persekutuan doa, dan pesta hanya bertemu dengan orang yang sama. Sletingan-slentingan lain adalah lemahnya antusiasme umat dalam berkegiatan. Rupanya istilah SMP, setelah makan pulang, menjadi humor apik yang muncul selama ini. Mengapa demikian? Karena setelah makan, beberapa umat pulang, padahal acara belum selesai. Hal itu terjadi dalam semua acara. Apalagi jika menu acara yang ditawarkan tidak menarik. Minat, hasrat umat untuk terlibat tidak begitu banyak”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Apakah aura keberimanan umat belumlah semeriah bangunannya. Ada ungkapan spontan yang mengomentari cerita-cerita di atas, yaitu ungkapan “Gereja Pekalongan adalah Gereja supermarket”. Pengertian Supermarket, menurut KBBI&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;, adalah pasar swalayan. Di dalam pasar swalayan tersedia berbagai pilihan. Pembeli datang, melihat-lihat mana yang menarik dan tidak. Pembeli tinggal memilih mana yang mau dibeli. Pasar swalayan menjadi ramai, laris, ketika banyak pilihan menarik yang ditawarkan. Tetapi berbeda ketika pasar swalayan tidak menyediakan pilihan menarik, pasar swalayan menjadi sepi. Apakah Gereja Pekalongan dapat dianalogikan semacam itu? Bahwa kehidupan menggereja umat amat tergantung pada menu-menu yang disediakan oleh Gereja. Banyak sedikitnya umat dalam kegiatan menggereja tergantung pada kemasan, tergantung pada kharisma pribadi, cocok dan tidak, atau menarik dan tidak menariknya acara. Akhirnya umat sekedar menjadi penonton, “penikmat” tanpa mau terlibat. Apakah Gereja Pekalongan adalah Gereja supermarket, sekali lagi mengajak kita bertanya, “bener ga sich, gitu ga sich????”. Ada seorang umat pernah bercerita tentang pengalaman imannya sebagai orang Katolik :&lt;br /&gt;“Dulu saat saya tinggal di daerah timur (Tim-Tim)-penulis lupa nama tempatnya- saya tidak pernah “mampu” mengikuti misa. Mengapa? Karena jarak rumah dan gereja terlampau jauh kurang lebih 1 hari 1 malam. Di dusun, hanya saya (keluarga) yang beragama katolik. Praktis tidak pernah ada doa bersama, doa lingkungan dsb. Semenjak saya tidak misa, tidak menyambut tubuh dan darah Kristus, hidup seakan ada yang kurang, tidak lengkap. Anehnya, kerinduan untuk menyambut tubuh dan darah Kristus itu terus menggebu-gebu. Inilah yang mendorong kami berangkat ke gereja di kota. Saya mengajak istri dan 2 anak yang masih kecil-kecil. Selama 1 hari-1 malam kami berjalan, kami menggendong anak kami secara bergantian, melewati hutan, dan jalan berlumpur (tidak ada angkutan). Kami sempat putus asa. Rasanya letih, cape. Tapi, kami tetap meneruskan perjalanan. Akhirnya, kami dapat merayakan misa. Hati kami bahagia, seperti hati yang haus, dilegakkannya, hati yang letih, disegarkan-Nya. Kami bersyukur atas perjumpaan itu. Setelah misa, kami kembali pulang membawa oleh-oleh berkat dan semangat berkat dari-Nya. Kami pulang, berjalan selama 1 hari, 1 malam.&lt;br /&gt;Kini kami bersyukur, kami tinggal di P. Jawa. Kami bisa mengikuti misa setiap hari, tanpa harus berjalan 1 hari-1 malam. Cukup sepeda onthel menjadi tumpangan kami. Kami berboncengan dengan penuh kegembiraan”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Keberimanan terlihat melalui kesadaran dan keaktifan menanggapi cinta kasih Allah. Sapaan cinta kasih Allah hadir dan bersentuhan dengan pengalaman hidup manusia. Peran manusia adalah menanggapi dengan bebas sesuai keyakinan serta pergulatan imannya kepada Allah.&lt;br /&gt;Iman bukan pertama-tama menerima berbagai macam aturan, melainkan menghayatinya secara bebas dan bertanggung jawab dalam kesatuannya dengan Allah. Apabila iman dipahami secara dangkal, yakni sekedar ketaatan lahiriah terhadap aturan-aturan tertentu, maka ketaatan itu menjadi formal. Inilah ketakutan Gereja, “Adakah nilai-nilai yang diperjuangkan sebagai orang Katolik. Jangan-jangan keterlibatan dalam hidup menggereja adalah sekedar basa-basi, setengah hati, untuk menghindari penilaian orang lain”, atau mencari pengakuan?”. Pertanyaan ini pantas kita refleksikan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tantangan Beriman : Formalisme Agama&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tahun ini, selaras dengan arah gerak Keuskupan Purwokerto, Gereja St. Petrus Pekalongan mengolah tantangan formalisme agama. Ada indikasi berkembangnya formalisme agama dalam penghayatan iman umat, misalnya : dangkalnya pemahaman hidup menggereja, mengikuti misa (menggereja sekedar kewajiban), umat kurang mampu menginternalisasikan ajaran agama dalam hidup pribadi maupun sosial, pengetahuan iman umat terbatas, dan rentan konflik antarumat beragama. Indikasi-indikasi itu ditemukan dalam MUSPAS 2006, dan kita tidak bisa menggeneralisir hal itu bagi tempat-tempat lain di Keuskupan Purwokerto. Namun kita baik bertanya, Apakah indikasi-indikasi itu muncul dalam kehidupan menggereja umat Paroki St. Petrus Pekalongan?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dalam konteks luas, mungkin benar issu Gereja jaman ini sangat memuja rasionalisme, dan kecerdasan atau ketrampilan manusia. Rasa kecil, kegagalan, kehinaan, penderitaan dan keterbatasan menjadi penghalang dan karya Allah yang tidak berguna. Semestinya jiwa hidup menggereja dan beriman harus beranjak dari relasi yang intim dengan Allah. Beriman kepada Allah berarti mengalami Allah dalam setiap perjumpaan sehari-hari. Perjumpaan personal ini memberi kekuatan, keindahan batin (inner beauty) pribadi yang bisa dipendarkan dalam hidup bersama. Apabila setiap pribadi memiliki inner beauty, keindahan batin, niscaya efeknya dirasakan semua orang. Nah, dalam konteks dunia semacam itu, kita mesti curiga, apakah perbuatan, kegiatan menggereja, ketekunan kita dalam menggereja lahir atas dasar nilai-nilai tertentu? Ataukah sekedar mentaati aturan dan kewajiban saja?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Demikian iman kita harus selalu diuji, supaya iman kita semakin tangguh. Iman dengan perbuatan adalah dasar bahwa hidup beriman tidak sekedar berdoa, berdoa, dan berdoa, tetapi berbuat. Berbuat sesuai dengan keyakinan imannya kepada Allah. Kendati Iman seseorang tidak bisa kita ukur semata dari satu perbuatan baik yang dilakukan. Iman adalah kesinambungan antara batin dan lahir. Hidup batin yang baik, melahirkan perbuatan (lahir) yang baik pula. Inilah keselarasan antara pengungkapan iman dan perwujudan iman, dimana Allah tetap sebagai dasar/sumber segala ungkap dan wujud iman kita sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesadaran akan Nilai-Nilai&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup manusia, satu hal penting yang mestinya hidup yakni kesadaran bahwa Allah adalah sumber dan tujuan hidup manusia. Kesadaran ini mengarahkan kita untuk hidup dalam suatu nilai. Nilai-nilai ini menjadi inti-isi- suatu bentuk kegiatan menggereja. Nilai-nilai kristiani mengarahkan hidup manusia pada suatu kebenaran sejati, Allah. Jika kita mampu menghidupi nilai-nilai kristiani tersebut, kita turut ambil bagian dalam kehidupan di dunia. Ingat bahwa kita, umat awam, dipanggil untuk terus mengusahakan kesucian dalam hidup keduniaan kita. Inilah yang menjadi kekhasan umat awam pada umumnya. Awam memiliki ciri khas yang melekat dalam dirinya berdasarkan sifat keduniaannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Maka Gereja, sebagai persekutuan umat beriman kepada Allah, mengajak seluruh umat beriman untuk memiliki kesucian hidup dalam perannya di dunia. Keterarahan hati untuk selalu menumbuhkan cinta kasih merupakan dasar yang tepat. Allah sendiri telah melimpahkan berbagai rahmat kepada setiap manusia. Manusia tinggal mengembangkan dengan penuh kebebasan untuk tujuan kesucian dan kemulian nama-Nya. Melalui rahmat dan kurnia yang telah ada, umat beriman menguduskan dunia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kesadaran akan nilai-nilai kristiani adalah sarana bantu menyadari kasih dan cinta Allah. Dan menjadi pijakan dalam berelasi dengan orang lain. Keterlibatan tidak semata lahiriah tanpa menemukan makna di dalamnya, tetapi keterlibatan itu tampak dalam memperjuangkan nilai-nilai kristiani dalam rangka pengudusan dunia. Mau tidak mau, nilai-nilai Kristiani memberi bobot yang positif dalam hidup beriman umat Katolik. Agar hidup kekristenan hiduplah omong kosong (tong kosong), tetapi kekristenan itu benar-benar tangguh dan mendalam (menthes). “Tuhan yang telah memulai pekerjaan baik diantara kita, Dia pula yang akan menyelesaikan-Nya (Flp 1:6)”&lt;em&gt; (sebuah tulisan untuk Warta Paroki St. Petrus Pekalongan, by trie).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=350841125882798583#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; KBBI-Online, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-3578652783938017041?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/3578652783938017041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/gereja-pekalongan-gereja-supermarket.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/3578652783938017041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/3578652783938017041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/gereja-pekalongan-gereja-supermarket.html' title=''/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-HStI6AFI/AAAAAAAAABU/bKcVPO3HIls/s72-c/IMG_5869.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-4645343590013562584</id><published>2009-02-20T20:38:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T20:41:26.616-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>“Sabda Allah Adalah Oase Kehidupan”</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-F5nuXDkI/AAAAAAAAABM/QpTNEY9Ymcc/s1600-h/p7110004-geneva-bible-picture-1712x1368.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305106111028203074" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 256px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-F5nuXDkI/AAAAAAAAABM/QpTNEY9Ymcc/s320/p7110004-geneva-bible-picture-1712x1368.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bulan September adalah Bulan Kitab Suci Nasional. Gereja mengajak kita untuk semakin bertekun dalam merenungkan sabda dalam Kitab Suci. Sebab besarlah daya Sabda Allah yang mampu memberikan kekuatan iman, kebeningan hati bagi kita yang mau bergulat di dalamnya. Ada sebuah permenungan kecil yang mengantar kita memaknai betapa pentingnya sabda dalam hidup kita sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sabda Allah adalah Roh Kehidupan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sabda merupakan bahasa komunikasi yang menghantarkan manusia pada pemahaman yang benar akan Allah. Setiap sabda adalah roh kehidupan. Ia memiliki daya yang sungguh menghidupkan. Apabila manusia terbuka terhadap sabda, sabda itu akan berbicara dalam hatinya. Kekuatan sabda mampu membongkar ranah beku manusia. Ia menyentuh dan menggerakkan batinnya, sebab melalui sabda Allah hadir dan menyapa manusia, “Ia hadir dalam sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab suci dibacakan dalam Gereja” (SC 7). Itu berarti Allah menggunakan bahasa manusia agar manusia mampu menangkap serta membalas-Nya dengan iman. Sabda memiliki daya ubah dan cipta bagi manusia yang percaya. Ingatkah peristiwa penciptaan? Allah berfirman, “Jadilah terang. Lalu terang itu terjadi…dst“(lih. Kej 1). Oleh karena itu Sabda bukanlah omong kosong, bualan, gossip-gossip, atau tulisan tanpa makna. Dalam Sabda Allah sendiri yang hadir. Bukankah itu sudah cukup menggambarkan betapa sabda memiliki daya istimewa dan kita tidak usah ragu untuk mempercayai-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sabda Allah Adalah Jerih Payah Kehidupan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak asing dengan kutipan ayat ini, “datanglah pada-Ku kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu”. Seperti oase di padang gurun, Sang Sabda memberikan kelegaan. Ia menuntun hati yang bimbang, memberikan terang bagi yang berputus harapan. Demikian manusia ditantang untuk percaya kepada-Nya. Sabda sendiri adalah jerih payah kehidupan dimana terdapat usaha manusia untuk senantiasa merenungkan dan menggalinya dalam hidup. Sebenarnya jika kita mau sadari, Sabda selalu berbicara dalam hidup, tinggal kita mau terbuka atau tidak terhadap sapaan-Nya, dan apakah Sabda sudah menjadi dasar hidup kita?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hidup yang berdasar sabda berarti hidup yang mau terbuka terhadap sapaan Allah. Keterbukaan hati inilah yang memberi ruang bagi Allah untuk bekerja dalam hidup kita. Kita membiarkan dikuasai oleh Allah. Bagaimana kita merasakan semua itu? Bertekun mengakrabi Kitab Suci adalah jawabnya. Kita renungkan, refleksikan sabda serta menerapkannya dalam praktek kehidupan. Jika kita hidup selaras dengan Sabda, berarti hidup kita mencerminkan Allah yang berkarya. Inilah pentingnya merenungkan sabda. Bahwa melalui sabda-Nya, Allah menyapa kita setiap saat dan mengarahkan kita selaras dengan kehendak-Nya. Kita tidak perlu meragukannya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, marilah kita membiarkan diri dituntun dan dikuasai oleh-Nya. Jangan biarkan Ia berlalu tanpa makna, sebab setiap peristiwa, dalam nama-Nya, menghadirkan makna. &lt;em&gt;(trie)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-4645343590013562584?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/4645343590013562584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/sabda-allah-adalah-oase-kehidupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/4645343590013562584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/4645343590013562584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/sabda-allah-adalah-oase-kehidupan.html' title='“Sabda Allah Adalah Oase Kehidupan”'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-F5nuXDkI/AAAAAAAAABM/QpTNEY9Ymcc/s72-c/p7110004-geneva-bible-picture-1712x1368.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-3708438787052720381</id><published>2009-02-20T20:30:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T20:36:54.760-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ProfiL'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-EzIaZ7-I/AAAAAAAAABE/HQt2VDqPoy8/s1600-h/1_866153456l.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305104900032163810" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-EzIaZ7-I/AAAAAAAAABE/HQt2VDqPoy8/s320/1_866153456l.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Biodata&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Albertus Tri Kusuma terlahir di Purbalingga, 10 November 1983. Perjalanan pendidikannya adalah sebagai berikut, SD N 2 Kedunglegok, SMP Santo Borromeus, SMA Pangudi Luhur Van Lith, Kelas Persiapan Atas (KPA) Seminari Menengah St. Petrus Kanisius Mertoyudan, Tahun Orientasi Rohani St. Agustinus (TORSA) Tegal, Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, dan Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Petrus Pekalongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalananku&lt;br /&gt;Aku datang ke Pekalongan tepat pada hari Senin, 14 Juli 2008, jam 13.00, sehari sebelum waktu yang ditetapkan. Aku datang dihantar oleh bapak (kebetulan bapak tidak ada acara-rencananya berangkat sendiri) naik sepeda motor dengan beberapa bekal seadanya. Datang pertama langsung bertemu dengan Bp. Edy dan Mas. Yoris, dan dihantar naik ke lantai 3. Aku bertemu dengan romo Toro, makan siang, dst.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kini aku bergulat dengan kehidupan umat di lingkungan Pantura, kota yang ramai dan panas. Meskipun panas, toh kota Pekalongan pernah hadir dalam serpihan pengalamanku di masa lalu. Kota Pekalongan bukan kota yang asing, sebab kota ini pernah menyisipkan kenangan dalam hatiku. Dan selama masa TOP ini, aku berusaha untuk tinggal, hidup dengan apa adanya diriku. Berusaha mengenal kecintaanku pada Tuhan melalui karya dan pergulatan panggilanku. Semoga Tuhan membantuku menjadi pribadi yang semakin berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan panggilan&lt;br /&gt;Aku hidup dalam keluarga katolik sebagai anak ke-3 dari empat bersaudara (3 laki-laki dan 1 perempuan). Saat kecil, aku kerap diajak ortu melakukan pelayanan di stasi-stasi (bagian dari Paroki St. Agustinus Purbalingga). Waktu itu bapak adalah prodiakon yang sangat aktif. Bagiku bapak menjadi figur yang patut ku teladani, terutama ketekunan dan totalitasnya dalam pelayanan. Melalui pelayanan2 itu aku menjadi mengenal Gereja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pengenalanku terhadap Gereja semakin bertambah, yakni tentang kehidupan para imam. Kerapnya perjumpaan dan kedekatan dengan imam, memberi inspirasi dan ketertarikan untuk menjadi seperti dirinya. Saat aku mengikuti misa mingguan di gereja, kerap aku berfantasi telah menjadi seorang imam, berada di altar tengah mengangkat roti dan anggur. “Wah pokoknya seneng banget”. Bahkan tidak hanya berhenti di situ, setiap kali di rumah sedang sendiri, saya kerap membuka buku madah bakti, puji syukur dan bersenandung lagu-lagu yang dinyanyikan oleh imam. gerak tubuhku pun sudah laiknya imam. Keinginanku menjadi seorang imam kian menggebu saat aku berada di SMP, kelas 2. Aku mencoba mendaftar ke seminari mertoyudan, tetapi gagal. Ternyata Tuhan berkata lain. Aku bingung dimana aku harus melanjutkan sekolah. Yang jelas aku ingin sekolah di luar kota Purbalingga. Aku ingin seperti kakak-kakakku yang sekolah di jogja. Maka kuputuskan untuk belajar di luar Purbalingga. Aku masuk SMA PL Van Lith berasrama. Kendati bukan pilihan pertama. Awalnya aku ingin masuk de Britto dengan alasan bisa berpakaian bebas, berambut gondrong. Tetapi simbah di jogja melarangku masuk ke de Britto. Katanya, “repot”, karena harus memikirkan kost, uang saku dll. Akhirnya aku dianjurkan masuk sekolah berasrama saja. Syukur kepada Allah, Tuhan memberiku kesempatan untuk belajar di situ. Masa SMA benih-benih panggilan mengalami pasang surut. Bahkan keinginan untuk menjadi imam, tidak lagi menggebu. Namun, saya merasa heran, ketika berada di SMA, aku selalu dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang berbau rohani. Aku pernah menjadi koster sekolah, memimpin ibadat di kelas, memberi renungan-doa. Yang lebih aneh lagi, aku punya nama julukan “bruder”. Sebutan itu muncul oleh karena tingkah lakuku seperti bruder, yang kerap berkeliling mengawasi anak-anak belajar dengan membawa segepok kunci di tangan. Selain itu, teman-teman juga tahu bahwa aku pernah mendaftar ke seminari (saat SMP). Secara tidak langsung, mereka tetap mengingatkanku, menjaga hidup panggilanku dengan kegiatan2 yang berbau rohani.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bagiku, benih panggilan semasa SMA tidak lagi menggebu. Justru rasa suka, cinta dengan lawan jenis adalah yang dominan. Wah…ini pengalaman jatuh cinta, “inget lagu “jatuh cintaku yang pertama membuat hatiku berlomba…..dst”. benar juga rasa cinta membuat suasana hati berbeda. Tapi ternyata pengalaman cintaku itu tak mulus. Rasa cinta tinggal perasaan saja yang menyisakan sesak dalam dada (hahahaha.…) ini pengalaman cinta yang konyol, dan setiap kali mengingatnya membuatku tertawa. Tapi biarlah, aku bersyukur boleh mengalami perasaan-perasaan semacam itu. Dan aku berterima kasih pada Tuhan atas pengalaman itu.&lt;br /&gt;Kelas 3 saat-saat yang menentukan bagiku. Waktu itu aku bersama teman-teman (satu angkatan) ijin ke seminari. Ijinnya mau melihat informasi, tanya informasi pendaftaran masuk ke seminari. Padahal alasan utamanya bukan itu, alas an sebenarnya adalah pengen jalan-jalan, tidak ikut pelajaran. Akhirnya, kami ber tujuh belas atau berapa (sudah agak lupa), kami ke mertoyudan. Dari ketujuh belas teman itu, yang mendaftar ada 6 orang, termasuk aku. Dan diterima 3 orang. Maka teman seangkatanku dari SMA ada 3 orang. Alasannya masuk ke seminari mungkin karena bingung mau masuk ke PTS mana, tapi itu bukan yang utama? Ada keinginan tersembunyi bahwa aku ingin menguji kembali apa yang pernah kucoba dulu waktu SMP. Motivasiku adalah menjadi seorang imam yang mau melayani Tuhan dengan baik, serta melayani umat dengan sepenuh hati. Saat itu aku tidak begitu bermuluk2 ingin diterima di seminari, sebab aku ingin berjalan sebagaimana adanya diriku (tidak mau bermimpi terlalu jauh). Ternyata Tuhan memilihku. Tuhan memberikan kesempatan kepadaku untuk menanggapi panggilan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aku masuk Seminari Mertoyudan. Awalku masuk di seminari ditemani guliran air mata. Mengapa? Persis saat aku masuk ke seminari mertoyudan, kakakku telah memutuskan untuk mundur dalam menanggapi panggilan Tuhan. Satu pertanyaan yang masih teringat, “Tri, Apakah kamu benar-benar mantap memilih jalan panggilan ini?”. Terang saja, aku tidak langsung menjawab (ah, sentimentil banget ya…). Namun pertanyaan itu selalu relevan untuk kumunculkan, dan mengingatkanku bahwa panggilan ini adalah keputusanku.&lt;br /&gt;Satu tahun di KPA Mertoyudan, dan aku memutuskan untuk masuk menjadi imam Praja Keuskupan Purwokerto. Mengapa? Sebab aku berasal dari keuskupan Purwokerto. Aku ingin mengembangkan Gereja Keuskupan Purwokerto. selain bahwa imam diosesan Keuskupan Purwokerto tidak begitu banyak. Gereja Keuskupan Purwokerto masih membutuhkan banyak imam. so, “ada yang mau mendaftar ke seminari, jadi romo?”. Setelah mengikuti beberapa proses, aku diterima masuk dalam Keuskupan Purwokerto. Selama satu tahun aku tinggal bersama 5 teman lainnya di TORSA Tegal (angkatan pertama Tegal setelah 2 tahun sebelumnya berada di Pekalongan). Romo yang mendampingi saat itu adalah Rm. Sugiarto, SJ dan Rm. Ag. Dwiyantoro, Pr. Dan selanjutnya aku diutus studi ke Seminari TInggi St. Paulus Kentungan bersama 2 frater lain. setelah selesai menempuh studi di Seminari TInggi St. Paulus aku mendapat kesempatan untuk belajar pastoral di Paroki St. Petrus Pekalongan dan kembali berjumpa dengan Rm. Toro untuk kali yang kedua (dalam formatio).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Demikian sekilas perjalanan panggilanku, sampai sekarang aku masih terus membangun kesetiaan untuk berada di jalan panggilan-Nya. Aku yakin bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk diriku. Maka aku tidak perlu cemas akan hidup dan panggilanku, sepenuhnya aku pasrahkan kepada diri-Nya. Oh ya ada satu ucapan yang menohok dan membuatku bermenung tentang panggilanku selama ini, “Setiap pilihan hidup sepatutnya dijalani, tapi lebih baik menjalaninya dengan penuh KESADARAN…Just do it!!! God will open your way…..”. Aku bersyukur bahwa ada begitu banyak orang yang menaruh perhatian dan meneguhkan panggilanku. Terima kasih Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas di Paroki&lt;br /&gt;Aku menjalani TOP di paroki St. Petrus Pekalongan. Memang secara khusus, aku mendapat kesempatan untuk mengenal dan terlibat dalam kegiatan kaum muda di paroki St. Petrus Pekalongan. Selain juga mengenal berbagai pelayanan gerejani, dan mengenal kelompok kategorial dan territorial yang berkembang di Paroki St. Petrus Pekalongan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan pada paroki&lt;br /&gt;Sebenarnya aku bingung harus menaruh harapan apa pada paroki St. Petrus Pekalongan. Dan sepertinya aku tidak begitu layak menuntut terlalu banyak terhadap paroki ini. Toh keberadaanku disini tidak akan begitu lama. namun, sejauh pengenalanku terhadap Gereja ini, aku berharap bahwa Gereja pekalongan menjadi semakin berkembang, tidak sekedar memiliki bangunan yang megah, kokoh menjulang tinggi dengan berbagai kemeriahan yang melingkupi sekitarnya, tetapi memiliki bangunan rohani yang kuat, yang tercermin dalam antusiasme hidup menggereja umat. Sebab seperti tubuh tanpa jiwa, tubuh bukanlah apa-apa. Tapi, eh kaum mudanya mana niech…sepi, sepi azzza????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motto&lt;br /&gt;Akh, mungkin terkesan mencari-cari apa yang menjadi motto pribadiku. Terus terang aku tidak begitu suka dengan istilah motto. Tetapi baiklah aku berusaha merenungkan apa yang pernah kutuliskan dalam friendsterku saat ini (agak gaul nich pake friendster segala), “"PeRgilaH MeNujU TeMpaT di ManA kAu Tak DaPaT pErGi, MenUju YaNg tAk mUngKiN. ItUlaH sAtU-sAtuNya jAlaN pErGi aTau DaTanG, itu kata Derrida, filsuf yang kusuka"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Unik Saat di Paroki&lt;br /&gt;Tubuhku tidak terlalu besar dan tinggi. Aku menganggap porsi tubuhku ideal (hehehe….pembelaan ki). Rupanya sebagai frater yang bertubuh kecil, aku kerap kali disangka mudika, “wah, saya kira mudika…habis fraternya kecil sich…), selain itu juga, kerap disangka anak misdinar. Wah-wah…ternyata tubuh kecil membawa banyak keuntungan yach. Nah, kalau yang satu ini adalah tugas beratku, yaitu bagaimana menambah berat badanku. Bayangkan, setiap kali makan pasti akan disodori ungkapan, “ayo ‘ter makan yang banyak..biar cepet (gedhe) besar…kekekee…’ dan kutimpali dengan senyum tanpa bisa berbuat apa-apa selain terucap kata “iya…”.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;(tri)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-3708438787052720381?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/3708438787052720381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/biodata-albertus-tri-kusuma-terlahir-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/3708438787052720381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/3708438787052720381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/biodata-albertus-tri-kusuma-terlahir-di.html' title=''/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZ-EzIaZ7-I/AAAAAAAAABE/HQt2VDqPoy8/s72-c/1_866153456l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-9137514396605130837</id><published>2009-02-18T07:57:00.000-08:00</published><updated>2009-02-18T08:07:07.456-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Story'/><title type='text'>DaRi LelaKi UnTuk SopHia</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZwwlyJu6YI/AAAAAAAAAAc/gTNVW2-0Y-w/s1600-h/4677177-md.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304167886811490690" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 223px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZwwlyJu6YI/AAAAAAAAAAc/gTNVW2-0Y-w/s320/4677177-md.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sejatinya, manusia hanyalah bisa bercerita karena ia pernah mengalaminya. Selebihnya, adalah kebohongan belaka. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Selamat malam......,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Cukup lama kisah ini terkubur bersama kesibukan yang datang silih berganti. Biarlah malam ini menjadi saksi atas kebisuan bertahun-tahun. Bersama hembusan angin pantai yang mengantarkan kesegaran dan menyisakan dingin yang mengigilkan setiap lekuk tubuh. Sebentar kita memandang ke samping kanan dan kiri. Ada seseorang yang tak begitu asing duduk menyebelahi kita. Tetapi waktu yang telah berlalu cukup lama, sedikit memberikan jarak yang tak pernah kita rencanakan sejak semula. Kecuali karena tuntutan peran kita sebagai manusia, yang harus belajar, yang harus bekerja demi cita-cita, atau yang harus pontang-panting mencari kerja, atau sekedar berdoa melarikan diri dari himpitan dunia. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah cerita yang dikisahkan seorang lelaki pada Sophia, sahabatnya. Sebuah kisah yang tersebar di antara buku-buku kuliah di sebuah rumah yang hangat, dengan ruangan yang dilengkapi meja kecil dan lampu remang serta sebuah Kitab Suci lusuh dan robek tepinya (lelaki itu bukan aku loh); dengan dinding warna merah bata yang mulai berjamur di makan usia; dengan beberapa gambar bintang ternama, curt cobain yang berpelukan dengan gitar kesayangan, Linkin Park dengan stylenya yang garang, Avril yang berwajah riang, dan tak mau kalah Yesus pun turut terpajang ala bintang-bintang terkenal dalam berbagai pose yang menantang: main gitar, main basket, dan bawa handphone. Ada juga salib kecil tergantung di dinding yang dingin. Cerita cinta ini, sophia, datang dari kegelapan. Agar kamu percaya bahwa dalam kegelapan juga ada kisah cinta. Atau sedikit bercerita tentang pengharapan dari sebuah persahabatan, supaya kamu tahu dalam persahabatan ada sebuah pengharapan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Adapun lelaki itu mengambil satu botol bekas, yang telah ia simpan lama dalam brankas miliknya. Dan secarik kertas usang melingkar di dalamnya. Meski demikian, tak terlihat kertas itu lecek atau sobek, tampaknya ia menjaga dan merawat botol beserta isinya dengan sangat baik, sebaik ia merawat dirinya. Tak lama kemudian, ia menghampiri sahabatnya, duduk dan membuka botol itu. Di dapatkan selembar kertas dari dalamnya. Ia pun mengeluarkan kertas itu dan membacakannya perlahan :“Terima kasih telah menjadi sahabatku. Sahabat itu anugerah kan? Dan selayaknya anugerah, aku merasa tiba-tiba dihadiahi oleh Tuhan seorang kamu. Dengan Cuma-Cuma. Kini, kau akan pergi, mungkin untuk dihadiahkan lagi kepada orang lain yang—seperti juga diriku—akan dengan penuh rasa bahagia menjadi sahabatmu. Tak bisa tidak, aku hanya bisa bersyukur dan berdoa untukmu. Itu saja. Tak bisa kuucapkan selamat tinggal. Sebab selamat tinggal adalah kata yang tidak menjanjikan apa-apa. Selamat tinggal adalah kata yang dalam bahasa manapun penuh kegetiran dan tanpa pengharapan. Padahal, aku selalu berharap persahabatan kita telah terjadi, meski jarak terbentang antara kenyataan dan mimpi. Aku masih di sini, berharap suatu hari kita akan bertemu lagi”. Ia memandang Sophia, sahabatnya, dengan sedikit sayu.“Ada sesuatu yang tertinggal saat perpisahan mendekat, Sophia, dan perpisahan adalah satu pilihan yang tak terelakkan”. Ungkap lelaki itu lirih.“ Bagiku, pesan itu sungguh berarti. Setiap kali aku merindukan kehadiran seorang sahabat yang pernah ku temukan, aku baca pesan itu, kendati tak begitu sering. Dan setiap kali aku baca pesan itu, senyum kecil selalu tersisa dari wajahku. Intinya, aku bahagia memiliki seorang sahabat. Tak terkecuali kamu, Sophia, sahabatku”. Tetapi waktu biarlah berlalu. Dan masa lalu adalah kebahagiaan yang tetap ada dalam hatiku. Kendati tak bisa ku elakkan bahwa kesedihan itupun pasti ada. Ah, melankolis banget, tidak apa-apa, toh, setiap manusia mempunyai perasaan semacam itu. Aku tak perlu malu bahwa terkadang aku kerap menangis seperti anak kecil yang minta minum dari tete ibunya. “IBu mimi..mimi..”, sambil merengek dan menarik-narik rok mini ibunya, dan sesekali bersembunyi di balik rok mini. Tetapi jangan berpikiran macam-macam, tak menggerayanginya loh. Ia kan masih kecil. Belum tahu ada apa di balik rok mini ibunya. Bahwa dari sanalah ia dilahirkan, hanya orang dewasalah yang tahu.Sejak mendengar cerita lelaki itu, Sophia menjadi kagum dan mencintai persahabatan. Pernah suatu kali, secara tak sengaja ia membuka salah satu buku, yang tersusun rapi di atas meja lelaki itu. Kelihatan sudah lecek dan berdebu. Di sana Sophia menemukan sepenggal kalimat yang ditulis indah di halaman depan buku itu. “Semoga semua suka duka, pengalaman pahit dan menarik yang kita peroleh selama 3 tahun (pada waktu itu) tidak akan menguap dari memori kita. Perhatikanlah bahwa angkatan kita ini sungguh unik. Banyak perubahan yang terjadi dan yang kita buat. Di samping itu, renungkan juga ungkapan Zeigst Du, Was Hast Du. Semoga di dunia luar sana, kita mampu menunjukan diri sebagai murid Van LIth yang mempunyai visi dan misi tersendiri. Menjadi terang seperti bintang adalah wujud ideal yang diharapkan dari kita seperti tersimbolkan dalam wujud bintang yang bersinar terang berjumlah 9, identitas angkatan kita”. Buku Kenangan dengan angka Sembilan dan semboyan Zeigst Du, Was Has Du, 2002.Ia melanjutkan kembali beberapa kalimat dibawahnya. Sophia mengira bahwa tulisan di bawahnya adalah tulisan miliknya“Adalah benar bahwa setiap peristiwa menghadirkan makna, pun malam ini adalah salah satu kisah yang terangkai dari sekian peristiwa. Dan kisah ini, mungkin telah lama tersimpan rapi dan manis dalam sebotol sunyi. Terasing dari hiruk pikuknya kehidupan. Terdiam dalam kesendirian bersama rumput dan dedaunan yang berguguran.Adalah manusia-manusia yang merangkai hari dalam bentuk persahabatan dari awal SMU hingga mencapai cita diri. Manusia-manusia yang bersahabat, yang berniat akan menghargai masing-masing pribadi sebagaimana alam selalu memihak ketulusan hati. Kalau di lain hari ternyata ada kisah kasih tersembunyi atau sebuah jiwa lara yang nyaris tak bersuara atau bahkan ada lagi yang berselingkuh mengingkari hati, itu adalah kembang dari banyak kerinduan yang mestinya di dengar, tidak begitu saja dilempar”.Sophia tertegun. Ia membayangkan, bahwa persahabatan yang menjadi milik lelaki itu adalah harta istimewa baginya. Dan sekali lagi, Sophia menghabiskan waktu untuk membaca kisah persahabatan lelaki itu. Sophia berharap, bahwa ia memiliki persahabatan semacam itu. Persahabatan yang terukir dengan indah dalam hati dan tak lekas usang di makan usia.Malam semakin larut, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Sophia terbaring santai di atas kasur empuk miliknya. Dan seperti biasa, sebelum tidur Ia menyelipkan doa untuk Yesus yang sangat ia cinta“Ya TUhan berilah aku mimpiMalam iniTentang keindahan persahabatanYang akan kurasakan esok pagi”Ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya SEJALAN dengan kita, kita bergabung dengannya dan jatuh kedalam suatu keanehan serupa yang dinamakan SAHABATSahabatAdalah ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH peduli terhadapnyaAdalah ketika dia tidak mampedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-9137514396605130837?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/9137514396605130837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/dari-lelaki-untuk-sophia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/9137514396605130837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/9137514396605130837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/dari-lelaki-untuk-sophia.html' title='DaRi LelaKi UnTuk SopHia'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZwwlyJu6YI/AAAAAAAAAAc/gTNVW2-0Y-w/s72-c/4677177-md.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-8203224185201823599</id><published>2009-02-18T07:52:00.000-08:00</published><updated>2009-02-18T08:01:23.318-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Story'/><title type='text'>Air MaTa SenJa</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZwvmUtnIgI/AAAAAAAAAAU/T4-rhweSRdM/s1600-h/love-you.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304166796577153538" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 276px; CURSOR: hand; HEIGHT: 205px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZwvmUtnIgI/AAAAAAAAAAU/T4-rhweSRdM/s400/love-you.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Konon, sejatinya manusia adalah ciptaan yang baik adanya. Dari hembusan debu diciptakannya manusia. Dan dari tulang rusuk sebelah kiri manusia pria, diciptakannya wanita sebagai pendamping hidupnya. Merekalah yang kita kenal sebagai manusia pertama. Dan merekalah yang mengawali keberadaannya sebagai wanita di dunia.&lt;br /&gt;Inilah kisah anak manusia turunan Adam dan Hawa. Sayup redup tatapan matanya, tak seperti biasanya. Sikap diamnya menyisakan beribu tanya. Seperti redup cahaya, remang-remang adalah sisanya. Seolah layunya bunga sewaktu senja menyisakan kenangan atas warna dan aromanya.&lt;br /&gt;Inilah kisah anak manusia turunan Adam dan Hawa. Hatinya riuh, seperti malam pertarungan yang menyisakan kesedihan, dan sungguh ironi, suara-suara jangkerik, binatang malam itu pun, tak lagi susah untuk di dengar. Ya, hatinya riuh dalam sendu dan bisu. Ia telah lama menanti kapan senja tiba. Seperti manusia pada umumnya, menunggu adalah saat-saat paling tidak disukainya. Bahwa senja akan membawa kekasihnya kembali ke pelukannya adalah harapan terbesarnya. Ya, hatinya riuh menanti dirinya. Kekasih yang telah menyematkan cinta dalam relung-relung hatinya, yang masih menyisakan luka atas cinta lama.&lt;br /&gt;Saat-saat senja adalah waktu istimewa bagi dirinya. Meski terkadang membosankan, tetapi toh tak membuatnya jera. Ia merasa, kesetiaan adalah harta yang berharga. Dan ia percaya itu semua. Bahkan terkadang ia menciptakan trik-trik sederhana, sekedar untuk menepiskan kebosanan dirinya. Benar juga bahwa tak lama kemudian kebosanan itu tiba. Sontak ia berdiri, dan menghembuskannya perlahan. Sembari berfantasi bahwa akan tibalah keindahan yang ia nanti-nantikan. Hembusan itu adalah hembusan kekesalan, agar tak terus bercengkrama dalam hatinya yang pernah luka. Ia masih mencoba untuk setia pada cinta. Ia masih menanti bersama senja yang perlahan tiba.&lt;br /&gt;Kini ia kembali duduk di beranda, tempat kesukaannya. Dibalik kesetiaan itu, ia sematkan secercah harapan bercampur rindu. Ia berharap, Ia lah orang pertama yang akan menyambut kehadirannya. Memeluk, mencium dan meneteskan air mata kebahagiaan yang telah berlinangan sepanjang senja penantian. Bersama guliran air mata yang berjatuhan membasahi kemeja biru muda. Ia menitipkan kenangan serta kesedihannya menanti kekasihnya sepanjang senja. Ini cara terbaik yang pernah ia lakukan, Karena ia sendiri tak pernah tahu kepada siapa bercerita, selain kepada senja.&lt;br /&gt;Saat air matanya menetes bergantian, ia melihat kegetiran. Manakala menanti kekasihnya yang telah pergi, dan tak segera kembali. Kenangan itu-bersama kekasihnya- telah lama ia jaga. Tak lupa pula, Ia taburkan hiasan warna-warna, supaya tetap berkesan dihatinya. Sekalipun tak pernah terlintas untuk menyisihkan dia dari sudut hatinya. Karna sesungguhnya, sang kekasih telah mengisi hatinya…&lt;br /&gt;”aku akan datang bersama matahari yang kembali menuju pusaraBersama senja akan kubawakan cintaDan akan kuberikan hatiku sebagai kado istimewaTunggulah aku, saat hari beranjak senja…..”&lt;br /&gt;Bisikan itu keras terdengar setiap senja tiba. Seakan menarik-narik dirinya untuk kembali menuju beranda, dan memerintahkannya duduk di sana. Begitulah, kata-kata itu mengikatnya menjadi semacam cinta. Apakah itu nyata, atau pelarian semata tak sedemikian dikenal olehnya. Namun yang pasti, cinta telah membodohi dirinya dan ia mengatakan, kesetiaan adalah yang utama. Kendati tak pernah diketahuinya kapan saat penantian itu akan berujung bahagia. Ya, ia tak pernah tahu jawabannya.&lt;br /&gt;Hampir setiap senja, matanya berkaca-kaca penuh air mata. Airnya menetes bergantian bak hujan saat musim rendeng tiba. Air itu terus membasahi pipinya yang semakin kusam di makan usia. Dan Ia tak sadar, penantian telah menguras masa mudanya, berlalu tanpa makna.&lt;br /&gt;Tengah malam&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-8203224185201823599?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/8203224185201823599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/air-mata-senja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/8203224185201823599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/8203224185201823599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/air-mata-senja.html' title='Air MaTa SenJa'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZwvmUtnIgI/AAAAAAAAAAU/T4-rhweSRdM/s72-c/love-you.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-350841125882798583.post-2855940878181035936</id><published>2009-02-18T07:39:00.000-08:00</published><updated>2009-02-18T07:49:38.090-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Story'/><title type='text'>Selamat datang perpisahan dari kesunyian kepada malam</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZwt_YuacXI/AAAAAAAAAAM/-2P_9lmuT8k/s1600-h/langkah.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304165028127732082" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 266px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZwt_YuacXI/AAAAAAAAAAM/-2P_9lmuT8k/s400/langkah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ini adalah cerita pengharapan yang datang dari sebuah perjumpaan atau bahkan tepatnya telah menjadi sebentuk persahabatan. Agar kamu percaya bahwa dalam perjumpaan atau persahabatan itu ada sebuah pengharapan.&lt;br /&gt;Seperti menuliskan kata-kata di atas selembar kertas. Tanganku bergulir merangkai kata yang terbaik untukmu. Kendati tak sedemikian baik tulisanku, namun inilah goretan hatiku yang tersisa darimu. Inilah rajutan kata untukmu, Agar kau tahu bahwa dibalik tulisan itu, ada segenggam indahnya kenangan. Sesaat ku hentikan tanganku menulis. Kubaca “selamat datang perpisahan dan semoga bukan kesedihan yang tersisa dari indahnya persahabatan”. Kendati tak begitu kuharapkan, tetapi toh tak bisa lagi ku elakkan.&lt;br /&gt;Seperti alur narasi cerita fiksi yang mengalir merangkai secarik mimpi. Tak jauh berbeda kiranya kebersamaan ini mengalir tanpa memikirkan harus kemana berakhir. Hidup telah ada dan selalu ada untuk kita hidupi. Aku menyadari itu sepenuh-penuhnya. Toh kehidupan tetap menjadi milik kita. Dan kebersamaan telah mengisinya.&lt;br /&gt;Dalam hal ini tidak ada teknik manapun yang dapat membendungnya. Inilah asal-usul sebuah persahabatan sejati dari kepenuhan hati. Kebersamaan yang sungguh menyisakan mutiara berharga. Dengan denyut, bukannya datar, dengan basah, bukannya kering, dengan rasa adalah isi perjalanan yang mengagumkan. Dan sungguh bahwa itu benar.&lt;br /&gt;Mungkin benar bahwa pertemuan mengantarkan perpisahan. Perpisahan tak begitu jauh dengan kesedihan. Tapi bukan itu yang kumaksud. “perpisahan bukanlah duka meski harus menyisakan luka”, sepenggal syair Bersama Bintang; Drive menentramkanku. Agar kamu tahu bahwa kamu bukanlah milik ku seorang. Dan kebahagiaan itu akan selalu datang.&lt;br /&gt;Ini adalah cerita pengharapan yang datang dari sebuah perjumpaan atau,bahkan tepatnya telah menjadi, sebentuk persahabatan. Agar kamu percaya bahwa dalam perjumpaan atau persahabatan itu ada sebuah pengharapan.&lt;br /&gt;Penulis novel Celestine Prophecy bilang ”bahwa semua kejadian mengandung makna”, dan bagiku itu benar Hanya saja untuk sampai pada penemuan makna, perlulah usaha memaknainya. Dalam perjalanan, di rumah, di kantor, dan di tempat mana pun kita berada. Ada makna yang bisa kita rasa. Teristimewa adalah saat-saat kebersamaan kita. Saat bergulat meraih cita-cita dan segenggam hasrat untuk taklukan dunia&lt;br /&gt;Selamat datang perpisahan dan hadirlah kembali bersama kebahagiaan yang tersemat sepanjang jalan. Sungguh, aku menghargai dan memaknainya penuh arti. Biarlah pengalaman kebersamaan terbingkai dalam sebuah refleksi sederhana. Yang mengundang kerinduan untuk selalu mengingatnya. Ijinkan aku memiliki bingkai sederhana atas kebersamaan kita. Dan biarkan itu menjadi hartaku yang berharga. Karena sayang, bila keindahan itu berlalu tanpa sisa.Selamat datang perpisahan dari kesunyian kepada malam. Semoga angin membawakan kerinduan yang tak pernah usang. Inilah awal kisah untukmu, yang mencoba berjuang dalam gerak langkahnya kehidupan, dari sebuah novel Susana Tamaro:&lt;br /&gt;“dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus diambil janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah nafas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernafas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apapun mengalahkan perhatianmu, tunggulah dan tunggu lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetapi hening, dan dengarlah hatimu. Lalu ketika hati itu berbicara, beranjaklah dan pergilah ke mana hati membawamu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan sahabat semoga “indahlah perjalanan”Kentungan, 30-31 Agustus 2007&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;22.45&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/350841125882798583-2855940878181035936?l=fairyoftale.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fairyoftale.blogspot.com/feeds/2855940878181035936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/selamat-datang-perpisahan-dari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/2855940878181035936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/350841125882798583/posts/default/2855940878181035936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fairyoftale.blogspot.com/2009/02/selamat-datang-perpisahan-dari.html' title='Selamat datang perpisahan dari kesunyian kepada malam'/><author><name>The Shadow Of Life</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02039783984724698632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-Zxvnrdg8FjY/TdHpW1nD-JI/AAAAAAAAAFQ/dxlcTzpwWy0/s220/Copy%2B%25282%2529%2Bof%2BIMG_0923.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zwvC8x-CXsA/SZwt_YuacXI/AAAAAAAAAAM/-2P_9lmuT8k/s72-c/langkah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
